Terjebak Wajah Tampan Billioner

Terjebak Wajah Tampan Billioner
Bab 47


__ADS_3

Di dalam kamar yang gelap gulita, hanya terdapat cahaya dari layar komputer saja seperti sedang menonton film di bioskop pribadi. Jedar terlihat sibuk menggerakkan jarinya untuk mengetikkan sesuatu.


Wajahnya tampak puas dengan apa yang ia lakukan sekarang. Berharap semua berjalan sesuai keinginananya karena tak sabar menantikan nasib buruk teman lamanya.


"Kalo dulu, dia akan menangis layaknya orang yang putus asa. Sekarang aku akan membuatny menangis hingga ingin mati. "


Klik


Jedar pun mengirimnya di website kampus. Sebenarnya bukan hal mudah bisa mendapatkan id dan password website kampus, berkat usahanya dia pun mendapatkannya.


Flashback on


Banyak para mahasiswa yang sudah pulang karena langit beranjak sore dan akan menggelap. Berbeda dengan Jedar yang tak kenal takut menyusuri koridor ke ruangan yang dia tuju.


Tok...tok...tok...


"Masuk," ujar seseorang dari dalam sana.


Jedar membuka pintunya lalu menutupnya kembali.


"Permisi pak,"


"Ada apa kamu mendatangi ruangan saya?"


"Saya ingin meminta bantuan kepada anda pak,"


"Bantuan? Kamu ingin saya membantu apa kepada kamu?!"


Jedar perlahan mendekat dan menurunkan badannya sampai terlihat sebuah belahan dua gundukkan. Perempuan ini berniat akan menggoda laki-laki di depannya yang bertanggung jawab atas semua media sosial milik kampus.


"Apa yang kamu lakukan?" ujar laki itu menaikkan alis kirinya.


"Oh maafkan saya yang kurang bersikap sopan," Jedar menarik ulur laki itu bila nantinya negosiasinya ini tak berhasil maka tingkat godaannya akan dia naikkan pula.


"Jadi?!"


"Emm...Saya ingin meminta tolong kepada bapak untuk membantu saya agar bisa memposting tugas dan karya saya ke website milik kampus."


"Kamu bisa mengirimnya di website yang lain, Website kampus bukan sembarang orang yang bisa mengirimkan sesuatu."


"Pak saya mohon, tugas dan karya ini membutuhkan viewers banyak agar bisa membantu nilai minus saya,"


"Itu bukan urusan saya, itu karena kesalahan kamu yang kurang usaha dalam mengerjakan tugas."


"Pak saya mohon," Jedar berdiri disamping laki itu dan meriah tangannya sehingga membuatnya menempel disebuah gundukan jeli.


glek


Siapa yang tidak menyukai gundukan jeli, Laki itu dibuat panas dingin. Serasa hawa disekitar mereka memanas.


"A apa yang kamu lakukan hah?!" ucapnya dengan nada gugup


"Bapak mengatakan saya kurang berusaha kan? Jadi sekarang saya akan berusaha demi tugas saya."


Demi tugas katanya, Jedar itu anti terlambat dalam mengerjakan tugas kampus. Ini hanya akalannya dia saja untuk mengelabui laki ini.


"Saya mohon dengan sangat pak, nilai saya bisa benar-benar terancam." Jedar semakin mendekatkan diri namun seolah-olah tersandung, akhirnya tubuhnya terjatuh di pangkuan laki itu.


"Aduduh..." wajah mereka saling bertatapan


Laki itu menahan nafasnya tapi bukan hanya itu saja. Dibawah sana pun juga ikut manahan diri.


"E-eh maafkan saya ketidaksopanan saya pak,"

__ADS_1


Ketika Jedar akan berdiri namun tangan laki itu menahan tubuh Jedar agar tetap dipangkuannya.


