
Tadi rumah sakit digemparkan berita bahwa istri sah pembisnis kaya sedunia mengalami keracunan. Direktur RS langsung mengambil siaga mengumpulkan beberapa dokter terpercaya sebelum pihak pasien datang.
Radika tergopoh-gopoh dengan Ayesha digendongannya meneriaki para dokter untuk segera memeriksakan istrinya. Hingga dibawalah Ayesha ke ruang UGD. Radika terduduk, berdiri saja tidak mampu untuk menyangga tubuhnya.
Tidak lama Damian datang terlambat, mereka masih perlu membereskan dan mencari tahu siapa pembawa racun itu serta dalang dibalik masalah ini.
"Apa Ayesha sudah keluar Dik?!" tanya Damian duduk disebalah Radika yang terus menundukkan wajahnya.
"Masih belum, aku harap Ayesha baik-baik saja. Padahal tadi dia sempat tertawa dan tersenyum lebar."
"Dik, aku mencari tahu siapa pembawa racun itu. Ada dua orang tapi yang satunya laki-laki dia terlepas, anak buah Farel sedang mengejarnya."
Radika mengangkat kepalanya, tanganya mengepal erat. "Benarkah? Dimana orang yang tertangkap itu?!"
"Sudah aku bawa ke kantor polisi, dia orang suruhan dengan yang kabur itu."
"Jadi motifnya belum diketahui!" gumam Radika
"Kamu diamlah disini dulu sampai dokter keluar, biar aku dan Farel yang mengurusnya." Radika mengangguk. Radika pun tidak mungkin meninggalkan istrinya sendirian tanpa suami.
Satu setengah jam kemudian, pintu UGD terbuka. Dokter membuka sarung tangannya dan membuangnya ke tempat sampah disebelah pintu. "Bagaimana dok kondisi istri saya?!" Radika langsung mendatangi dokter itu.
"Syukurlah pak Radika, Nyonya Ayesha baik-baik saja. Saya ingin menanyakan apa setelah Nyonya menelan racun itu beliau langsung mengalami muntah darah?!" Radika mengangguk
"Penanganan seseorang yang menelan racun hingga tidak sadarkan diri yaitu membaringkan korban dengan posisi kaki lebih tinggi dari kepala hal ini mencegah agar racun dicerna. Dan pak Radika tepat waktu membawa Nyonya kesini sehingga racun itu tidak sampai ke dalam perut Nyonya." dokter itu memberikan penjelasan kepada Radika. Radika sendiri merasa lega istrinya tertangani dengan cepat, bila tidak entah apa yang harus dilakukannya.
"Sekarang istrinya didalam?!"
"Iya pak, perawat sebentar lagi akan memindahkan Nyonya Ayesha ke kamar rawat inap."
Setelah dikamar rawat inap, tangan yang kanan Ayesha tertancap infus dalam keadaan tertidur. Radika mengusap lembut rambut berantakan Ayesha berantakan dan aksesoris yang tadinya menghiasi kepalanya. Semuanya sudah dibersihkan oleh perawat.
__ADS_1
Deringan dari ponsel Damian yang tertidur di sofa ,Radika pun mengeceknya tertera nama Farel dilayar ponsel.
Radika ganti mengangkatnya ,"Halo bagaimana Rel?!"
Farel mendengar suara atasannya, dia menatap kembali layar ponsel itu dan benar bahwa ia menelepon sahabat atasannya.
"Halo iya pak, Pak Damian dimana ya pak?"
"Tertidur di sofa, ada apa?!"
"Begini pak, tersangka yang kabur sudah kami tangkap dan langsung kami bawa ke kantor polisi."
"Beri penjaga di sekitar kantor polisi berjaga-jaga agar dua orang itu tidak mudah kabur!" titah Radika
"Baik pak, lalu kapan Pak Dika akan menghukum dua orang ini"
"Besok saja, aku hanya seorang diri disini, besok akan ada Mama dan Ibu yang akan ganti menjaga."
Radika meletakkan kembali ponsel Damian di meja. Dia berjalan kearah brankar Ayesha dan duduk dikursi yang sudah tersedia.
"Siapa yang berani meracuni kamu Sayang! Jika aku sudah menemukan siapa dalang dibalik ini, aku akan memburunya sampai dia tidak bisa lari kemana-mana. " ucap Radika merasa geram.
