Terjebak Wajah Tampan Billioner

Terjebak Wajah Tampan Billioner
Bab 43


__ADS_3

Malam yang paling dinantikan oleh pasangan pengantin baru adalah malam pertama. Di malam itulah harusnya mereka memadu kasih bersama menciptakan adegan cinta yang luar biasa. Namun, malam pertama antara Vandi dan Siska sungguh tidak terjadi apapun. Setelah keduanya mandi, mereka langsung merebahkan diri diatas kasur berukuran size king.


Siska dalam pejaman matanya hanya pura-pura tertidur menantikan apa yang akan dilakukan Vandi kepadanya. Akan tetapi, itu semua cuma khayalan belaka tanpa jaminan cinta. Hingga pada akhirnya, Siska tertidur lelap sementara Vandi tidur terlambat untuk mengurus pekerjaannya sampai pukul 11 malam.


Menjelang pagi, dua insan itu masih bergemul dalam selimut. Kondisi kamar yang masih gelap membuat mereka mengira bahwa ini masih tengah malam. Siska mengerjapkan matanya beberapa menit kemudian, memandangi langit atap kamar sambil berkedip.


"Jam berapa ya sekarang?"


Siska masih menginap di rumah Vandi tentunya tidak ada mama mertua disini. Siska beranjak turun dari kasur dan membuka gorden jendela lalu sinar matahari menerpanya membuat silau mata sampai membangunkan Vandi dari tidurnya.


"Tutup gordennya! Kamu membuatku terbangun." ucap Vandi dengan suara khas orang bangun tidur.


"Ini tapi sudah siang sekali Van!"


"Masa bodoh, tutup sekarang!" tegas Vandi


Siska menghembuskan nafasnya memilih untuk membersihkan diri dan turun ke bawah. Semua pelayan sibuk membersihkan ini itu, mereka memiliki tugas dan bagiannya sendiri.


"Sepertinya aku kesiangan banget, bahkan makan pagi nya sudah siap di meja." ujarnya sambil menatap jam dinding menunjukkan pukul setengah 10.


Kemudian, Siska memilih untuk pergi ke taman belakang. Di sebuah gazebo dia melihat biru muda langit seperti hamparan lautan bersih.


"Mungkin hari ini aku berencana untuk pergi ke rumah dan membelikan hadiah selamat untuk Ayesha yang tengah hamil."


Karena sudah mulai bosan, dia kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian. Membuka pintu kamar, rupanya Vandi masih stay tertidur.


"Van, Vandi!" panggil Siska sambil menggerakkan tubuh Vandi untuk bangun sebentar.


"Pergilah! Jangan menggangguku!" Sarkas Vandi mengusir Siska yang tak lagi ingin membangunkan.


"Aku akan ke rumah untuk ambil barang yang aku butuhkan, dan sekalian memberika selamat pada Ayesha."


Vandi hanya mendengarkan dalam tidurnya.


"selamat untuk apa ?!" batin Vandi penasaran


Seusai mengganti pakaiannya, Siska meraih tasnya di meja dan pergi.


......................


Ayesha merasa senang bahwa dia hamil, tapi ada kekhawatiran didalam hatinya jika dirinya tidak bisa menjaga janinnya karena Ayesha dalam proses tugas akhir atau TA.


"Apa aku bisa membagi waktu dengan benar?" gumamnya, Ayesha mengelus perutnya yang masih datar itu.


Ceklek...


"Yang, udah bangun kamu rupanya, mau langsung mandi?!" tanya Radika yang baru saja keluar dari kamar mandi dalam keasaan basah.


"Bentar bi, agak mager aku ini," jawab Ayesha yang masih bersandar di dipan kasur.

__ADS_1


"Rencana hari ini kamu mau kemana Yang?"


"Aku mau ke kampus buat ngumpulin judul TA bi," Ayesha menjawab sambil menatap lapar kearah suaminya.


"hati-hati ya, jangan terlalu capek, ingat kamu lagi hamil trimester pertama ya, aku gak mau terjadi sesuatu yang berbahaya buat kalian berdua!" cetus Radika sambil mengelus puncak kepala istrinya yang menikmati pelukan hangat.


"Heem, aku bakal sebisa mungkin menjaga calon bayi kita kok Abi, dia sangat pintar sekali bi." ucap Ayesha dengan tangan usilnya yang meraba perut berotot Radika.


"Ya sudah, kabari aja nanti kalo sudah berangkat! Juga ini tangan kamu usil banget ya, aku mau berangkat kerja jangan bikin aku tekat Sayang,"


"Hehe, siap abi sayang, Love you!"


"Love you too Sayang,"


Keseharian mereka yang sangat indah, orang di luaran sana begitu mendambakan momen romantis seperti itu. Diratukan oleh suami, Tidak memusingkan keuangan untuk makan esok, dan semua kebutuhan istri langsung terpenuhi.


