Terjebak Wajah Tampan Billioner

Terjebak Wajah Tampan Billioner
Bab 41


__ADS_3

seminggu berlalu Ayesha sudah melaksanakan KKN bersama sekelompok temannya. Sementara Radika selama ditinggalkan sendirian dan tidur seoeang diri pun selalu mengganggu jam tidur Ayesha saat malam hari hanya sekedar menemani suaminya terlelap.


Mau tidak mau Ayesha mengiyakan saja permintaan suami yang akhir-akhir ini lebih kekanakan dari dirinya. Ayesha bingung tapi memilih diam dari pada seperti waktu itu. Dia pernah mengatakan Radika terlalu kekanakan karena telah membangunkannya tengah malam sebab Radika terbangun dan minta ditemani hingga tertidur.


Kini semua itu telah berakhir, Ayesha tidak lagi disusahkan atau kekurangan tidur lagi setelah pulang ke rumah nanti. Tapi ketika ingat rumah dia jadi kepikiran kakak dan ibunya. Ayesha jadi merasa tak becus menjenguk ibunya semenjak ia menikah. Banyaknya tugas kampus sekaligus istri semua hal jadi terlupakan seperti hal penting ini.


Sambil menunggu jemputan dari orang suruhan suaminga Ayesha mencoba menelpon kakaknya.


"Halo kak, gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah baik dek! Kamu sendiri gimana? Semua baik-baik aja kan?!"


"Selalu baik kak, meskipun aku sibuk tugas kuliah jadi tinggal sisa capeknya begitu sampai rumah!"


"Syukur kalo gitu, kenapa dek kok tiba-tiba menelpon?"


"emang kenapa kalo aku telpon? Gak boleh gitu kak?"


"Ya boleh aja sih, tapi kakak kan lagi ngajar dek, lihat jam dong!"


sekilas Ayesha melirik jam tangannya,"eh iya kak maaf ya, tapi ini udah sore masih ngajar juga kakak?!"


"Masih dek, udah ya nanti lagi kasian mahasiswa kakak udah nunggu, kakak matikan ya !"


Ayesha mendengus sebal, kakaknya itu selalu saja mematikan tanpa mengatakan sepatah kata bahwa dia merindukan adeknya. Bahkan Ayesha tidak sempat menanyakan kabar ibunya!


Beberapa menit kemudian jemputannya sudah datang. Supir pun turun dari mobil untuk membawakan barang bawaan istri majikannya. Ayesha masuk ke dalam mobil sambil menunggu supir selesai menata barang dibagasi mobil.


"Kita berangkat ya Non,"


"Iya pak, oh ya pak gimana kabar suami saya di rumah? Dia gak bikin ulahkan selama saya pergi?" tanya Ayesha


supir mengaduh didalam hati, ternyata Nona Ayesha tidak tahu kelakuan suaminya kalo sedang tidak ada di rumah.


"Sa-saya hanya mendengar dari para pekerja saja, kalo Tuan Radika selalu membuat berantakan isi rumah"


Ayesha mengernyit heran,"Berantakan bagaimana pak? Suami saya itu termasuk orang yang bersihan," elak Ayesha belum percaya


"Ah lebih baik Nona melihat dengan mata kepala sendiri saja, saya juga bingung bagaimana menjelaskannya"


Ayesha mengangguk saja meskipun dikepalanya masih banyak tanda tanya.


Menghabiskan waktu berjam-jam lamanya akhirnya sampai juga. Ayesha meminta bantuan kembali untuk membawakan barangnya sebab badannya sungguh lelah karena terlalu lama duduk.


"Tolong ya pak bawakan masuk."


"Baik Non,"

__ADS_1


Begitu masuk rumah dia disuguhi meja ruang tamu yang berserakan makanan dimana-mana. Pelayan yang masih ada di rumah mulai ketar-ketir melihat raut wajah Ayesha menahan amarah.


"Bibi....!" Ayesha memanggil bibi sebagai penanggung jawab setiap para pelayan bekerja


Bibi yang sedang bekerja terkejut mendengar suara yang menggema sampai ke taman belakang. Mata bibi salah fokus mengarah ke meja ruang tamu membuatnya menghela nafas lagi dan Ayesha melihat itu.


"Bibi, sejak kapan suamiku melakukan hal ini?" Ayesha mulai menunjukkan taringnya yang jarang ia keluarkan. Ayesha sungguh jengkel kali ini pada Radika.


Sementara Radika belum mengetahui jika Ayesha sudah datang. Sebentar lagi dirinya mungkin akan dikuliti di tempat.


Brak..


Radika menoleh ke sumber suara dengan wajah merekah bahagia dia turun dari kasur berlari menghampiri Ayesha. Namun, langkahnya terhenti menatap wajah beringas istrinya.


"Kamu kenapa Sayang?!"


"Kenapa...kenapa, kamu itu ABI!!! bukannya aku pulang rumah keadaan bersih tapi malah kayak tempat pembuangan sampah kota abi! Kamu itu loh kenapa sih?!" Ayesha pun marah sambil berkacak pinggang.


"Sayang...kamu marah ke aku," wajah Radika langsung murung dengan mata berkaca-kaca ingin menangis.


Ayesha mengerutkan dahi, aneh sekali dengan suaminya yang sikapnya sangat bocil ini.


"Bi, kamu itu kenapa sih? Kok mulai dari aku berangkat sampai aku pulang KKN kamu kayak kekanakan banget sikapnya?" Ayesha kebingungan.


