Terjebak Wajah Tampan Billioner

Terjebak Wajah Tampan Billioner
Bab 28


__ADS_3

Seharian kemarin Farel menghabiskan waktunya untuk mensortir bio anak bawahnya dan atasannya. Setengah dari bio tidak ada yang aneh dan mencurigakan namun ada pula yang patut dicurigai. Kemudia Farel menyuruh kenalannya untuk mencari sampai keseluk-beluknya dan setelahnya akan ia kirimkan ke Radika.


Radika membuka ponselnya begitu telinganya mendengar suara notifikasi. Menscroll keatas rahangnya mengeras dengan tangan kirinya mengepal.


(Pak Dika ini file bio orang-orang yang mencurigakan.) begitulah isi pesan Farel.


"Sialan!!! tinggi juga nyalinya. Aku akan membalasnya. Sampai mana keberanian curut itu ingin sekali mengusik hidupku." gumam Radika menatap lekat foto profil pengkhianat di kubunya.


Lalu, Radika menelpon Damian," halo Dam,"


suara bising seperti Damian berada ditengah hiruk-pikuk orang yang berjalan dari balik sana, membuat kening Radika berkerut heran."Lu dimana njir?"


"Lu ini gak liat ya jam berapa!" ketus Damian


"Hah," Radika menjauhkan ponselnya lalu mengecek pukul berapa sekarang. Rupanya menunjukkan pukul 1 siang.


"Jam 1 Dam, emang kenapa? Urusan gue penting banget ini daripada elu! Dengerin gue, gue mau minta bantuan ke elu." tanpa wajah berdosa, Radika tak mempedulikan


Damian menggeram kesal sekali. Orang yang menelponnya dalam waktu singkat membuat mood baiknya jadi hancur.


"Lu kalo minta tolong yang bener dong! Gue juga sibuk kerja an*jing"


"Lu!!! Berani ngumpat juga ya! Mau gue bikin bangkrut hah!"


Damian kelimpungan mendengar ancaman itu."Eh eh gak Dik, butuh bantuan apa ndoro!?" ucapnya tak ikhlas.


"Gue minta tolong sama kenalan lu yang pinter cari orang buat cari informasi rinci dan detail yang gue butuhin. Nanti profil orangnya gue kirim ke elu. "


"Oke kalo gitu!dah gue mau kerja jangan ganggu gue lu!" jawab Damian


Tut....


Radika menatap ponselnya yang sambungan telponnya terputus."kampret nih anak syetan, harusnya gue yang matikan lebih dulu."


Sekitar 10 menit berlalu, Radika menerima apa yang dimintanya tadi. Semua dijelaskan secara detail mulai dari latar belakang kehidupannya sampai informasi terbarunya saat ini.


Radika kembali menelpon Farel yang sedang berada didapur minimalis miliknya. Farel yang akan menuangkan air panas ke mangkuk mienya namun tidak jadi karena tercantum nama atasannya dilayar ponselnya.


"Gini amat hidup yang gue jalani, selalu dihantui atasan sendiri."


"Kenapa lama sekali angkat telponnya?!" teriak Radika


"Maaf Pak, saya dari toilet." jawabnya berbohong.


"Aku ingin Kamu beri sentilan kecil pengkhianat itu. Buat dia gembel."


Farel pun menjawab."Baik pak!"


Radika langsung memutus sambungan telpon itu.

__ADS_1


Farel memandang miris kearah mienya mungkin mie itu akan mengembang setelah ia menyelesaikan kerjaan ini.


"Tak apalah dari pada gak makan." batinnya


Radika tersadar, Istrinya belum mendatanginya sejak tadi meskipun sekedar membuatkannya kopi susu atau minuman lain.


Radika gelisah jika dalam beberapa satu jam kedepan tidak mendengar istrinya bersuara. Akhirnya, ia pun keluar dari ruang kerjanya menuju bilik kamarnya.


Membuka pintu kamarnya, hanya suara TV menyala menampilkan drama korea yang sedang buming. Radika pernah mendengar nama tokoh itu dari istrinya.


"Cih selalu saja menonton pria yang bernama park bo...bo siapa sih!" Radika mendengus kesal melihat wajah pria itu ada di TV nya.


"Pak Bogum, Abi!" celetuk Ayesha yang terbangun saat mendengar kekesalan suaminya.


"Nah iya Park Bogem."


Ayesha berdecih," Nama orang kok diganti-ganti! Itu udah ada do'anya!" protesnya.


