
Keesokan harinya, "Kapan aku boleh pulang?Udah kelamaan disini mati rasa badanku!" keluh Ayesha
"Aku tanyakan ke dokternya dulu, kamu sudah boleh pulang atau belum." Radika keluar menuju ruang dokter
Sambil menunggu suaminya kembali, Ayesha turun dari brankarnya. Membawa tiang infusnya dan mengambil tas besar disamping sofa untuk merapikan baju-bajunya lalu memasukkannya kedalam tas.
membereskan barang-barangnya yang akan dibawa pulang padahal Ayesha belum tahu keputusan dari dokter itu. Dia ingin cepat pulang ke rumah dan melakukan tanggung jawabnya sebagai istri sebab dia belum melakukan satu hal pun.
Oh iya kalian sempat bertanya kenapa ibu dan kakaknya atau mama dan papa tidak datang menjenguk? Hmmm Ayesha menyuruh suaminya untuk mengatakan tak perlu menjenguknya, sebab dia masih bisa beraktivitas. Di hari pertama masih lemas namun semakin hari racun itu juga sudah dibersih oleh dokter didalam tubuhnya.
Usai membereskan kamar inapnya Radika melongo begitu masuk. Sudah bersih tidak ada barang bukan seperti pasien pada umumnya.
"Loh Sayang kok sudah beneres sih?"
"Aku mau pulang pokoknya,"
"Maksa bener kamunya! Emang udah boleh pulang kata dokter?!"
"Firasatku mengatakan aku boleh pulang." sinis Ayesha, Membosankan. Ayesha sudah 3 hari memang sebentar bagi orang lain, baginya berasa sebulan lamanya mendekam.
"Iya deh, dokter ngijinin kok, pesannya lain kali hati-hati kalo makan. Diperiksa dulu sebelum makan. Dan makan makanan yang bergizi jangan pedes terus!"
"Itu pesan dari dokter atau kamunya sendiri?!" Ayesha meragukan amanat itu. Dia yang suka makan sembarangan tanpa pilah-pilih apalagi pedas gurih menjadi favoritnya.
"Aku," ujar Radika sambil cengengesan.
"Tuh kan, maaf saya tidak mudah ketipu oleh anda suamiku!" ditatapnya judes oleh istri sholehahnya.
"Iya istri durjanaku. Hahaha...." canda Radika
"Gak lucu ya, udah cepat mana susternya? Mau berapa lama lagi nunggu nih infus dilepas? Mau aku sendiri aja yang lepasin?"
"Eh jangan dong," panik Radika
"Bentar aku panggilin." Ayesha mengangguk
Setelah infusnya terlepas, Ayesha sudah terlihat segar bugar. "Dah yuk go home!" seru Ayesha
"Iya, udah gak ada yang ketinggalan? Hp? Dompet? Tas?"
"Udah semua, aku udah masukin ke tas itu." tunjuk Ayesha kesalah satu tas besar yang dibawa Radika.
"Okelah ayo," Ayesha keluar duluan, dia tersenyum senang.
__ADS_1
"Rumah, aku datang!" Radika gemas akan tingkah Ayesha yang kekanakan.
......................
Atasan ngurus istri sementara Farel ngurus masalah atasannya. Gimana dapat pasangan kalo hidup bukan didedikasikan mencari calon istri diusia matang tapi mengabdikan diri untuk atasan yang dilanda masalah. Haduh! Farel ingin rasanya minta cuti sehari saja karena tidak mungkin sekali dia diijinkan cuti seminggu.
Farel dan anak buahnya terus mencari jejak secuil apapun untuk menemukan dalangnya.
"Sudah kalian temukan belum?!" Farel mengintrupsi anak buahnya yang membungkuk-bungkuk itu menggeledah aula massion Firdaus.
"Belum menemukan apapun Pak!" jawab serempak anak buah Farel
"Mau berapa lama lagi kalian terus membungkuk seperti itu? Telusuri ruangan lainnya." Tegasnya, dia juga lelah. Ingin tidur seharian untuk melepas penat.
Anak buahnya pun berpencar dan ada yang masih di aula ini. Mereka menuju arah dapur, taman, parkiran, gudang penyimpanan dan masih banyak lagi yang perlu dicek satu-satu.
