
Kampus digemparkan dengan adanya rumor yang bersliweran di telinga mahasiwa. pemilik kampus yang mereka kenal orang terkaya sedunia ini akan melakukan pertemuan karena adanya protes dari wali mahasiswa. Mahasiswa lain menduga ini adalah wali dari Ayesha. orang-orang dikampus tidak banyak yang tahu, jika masih ada yang lebih kayak dari Vandi.
"Inilah pentingnya uang dan kekuasaan, bisa apa aja dilakuin, gak usah pikir panjang."
"Ketika kekuasaan yang berbicara semua tidak berdaya,"
"Kalo punya uang pun gak perlu takut buat memprotes orang tinggi."
Disinilah di sebuah ruangan yang hanya berisikan orang-orang berkepentingan saja.
"Saya tidak menyangka jika kampus favorit di kota ini ternyata tidak seberkualitas itu rupanya, Saya berhasil ditipu. Dan juga masih banyak kampus yang lebih baik dan bagus daripada ini." Terasa sekali aura kepemimpinan Radika dan sikap tegas membuat orang yang ada diruangan itu seperti terdiskriminasi kecuali Vandi. Vandi hanya kembali membalas tatapan tajam yang diberikan oleh Radika.
"Maksud anda bagaimana ya Pak Radika? Anda mengira kampus milik saya ini hanya sekedar bagus didepan saja begitu?!" sarkas Vandi merasa tidak terima, dia merasa diremehkan karena cara pengelolaan Vandi sendiri masih serabutan.
"Anda mengakuinya sendiri ternyata, saya tidak mengatakan hal itu loh ya," sudut bibir Radika terangkat
"Ya begitulah, terlihat sekali mahasiswa disini hanya pintar bermain mulut saja, dan yah... Tidak pintar dalam menggunakan otaknya." imbuh Radika dengan senyum meremehkan.
Tangan Vandi mengepal keras," Sebenarnya apa yang ingin anda katakan? Katakan saja langsung, jangan berbelit- belit!" tegas Vandi mencoba menahan emosinya yang ingin membludak.
Direktur kampus meneguk ludah kasar, ini pertama kalinya dia dihadapkan dengan situasi yang tidak mengenakkan. Direktur itu hanya diam duduk manis di kursi kebanggaannya selama ini.
"Baiklah... sebenarnya saya sendiri juga bukan tipe orang yang suka berbelit-belit dalam mengomentari sesuatu jadi saya akan mengatakan secara langsung. Lakukan pekerjaan mu dengan benar! " ujarnya dengan wajah yang sangat datar tak berekspresi.
Kali ini sungguh harga diri Vandi merasa terinjak-injak. " Dirimu tidak tahu apapun tentang semua hasil kerja kerasku, kerasnya aku mencoba yang terbaik dengan usahaku namun terlihat tak bernilai sama sekali dan seenak jidatmu mengatakan hal itu" Vandi ingin membunuh orang didepannya itu.
Tidak ada respon dari pernyataannya," Benar dugaan saya, berada disini hanya membuang waktu berharga saya, kalau begitu saya permisi." Radika keluar dari ruangan itu.
Direktur kampus sendiri masih tak angkat bicara untuk menjelaskan sesuatu yang terjadi, membuat amarah Vandi semakin menjadi-jadi karena direktur tidak berguna itu.
"KAU DIPECAT!!!" dengan lugas Vandi memecat direktur itu tak sampai dalam hitungan detik.
"P-pak, beri saya kesempatan sekali lagi! Saya mohon pak! Saya akan melakukan sesuatu agar hal seperti ini tidak terjadi lagi." direktur itu berlutut sambil memohon-mohon pada Vandi.
Vandi menghempaskan tubuh direktur itu, dia pun berjongkok lalu mencengkram erat dagu direktur itu,"Bukan hanya kinerjamu yang buruk! Tapi kau telah membuat harga diriku hancur didepan orang itu! Kau membuatku malu dan hampir kehilangan muka. Dan semudah itu, kau memohon? Cih pergi kau dari sini dan bereskan barang-barangmu!" Vandi terlanjur murka dengan semua ini.
"Sungguh hari yang menjengkelkan!" Vandi menjatuhkan diri disofa.
Tak ingin menambah masalah lagi, dengan terbirit-birit direktur kampus pergi menuju ruangannya dan membereskan semua barang miliknya.
Dipecat secara tidak hormat seperti ini, mau tidak mau harus ia terima demi keselamatan hidupnya nanti.
__ADS_1
"Ini lebih baik daripada dia mengkuliti aku seperti papanya yang kejam itu."
Dari balik tembok, Jedar melihat semua kejadian itu, rencananya tidak semulus itu. Melihat Ayesha yang hanya diam mengabaikan sebuah fitnah dari semua mahasiswa bahkan teman dekat selain Siska pun tidak ada. Dia sendiri yang dulunya sangat dekat kini rasa benci dan iri karena kehidupan Ayesha yang terlalu mulus.
