Terjebak Wajah Tampan Billioner

Terjebak Wajah Tampan Billioner
Bab 55


__ADS_3

"Ini tolong kamu tanda tangani Van," Siska meletakkan sebuah amplop coklat diatas meja kerja Vandi.


"Apalagi kali ini? Pergilah Sis, kamu membuatku selalu pusing." Vandi mengusirnya namun Siska tetap berdiri tegal di depan laki itu.


"Tidak akan, sebelum kamu menandatangani surat ini untukku." kekeh Siska atas kemauannya


Vandi menghela nafas, "sebenarnya apa isi surat ini ?" batinnya


Saat Vandi membukanya lalu membaca isi surat itu. Diremaslah kertas itu hingga tak berbentuk, amarahnya membludak tanpa sadar menampar Siska


Plak...


Tamparan yang keras sampai mampu membuat Siska tertoleh. Pipi kirinya memerah dan bau anyir keluar didalam mulutnya.


"Berani-beraninya kamu hah! Mengajukan cerai kepadaku?!"


Hati Siska terasa ngilu, ini pertama kalinya seseorang bermain tangan dengannya. Siska memberanikan diri membalas tatapan mata elang itu.


Dengan lirih Siska berkata," Vandi sadarkah kamu ? Apa yang baru saja kamu lakukan? "


"Kamu sudah keterlaluan Siska! Andai kamu tidak melakukan hal gila ini, aku juga tidak akan tersulut emosi!"


"KAMU YANG KETERLALUAN SEKALI VANDI!!! "


Deg...


Dan ini juga pertama kalinya Vandi melihat Siska sangat marah, mata tajam itu tak bisa dibohongi, tersirat semua rasa lelah dan emosi yang sudah lama terpendam.


"Sis-"


"Apa! Dari awal bahkan dari dulu aku sudah suka sampai jatuh hati ke kamu Vandi. Aku berusaha menarik perhatianmu, merebut hatimu, dan sampai mengemis kepadamu agar kamu bisa mencintai atau sekedar menyukaiku. Tapi apa? Kamu menganggapnya angin lalu bukan? Usahaku tidak ada artinya apapun, Aku tidak mau lelah secepatnya ini Vandi..." suara Siska semakin melirih, dia sudah benar-benar lelah akan semua ini, akan pernikahan ini, dan mengejar cinta suaminya pun saat ini dia tak lagi mampu.


"Tapi aku juga ingin bahagia Vandi, melihat Ayesha dan Radika hidup bahagia bahkan kehadiran sosok bayi itu. Aku sungguh sangat menantikannya bersamamu. Berbagi semua hal itu hanya dengan kamu. Tapi, aku tidak melihat keinginan seperti itu ada dimatamu!"


Vandi tertegun, Siska selama ini tak pernah menguar-guar seperti hari ini. Meluapkan isi hati yang tak mampu lagi dipendam dan berakhir menjadi bom waktu untuk Vandi.


"karena itu," Siska menarik nafasnya dalam-dalam dan melanjutkan lagi," Mari kita berhenti sampai disini!" Siska kembali menyerahkan sisipan surat cerai, Siska sudah memperkirakan kejadian ini akan terjadi.


Otak Vandi tidak bisa memproses semua ini. Haruskan dia menandatangani ini? Dan semua akan berakhir? Apakah papa Max tidak akan marah besar setelah tahu hal ini? Vandi juga lelah akan tuntutan ini itu karena papa Max.

__ADS_1


Vandi bingung harus mengambil keputusan bagaimana. Selama ini dia terlalu egois kepada Siska, Vandi tahu hal itu. Namun, sepertinya kali ini Vandi akan tetap egois.


"Tidak. Aku tidak akan melakukannya! "


Wajah Siska memerah, tangannya mengepal keras. Sesulit inikah? Dia hanya ingin berpisah baik-baik, itu sajakah tidak bisa?!"


Siska sontak berlutut dan memohon pada Vandi."Kumohon, aku lelah dengan semua ini. Setelah ini aku janji tidak akan mengusikmu dan mengejarmu lagi! Kita sama sama lelah dengan ini semua, kan? Jadi apa yang membuatmu menolak?!" Siska sebisa mungkin tetap tegar dan tak ingin meneteskan air mata setetes pun.


Vandi berpikir keras, haruskan dia menurunkan sedikit egonya?


"Ayo kita coba sebulan lagi, kita tenangkan hati masing-masing. Mencari apa yang sebenarnya diinginkan hati kita untuk pernikahan ini!"


