Terjebak Wajah Tampan Billioner

Terjebak Wajah Tampan Billioner
Bab 48


__ADS_3

Setelah pertemuan Ayesha dengan Jedar yang tidak menghasilkan apapun hanya rasa penasaran yang bersarang di otaknya. Bertanya-tanya apa yang membuat Jedar melakukan hal tersebut.


Ayesha bahkan sejenak melupakan bahwa dirinya sedang hamil muda. Tidak banyak yang bisa dilakukan Ayesha saat ini selain memilih bungkam daripada memperpanjang masalah.


"Mbak Yesha kenapa kok melamun gitu? Ada masalah apa toh mbak?!" tanya Bibik


"Tidak ada bik, hanya kangen rumah" ucapnya sambil tersenyum kecil


"Kenapa gak ke rumah mbak Yesha aja, bibik yakin ibu sama mbaknya mbak Yesha juga kangen banget,"


Agar tidak membuat orang lain mengkhawatirkan dirinya, Ayesha tersenyum senang menandakan bahwa ia sedikit merasa lega.


"Baiklah bik, nanti coba aku bilang ke suamiku."


"Ya sudah kalo gitu Mbak, bibik balik ke dapur dulu."


"Istirahat bik jangan lupa."


"Siap atuh mbak," Ujar bibik sambil mengacungkan jempolnya


......................


Sore harinya Radika sudah tiba di rumah, Ayesha yang sedang di dapur memdengar seseorang membuka pintu rumah, ia pun melepaskan celemeknya dan mencuci tangannya.


"Sepertinya abi sudah pulang,"


Melihat wajah lelah suaminya yang sudah bekerja keras sehingga membuat Ayesha merasa kasihan.


"Assalamualaikum Sayang,"


Ayesha meraih tangan Radika dan mengecupnya. Radika menyukai momen sepertinya, membuatnya selalu tersadar dan bersyukur karena Tuhan telah memberikannya istri yang berbakti kepada dirinya.


"Waalaikumsalam Abi, gimana hari ini kerjanya? "


"Huft...semua terasa lelah kalo gak ada kamu Sayang, makanya aku bergegas pulang demi menghilangkan penat ini."


Ayesha memukul pelan lengan suaminya karena masih sempatnya dia menggombali Ayesha yang semenjak hamil mudah sekali tersipu malu.


"Ish...jangan gitu lah bikin aku malu aja kamu abi, udah ah sana mandi airnya juga udah aku siapin."


Cup


"Makasih sayangku, habis mandi abi langsung turun terus kita makan ya!"


"Baiklah, eits.. Tasnya sini biar aku bawakan."


Radika menyerahkan tasnya lalu merangkul pinggang istrinya dan pergi ke kamar untuk membersihkan diri.


Di kamar, Ayesha membantu suaminya melepaskan pakaian dan menyiapkan baju yang akan dipakai. Setelah itu, Ayesha kembali melanjutkan kegiatannya di dapur.


Radika turun kebawah ternyata Ayesha sudah menyiapkan semua makan malam diatas meja.


"Abi ayo duduk, kita makan malam. Abi mau makan sama apa?"


"ambilkan apapun, aku akan menghabiskannya,"


"Aku ambilkan sedikit nanti baru nambah lagi aja ya,"

__ADS_1


"Terserah kamu aja sayang." kemudian Ayesha meletakkan nasi ke piring dan mengambilkan beberapa lauk pauk lalu memberikannya ke Radika, Setelahnya Ayesha menyiapkan untuk dirinya sendiri.


"Bismillahirrahmanirrahim." mereka pun makan dengan hikmat


......................


Keduanya pun berada di kamar mereka untuk beristirahat. Ayesha melirik kearah suaminya tepat disebelahnya namun sedikit ragu untuk menyampaikan keinginannya.


"Sayang, sedari tadi kamu lirak-lirik sepertinya kamu mau menyampaikan sesuatu ya?"


"E-emm..."


terlihat ada keraguan dimata istrinya Radika pun berkata," bilang aja gak papa,"


"Bisakah kita pergi ke rumah ibu dan kakak? Aku merindukan mereka abi."


"Hari ini?"


"Ya gak hari ini juga, mungkin malam sabtu kita berangkat agar bisa menginap disana. Kita sudab sangat lama tidak menjenguk ibu."


"Baiklah kalo gitu, sepertinya calon bayi kita juga rindu dengan nenek ya,"


Radika mengusap perut Ayesha yang sudah terasa membuncit. "Calon bayi kita tumbuh dengan baik Sayang, semoga bayi kita dan juga kamu selalu sehat ya,"


Ayesha memanyunkan bibirnya tak setuju akan hal itu."kamu juga harus sehat selalu abi, jangan sakit nanti kita juga ikut merasakan hal yang sama." ucapnya sambil mengusap pelan perutnya sendiri.


"Abi dengar ada yang mencari masalah denganmu dikampus."


"Abi tahu?"