"Sialan, cara seperti ini memang tidak akan lancar. Aku harus lebih dari ini."
"Lihat saja kamu Ayesha, hidupmu tak akan seindah sebelumnya."
Sejenak Jedar mengingat hal gila dan termasuk hal memalukan yang dulu pernah dia lihat.
"Mungkin yang satu ini membuatmu sadar diri dengan posisimu."
Jedar lalu mengetikkan sesuatu dengan diiringi seringai jahat di bibirnya.
......................
Ayesha menggigiti kukunya, Khawatir kalo suaminya akan bertindak berlebihan. "semoga saja aman semua! Abi gak mungkin kan menindas semua orang yang ada disitu?!"
"Abi menindas orang? Kamu berpikir seperti itu kepada abi?!"
"Tega banget kamu sih Yang!" Radika berpura-pura menyedihkan.
"Abi!!! Astaga!!!" teriak Ayesha terkejut lalu bangkit
"Jangan bikin aku kaget lah, kasian anak kita ikutan kaget,"
Radika mensejajarkan wajahnya di depan perut Ayesha," Maafin Ayah ya Nak, kamu kaget ya gara-gara ayah, nanti ayah belikan es krim deh!"
"Ngelawak kamu ya?mending belikan susu aja deh, tuh di rumah stok susunya habis!"
"Eh, Yang aku baru belikan 5 kotak susu udah habis semua Yang?"
Ayesha menaikkan sebelah alisnya,"Kapan kamu belinya? Aku gak tahu?"
"Ada Yang, sama bibik pasti disimpen."
"Masa? Awas kalo bohong!"
"Iya serius gak bohong abi! Gak percayaan banget sama Abi sih?"
"Ya bukannya gitu, kadang abi kan suka nge prank aku,"
__ADS_1
"Situasi dan kondisinya udah beda dong Saayanggku," Radika mencubit gemas pipi gembul itu.
"Beda gimana?!"
"Kamu sekarang hamil, masa aku tega banget nge prank kamu, Gak dong Sayang!"
Ayesha hanya menjawab dengan berdeham saja. Hatinya ingin bertanya kepada suaminya lebih detail tentang pertemuan tadi namun entahlah, Ayesha tidak siap mendengarkan kenyataan yang ada.
"Kenapa? Kamu penasaran dengan yang aku lakukan hari ini di kampus?"
"Eh," Ayesha sontak menoleh kearah suaminya. Ternyata tertebak dengan mudah.
"Muka kamu mudah sekali terbaca, Hehe.." Radika terkikik pelan.
"Ma mana ada abi, aku biasa aja!"
"Yang bener? ya udah gak jadi cerita kalo gitu "
Ayesha menahan Radika agar tidak pergi tetapi dia tidak berani melihat wajah suami.
"Baiklah, biar abi ceritakan."
Begitu mendengarkan semuanya, Ayesha hanya diam tak berpendapat apapun." Sayang, aku merasa di kampus mu ada yang tidak beres dengan mahasiswanya."
Ayesha mengkerutkan kening," tidak beres bagaimana? Mungkin karena mereka iri saja jadi bersikap seperti itu."
"Sayangku, kamu itu istri aku, dan suamimu ini pembisnis yang disegani di seluruh dunia. Harusnya mereka itu waspada dengan menjaga mulut mereka agar tidak berbicara sembarangan. Abi sendiri bisa melihat kalo mereka, menatapmu remeh meskipun ada abi disampingmu."
"Sebenarnya aku sendiri juga ingin bilang kalo apa yang mereka katakan tidak sesuai fakta. Tapi, aku tidak mau ambil risiko yang nantinya akan menyebabkan masalah besar."
Radika menarik istrinya ke dalam dekapannya," Kamu bisa bertindak apapun jangan khawatirkan reputasi atau apapun itu. Semuanya abi bisa mengurusnya."
Ayesha hanya menghela nafas, dia rasa tidak semudah itu.
"Jadi, menurut pengalaman abi nih selama jadi pembisnis, pasti nanti akan ada yang memancing atau menyebarkan berita aneh tentang kamu dan membuatmu akan semakin diperbincangkan. Aku harus menyelidiki ini Sayang."
Ayesha tidak tahu- menahu tentang hal ini, "Maaf sudah merepotkan abi ya"
"Sudah tidak ada yang direpotkan dalam rumah tangga, kita sama-sama memikul jadi semua terasa lebih ringan."
walaupun pernikahan mereka sudah berjalan lama, Ayesha semakin bersyukur atas segalanya yanh Tuhan berikan kepadanya. Apapun itu mau masalah ataupun kebahagiaan, semua pasti ada jalannya.
__ADS_1