
Ayesha dan Radika kini gantian menginap dirumah orang tua suaminya. Mama Viani mengajak Ayesha pergi keluar untuk melakukan perawatan rutin.
Di tempat spa mama Viani tengah menikmati layanan pijat bersama Ayesha yang sedang mendengarkan mertuanya bicara.
"Sha, mama bukannya memaksa atau mengaturmu tapi usahakan ya untuk kedepannya dampingi suamimu itu disaat ada acara besar kantor atau acara yang berhubungan sama rekan bisnis perusahaan. Hal sepele ini, bisa menjadi buah mulut media dan menjatuhkan image Radika. Menikahi orang seperti Radika yang merupakan pembisnis dunia mestinya menjadi target keburukan musuhnya. Mama harap kamu bisa membantu Radika untuk menjaga image baik suamimu ya,"
Ayesha merenungi ucapan itu. Banyak aturan sana sini yang perlu dipatuhinya agar suaminya selalu dipandang baik oleh semua orang. Bagi Ayesha itu melelahkan harus bersikap baik tanpa cela seakan melupakan bahwa suami serta keluarganya itu buka manusia yang penuh dosa dan salah.
"Baik Ma, Ayesha akan mengingatnya." hanya itu yang bisa dikatakan Ayesha.
"Sha nanti ikut Mama arisan ya? teman-teman mama belum pada kenal sama kamu. Nanti malam ya?"
Ayesha yang tidak suka keramaian namun dibuat tak enak hati karena ini permintaan Mama mertuanya.
......................
Disinilah Ayesha berkumpul dengan para nyonya sosialita yang tak lepas bibir mereka membicarakan brand luxury, berita hangat para pembisnis dan paling malas adalah membanggakan kelebihan anak mereka yang padahal masih ada banyak kekurangan dibaliknya.
"Ini siapa kamu jeng?!" seorang nyonya dengan noda merah lipstik yang menyala dibibirnya.
"Mantu aku jeng," jawab mama Viani
"Oalah, kok aku baru lihat dia ya? Apa jarang keluar jeng?!"
"Iya jeng, dia lagi sibuk sama kuliahnya jadi jarang kelihatan media."
Sedikit terkejut mengetahui fakta bahwa mantu dari keluarga terkaya sedunia masih kuliah.
"Beruntung ya kamu, dinikahi keluarga Firdaus, siaa namamu ?!" nyonya merah itu menatap Ayesha yang terkesan merendahkan.
__ADS_1
"Ayesha nyonya," Ayesha menjawab seperlunya dan tak berniat meladeni lebih ucapan nyonya merah.
mama Viani ingin tahu bagaimana mantunya itu mengatasi para penjilat itu. Apakah Ayesha bisa menyelesaikan degan cara elegan atau bar-bar?
"Saya punya kenalan, mantu dari teman saya itu sama seperti kamu loh, tapi ya begitu karena kesibukannya itu dia jadi gak becus melayani suaminya dan berakhir diceraikan kejam. "
Ayesha hanya senyum,"akan saya ingat cerita teman nyonya itu supaya jadi pembelajaran bagi saya."
Ayesha menunjukkan attitude apa yang bisa dilakukan anak kuliahan sepertinya. Bukan berarti dinikahi orang kaya dia lupa tata krama.
Nyonya merah pun tersenyum juga meskipun sedikit jengkel karena usahanya gagal memancing Ayesha.
Mama Viani bangga ternyata mantunya tanpa diajarkan pun dia biaa bertindak sendiri meskipun kurang tegas. Tapi sudah cukup memuaskan predikatnya sebagi mantu.
......................
Hingga malam pun Ayesha dan mama Viani belum kembali pulang. Sementara yang dirumah Radika yang baru saja pulang tidak menemukan istrinya.
papa Beni yang sedang menyeruput tehnya jadi terganggu."Ck apa lagi sih anak itu!" gerutu papa Beni
Radika mendatangi papanya,"mana istriku pa? Kok gak ada?!" tanyanya
Papa Beni memutar matanya," jangan tanya hal konyol pada papa, itu kan istri kamu harusnya tahu dong kemana dia, kok malah tanya papa."
"Mama kan juga gak ada," sahut Radika
"Apa? Mama kamu gak ada! kemana dia?!"
"Tuh kan papa aja gak tahu kemana pergi istrinya, gitu ngomen aku, coba ditelpon pa!"
__ADS_1
Papa Beni menelpon istrinya,"Halo ma kamu dimana? Kok belum pulang? Itu Ayesha dicari sama Dika!"
Mama Viani melirik jam tangannya, matanya melotot kaget,"astaga pa, iya iya mama pulang sekarang!"
Mama Viani mematikan telponnya dan menepuk lengan Ayesha yang berbicara dengan teman mamanya.
"Yesha...cepat kita pulang! Papa sama Radika lagi mencari kita!"
Ayesha pun kelimpungan juga ternyata jarum jam menunjukkan pukul 8 malam. Keduanya pamit dan meninggalkan tempat arisan yang padahal belum menentukan siapa yang mendapat giliran selanjutnya.
......................
Sambil menanti istrinya sampai Radika membersihkan diri dan menunaikan sholat.
Ayesha dan Mama Viani terbirit-birit menemui suami mereka masing-masing. Tidak mau membuat mereka kesal dan berakhir mendiaminya.
Ayesha duduk di kasur sambil menyalakan televisi agar situasi tidak terasa mencekamkan. Radika masuk ke dalam kamar melihat keberadaan istrinya.
"Darimana?!"
Gleg
"Mama ajak aku ke tempat arisan. Disana banyak teman mama yang ramah." kenyataannya sih tidak seperti itu.
"Terus?!"
Ayesha juga bingung harus mengatakan apa lagi."ya...aku minta maaf karena lupa waktu pulang."
"kamu jangan kayak gitu Sayang. Jarang kabarin aku, lagi apa?dimana? Atau sama siapa? Hal sepele kayak gitu penting. Kamu tahu gak, kamu kasih kabar itu gak bikin aku kebingungan, ya meskipun aku bisa menyuruh anak buahku mencarimu tapi aku mau kesadaran dari dirimu sendiri."
__ADS_1
garis wajahnya menyendu menandakan Ayesha menyesal. "Aku minta maaf bi!" hanya satu kalimat itu yang bisa ia lontarkan.
Radika menghela napas mengalah dengan kelakuan istrinya ini."Ya sudah masalah ini kita lupakan aja ya," Ayesha mengangguk pelan dan menjatuhkan diri ke pelukan suaminya.