Terjebak Wajah Tampan Billioner

Terjebak Wajah Tampan Billioner
Bab 13


__ADS_3

1 bulan kemudian...


Semenjak hari itu, mereka merealisasikan keputusan itu. Selain itu, banyak perubahan yang tampak jelas dan disadari oleh orang disekitar mereka. Radika yang semakin mendingin seperti puncak gunung es dan Ayesha yang selalu mencari berbagai cara untuk mengalihkan pikirannya agar tidak terfokus pada Radika. Awalnya sulit, memendam dan menahan semua perasaan dihati tidaklah mudah bagi keduanya.


Radika menyibukkan diri dengan memperluas koneksi dan bisnisnya. Radika terbang kesana kemari, dari satu negara ke negara yang lain. Mama Viani jadi kesal mengingat anaknya yang tidak berusaha mencari jodoh lalu membawanya kehadapannya.


Tok...tok...tok...


"Permisi pak Dika," ujar Farel


"Masuk Rel"


"Ada apa?!" Radika menghentikan gerakan jemari tangannya.


"Mama anda datang untuk berkunjung, beliau badu saja datang," ucap Farel melapor, Radika tidak mau bersikap konyol menyuruh mamanya pulang, padahal dia juga bisa menebak tujuan sang mama datang.


Baru-baru ini mama Viani menyinggung topik jodoh dan nikah. Ya, Radika punya firasat buruk setelah itu. Mama Viani akan mengejar dan menstalker anaknya untuk menanyakan hal tersebut.


"Suruh masuk," titahnya, Farel mengangguk dan keluar dari ruangan.


Di luar mama Viani tidak berhenti tersenyum ramah karena menantikan jawaban dari anaknya.


"Anak kesayanganku, bagaimana kabarnya?" mama Viani berjalan dengan anggun dan menduduki sofa yang sedikit berjauhan dengan meja kerja Radika.


"Kabarku baik Ma,"


"Non..non...bukan kabarmu yang mama tanyakan anakku tapi calon yang kamu sembunyikan dari orang tuamu." Radika heran, seorang mama akan cemas dengan anaknya yang sebulan tidak pulang dan suka berpergian lalu menspam menanyakan kabarnya tapi berbanding terbalik dengan mama Viani ini.


"dia sungguh mamaku, kan? Bukan tipu-tipu ya kan?" ucapnya memelas dalam hati.


"Kenapa melamun sih mama tanyain, jawab dong gimama kabarnya?"


"Ma, Dika itu lagi sibuk-sibuknya kerja dan juga tidak punya banyak waktu hanya untuk itu."

__ADS_1


Mama Viani merasa aneh, anaknya bukan tipe orang yang tidak pedulian. Apalahi mengenai kabar, anaknya itu cerminan dari mama Viani yang suka sekali spam tanya kabar kepada oranv terkasihnya terutama keluarganya. Namun, mama Viani juga memperhatikan wajah Radika, anaknya terlihat agak kaku dan dingin.


"Apa kamu akhir-akhir ini ada masalah?!" celetuk mama Viani, dia sebagai mama masih bertanggung jawab atas anaknya sebelum anaknya menikah.


"Ceritakan pada Mama ya, mama akan membantumu menemukan solusinya. Jangan menanggung beban itu sendiri. Setidaknya ceritakan bagaimana perasaanmu saat ini!"


"Radika baik Ma, Mama tidak perlu khawatir berlebihan. Selagi Dika bisa mengatasinya sendiri maka biarkan Dika yang mengurusnya, Mama dan papa cukup melihat anakmu yang tampan dan pintar ini, hehe!"


Mama Viani berengut kesal sambil mengelus dadanya, papa dan anak sama narsisnya. Untung dia tidak seperti itu, kalo sekeluarga punya sikap narsis semua, entah apa jadinya ?


Mama Viani menyandarkan punggungnya sampai matanya tertutup dan akhirnya tertidur. Radika tidak mendengar suara mamanya lagi, mendangakkan kepalanya melihat mamanya terlelap disana. Radika berdiri dan menghampiri mamanya untuk dipindahkan ke kamar tidur yang ada di kantornya.


"Mama lelah ya? Tidur saja ma, mama bisa istirahat sepuasnya Dika akan menemani mama. Sayang mama!" gumamnya sambil meletakkan tubuh mama Viani.


......................


Di sebuah kelas teori seorang dosen tengah menjelaskan materi kepada mahasiswa yang berada didepannya. Ayesha mendengarkan dengan seksama apa yang dibicarakan dosen itu. Hampir 3 jam lamanya Ayesha duduk disini sampai membuat pan**tatnya kebas dan mati rasa. Ayesha lebih menyukai kelas praktikum memasak dimana dia bisa berjalan kesana kemari.