"Tentu saja abi tahu segala hal tentang dirimu sayang. Abi punya banyak orang untuk mengawasimu dari jauh."


"Ya sampai segitunya, apalagi kamu sedang hamil tingkat kewaspadaanku semakin meningkat. Dan abi tahu siapa orang itu."


"Benarkah?"


"Dia Jedar kan? Teman bahkan sahabatmu sendiri."


Ayesha agak takut bila suaminya akan bertindak jauh demi keselamatannya."Abi, bisakah kita biarkan saja masalah ini?!"


Radika berengut tidak suka, istrinya disaat seperti ini sangat tidak tegas. "Sayang, abi tidak suka kamu bersikap seperti itu. Dia akan bertindak lebih dari ini."


"Tapi di-"


"Sudah kita lihat saja, kalo sampai dia membahayakan kamu dan bayi kita, abi akan ambil tindakan tegas."


"Hidupnya sudah cukup berat abi, biarkan saja ya. "


"Sudah apa kata nanti, sekarang kita tidur." Radika menyelimuti istrinya dan memeluknya dari samping.


......................


Tiba waktunya Ayesha dan Radika pergi ke rumah Ibu Raina. Diperjalanan Ayesha menyempatkan membeli sesuatu untuk ibu dan kakaknya. Tak lama kemudian, mobil mereka sampai di depan halaman rumah Ibu Raina.


Ayesha keluar dari mobil lebih dulu sedangkan Radika menurunkan barang bawaan mereka.


tok...tok...tok...

__ADS_1


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam." Ibu Raina membukakan pintunya.


"Ayesha, ibu kangen sama kamu. " Ibu Raina langsung memeluk erat tubuh Ayesha.


Ayesha membalas pelukan yang amat dirindukannya," Ayesha juga bu, Maaf jarang menjenguk ibu."


"Tidak apa-apa, sekarang kan kamu sudah kesini. Ayo masuk dulu."


"bu, maad lama tidak berkunjung." ganti Radika bersalaman dengan Ibu Raina.


"Ibu tahu kamu cukup sibuk dan pekerjaanmu juga sangat padat."


"Ya begitulah bu, Ayesha bilang dia sangat rindu ibu dan mbak Anesha juga."


"Begitukah? ibu kira dia melupakan ibu."


"Mana mungkin Ayesha melupakan ibu, dia hanya tidak enak mengatakan kepada saya karena melihat saya agak sibuk mungkin."


"Baiklah, kalo gitu kita masuk."


Didalam Ayesha berbincang dengan kakaknya diselingi tawa lebar. Radika membawa masuk semua barang bawaan ke dalam kamar lama Ayesha.


"Bagaimana kabarmu?! ke rumah saja kamu jarang sekali."


"Maaf ya kak, aku juga sibuk bikin skripsi dan bulan ini akhirnya sidang proposal sudah selesai, ditambah lagi hamil muda si Radika jadi agak posesif banget."


"Oalah gitu, sudah pasti Radika bakalan posesif karena ini anak pertama kalian. Momen yang paling di tunggu-tunggu. Kakak sendiri tidak menyangka kamu mendahului kakak." gurau Anesha


"Makanya kak, buruan cari pasangan jangan kejar karir melulu. Pasangan memang yang menentukan Tuhan tapi kalo kakak sendiri tidak berusaha ya mana cepat datang jodohnya."


"Mulai sok ceramahin kakak nih ya," ujar Anesha sambil menguyel-nguyel pipi tembam Ayesha.


"Hehe...terus kakak sendiri gimana kerjaannya?!"


"Ya gitu sih, kampus tempat kerja kakak juga udah terakreditas A dan sekarang jadi favorit semua berkat Radika sih!"


"Radika? Kok bisa?" Ayesha bertanya-tanya, dia baru mendengar hal ini.


"Kamu belum tahu? Kalo Radika punya kampusnya sendiri? Dia baru aja membeli kampus kakak loh."


"Aku baru denger loh,"


"Kamu tuh gimana sih, setelah Radika yang memegang kendali semua jadi terarah dan semua pekerja juga disortir lagi. Radika tuh bener- bener tegas orangnya."


"Hemm... Memang sih kalo masalah pekerjaan dia mah hebat kak,"


"Ehem...lagi gosipin aku nih ceritanya?" mendadak Radika muncul sontak Ayesha dan Anesha menoleh.


"Hehe abi, sekali-kali ghibahin suami gak papa ya kan kak?!"


"Iya gak papa, gak dosa kok, hehe..."


"Kalian berdua emang kompak kalo lagi bareng kayak gini."


"Namanya juga saudara kandung abi."

__ADS_1


Radika terkekeh pelan dan duduk di sofa single. Mereka bertiga pun berbincang banyak hal sampai makan malam pun tiba.


Radika menatapi senyum bahagia istrinya karena akhirnya memiliki waktu bersama dengan keluarganya. Radika kembali tersadar akan hal lain bahwa dirinya pun terlalu sibuk sampai melupakan hal sekecil ini.


__ADS_2