Terjebak Wajah Tampan Billioner

Terjebak Wajah Tampan Billioner
Bab 20


__ADS_3

Radika kembali menerawang perkataan sang mama. Mama Viani sudah kebelet ingin gendong cucu. Resiko jadi anak tunggal akan selalu digentayangi akan, kapan nikah? mama papa ingin pegang cucu seperti teman lainnya! atau dengan ancaman perjodohan. Radika manusia punya hati, dia bisa jengkel loh ya!


"Sebelum mama semakin menjadi ngebet pengen cucu, aku harus bertindak cepat!" gumam Radika


"Tapi bagaimana caranya?" Radika butuh Farel sekarang. Diraihnya telpon kabel di mejanya dan tersambung ke meja Farel.


"Iya pak Dika, ada yang bisa saya bantu?!" tanya Farel


"Bantu aku cepat!!!" teriak Radika membuat telinga Farel budeg/tuli persekian detik.


"Siap pak!" Farel bergegas masuk kedalam ruangan takut ada apa-apa dengan atasannya.


Namun, matanya menangkap atasannya tetap slay duduk dikursi kebanggaannya. "Aku kira ada apa pak...pak!"


"Ada apa pak Dika?!" tanyanya berusaha tersenyum berharap emosinya segera mereda.


"Aku butuh saranmu! Urgen ini kamu tahu-"


"Tidak pak!" jawab tegas Farel


Radika melotot kesal, "Tunggu dulu! Aku kan belum selesai bicara!" Radika ingin sekali mencubit ginjal Farel sampai lepas dari tempatnya.


"Maafkan saya pak,"


"Sudahlah dengarkan ceritaku saja. Jadi begini, mamaku sudah tidak waras kamu tahu?" Farel menggeleng tak yakin, mana dia tahu mama Viani waras atau tidak. Farel sebisa mungkin tidak akan dan ingin mengganggu mama dari atasannya sebab suaminya akan bergerak cepat untuk mencabik musuhnya.


"Kamu memang tahu apa sih! dah lanjut, aku rasa kedepannya ada kemungkinan besar mamaku akan menjodohkan aku dengan perempuan pilihannya. Tentu saja aku harus bergerak ambil langkah lebih dulu agar mamaku tidak berkutik.


"Jadi pak? Hubungannya dengan saya apa pak?!" tanya Farel masih belum menangkap perkataan Radika.


"Argg... Berikan saranmu...ngerti kata saran kan kamu!" geram Radika dengan tangan yang akan mencekik Farel. Dia sangat gemas.


"Nikahi saja pak!" jeplak Farel tanpa memfilter jawabannya.


"Oy, kamu yang benar dong kasih sarannya, jangan mengatakan hal itu seolah mudah untuk dilakukan!" seru Radika


"Lah, sangat mudah pak! apalagi pak Dika sendiri yang melakukannya. Semua akan mulus bila uang ngalir terus pak!"

__ADS_1


"Hah...kamu ini gak masih gak paham juga ya! Nikah itu menyatukan dua keluarga, dua insan, dua kepribadian. Gak asal ngelaksanain nikahan Rel!"


"Lah terus gimana dong pak?! Pak Dika tanyanya ke saya yang belum berpengalaman masalah itu!"


Radika membenarkan hal itu, Farel belum suhu mengenai hal ini. "Tapi pak, bukannya anda sudah berhubungan dekat dengan Mbak Ayesha?!"


"Kita sangat, amat, banget, dekatnya bukan sekedar dekat aja ya! iya juga ya, aku kan bisa ngelamar Ayesha aja!"


"Tuh itu aja pak, mbak Ayesha pasti mau lah kalo calon suaminya pak Dika!"


"Hemm...jadi aku harus melamarnya dulu, lalu selanjutnya ngapain Rel?!"


Farel berpikir sejenak,"pertemuan keluarga pak, kalo saya dengar sih tukar cincin gitu! Terus tunangan, ijab kabul, resepsi terus skidipapap pak"


Radika melongo, asistennya ini membuatnya terus bersabar. Bisa-bisanya mengatakan skidipapap didepannya tanpa takut.


"ya sudah kalo gitu, kamu pergilah sisanya biar aku pikirkan." usir Radika kepada Farel.