Ya, itu membuat mereka iri namun kadang kala kesulitan pada setiap manusia itu berbeda-beda. Kita tidak akan tahu bagaimana kesulitan yang mereka hadapi itu mampu untuk kita selesaikan. Makanya diluaran sana banyak yang asal menilai namun di belakangnya tidak ada yang mengetahuinya betapa melelahkannya itu semua.


Pukul setengah 10 Ayesha tiba di kampus. Pakaian yang dikenakan hari ini Ayesha memilih gaya dress berwarna peach dengan ikatan pony tail. Para lelaki memandang kagum, tidak dengan wanita yang menatapnya sinis.


Entah apa yang terjadi, aura Ayesha kini lebih terpancar mempesona. Apa ini efek dari hamil muda?


"Lihatlah, dia sungguh beruntung bisa dinikahi seorang bilioner terkaya di dunia!"


"Foya-foya terus pasti kerjaannya diluaran sana!"


"Pasti barang-barangnya branded semua tuh!"


"Non, Mereka-"


"Sutt..sudah pak, biarkan saja dan juga tidak perlu memberitahukan ke suami aku, dia bakal heboh sendiri nanti."


Pak supir hanya mengangguk pasrah, padahal semua tudingan itu tidak benar adanya. Majikannya seseorang yang sederhana dan dermawan bagi mereka yang bekerja di rumah Ayesha.


"Nanti saya kabari kalo sudah waktunya pulang pak." ujar Ayesha lalu pergi. Ayesha pun langsung pergi menuju ruangan dosen pembimbingnya.


Tok...tok...tok...


"Masuk,"


"Permisi pak Ramdan,"


"Iya Ayesha, duduklah. ada yang bisa dibantu?!"


"Saya mau mengajukan judul untuk TA saya pak,"


"Ouh cepat sekali ya, baru kamu saja yang mengajukannya. Sini biar saya lihat." dosen itu meneliti judul yang sudah dibuat oleh Ayesha.


setelah memperbincangkan kelebihan dan kekurangan pada judul TA itu, Ayesha pun berpamitan. "Terimakasih Pak Ramdan, Saya akan segera revisi,"

__ADS_1


"Baiklah, lakukan yang terbaik." Ayesha pun pergi keluar ruangan.


Merasa perutnya kembali lapar padahal belum sampai 3 jam, dia merasakan lapar lagi. Akhirnya Ayesha melangkah ke arah kantin. Menghirup aroma wangi dari masakan membuat dirinya tergugah.


"Makan apa ya, jadi pengen beli semuanya aku," gumamnya menatap sekeliling.


Bruk...


Tubuh Ayesha terdorong dan hampir terjatuh oleh segerombolan mahasiswa satu tingkat dibawahnya. Namun, Seseorang menarik tangannya dari belakang membuat dirinya seolah tengah berpelukan di keramaian publik.


"Hati-hati Ayesha, untung saja aku tepat waktu!" Ayesha sontak menoleh ternyata lelaki itu adalah Vandi.


"Va- maksudku Pak Vandi!" hampir saja Ayesha salah menyebutkan kalo tidak dikira selingkuh dia.


"Sedang apa kamu disini?"


"Saya mau makan pak, orang mau ke kantin emang tujuannya apa lagi kalo gak beli makan pak?!" celetuk Ayesha


Vandi mendengus sebal, juga bodohnya dia menanyakan pertanyaan konyol seperti itu.


"Biar aku temani, Nanti semakin bahaya kalo ada yang menyenggolmu!"


"Tidak perlu pak, saya akan lebih berhati-hati lagi!" Ayesha menolak dengan halus tetapi Vandi masih gigih.


"Jangan membantah!" tegas Vandi


Ayesha mau tidak mau dia menyetujuinya


Dibalik hal tersebut seseorang berniat jahat dengan memanfaatkan hal tersebut untuk menghancurkan rumah tangga Ayesha dan Radika.


"Mau makan apa?" tanya Vandi


"Emm...Saya pengen makan bakso, terus risoles mayo dan ketoprak pak."


"Gak kurang banyak? Sekalian aja satu kantin kamu makan Ayesha!"


"Hehe, saya lapar pak, maklum lagi isi nih!"


Vandi melupakan satu fakta yang tadinya dia ingat.


"Hemm, duduk sini biar aku yang pesankan!" Vandi beranjak dari kursi.


......................


Ting...


Notifikasi chat masuk di ponsel Radika. Laki itu membuka dan melihat isi pesan tersebut. perlahan emosi membakar hatinya yang tadinya baik-baik saja.


"Bawa istriku pulang sekarang!" titahnya pada bodyguard bayangan yang mengikuti Ayesha kemanapun dia berada.

__ADS_1


"Sial, aku kecolongan!" ucap Radika menggeram kesal


__ADS_2