Terjebak Wajah Tampan Billioner

Terjebak Wajah Tampan Billioner
Bab 62


__ADS_3

……Keesokan harinya Radika terlihat segar bugar dan wajahnya tidak pucat lagi. Bahkan pagi jam 5 tadi Radika menyempatkan untuk berolahraga gym di rumah ketika Ayesha terbangun suaminya dalam keadaan berkeringat.


Hari ini Ayesha juga harus menjemput Dante karena dirinya sudah tidak betah lagi ditinggalkan oleh anaknya itu. Rumah terasa sepi tanpa ocehan dan kerepotan mengurus anak ketika menjelang pagi.


"Abi hari ini aku mau jemput Dante," ucap Ayesha sambil menyiapkan sarapan di meja makan


Radika duduk menikmati secangkir teh hangat bukan lagi kopi di pagi hari."Iya Sayang, nanti sama supir aja jangan sendirian nyetirnya" Ayesha mengangguk


"Ayo sarapan, keburu telat kamu nanti!" Ayesha menyerahkan sepiring nasi lengkap dengan isiannya.


Radika pun menikmati sarapan itu bersama dengan istrinya.


"Rumah jadi sepi kalo gak ada Cabi "


"Iya Abi, aku biasanya kelimpungan ngurus kamu sama Cabi, hari ini kayak yang bagaimana gitu"


"Mama pasti bakal bujuk kamu buat nitipin Cabi lagi biar menginap sama mama."


"Kadang aku sungkan mau bilang, kamu coba sekali-kali ke rumah mama. Kasian mama tuh sudah tua kamu juga harus berbakti setidaknya tanya atau lihat kondisi mama."


"Iya ya Sayang, nanti aku kesana sepulang dari kantor maybe aku makan malam disana."


"Iya gak papa bi, aku kan bisa makan bareng Cabi,"


Selesai mengantarkan suami sampai depan pintu rumah, Ayesha bersiap ganti baju untuk menjemput Dante.


Mengingat Ayesha harus diantar pak supir jadi memerintahnya untuk bersiap sebelum dirinya selesai. Di depan rumah pak supir sudah menunggu disamping mobil sampai Ayesha datang.


"Sudah siap pak?"


"Sudah mbak Yesha," pak supir membantu membukakan pintu belakang untuk Ayesha.


"Kita berangkat ya mbak," mobil pun meninggalkan halaman depan rumah.


Sesampainya si rumah Mama Viani, Ayesha menuruh pak supir untuk menunggunya saja.


"Pak tunggu dulu ya, aku cuma sebentar disini,"


"Baik mbak,"


Ayesha menekan bel disebelah pintu, tak lama pintu dihadapannya terbuka.

__ADS_1


"Loh mbak Ayesha, mari masuk mbak!"


Di dalam Ayesha tidak melihat siapapun, kepalanya menoleh ke kanan dan kiri sama sekali tidak ada orang


"Kemana bik Mama sama Papa?"


"Tadi lagi keluar ke toko swalayan katanya mau beli sesuatu"


"Ya sudah aku tunggu di ruang tamu aja. Oh ya bik, tolong bilangin ke supirku untuk bersantai dulu dan buatkan kopi."


"Siap mbak Ayesha,"


Ayesha duduk di sofa ruang tamu, lalu matanya tak sengaja melihat sebuah majalah, dia pun mengambilnya.


Membuka halaman tanpa niat membaca hanya sekedar mencari berita yang menarik. Hanya berita berisi tentang beberapa orang yang tengah naik daun sehingga popularitasnya jadi meningkat pesat.


Ayesha tidak terlalu mengenal orang yang berada di majalah itu, semua wajahnya terlihat asing untuknya.


Mengganti dengan majalah lain, lalu berita tentang suaminya di tahun sebelum dirinya dinikahi oleh Radika.


"Jadi dulu suamiku orang yang di populer ya, lulus kuliah lebih awal dengan nilai terbaik di jurusannya, terus langsung diamanahi oleh papa memimpin perusahaan keluarga."