"Serah aku! kan aku dah pernah bilang ke kamu Sayang. Jangan suka nonton pria itu! Aku gak suka! Aku cemburu Sayang!!!" Radika merengek jengkel.


"Aku bosan Abi! Tadinya nungguin kamu buat bubuk siang bareng tapi kamunya kelamaan." ujar Ayesha, wajahnya tertekuk imut.


"I-iya Ayo kita tidur Siang!" Radika jadi salah tingkah melihat mulut Ayesha yang mengerucut. Gemas sekali batin Radika.


Radika hari ini libur dan besok akan kembali bekerja. Dia hanya memastikan istrinya membaik sehari setelah keluar RS.


......................


Siska juga selalu menjadi target pelampiasan hawa nafsu Vandi yang membara. Namun, Siska sendiri dengan mudahnya menyerahkan tubuhnya atas Vandi.


"Breng*sek!! Semudah itu, dia menemukannya!" geramnya tertahan.


"Kenapa orang yang kupekerjakan tidak ada yang becus sama sekali!"


"Arghhhhh...."


Pyarr...


Zaid yang diluar hanya mengelus dada. Dia tahu atasannya licik dan jahat tapi bukan berarti dia harus jadi jahat juga. Beda lagi jika keadaan memaksanya melakukan itu.


Zaid tidak berani masuk. Baru saja membuka pintu sebuah tonjokkan akan meninggalkan bekas ungu dipipinya. Zaid merinding membayangkan itu.


"Serem banget ah..." bergidiknya ngeri sekaligus takut.


Vandi menghubungi bawahannya.


"Bunuh orang itu diam-diam dan buang mayatnya ke kandang buaya."


"Baik pak," tanpa pikir panjang Vandi memperintahkan bawahnnya untuk membunuh mata-matanya yang menyelundup sebagai bawahan Radika.

__ADS_1


"Argghh.. Kenapa rencana yang sudah kupikirkan matang-matang selalu saja berujung sia-sia." Vandi mengacak-acak rambutnya frustasi dengan semua ini.


......................


Malam harinya dimeja makan sudah tertata rapi makanan yang menjadi favorit Radika bahkan dia berulang kali meneguk ludahnya. Makanan dideoan matanya terlihat menggugah selera makannya meningkat. Sementara Ayesha sedang sibuk di dapur yang menuangkan sayuran ke dalam mangkok kaca.


"Sayang!!! Ayo cepetan aku dah laper." teriak Radika tidak sabar ingin mencicipi makanan itu.


Ayesha menggeleng tak percaya. Radika yang dulu keren dan maco kini aura itu lenyap entah kemana saat di dalam rumah bersamanya.


sambil berjalan ke meja makan Ayesha menyahuti, " sabar naoa sih! Orang masih sibuk didapur kamunya teriak-teriak." gerutunya


"Sayang, aku ini laper banget masa kamu gak paham sih?"


"Gak...aku ga paham!" ketus Ayesha


Meletakkan sayurnya dimeja dan meraih piring dan mengambil nasi untuk suami manjanya.


"Segini?" tanyanya sambil menunjukkan porsi nasinya.


"Kurang," Ayesha menambahkan satu centong lagi dan menanyakannya kembali tapi...


"Kurang!" seru Radika, Ayesha mendelik kaget.


"Rakus banget kamu Abi! Dikit-dikit dulu kan bisa, masa langsung kayak gunung gini?"


"Aku pasti habis Sayang! "


Ayesha akan mengingat itu!"awas aja!" tekan Ayesha


"Tenang aja Sayang," Radika pun menyendokkan sayur dan lauk pauk ke dalam piringnya.


Ayesha terkejut lagi. Piring itu sudah tidak bisa mengemban beban itu lagi tapi suaminya tetap memaksakan.



...Ilustrasi...


Ayesha yang belum makan sudah dibuat kenyang lebih dulu.


"kesurupan nih orang ya!" gumamnya


Dengan hikmat kedua pasutri itu menghabiskan makanannya namun tidak yang ada diatas meja.


"Alhamdulilah kenyang!" ucap Radika


"Abi," panggil Ayesha


"Iya Yang, kenapa?"

__ADS_1


"Kamu jangan lupa olahraga! Aku gak mau kamu sakit gara-gara obesitas!" ketus Ayesha


"I-iya Yang," jawab kikuk Radika. Wajah garang istrinya menakutinya.


__ADS_2