"Diam, saya akan memberikan id web site setelah kamu melakukan perintah saya,"


"Benarkah pak? Baiklah saya akan menuruti semua perintah bapak demi nilai saya,"


Begitu laki itu mengatakan bahwa dia akan memberikan id website, Jedar pun sumringah senang. Seolah dia merasa bahagia karena laki itu mau membantunya.


Terjadilan hal intim, membuat Jedar mau tidak mau harus dia lakukan meskipun bukan kali pertamanya.


Flashback off


Ayesha sudah siap untuk berangkat ke kampus untuk hari ini karena bertepatan dengan jadwal Radika yang padat maka suaminya tidak bisa mengantarkannya.


"Mbak Yesha kita berangkat sekarang?!"tanya supir itu


"Iya pak, langsung aja."


Ayesha tidak tahu bahwa ada kegemparan di kampus yang tengah menantikan kehadirannya.


Ayesha sendiri belum membuka ponselnya sama sekali karena sibuk dengan aktivitas paginya.


Tibanya di kampus, Ayesha turun dari mobil dengan pelan mengingat dia tengah hamil trimester pertama.


"Lihatlah, gak tahu malu banget ya! Untung aja suaminya pembisnis jadi bisa ditutupi dengan uang."


"Aku sendiri gak nyangka ternyata dia orangnya menjijikkan sekali!"


"Iuhh...informasinya sih dia ngelakuin hubungan dewasa sebeoum nikah loh,"


"Untung aja gak hamil duluan, gimana nasib anaknya nanti,"


Ayesha menahan nafasnya serasa tercekat di tenggorokkan. Matanya menatap kebawah menunjukkan ketakutan tersendiri. Dia sudah menjaganya dengan serapi dan serapat mungkin namun bagaimana bisa itu diketahui orang lain.


"A-apa yang mereka bicarakan," gumamnya


"Mbak Yesha, mbak baik-baik aja?!" supir itu mengalihkan lamunan Ayesha.


"I-iya pak, saya baik-baik aja, bapak bisa langsung pulang. Nanti saya kabari kalo sudah selesai."


"Baik mbak kalo gitu, saya pamit pulang."


"Hati-hati pak dijalan,"


Ayesha sebisa mungkin mencoba tersenyum seolah tak ada masalah apapun. Dia pun melanjutkan langkahnya semua kebisingan makin terdengar jelas di telinganya.


"Ya tuhan, bagaimana bisa mereka tahu?"


"Selama ini aku sudah merahasiakannya dengan rapat tapi dari si-"


Sebentar, Ayesha teringat akan sesuatu. "Ada, ada satu orang yang hanya mengetahui hal ini!"


Ayesha jujur tak ingin prasangkanya benar. Namub bila benar, apa alasannya dia melakukan itu?!


Masih ingat dengan kejadian Ayesha tertangkap basah melakukan hal intim dengan Radika saat Ayesha mengunjungi apartement Jedar? Ya, disaat itulah.


"Apa iya benar Jedar? Aku tak ingin mempercayai ini, tapi aku rasa hanya dia yang tahu."


"Tapi, sebelim aku menanyakan langsung, lebih baik aku menyelesaikan urusanku terlebih dahulu. Juga, daripada aku menduga-duga yang tidak benar."


Begitu Ayesha mengurus segala urusannya. Ayesha berencana pergi menuju ke gedung jurusan tempat dimana Jedar berada. Meskipun, dirinya tidak tahu persis dimana tempatnya tetapi dia akan mencari.


Ketika dia berjalan banyak orang yang memandanginya sambil berbisik dengan teman mereka. Ayesha tidak menyangka bahwa hal yang paling ingin dia tutupi seumur hidupnya malah terbongkar dan banyak diketahui orang lain.

__ADS_1


Entah bagaimana Ayesha menggambarkan perasaan hatinya sekarang antara malu, sedih, marah, kecewa, semua terasa melebur jadi satu.


"Lihat itu bukannya cewek yang lagi jadi berita top di kampus?"