Di sebuah ruang tempat ganti pakaian para pelayan saat dihari pernikahan dua orang membuka loker dengan berisikan 4 loker samping kanan dan kiri. Masing-masing loker hanya kosong tidak ada apa-apa.
"Kosong," ujar anak buah dengan rambut yang terpangkas semua sepanjang satu senti.
Mari kita juluki dia dengan si satu senti.
"Disini juga," jawab temannya dengan jam tangan terlihat mahal melingkar dipergelangannya.
Sedangkan dia kita juluki Si pamer.
"Ck..ck aku sudah mencarinya beb-" ketika si pamer berbicara matanya menangkap sebuah pipet kecik dibawah loker diujung sendiri.
"Beb apa?" si satu senti juga sibuk mencari diatas loker, belum menyadari hal itu.
Si pamer menoleh ke belakang kala si satu senti sibuk. Buru-buru ia sembunyikan dalam saku didalam jas hitamnya.
"Kenapa kamu tak melanjutkannya? Beb apa?!" si satu senti pun menghampiri si pamer.
"Tadi udah beberapa hari kita disini untuk mencari barang bukti tapi nihil."
"Iya kamu benar, sepertinya mereka sudah merancang kejahatan ini dan menghapus jejak serta buktinya dengan bersih." si satu senti ingin pasrah.
"Mari kita kembali, bilang saja ke pak Farel kalo kita sudah mencarinya." ujar si pamaer
"Hemm, ya sudah ayo!" keduanya pun pergi dari situ.
Mereka masuk ke dalam aula lagi untuk melapor pada Farel.
__ADS_1
"Bagaimana?" to the point Farel
"Maaf pak kami tidak menemukan apapun di ruang ganti pakaian!" keduanya menjawab bersamaan. Farel menarik oksigen begitu dalam untuk mengisi paru-paru sampai mengembang seperti balon.
"Pergilah!" usir Farel
Hingga menjelang sore mereka belum berhenti. Sampai Farel berteriak menghentikan aktivitas anak buahnya.
"kaliam istirahat secara bergantian!" titahnya anak buahnya mengusap peluh di dahi mereka.
Batin mereka berkata," akhirnya istirahat juga!"
Farel mengurut pangkal hidungnya pusing. Dalangnya benar-benar rapi sekali menyusun rencananya, tapi tidak mungkin bila tidak ada jejak sama sekali.
"Ini aneh sekali, apa mungkin musuh sudah menghilangkan semua barang buktinya? cerdik sekali dia, dengan cepat menghapus semuanya. Tapi kapan mereka melakukannya?"
Farel putar otak, tak peduli bila sampai ada asap yang mendadak muncul nantinya.
Menyadari sesuatu matanya melotot," Apa jangan - jangan! " Farel coba positif thingking.
"Pengkhianat ada disekitarku, tapi siapa? Bisa mati dia kalo sampai ketahuan!" gumam Farel lalu menghubungi atasannya.
"Halo Pak!"
"Ya Rel, bagaimana ada kabar lanjutan?!"
"Belum ada apa," terdengar hembusan nafas menandakan ketidakpuasan akan jawaban dari Farel.
"Lalu ada apa kamu menghubungiku?"
"Saya ingin mengatakan perkiraan saya pak, selama penelusuran kami tidak menemukan satu pun bukti dan jejak di lokasi kejadian. Menurut saya, ada serigala berbulu domba dikubu kita pak!"
Radika mengerutkan kening, " Pengkhianat maksudmu!" jikalau memang ada ingin Radika cincang dan mencabik tubuhnya hingga ke tulang-berulangnya.
"Cari sampai ketemu, biar aku yang turun tangan langsung untuk mengeksekusinya!
"Biak pak, segera!"
Farel ganti menghubungi temannya yang lain.
"Kirimkan aku file bio milik semua bawahan segera, aku butuh sekali!"
"Oke tunggu!"
__ADS_1
Tut..tut..tut...
Sambungan telpon terputus. Tidak lama dikirimkan file bio itu dan Farel meninggalkan aula untuk pergi ke ruangannya. Dia tidak mau ada orang yang curiga dan malah akanbbertindak lebih cepat.