
Radika terus menggoreskan tinta diatas dokumen yang seharga biliunan itu. Mencari pundi-pundi yang untuk hari tuanya nanti.
Tok...tok...tok...
"Masuk," jawab Radika
Dante pun masuk,"Papa aku datang,"
Radika mendongakkan wajahnya,"Oh Dante putraku kamu sampai, sini duduk. Papa ingin bicara dengan kamu!"
"Ada apa Pa,"
"Papa ada tawaran buat kamu, itu pun kalo kamu mau. Papa tidak akan memaksakan kamu."
"Apa itu pa?"
"Papa menawarkan kamu untuk berlatih di perusahaan, ya mungkin setiap 6 bulan kamu akan memcoba beberapa divisi yang ada disini. Tentunya sesuai minatmu mau mulai dari yang mana dulu. "
"Eh papa sungguh? Sudah memikirkan hal ini matang-matang?!" tanya Dante kurang yakin
"Iya sungguh Dante, tapi karena kamu juga sekolah jadi jika kamu mau papa akan memberikan kamu pekerjaan yang sesuai dan juga tidak mengganggu sekolahmu."
Sejenak Dante memikirkan apakah dia menerima atau tidak tawaran ini?
"Dante mau mencobanya pa, tapi janji ya yang ringan-ringan dulu, terus Dante mau kerjaan kantornya dikerjakan di rumah."
"Iya papa janji, bakal kasih yang ringan dulu. Tapi kenapa kamu ngerjakan di rumah?"
"Huft...Dante capek kalo pulang sekolah masih harus ke kantor papa. Dante juga mau ikut ekstrakulikuler Pa!"
"Baiklah itu bisa diatur nanti, semua ini tergantung kamu, apa kamu bisa mengatur waktu kamu atau tidak! Jadi kamu sudah yakin menerima tawaran ini kan?"
"Insyaallah aku yakin Pa. Dante bisa atur semua itu. Berarti deal kalo gitu ya Pa Mulai kapan?"
"Mulai besok dong!"
Dante melotot tak percaya, "Seriusan besok?"
Radika mengannguk tanpa beban." Huft... Baiklah Dante akan melakukan sebisanya dulu."
Radika tersenyum bangga. Dia tidak akan memaksakan hak anaknya untuk saat ini. Biarkan dia menikmati masa mudanya sebelum dia akan dibuat sibuk oleh urusan perusahaan yang memusingkan.
"Hari ini papa pulang jam berapa?"
"Emm, entahlah kalo dilihat dari kerjaan papa mungkin jam 6 sore paling lambat. kenapa Dante?"
"Dante rasa mama sangat kesepian di rumah. Ya masalahnya Mama terlalu memanjakan Dante, papa tahu kan Dante sudah besar?!"
Radika meletakkan bulpointnya dan menatap mata anaknya itu. Dengan senyuman tengil Radika mempunyai ide cemerlang." Haruskah papa membuatkan mu adik Dante? Yah, kamu tahulah papa juga kangen ingin dengar suara bayi menangis lagi di rumah kita."
Dante mengerutkan dahinya." Haruskah?" lagi-lagi Dante kurang yakin.
"Ya tentu saja, mama kamu pasti kesepian makanya dia suka manjain kamu." Radika mengangguk penuh semangat.
"Punya adik pasti merepotkan ya kan pa?!"
"Tidak, mana mungkin repot!"
"Untuk sekarang Dante belum siap, papa cari akal saja bagaimana caranya biar mama gak kesepian lagi." Mau bagaimana lagi, rupanya Dante belum sepenuhnya siap untuk menjadi seorang kakak.
"Pulanglah, temani mama."
"Ya sudah Dante pulang, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
...β¦β¦...
Ayesha tanpa sadar seharian ini kerjaannya hanya menghela nafas dan berleha-leha. Hatinga sangat suntuk rasanya tidak ada yang membuatnya kerepotan.
"Kenapa rasanya sangat membosankan dan sepi sekali? Padahal sebelum punya anak pun aku biasa aja. Apa aku sedang rindu suara tangisan bayi ya?" gumamnya seorang diri
"Dante pasti kedepannya akan lebih sibuk sekolah. Aku tidak mau mati kebosanan di rumah ini."
