
Jauh jauh hari sudah direncanakan matang oleh Mama Helen, tentu saja saat Radika dan Ayesha ke rumah, keduanya dibuat takjub. Sesuai seperti yang diinginkan Radika tanpa perlu banyak bicara semua siap saat hari H nya.
Dan sekarang, para supir san asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Mama Helen membantu membagikan beberapa kotak serta asesoris kepada tetangga terdekat mereka. Sementara Radika dan Ayesha membagikan ke beberapa panti asuhan. Tak lupa Ibu Raina juga ikut membawa pulang kotak selamatan itu dan memberikannnya ke tetangga dekat rumah.
Begitu sampai di halaman panti asuhan, seseorang yang menjadi ibu asuh anak panti datang menyambut.
"Selamat datang pak dan bu Ayesha, ayo silakan masuk dulu."
Ayesha yang terlalu bersemangat sampai tidak melihat jalan hingga membuatnya hampir terjatuh, untung saja Radika sigap menarik tangan Ayesha.
"Sayang!!!"
"Astaga... hampir aja," ujar Ayesha sambil menatapi perutnya dan mengusapnya penuh kasih.
"Hati-hati sayang, jalannya diperhatikan!"
"Iya abi, aku minta maaf" Ayesha menyesal karena sudah membahayakan Cabi mereka.
Tiba-tiba seorang anak laki-laki dan perempuan yang sedang bergandengan tangan layaknya adik dan kakak.
"Wah...om nya hebat dan keren. Pasti omnya sayang dan cinta ya sama istri om!" celetuk anak perempuan itu.
Radika tersenyum."Begitukah? Sehebat dan sekeren itukah om?!"
dengan penuh keyakinan anak perempuan itu mengangguk mantap.
"Dek, kamu jangan memuji orang lain seperti itu! Kakak tidak suka. Kakak juga bisa seperti om itu, nanti kalo adik terjatuh kakak yang akan menyelamatkan adik!" dengan mantap anak laki-laki disebelah bocah perempuan sangat lantang ketika mengucapkan itu.
"Janji ya? Adik gak suka kakak berbohong!"
"Iya kakak janji sama kamu!" kedua bocah itu menautkan kedua jari kelingking mereka sebagai perjanjian sehidup semati.
Ayesha dan Radika terenyuh melihat keakuran dua bocah itu. Ayesha tidak sabar menantikan kehadiran Cabi mereka.
"Maaf ya pak bu, anak-anak suka berbicara tidak jelas," ucap ibu panti dengan rasa tidak enak hati.
"Haduh bu, kenapa bicara gitu? Saya merasa senang melihay anak-anak akur itu tandanya mereka saling mengasihi satu sama lain."
"Iya bu, saya kadang suka terharu sendiri melihatnya. Ayo bu masuk dulu takut panas ." Radika pun perlahan menggiring Ayesha masuk ke dalam rumah.
Dibantu oleh supir yang membawa semua barang bawaan mereka masuk ke dalam. Semua anak panti merasa gembira dan tak sabar untuk melihat isi dari kota tersebut.
"Nah...anak-anak disini ada sedikit rezeki dari kita untuk kalian semua, kalian semua bisa makan malam enak hari ini. Kalian tahu, perempuan cantik disamping om ini lagi bawa adik kalian didalam perutnya. Om berharap kalian ikut mendo'akan semoga tante disamping om nanti bisa lancar saat mengeluarkan dari perut ya?!"
Dengan pelan Radika menjelaskan kepada anak panti yang terlihat sangat bersemangat.
"Tante semoga adik aku sehat ya di perut tante!" seru seorang anak perempuan yang tadi mereka temui
"Nanti kalo adiknya keluar dari perut tante, jangan lupa ajak main kesini ya Om!" Ditimpali olwh anak lain
Radika dan Ayesha tersenyum sambil mengangguk pasti. "Oh pasti dong om dan tante bakal bawa adik main kesini ya!" suasana bahagia melingkupi semua orang yanga da di panti itu.
Setelah itu, masing-masing anak pun diberikan satu kotak. Sementara Radika, mendekati ibu panti yang ikut membantu Ayesha.