"Aku? Aku gak papa kok sayang, tapi aku agak kayak suka nyemil terus padahal aku biasanya jarang banget makan cemilan bahkan hampir tiap jamnya aku makan terus."


"Abi besok kita ke rumah sakit, sepertinya diantara kita berdua perlu diperiksa!"


"Aku gak sakit sayang, aku sehat kok" Radika mencoba untuk meyakinkan istrinya.


"No! Pokok gak ada bantahan besok kita ke rumah sakit." perintah istri sudah tidak bisa diganggu gugat. Radika mengangguk lesu hanya bisa pasrah.


Keesokan harinya, Ayesha dan Radika dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dan sesampainya mereka pun pergi menuju dokter psikiater


"Sayang!! Apa maksud kita pergi kesini?!!!" Radika tidak percaya bahwa istrinya mengira dirinya sudah gila.


"Aku mau tahu aja kenapa tiba-tiba kamu berubah jadi kekanakan, itu saja." Ayesha berusaha menjelaskan agar tidak menyinggung hati suaminya.


"Ya tapi gak gini juga kali Yang!"


"Lah terus kayak gimana? Pak uztad? Dukun? Siapa dong?!"


" Ya gak juga !" suara Radika makin melemah, dia juga penasaran akan tingkahnya sekarang.


"Makanya jangan banyak bicara dulu, kita lihat apa yang dikatakan dokter!"


Setelah lama menunggu antrian, nama mereka pun dipanggil. Ayesha menarik tangan suaminya dan mereka pun masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


"Selamat pagi Tuan Radika dan Nyonya Ayesha bagaimana kabar anda berdua?"


psikiater itu menyambut dengan ramah pasutri itu. Ayesha tersenyum ramah sementara Radika masih tetap dengan wajah kusut karena kesal dengan istrinya.


"Pagi juga dok,"


"Ada yang bisa saya bantu ?" lanjut dokter itu


"Ah begini dok, setelah saya pulang dari KKN suami saya ini sikapnya agak aneh dok, padahal dia ini tipe orang bersihan loh tapi tiba-tiba dia jadi suka menebar makanan di ruang tamu. Saya jadi khawatir dok, kenapa suami saya berubah ? Apa dia kemasukan setan ya dok?"


psikiater itu menyimak dengan seksama dan tersenyum. Melihat keluhan yang dikatakan Ayesha psikiater itu bisa mengkira-kira jika yang sumber masalahnya ada pada Ayesha.


"Emm begini ya bu, memang terkadang perubahan sikap orang bisa disebabkan karena sesuatu yang tidak jelas. Namun menurut cerita dari Nyonya sendiri, suami anda ini sedang terkena sindrom cauvade."


memdengar kata sindrom Ayesha semakin khawatir takut jika terjadi sesuatu dengan suaminya. Begitu juga dengan Radika, diumurnya yang masih berkepala dua masa dia sudah di diagnosis penyakit bersindrom.


"Seberapa bahaya dok? "


batin dokter itu mengapa pasutri didepannya sangat menggemaskan, ternyata mereka nikah muda jadi kemungkinan pengetahuan tentang kehamilan tidak seberapa diketahui.


"Sindrom Cauvade itu dikenal dengan kehamilan simpatik, para suami akan merasakan sakit atau tanda gejala yang sering dirasakan para ibu hamil, Nyonya."


Ayesha menatapi Radika sangat marah,"Kamu selingkuh dibelakang ku?!"


Radika terkejut dengan tuturan istrinya."Mana ada! Aku cintanya sama kamu bukan ke orang lain, ngelawak kamu itu!" Radika pun semakin dibuat kesal.


"Terus tadi kata dokter kamu lagi mengalami kehamilan simpatik!" Ayesha masih tidak menadari bahwa dirinyalah sumber masalahnya.


"Permisi Nyonya sepertinya anda perlu memeriksakan diri pada dokter kandungan. Saya mengira anda tengah hamil saat ini."


"APA!!!" teriak kaget Ayesha, bila sungguh ada dia sungguh tidak merasakan apapun.


......................


"Aku tetap akan menjadikan kamu istri tapi jangan mengharapkan apapun terutama cinta diantara kita.


Deg


Siska membisu atas ucapan Vandi barusan. Dia saja belum mengambil langkah apapun untuk melakukan pendekatan namun tiba-tiba tembok menghadangnya. Tak ada harapan untuk Siska agar bisa menggapai hati Vandi yang begitu dingin terhadapnya.


"Kenapa kamu mengatakan itu Van? Kita akan menjadi sepasang suami istri, kamu tidak mau membangun sebuah keluarga bersamaku?!" Siska masih berpikiran baik. menganggap semua ucapan itu hanya lelucon sekejap.


"Sepertinya harapanmu terlalu tinggi ya dengan pernikahan ini. Kamu kira membangun keluarga bahagia semudah membalikkan tangan begitu?!heh... Mimpi saja kamu Sis!"


Tes..


Setetes air mata mengalir di pipi putih Siska. Rupanya sebelum dirinya berharap pun semua sudah sia-sia. Hati paling terdalam masih ada secercah harapan untuk tidak semudah itu menyerah. Pernikahan mereka berdua masih belum terlaksana setidaknya Siska tetap terus mencoba. Bila Tuhan berkehendak semua pasti ada jalannya.

__ADS_1


__ADS_2