......................
Siska memperhatikan Vandi yang mengamuk seperti singa kelaparan di apart milik laki-laki itu. Sehabis dari pernikahan Ayesha, ia langsung mendatangi apart Vandi. Tadinya Vandi duduk di balkon kamarnya dengan ditemani sebotol wine.
"Sialan!! Hah...hah...hah.. " nafasnya terengah-engah Vandi butuh tempat untuk meluapkan emosi dan amarahnya yang membara.
"Mereka memang bodoh, tol*ol, dan gak becus. Aku harus membungkam dua orang itu agar tutup mulut." Vandi berjalan mendekati Siska yang duduk dipojok sofa dengan posisi sek*si.
Vandi memajukan tengkuk leher Siska dan melu*mat bibirnya hingga terluka karena ciu*man kasar itu. Mengobrak- abrik isi dalam goa itu sampai Siska meleng*uh disela beli*tan benda tak bertulang itu.
__ADS_1
Vandi meraba bagian bawah Siska yang masih berbalut pakaian. Tak puas, Vandi melepas tautan bibir mereka dan mengkoyak hingga rusak semua pakaian Siska.
"Kamu ganas sekali Honey!" ucap Siska dengan suaranya yang menggelitik gendang telinga Vandi.
Menge*cup dari bagian atas perlahan, sampai perut Siska, laki itu pun bermain-main membuat Siska bergerak berlenggak-lenggok seperti cacing kepanasan.
"Aku ingin mencicipi dua buah anggur di gunung milikmu," ujarnya sambil memainkan lembah lembab Siska.
Karena terbakar gairah yang membara Siska mengangguk keras," Ahh..su*ck it Honey sepuasmu!"
Vandi bergerak dengan ganas begitu juga dengan Siska yang berusaha melepaskan pakaian Vandi juga. Tanpa pemanasan atau apapun itu, Vandi langsung melakukan aktivitas mengaduk lembah layaknya orang kesetanan.
Sampai Siska dibuatnya lelah dan kualahan mengimbangi kekuatan superover Vandi sehingga tubuhnya memilih pasrah menerima serangan bertubi-tubi.
......................
Siska terbangun mengerjapkan matanya. Aroma alkohol diruangan itu dan bekas jejak serangan porak-poranda yang dilakukan Vandi ada dikulit sekitar lembahnya. Siska menggelengkan kepalanya agar pening ini hilang dan menyadarkannya.
Ketika akan mendudukan tubuhnya, barulah tubuhnya serasa akan rontok dan bobrok. Denyutan nyeri dan perih dibawah sana dan desisan keluar dari sudut bibirnya yang terluka. Persis korban pemer*kosaan.
Awalnya Siska menyukai kegiatannya dengan Vandi namun sedih dihatinya saat diperlukan seperti hewan tanpa tuan yang suka disiksa. Besarnya harapan dan rasa cintanya pada Vandi membuahkan luka dihati namun diabaikan oleh sang pemiliknya.
"Aku memilih bertahan denganmu meskipun mengorbankan diriku sendiri. Memang apa yang aku lakukan bodoh dimata kamu bahkan orang lain. Tapi, inilah keputusanku tanpa tujuan hati yang jelas."
Siska mengelus rahang Vandi, dia tahu laki-laki disebelahnya yang tidur bersamanya di sofa lebar ini punya banyak tekanan dan beban sejak dulu. Didorong untuk menjadi yang paling terhebat dari orang yang terhebat. Merasa usaha yang dilakukannya belum pernah menghasilkan upaya sesuai ekspetasinya. Memutar otak dengan segala cara bukan instan tapi belum berhasil juga.
Vandi pun pasrah sehingga memilih jalan cepat apapun itu demi mencapai keberhasilam mutlak.
"Butuh waktu berapa lama pun, aku akan selalu menunggu dan menunggu. Dimana kamu kehilangan arah dan tersesat, disitulah aku yang akan menuntunmu."
Puas menatapi ketampanan Vandi, Siska berjalan kekamar untuk mengambil kemeja milik Vandi untuk dikenakannya. Siska akan membersihkan diri saat tiba di apartnya.
__ADS_1