"Kayaknya sih iya ya, cantik sih tapi sayang terkesan murahan."


"Menggait targetnya gak setengah-setengah, langsung jual diri."


"Gue sih mau punya suami kaya sedunia tapi kalo dibandingin sama diri sendiri, maaf juga ya gue pasti menolak."


Semua caci maki yang didengarkan telinganya tentu menyentil hati Ayesha. Seburuk itukah? Semenjijikkan itu? Sejelek itukah diri Ayesha?


Ayesha tahu dia salah, dia melakukan dosa yang dulunya berulang kali dia lakukan meskipun tahu dia salah. Tapi bagaimana pun, bukankah terlalu jahat mengatakan hal seperti itu? Seolah diri mereka paling bersih, suci dan tak tersentuh?


Ayesha sendiri tidak mampu menjelaskan bagaimana dirinya saat ini. Mencari kesana kemari ternyata di sebuah gazebo matanya menangkap sosok Jedar bercengkrama dengan teman-temannya.


Ayesha dengan langkah ragu mendekati mereka


"permisi,"


semua orang menoleh kearahnya,"Iya siapa ya?!" seorang laki-laki menyahuti lebih dulu


"Emm, bisakah aku meminjam Jedar sebentar untuk mengajaknya bicara? Hanya sebentar, tidak akan lama."


Mereka berganti menatap Jedar yang tahu bahwa mereka menunggu responnya.


"Emm, gimana ya Yesha, aku masih ada tugas yang harua dikerjakan karena urgent." jawab Jedar


"Ha-hanya sebentar 5 menit aja, "


"Sudahlah sana Je, bicaralah, tugas ini bakal nutut kok."


"Heem, sana kalo udah selesai baru balik lagi."


Jedar menghela nafas, "oke oke,"


Akhirnya Ayesha berhasil mengajak Jedar berbicara face to face . Ayesha menarik nafas panjang sebelum memulainya.


"Jadi, apa yang mau kamu bicarakan?"


"Aku akan langsung ke intinya aja melihat kamu yang sangat sibuk. Apa kamu yang menyebar luaskan berita itu? Jujur yang aku tahu hanya kamu yang mengetahui soal diriku dengan Radika."


"Menurutmu? Datang mengajakku bicara lalu tiba-tiba menuduhku? Kamu gila ya?"


"Ta-tapi memang kamu kan yang hanya tahu, laku siapa? Tidak ada lagi."


Jedar menyeringai jelas, Ayesha mengerutkan keningnya merasa aneh dengan ekspresi wajah Jedar." Kalo itu aku memang kamu mau apa? Bunuh aku gitu?"


Ayesha membeku, dia langsung tahu dari nada bicara Jedar yang terkesan tidak peduli karena memang itulah tujuannya.


"Kenapa kamu setega itu? Aku punya salah apa ke kamu Je?!"


Jedar menghela nafas bosan, " mungkin karena aku iseng kali ya, karena kurang kerjaan makanya aku cari hiburan."


Deg


Ayesha sendiri sampai tidak bisa terkejut lagi. Teman lamanya menusuk Ayesha dari belakang tanpa alasan yang jelas yang ditutupi dengan alibi mencari hiburan semata.


Karena tidak tahu harua merespon bagaimana, Ayesha memilih tersenyum pahit." Baiklah mungkin memang begitu caramu mencari hiburan dengan mencari aib orang lain. Aku rasa pembicaraan kita sudah cukup. Terimakasih "


Ayesha pun melenggang pergi. Jedar yang melihat reaksi Ayesha terlalu biasa langsung mengepalkan telapak tangannya.


"Sialan!" gumamnya menggeram kesal.

__ADS_1


"Dia sungguh gak punya rasa malu sama sekali rupanya."


Jedar rasa masalah ini tetap akan ditindak lanjut lebih dalam lagi. "mungkin semuanya akan segera berakhir Ayesha."


__ADS_2