Ayesha menjatuhkan tububnya. Matanya melihat keatas sambil melamunkan banyak hal di otaknya.
"Semua pekerjaan aku sudah beres, aku juga bingung mau ngapain lagi."
Tok...tok...tok...
__ADS_1
"Masuk," Ayesha bangkit dari tidurnya. Anaknya yang baru pulang sekolah mendatanginya.
"Dante anak mama baru pulang ternyata," Ayesha menyambut uluran tangan anaknya.
"Bagaimana di sekolah tadi?"
"Lancar kok Ma. Tadi dikelas juga perkenalan diri. Oh ya ma, Dante bertemu dengan perempuan, dia kelihatan suram sekali."
"Suram gimana?" alis sebelah kanan Ayesha terangkat, dia bertanya-tanya jarang sekali anaknya ini menceritakan hal seperti ini.
"Iya, kepalanya suka menunduk terus, ngomongnya terbata-bata bahkan suaranya terdengar lesu kayak orang gak makan beberapa hari."
"Kamu penasaran dengan perempuan itu Dante?" tanya Ayesha, kedua alianya terangkat seaakan sedang menggoda Dante yang tengah salah tingkah.
"Mana ada? Dante gak suka sama perempuan yang gak punya semangat hidup kayak gitu."
"Awas loh ya, kemakan sama omongannya sendiri."
"Mana mungkin sih!"
Ayesha terkekeh pelan," Baiklah, pasti dia punya beban hidup yang berat untuknya. Mama harap kamu yang sikapnya selalu dingin kurangi dikit dong! Biar punya teman akrab."
"Dante gak dingin Ma. Hanya membatasi pergaulan dengan orang yang suka bermuka dua. Itu aja."
" Ya sudah kamu ganti baju dan makan siang habis itu."
Dante mangangguk dan pergi dari kamar Ayesha.
...β¦β¦...
Radika baru saja pulang dari kantor. Seperti biasanya sang istri menyambut kedatangannya.
"Abi, " Ayesha menjulurkan tangannya.
"Sayang aku kangen banget sama kamu!!" Radika memeluk istrinya manja.
"Hihi...Abi mandi dulu sana, bau asem."
Radika menghirup bau tubuhnya sendiri namun tidak ada bau asem.
"Gak asem Sayangku. Katamu aku selalu wangi?"
"Dulu kamu pernah bilang ya!"
"Gak, aku gak pernah bilang gitu."
"Ya ya, aku akan mandi kalo gitu."
Ayesha mengikuti suaminya dari belakang."Dante kemana Sayang? Kok aku gak dengar suaranya sama sskali!"
"Dia ada di kamar, paling juga baca buku dia abi."
Radika melepaskan dasinya namun diambil alih oleh Ayesha." sini biar aku aja."
"Aku jadi makin sayang sama kamu."
"Iya iya aku tahu kamu selalu sayang sama aku."
selesai membantu melepaskan kemeja Radika, Ayesha menyampirkan handuk di pundak Radika.
"Sekarang cepat mandi."
"Sebentar dulu." Radika merangkul Ayesha dari belakang sambil mengendusi leher jenjang istrinya.
"Kapan terakhir kali kita main Sayang?"
"Kenapa?!" Ayesha jadi waspada.
"Aku kangen mau main sama kamu."
Glek..
"Ma-main apaan bi?!"
"Main kuda lumping."
ekspresi tengil suaminya ingin sekali Ayesha karungi agar tak membuatnya salah tingkah harus merespon bagaimana ketika suaminya mengajaknya bermain.
"Bikin adik buat Dante, dia bilang bakal kerepotan kalo punya adik sekarang. Tapi, mana mungkin aku menuruti omongan bocah itu."
__ADS_1
Suasana sekitar terasa gerah dan berkeringat. Ayesha dalam hitungan menit mulai perlahan terpancing gairahnya.
"Abi...jangan mancing aku! Aku akhir-akhir ini mudah membuncah gairahnya. Kamu pergilah mandi."
"No. Bukannya bagus kalo kamu merasa gitu? Dengan senang hati aku akan menuruti keinginanmu."