Begitu Farel keluar, sekelebat bayangan romantis yang akan disiapkan olehnya bermunculan. Radika ingin yang sederhana tapi mewah. Mungkin Radika akan mengajaknya makan ala PDKT-annya anak sekolah, pergi ke wisata alam, dan melamar Ayesha.


Radika melamar Ayesha karena ingin menunjukkan seberapa tulus rasa cintanya pada wanita itu. Bagaimana caranya Radika mengungkapkan perasaannya? cara seseorang meminang perempuan dapat mencerminkan seberapa tulus dan besar cinta mereka.


Cinta Radika pada Ayesha itu sederhana. Seakan melukiskan awal pertemuan mereka hingga sekarang. Baginya, semua tampak indah untuk dikenang. Batu kerikil yang hampir membuat hubungannya jatuh bisa disingkirkan dan seterusnya akan begitu. Radika merasa dia semakin kuat bila Ayesha terus ada bersamanya.


Ayesha memberikan kekuatan untuknya begitu sebaliknya, saling menguatkan. Sebuah hubungan memang tidak sesederhana itu, perlu keikhlasan, kesabaran, menerima satu sama lain dan kepercayaan. Radika pikir-pikir, saat sedang bertengkar atau kesal, dia atau Ayesha duluan yang akan menurunkan keegoisan dan gengsi mereka untuk berbaikan.


"Aku harus secepatnya melakukan itu."


......................


Beban dipundak Ayesha sedikit lebih ringan. Tiap hari dirinya tidak bisa lepas akan tugas barang sedikit pun. Mau makan, mau tidur, mau main, mau ngapain aja mesti bawaannya 'tugas aku apa aja yang belum selesai? Besok ada tugas yang perlu dikumpulin gak? Atau eh besok ada tugas kah?'


Ayesha sekarang bisa bernafas dengan santai. Dia akui sudah beberapa hari tidak bertemu dengan Radika. Sesekali mengirim kabar lewat telpon dan chatting. Baginya, itu sudah cukup sekedar tahu Radika sedang apa? sudah makan?makan sama apa? Kalo sakit minum obat!


Ayesha menyukai hal seperti itu.


Besok jadwalnya kuliah agak longgar karena hanya ada dua matkul salah satunya jam praktikum dan jam teori ini, dosen itu meminta untuk diganti daring saja. Membuat Ayesha senang sebab hanya pagi saja dia ke kampus lalu pulang ke rumah.

__ADS_1


Dilihatnya jam menunjukkan pukul 3 sore." kalo aku telpon mungkin kerjaannya agak longgsr kali ya," mau telpon Ayesha ragu takut mengganggu Radika bekerja.


"Tapi gak papalah dicoba aja, " menunggu beberapa saat dan tersambung.


"Halo sayang!" sapa Radika


"Dik, kamu lagi apa? Udah makan belum?!"


"Aku lagi kerjalah Yang, kalo makan ya sudab tadi Farel aku suruh belikan makan siang."


"Berarti aku ganggu kamu kerja ini, ya sud?"


"Eh gak usah dimatikan telponnya Yang, bentar lagi aku juga selesai. Aku agak ngantuk ajak aku ngomong ya,"


"Kapan selesainya dong kalo gitu!"


"Kamu tenang aja Yang, aku udah terbiasa kerja cepat."


"Nanti kalo ada salahnya gimana? Bukannya untung malah buntung kamu Dik!"


"Ish gak kira Yang, mana ada yang kayak gitu!"


"Adalah, kamu manusia yang tidak luput dari dosa."


"Iya in aja ya Yang!oh ya aku mau ajak kamu jalan-jalan besok, mau gak?!"


"Ya mau lah aku, masa gak. Aku butuh healing Dik setelah ditebas abis sama tugas dari dosen."


"Ya udah kalo gitu besok jam 6 habis sholat aku jemput kamu ya Yang."


"Okelah kalo gitu! Udah ya kamu lanjutin kerjanya biar cepet selesainya!"


"Iya dah walaupun gak ikhlas!"


"Hush gak usah kumat deh kamu itu, assalamualaikum"


"Iya, waalaikumsalam!"

__ADS_1


__ADS_2