"Yah dulu Radika memang begitu. " sontak Ayesha menoleh ke belakang yang tiba-tiba saja Mama dan Papa sudah pulang.


"Loh Ma Pa kapan sampainya? Ayesha gak denger suara sepeda dan pintu terbuka?"


"Kamunya aja yang terlalu fokus baca majalahnya."


Ayesha berdiri menyalami mereka dan mengulurkan tangannya ingin menggendong Dante. Mama Viani memberikan Dante kepada mamanya.


"Darimana kamu Nak? Diajak jalan-jalan sama oma opa?"


"Abuuuu" Dante menjawabnya dengan berceloteh.


"Mama kangen sama kamu," mendekap tubuh Dante menyalurkan perasaan rindunya.


"Emm...Ma aku langsung pulang aja, soalnya masih mau ke rumah ibu. Juga, katanya Radika akan makan malam disini."


"Benarkah?" Ayesha mengangguk


"Kalo gitu Ayesha pamit pulang dulu ya Ma Pa,"

__ADS_1


Usai berpamitan Ayesha melambaikan tangan Dante," Oma opa Dante pulang dulu ya," ujar Ayesha seolah-olah adalah Dante yang pamitan.


"Hati-hati di jalan!"


...……...


Di rumah Ibu Raina, Dante asik bermain dengan neneknya dan juga tante Anesha. Berebutan siapa yang bisa membuat Dante tersenyum dan tertawa lebar. Namun tidak semudah itu membuat bayi Dante berekspresi.


"Cilukba..." Anesha melakukan banyak cara tetapi caranya sama sekali tak berhasil.


"Yesha, nih Dante susah banget buat senyum kek atau tertawa?"


"Gak kak, orang biasanya dia suka berceloteh kalo di rumah "


"Ah masa sih? Dari tadi aku usaha tapi malah kayak orang gila ngomong sendiri."


"Itu berarti kakak kurang pendekatan, Dante juga jarang lihat wajah kakak, ya wajar aja kalo dia susah senyum."


Ibu Raina memainkan jemari kecil itu yang terus menggenggam tangannya.


"Ibu jadi teringat saat kalian masih kecil dulu. Kalian dulu suka sekali melakukan seperti ini. Kalo tidur mesti tidak mau sendirian harus sama ayah dan ibu. Kebiasaan kalian itu sama suka menggenggam tangan ibu sampai gak mau lepas."


"Serius bu?" kata Anesha


"Iya, sayang banget dulu kita bukan orang mampu yang bisa beli hp. Jadi, foto saat kalian kecil gak ada."


"Ya bagaimana lagi bu orang dulu juga gak secanggih zaman sekarang. Gak semua orang bisa beli kalo dulu bu, maklum." jawab Anesha


"Iya bu, kalo sekarang gak punya ponsel jadi bingung zaman udah berkembang. Cara pikir orang zaman sekarang sudah berbeda sekali."


"Tapi Ayesha kalo bisa sih Dante jangan dikasih main ponsel kalo belum cukup usia. Meskipun secanggih apapun juga ada efek negatifnya kalo sembarang kita kasih. Kamu juga gak sepenuhnya bisa mengawasi anakmu terus." Ibu Raina memberikan nasihat kepada kedua anaknya itu.


Ibu Raina juga berharap kedua anaknya bisa mendidik anak mereka dengan baik serta menjadi orang tua yang baik pula bagi anaknya.


Orang zaman dulu mungkin masih belum paham sepenuhnya akan bagaimana mendidik anak yang baik. Terkadang anak tumbuh karena kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung sehingga perkembangan mental memengaruhi karakteristik serta sikap anak tersebut.


"Iya bu, Ayesha terus berusaha menjadi mama yang baik buat Dante." ujar Ayesha sambil menatap kearah anaknya yang sepertinya mulai mengantuk.


"Kayaknya ngantuk ini, mau tidur sama tante gak Dante? Tante gendong ya!?" kata Anesha


"Aku kasih ASI dulu kak, habis itu kakak temani tidur."

__ADS_1


__ADS_2