
Ayesha memaksakan diri untuk ikut menemani di hari pertama sang anak masuk sekolah SMA. Dante awalnya melarang keras mamanya agar tidak perlu menemaninya, dia bukan anak balita atau anak kecil lagi yang masih harus kemana-mana ditemani orang tuanya.
Ayesha yang kekeh dengan keputusannya karena tak mau kehilangan momen anaknya masuk SMA. "Sudahlah Dante, biarkan mama ikut menemanimu ke sekolah. Mama janji tidak akan masuk ke dalam, hanya sampai gerbang aja kok!"
"Huft mama. Baiklah setelah itu mama harus pulang, ya?"
Ayesha mengangguk yakin. Di dalam mobil yang sangat hening Ayesha merasa anaknya tidak nyaman dengan keberadaannya.
"Mungkin karena dia sudah merasa dewasa jadi dia merasa malu kali ya?!" batin Ayesha tak semangat
"Dante kamu tidak nyaman dengan adanya mama?" celetuk Ayesha bertanya
mata yang mulanya fokus kearah jalan raya kian beralih menatap mata mamanya. "Bukan gitu Ma, Dante kan sudah bukan anak kecil lagi. Aku juga bisa jaga diri baik-baik, biarkan Dante jadi anak yang mandiri sebagai laki-laki."
Ayesha membisu."Sepertinya mama terlalu berlebihan kali ini, ya? Maafkan mama ya, mama masih tidak menyangka kamu sekarang sudah tumbuh jadi anak yang tampan dan dewasa."
Dante memeluk mamanya penuh sayang dan cinta. Sosok mamanya yang mudah khawatir dan kasih sayangnya yang tak terhingga membuat Ayesha masih melihat Dante layaknya anak kecil yang butuh perhatian dan perlindungan.
"Gak papa ma, Dante tahu itu bentuk kasih sayang mama kepada Dante. Dante sayang mama," Ayesha membalas pelukan sang anak lebih erat.
Sampainya di depan sekolah, Beberapa mobil mewah berjejeran di pinggir trotoar. Banyak siswa-siswi kaya yang diantar oleh supir mereka masing-masing.
"Semangat sekolahnya, jangan nakal karena ini hari pertama kamu sekolah Dante." suara lwmbut yang tak lekang terus menasihati dirinya ini.
"Siap ma, mama hati-hati di jalan ya." ucap Dante, tak lupa menyalami tangan mamanya.
"Pak antar mama sayang dengan selamat ya!" Dante beralih ke supir dengan suara tegasnya agar mengantarkan mamanya pulang dengan aman sampai rumah.
"Siap Den," Dante mengangguk sambil tersenyum kepada mamanya.
__ADS_1
Mobil mamanya pun pergi menjauh, Dante menghela nafas merasa lelah lebih dulu.
"Aku harap hari ini berlalu dengan cepat" gumamnya lalu masuk ke dalam menyusul murid lainnya.
Awal pembelajaran dimulai, seperti biasa wali kelas akan memperkenalkan diri terlebih dahulu dilanjut oleh muridnya.
Semua murid bahkan sudah saling berkenalan satu sama lain sebelum jam masuk tadi. Mereka bahkan sudah duduk berdampingan dengan teman sebangku. Dante memilih duduk dideretan paling pinggir sebelah kiri berdekatan dengan jendela yang kapan saja bisa melihat kearah lapangan.
"Aku gak nyangka murid cowok disini pada ganteng-ganteng."
"Iya, kamu inget gak sih yang waktu kita MPLS anggotan osis cowoknya juga gak kalah ganteng!"
"Tipe idaman aku semua sih, kira-kira disini aku bakal dapat pacar gak ya?!"
"Kamu loh, masih hari pertama udah ngebet pengen pacaran aja!"
Dante memilih cuek dengan semua obrolan yang membahas cewek cantik dan cowok ganteng. Bahkan dirinya sudah tidak peduli lagi jika tidak ada satupun yang mau duduk sebangku dengannya.
Seorang siswa perempuan yang baru saja masuk ke kelas."Pe-permisi bu, izin masuk kelas"
wali kelas itu mengijinkan siswa itu masuk. Hanya tersisa satu kursi kosong disebelah Dante.
"Silakan masuk, kelasnya baru mau mulai kok," jawab ramah wali kelas tersebut.
"Padahal bayanganku, aku bisa duduk dengan sesama perempuan."
"Heem..." Dante menoleh kearah kanannya.
"A-aku boleh duduk di-disini gak?!" terdengar jelas nada gugup dari siswa perempuan dengan rambut kuncir kuda dan kacamata tebalnya itu.
__ADS_1
Dante hanye melirik tanpa membalas pertanyaan tersebut."A-aku rasa kamu gak masalah ka-kalo aku duduk disini. Ka-kalo gitu, permisi ya i-zin duduk."
Masih tak peduli dengan perempuan disebelahnya. Perempuan itu membuka tasnya lalu mengeluarkan sebuah buku tebal berjudul latihan soal.
"Anak pinter toh rupanya!"
Perempuan itu mulai mengerjaka soal tersebut seolah dirinya dengan mudah bisa menjawab semua pertanyaan rumit itu.
Dante yang memang tergolong pintar karena sejak SMP dia belajar begitu keras hingga mengikuti bimbingan belajar online sana sini demi amanat sang papa.
Semua butuh proses dan kerja keras. Dante sendiri tak luput akan hal itu, dia bahkan rela belajar sampai mimisan dan jam tidur berantakan sejak awal kelas 6 dulu.
Dante yang mengingat perjuangannya merada bangga dengan dirinya bahkan sampai mengapresiasi diri. Kerja keras terbayar bahkan dia bisa masuk SMA disini berkat kepintarannya.
"Aku masuk sini tanpa biaya apapun. Papa sendiri memang tidak mengekangku atau memaksa ini itu. Semua atas kemauanku jadi aku menantang diri sendiri untuk berjuang sejak dini."
Kelas pun benar-benar dimulai. Pelajaran pertama masih tergolong ringan jadi semua murid mengikuti dengan tenang. Jam sekolah berlangsung sampai pukul 2.30 bertepatan dengan waktu pulang.
Dante bergegas merapikan alat tulisnya karena dia juga sudah mendapatkan pesan dari supirnya jika ia sudah tiba.
"Minggir dulu, aku mau lewat." kata Dante
"E-eh, iya " perempuan itu berdiri dan memberikan jalan agar Dante bisa lewat.
Melihat Dante sudah menghilang, perempuan itu bergumam." Kayaknya kehidupan sekolahku akan lancar. Laki-laki disebelahku sepertinya tidak menyukai perempuan kayak aku."
Di depan sekolah Dante masuk ke dalam mobil."Kita ke kantor papa Pak!"
"Baik Den," Dante juga sesekali menemani papanya kerja agar sewaktu-waktu ketika dia menggantikan papanya nanti, Dante sudah siap dan mampu.
__ADS_1