Seorang mahasiswa mengacungkan tangannya dan dosen melihat itu, "Izin mengkonfirmasi pak, jam mata kuliah bapak akan berakhir 5 menit lagi!" ujar mahasiswa perempuan yang menjadi KMK atau Koordinator Mata Kuliah ini.


"Terimakasih pak!" ucap seluruh mahasiswa serempak.


"Ayesha lega banget pas selesai ini, kepalaku pusing, perutku bunyi terus minta makan. Tapi mau ke kantin gak kira sempat juga ya!" ucap Siska


"Heem, aku juga sama. Sehabis ini ada mata kuliah apalagi?"


"Emmm, Boga Dasar satu jam terus ada jeda empat jam-an sih,"


"Benarkah? Enak deh kalo gitu! Bisa rehat."


Ayesha dan Siska juga semakin dekat mereka menjadi teman dekat yang selalu bersama. Siska berasal dari keluarga berkecukupan dan keluarganya memiliki bisnis di kota ini. Namun, Ayesha belum pernah ke rumah Siska hanya untuk mampir pun tidak sempat.


Masih ingatkah dengan Jedar? Iya sahabat Ayesha sejak SMP itu, Bahkan dengan sahabat paling dekatnya saja dia tidak ada waktu cuma bisa bercengkrama melalui panggilan video saja.

__ADS_1


"Sis, aku mau ke toilet dulu ya, kebelet nih!"


"Iya sana, nanti keburu kececeran disini, hihi!" Ayesha memukul pelan bahu Siska dan berlari keluar kelas.


Di koridor Ayesha sedikit berlari karena sudah tidak tahan, kamar mandi wanita dan laki-laki bersebelahan. Ayesha yang akan masuk namun dari kamar mandi laki-laki ia malah tertabrak oleh bahu seseorang membuat Ayesha jatuh terduduk.


Bruk...


"Aduhhhh...." Ayesha meringis pelan sambil mengusap pan**tatnya yang nyeri.


"kalo berdiri itu jangan didepan pintu dong! Emang ini pintu nenek buyut kamu apa?! Seenak jidatnya aja kalo berdiri!" sewot Ayesha, lalu melihat keatas, siapa yang menabraknya disaat yang tidak tepat ini.


lelaki itu hanya mendiaminya dan menatap tanpa minat ingin membantunya berdiri. Ciri-ciri lelaki tidak peka! Jangan ditiru wahai paa lelaki durjana!!!


"Oh jadi kamu lagi, entah kenapa dengan kamu, apa ada yang salah dari kedua mata dan kaki kamu itu? Jika memang bermasalah periksalah ke dokter takutnya semakin parah saja." omel Ayesha, dia belum tahu saja bila Vandi merupakan jajaran donatur yang sebentar lagi akan membeli kampus ini untuk dijadikan sebagi miliknya.


"Kita pernah bertemu? Kamu tidak tahu siapa saya?!" suara dingin itu, menegangkan tubuh Ayesha.


"Lalu, siapa anda Pak?!"


"Perkenalkan saya Vandi donatur dan sebentar lagi akan jadi pemilik kampus ini!"


Jder...


Ayesha seperti tersambar petir di pagi yang cerah ini. Meneguk ludahnya saja terasa sulit, seketika hawa dan aura disekitarnya membuatnya sesak dan ingin kabur saja. Rasa kebelet tadi sudah menghilang tertelan rasa takut yang merajalela di tubuhnya.


"Be..begini Pak Vandi, sa...saya min..minta maaf atas ca...cara bicara saya barusan in..ini, " Ayesha dibuat ketar-ketir, takut sekali jika nanti ia dikeluarkan sebelum dia semester empat, dia belum separuh perjalanan masa sudab di DO!


"Kamu sudah masuk ke dalam catatan hitam saya, lihat saja kedepannya bagaimana saya bertindak kepadamu!" Vandi melewati Ayesha yang kini sedang berusaha menyangga tubuhnya yang sudah terasa lemas seperti jeli.


"Ya Tuhan bagaimana ini?! Aku harus apa? Kenapa selalu saja masalah datang kepadaku? Aku takut ya Tuhan!!" Ayesha mengigiti jari kukunya, perasaan takut menghantui otaknya. Ayesha tidak tahu harus melakukan apa! dia berdoa dalam hati agar masalahnya dipermudah dan diakhiri segera.


"Ya Tuhan, bolehkan aku berhenti? Aku belum mau menyerah, aku hanya sedikit lelah atas semua ini," gumamnya dengan air mata meluruh. Ayesha masuk ke dalam bilik kamar mandi untuk berdiam sejenak dan memperbaiki suasana hatinya.

__ADS_1


Ayesha tidak tahu bagaimana nantinya, apa Pak Vandi akan berubah pikiran dengan baik hati dia akan memberikannya toleransi? Rasanya ingin mati saja kalo Ayesha di DO secepat ini!


__ADS_2