Siska mendongak keatas, "Sebulan? Baiklah..aku akan mencobanya. Tapi jika tidak ada perubahan apapun, maka tanda tangani ini dan biarkan aku pergi!" Vandi mengangguk ragu. Siska pun merapikan surat itu dan keluar dari ruang kerja Vandi.


......................


Senyum girang dan lebar tercetak jelas diwajah Radika. Bagi Ayesha itu sangat aneh. Bagi semua pegawai dan juga Farel itu sungguh mengerikan sampai membuat merinding setubuh.


Radika mengabaikan semua itu, hari ini dia sangat senang sekali. Istri dan anak datang ke kantor bersama. Semangat Radika untuk bekerja membara layaknya kobaran api menyelimuti seluruh tubuhnya.


" Abi, apa cuma aku yang merasa kalo para pegawai menghindari tatapan kita dan kepala mereka banyak yang menunduk?"


Farel melirik dengan mulut dan mata yang melebar. "Pak Radika tidak sadar diri jika tingkah aneh karyawan disebabkan karenanya." gumam Farel sangat pelan


"Kamu bilang sesuatu, Rel?"


"Ti-tidak ada ada pak,"


Radika hanya mengidikan bahu tak peduli.


Farel meneguk ludahnya, Tak menyangka bahkan dengan suara yang begitu pelan masih bisa didengar.


Di dalam ruangan, Radika melepaskan jas kerjanya dan menyampirkan di bahu kursi. Ayesha sedang membawa Dante ke kamar karena ternyata dia sudah tertidur pulas entah dari kapan.


"Dante suka tidur ya Sayang," celetuk Radika


Ayesha melirik sekilas, memandangi suaminya dengan tatapan tak percaya."Dia suka tidur karena ayahnya juga suka. Sebelas duabelas deh!"


"Ah masa sih? Aku kayaknya gak gitu orangnya!"

__ADS_1


"Gak gitu gimana? coba aku gak koar-koar tiap paginya, kamu juga gak bakal berangkat kerja, sibuk tidur sampek siang hari,"


"Iya kah? Shh..abi sebegitunya ya? Haha..." Radika mengusap tengkuk lehernya dengan wajah malunya.


Ayesha memutar mata malas, suaminya ini perlu kesadaran diri yang tinggi.


Siang hari, Dante sudah bangun dari tidurnya. Bayi itu sedang menikmati sebuah mainan yang berputar di depan wajahnya dengan posisi tiduran. Seolah ingin meraih mainan itu diselingi ocehan tak jelas dari bibir mungilnya.


Namun ekspresi wajah Dante menunjukkan jika mainan itu sungguh membuatnya pusing dan mual. Andai Dante bisa berbicara, dia pasti sudah melayangkan protes kepada orang tuanya agar menjauhkan mainan itu.


"Abuuuu...abuuuuu.....uhhhh..uhhh.." Ayesha tersenyum senang.


"Ututu... Cabi suka ya sama mainannya?"


"Nanana....uhhhh..uhhh.. " ocehan yang tentunya tidak bisa dimengerti Ayesha malah menjadi salah tangkap informasi.


"Kenapa? Dante mau ambil tak gak bisa? Gak sampai ya tangannya? Hihi...lucunya anak bunda!!"


Dante merasa semua ini akan sia-sia. Jalan terakhir bagi seorang bayi jika keinginannya tidak terpenuhi adalah menangis kencang.


"Oekkk...oekkk...."


Radika dan Ayesha kebingungan, "Dante, kenaoa sini sama Ayah," Radika menggendong anaknya dan menepuk pelan pantat Dante dan langsung menghentikan tangisannya.


"Lah langsung berhenti nangis, pasti Dante kangen ya sama gendongan ayah?!"


"Abuuu..."


"Dia ternyata lebih suka nempel sama kamu Abi!" Ayesha mengerucutkan bibirnya, dia jadi iri hati padahal Dante lebib sering bermain dengannha saat Radika kerja, tidur siang bersama, minum ASI dengannya tapi disaat yang seperti ini Dante akan menempel dan dekat dengan Radika.


"Hehe... Namanya juga anaknya ayah, Dante kamu harus jadi pendukung ayah, harus dikubu ayah ya Nak!"


Ayesha melotot kesal,"Mana ada yang kayak gitu!"


"Ada nih buktinya Dante si Cabiku"


Ayesha menghampiri Dante dan mengecup tangan kecil itu."Dante sayang bunda kan ya?" dengan mata binarnya Ayesha bertanya


"Abuuu..." sedangkan Dante hanya bisa menjawab itu.

__ADS_1


Ayesha tersenyum tipis dan Radika mengecup gemas pipi anaknya.


__ADS_2