"permisi bu,"
"Iya Pak, ada apa?!" kata ibu panti
__ADS_1
"Saya ingin membicarakan hal penting dengan ibu, "
"Oh baik pak, mari saya antar ke ruang kerja saya."
"Baiklah" ibu panti pun menuntun Radika ke ruang kerjanya. Begitu masuk ke ruangan itu, Radika langsung miris melihat atap yang mulai berlumut dengan dinding berbahan triplek.
"Maaf ya pak, ruangannya jelek. Silakan duduk."
Keduanya pun duduk saling berhadapan."Jadi begini bu, saya akan langsung ke inti saja . Saya berencana ingin membantu panti ini dengan sedikit renovasi dan memberikan donasi selama panti ini berdiri. Jika memang ibu berkenan, izinkan saya membantu agar panti ini semkain membuat anak-anak yang lain nyaman untuk tinggal."
Ibu panti tidak menyangka hingga menangis sambil menutup wajahnya, Tuhan telah mengirimkan seseorang yang mau membantu rumah panti ini yang mulai melapuk sedikit demi sedikit.
"Hiks...bagaimana cara saya untuk berterimakasih pada pak Radika? Saya merasa bersyukur sekali bertemu dengan bapak!" ucap ibu panti dengan tersedu-sedu.
"Ini hanya sedikit pertolongan dari saya, tidak perlu berterimakasih kepada saya. Lebih baik ibu berterimakasih kepada Allah saja. Semua ini berkat doa ibu."
"Iya pak, sekali lagi saya berterimakasih."
Semua urusan sudah terselesaikan, Radika dan Ayesha pun berpamitan pulang. Anak panti merasa belum puas bermain bersama denga Ayesha serta Radika.
"Anak-anak sudah kapan- kapan om dan tante akan datang kesini bersama dengan adik. Kalian harus bersabar ya!" tutur ibu panti penuh pengertian
"Baik ibu, kami akan bersabar menunggu om dan tante datang lagi!" dengan seksama anak panti mengucapkan hal itu. Ayesha dan Radika hanya bisa tersenyum.
Mereka pin melambaikan tangan sambil meninggalkan halaman rumah panti asuhan itu.
"Aku senang sekali hari ini abi,"
"Abi juga sayang. Mereka semua anak-anak yang manis."
"Anak kita akan lebih dan lebih manis lagi sayang," Ayesha membenarkan hal tersebut lalu menyandarkan kepalanya di pundak Radika, tanpa sadar tertidur pulas.
......................
Beberapa bulan kemudian...
Di tengah malam, dimana semua orang tertidur nyenyak tiba-tiba Ayesha terbangun ingin pergi ke kamar mandi. Dengan kondisi perut membesar tentu sedikit lebih sulit dari sebelumnya.
Begitu Ayesha akan duduk sesuatu membanjiri pangkal pahanya seperti air seni.
"Apa ini?!" Ayesha tidak mengetahui jika air ketubannya sudah pecah. Menurut HPL yang dikatakan kurang seminggu lagi jadi pikir Ayesha HPLnya masih jauh.
"Abii!!!...Bi...abi!!!" teriak Ayesha memanggil Radika yang mendengkur halus. Akan tetapi tersentak kaget mendengar teriaka Ayesha dari dalam kamar mandi yang tak sepenuhnya tertutup.
"Heh...Sayang!!" sontak Radika bangun dengan kepala yang masih setengah pusing.
"Sayang, kamu kenapa?!"
"Aku mau pipis tapi kok rasanya banyak banget "
Radika menatap kearah lantai beralih melihat paha Ayesha dan membelalak.
"Sayang!!! Astaga kamu mau lahiran ini!!"
"Hah!! Lahiran gimana ?!" Ayesha yang masih linglung dengan keadaannya membuat Radika cemas seketika. Berlari kearah nakas, memperintahlan supir dan bibi untuk menyiapkan apa yang dibutuhkan.
"Sayang ayo abi gendong..." tergopoh-gopoh Radika sampai tidak sadad dia masih memakai pakaian tidur dengan celanan pendek sepaha.