Jemari tangan Radika mulai meraba-raba dan bermain disekujur tubuh Ayesha hingga membuat bulu kuduk Ayesha meremang dan menggerang tertahan.
Radika mengangkat tubuh istrinya dan menaruhnya pelan di atas kasur.
"Let's do it Sayang!
Radika mengecupi leher putih hingga meninggalkan jejak kemerahan disana. Kecupan semakin turun sampai dikedua buah bola kenyal dan lembut seperti mochi.
"Eugh.."
"Nikmati saja Sayang. Abi akan membuatmu melayang setinggi-tingginya."
Dimainkannya bola mochi tersebut. Setelah puas dibagian itu, Radika berpindah di sekitar lembah yang lembab sedari aktivitas ini dimulai. Menci** basah pa**ha Ayesha yang terus menggerang keenakan.
Sampailah di hidangan utama Radika memulai aksinya dengan mengeluarkan meriam yang sedikit demi sedikit mengeras.
"Siap Sayang?"
Ayesha tak kuasa bersuara dia hanya mengangguk lemah."Baiklah tahan sedikit ya!"
Ingin meluncurkan meriamnya namun agak kesulitan.
"Sulit sekali!" berusaha mendorong masuk meriam itu. Namun karena terlalu keras membuat Ayesha teriak kesakitan.
"Arghhh... Abi!! Sakit abi... Lepas dulu...hiks..."
Radika menatap wajah istrinya yang kesakitan reflek melepaskan meriamnya. Darah mengalir dari sela kedua pa**hanya.
"Sayang ada darah!!"
Radika panik karena istrinya mulai tambah kesakitan. "hikss sakit..hiks..." Ayesha merintih sakit sambil meraba perutnya.
Radika bergegas mengenakan bajunya. "Kita kerumah sakit sekarang."
digendongnya Ayesha dan berteriak memanggil Dante.
"DANTE!!! DANTE... CEPAT KELUAR KITA KE RUMAH SAKIT!!
dari kamarnya Dante terburu-buru keluar dari kamar dan matanya menangkap mamanya lemas kesakitan.
"Kenapa pa?!"
"Kita ke rumah sakit sekarang!!"
Dengan segala kepanikan Ayesha berhasil dibawa ke rumah sakit dan segera diperiksa oleh dokter.
"Bagaimana kondisi istri saya?" tanya Radika dengan wajah cemas.
"Semua sudah membaik pak, saya memperkirakan istri anda tengah hamil dan usia kehamilannya baru satu bulan, pak. Agar lebih pastinya silakan anda memeriksan istri anda ke dokter kandungan."
Dante melirik sekilas kearah papanya padahal baru tadi siang dia bilang kalo untuk saat ini dia tidak ingin mempunyai adik. Tapi papanya ini malah mengabaikan ucapannya.
"Huft...Papa bisakah menahan diri sedikit lebih lama? Padahal aku udah bilang tadi siang!!" gumam pelan Dante
"Baiklah dok terimakasih kalo gitu, saya bisa menjenguk istri saya kan?"
"Oh tentu saja pak, setelah ini perawat akan memindahkan istri bapak ke ruang rawat inap."
"Heem..." Dante berdeham
"kenapa Dante?!"
"Mama hamil pa, papa melakukannya terlalu keras."
"Papa juga tidak tahu kalo mama kamu hamil. Mama juga gak bilang ke papa!"
"Ya sudah mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Kali ini aku rela akan direpotkan oleh sosok adik."
Radika tersenyum tipis."Kamu akan jadi kakak yang baik nantinya." Radika mengusap kepala anaknya pelan.
π€π€π€π€π€
Halo pembaca Gak kerasa udah tamat aja cerita ini. Author mengucapkan terimakasih sudah mengikuti cerita ini dari awal sampai akhir. Masih banyak kekurangan didalam karya ini tapi kedepannya akan ada karya yang lebih menarik lagiπ€π€π€
__ADS_1
Author berencana merancang kisah hidup Dante yang akan menjadi penerus dari kesuksesan dari ayahnya. Ditunggu ya para pembaca Bobooπππ