__ADS_1
memilih menuruni anak tangga, Radika berjalan cepat keluar rumah, sudah siap bibi dan supir.
"Pak mobil siap," ujar supir sambil membantu membukakan pintu. Radika sangat sigap dalam menyikapi hal ini dan dengan segera mungkin membaca kondisi dengan cepat.
"Jalan pak, cepat!!! "
Supir pun menancap gas mobil dan pergi menuju rumah sakit terdekat. Di pertengahan jalan, Ayesha mulai merasakan sakit yang luar biasa.
"Argg!!!!..." rintih Ayesha
"Sayang... Tarik nafas... hembuskan perlahan, lakukan terus menerus dan jangan mengejan oke?!" Ayesha bisa mendengar perkataan Radika namun tak sanggup untuk sekedar menjawab iya.
"Abii...a-aku gak ku-kuat!!" dengan nafas yang patah-patah, Radika terus menguatkan Ayesha agar tetap bertahan dan berjuang bersama.
"Sayang sebentar lagi, jangan menyerah...sebentar lagi Cabi akan bertemu kita Sayang," Ayesha mengangguk pelan
Sesampainya di rumah sakit, Radika membopong Ayesha dan suster yang berjaga shif malam langsung membantu mendorong brankar menuju ruang persalinan.
"Dok...sepertinya sudah pembukaan terakhir ini!"
"Persiapkan semuanya!!
"Siap Dok,"
Memang rumah sakit terbaik di kota semua pegawai serta pelayanan disitu terjamin. Yah, itu adalah rumah sakit milik Radika. Dia mengajarkan pada semua pegawai yang bekerja disini untuk terus bekerja dengan benar dan memberikan pelayanan terbaik mereka. Dari semua itu tentu saja ada gaji besar yang mereka terima, jika kesalahan setitik debu Radika temukan tak segan dia pecat setelah mempertimbangkan segalanya.
Radika tidak lupa menghubungi keluarga di rumah untuk datang ke rumah sakit. "Pak tolong urus administrasinya, saya tidak mau meninggalkan istri saya didalam seorang diri."
"Baik pak, serahkan pada saya." Radika mengangguk percaya. Tak lama kemudian seorang dokter wanita mempersilakan Radika masuk untuk menemani Ayesha.
"Pak, silakan masuk ,"
Radika disambut oleh suara Ayesha yang tengah berusaha dan berjuang. Dengan keringat dingin di telapak tangannya, Radika menggenggam tangan Ayesha seolah menyalurkan semangat untuk istrinya.
"Ayesha Sayang... Kamu pasti bisa...kamu kuat... Allahhuakbar..."
selama proses persalinan Radika terus mengucapkan asma Allah agar Ayesha selalu ingat dan berjuang. Sampai tak terasa jeritan tangis seorang bayi laki-laki hadir merubah suasana yang tadinya mencengkram.
"Alhamdulillah Sayang...kamu berhasil, Cabi kita sudah lahir ke dunia." Ayesha dengan peluh yang membasahi kening dan tetesan air mata mengalir dari sudut matanya.
"Ya allah...alhamdulillah!!!" gumam Ayesha dan jatuh pingsan.
Radika yang tak sengaja melihat istrinya memejamkan mata menjadi sangat khawatir
"Dok...istri saya, dia kenapa menutup matanya?!"
"Pak Radika anda tolong tenanglah, istri anda hanya jatuh pingsan karena kelelahan sehabis berjuang demi si tampan ini."
merasa tak sepenuhnya yakin, Radika menjulurkan jari telunjuknya dan mencoba merasakan hembusan nafas dari hidung Ayesha. Radika merasa lega.
"Syukurlah..."
Malam ini, moment menegangkan bagi keluarga besar Radika dan Ayesha. Menyambut Cabi yang sudah lahir kedunia yang akan senantiasa mewarni kehidupan Cabi nantinya.
...****************...
Ehem...Akhirnya Ayesha lahiran Rek!!!🤭 Jangan lupeh hadiah mawar buat Dek Cabi... sebagai sambutan dia ke dunia penuh warna-warni ini👶👶❣️❣️❣️
__ADS_1