Terjebak Wajah Tampan Billioner

Terjebak Wajah Tampan Billioner
Bab 33


__ADS_3

Beberapa hari ini Ayesha memohon pada Radika untuk menginap di rumah sakit menemani bapaknya yang belum sadarkan diri. Awalnya Radika menolak sebab dia seorang istri yang tugasnya menyiapkan segala keperluan suaminya dan juga Radika takut Ayesha nanti sakit.


Tapi dengan kegigihan Ayesha akhirnya mau tidak mau Radika menyetujui hal itu namun tidak melupakan tugas sebagai istrinya


Sekarang Ayesha memandikan bapaknya lalu dia harus pulang ke rumah untuk memasakkan suaminya sekalian membawa baju ganti untuk dirinya.


"Pak, Yesha pulang dulu ya, mau masakin suami Yesha terus kembali kesini nemenin bapak lagi " ucap Ayesha meskipun tidak ada respon yang diterimanya.


Setibanya di rumah, Ayesha langsung menyiakan makan malam sederhana untuk suaminya saja. Setelah itu, dia menyempatkan membersihkan diri sebelum ke rumah sakit lagi.


"Udah semua deh, gak ada yang lupa lagi kan ini?" gumamnya kembali mengecek barangnya lagi.


Supir pun mengantar Ayesha dan meminta menurunkannya di depan lobi saja.


"Pak sampai sini aja ya, bapak bisa pulang langsung kok." ujarnya


"Baik Mbak,"


Ayesha melangkah santai masuk ke RS sambil menunggu lift terbuka. Keluar lift matanya melihat dua perawat keluar dari kamar bapaknya dengan tergesa-gesa. Alis Ayesha mengernyit heran, ada apa ya?


Mempercepat jalannya, Ayesha menahan tangan salah satu perawat itu," Sus ada masalah apa dengan bapak saya?!" tanya Ayesha ikut panik.


"Bapak anda mengalami penurunan pada kondisinya, permisi ya mbak saya harus bergegas."


Barang yang dibawanya terlepas ditangannya. Ayesha masuk ke dalam kamar wajah bapaknya masih hangat namun tangan yang biasanya panas itu kini mendingin.


"Pak...bapak," Ayesha terus memanggilnya sambil menggerakkan tubuh ringkih itu tapi nihil tak merespon apapun.


Ayesha Mendekatkan diri sambil menuntun bapaknya dengan kalimat laa ilaha illaallah.

__ADS_1


Air mata Ayesha sudah mengalir di kedua pipinya. Dua perawat dan dokter baru masuk melihat Ayesha yang menangis tersedu-sedu.


Seperti memahami situasi disini, dokter pun mencatat waktu kematina bapak Jordi.


Ayesha segera menghubungi Anesha dan ibu Raina memberitahukan kabar duka ini. Menunggu kehadiran mereka, Ayesha membereskan barang milik bapaknya yang ada di kamar itu.


Beberapa menit kemudian...


"Bu," Ayesha memeluk ibu Raina yang bersedih namun sebagai istri yang baru ditinggalkan dan sebagai ibu untuk kedua anaknya. Ibu Raina mencoba tegar dan ikhlas atas semua garis takdir suaminya.


"Sudah ya, bapak sudah tenang tidak sakit dan capek lagi dengan penderitaannya. Harusnya kalian senang bapak tidak merasakan itu lagi. do'a kan saja untuk bapak agar jalan pulangnya diberi kemudahan oleh Tuhan. Karena itu tugas terakhir kalian sebagai anak berbakti dan sholehah." ucap ibu Raina memeluk kedua anak perempuannya.


......................


Radika baru saja diberi kabar oleh Farel bahwa mertuanya telah berpulang ke rahmahtullah. Radika membereskan mejanya dan pulang.


Jenazah sudah dipulangkan ke rumah keluarganya dan akan segera dimandikan. Semua sanak saudara dari pihak bapaknya datang semua untuk berbela sungkawa.


warga setempat juga ikut membantu disusul dengan kedua orang tua Radika.


"Sayang," Radika mendekap tubuh Ayesha yang bergetar menahan tangis sedari tadi karena ia sedang berusaha mengikhlaskan bapaknya yang baru ia temani tak sampai seminggu ini.


Radika memilih untuk diam daripada memberikan kata penenang atau sekedar menyuruh istrinya untuk belajar ikhlas. Mendekapnya dan selalu ada disaat istrinya sedih itu pebih dibutuhkan.


Setelah melakukan proses memandikan, mengagani dan mensholatkan jenazah semuanya sudah berkumpul di kuburan setempat.


ketika memasukkan jenazah ke liang lahat, tetap saja sekuat apapun menahan diri agar tidak menangis namun Ayesha, Anesha dan ibu Raina tidak bisa melakukannya.


Malam hari, di rumah sedang melakukan tahlil bersama membacakan beberapa surat salah satunya yasin. Tahlillah akan dilakukan selama seminggu, tetapi diwaktu yang tidak tepat bersamaan dengan acara ulang tahun perusahaan yang semua rencana sudah matang tinggal menunggu hari H saja.

__ADS_1


......................


Masih diselimuti duka, kini hari terakhir acara tahlil. Radika juga sudah membicarakan acara kantor dan disetujui oleh Ayesha.


"Maaf ya, aku gak bisa dampingi kamu di acara hari jadi perusahaan." sesal Ayesha


"Sudah aku bilang dari sebelumnya, tidak apa-apa. Bapak kan lagi meninggal kamu itu jangan diambil pusing."


"Tap-"


Radika menutup bibir Ayesha dengan jari telunjuknya,"shuttt, sudah ya nanti aku juga jelasin ke mama dan papa kalo kamu gak bisa hadir."


Radika akan berangkat dari rumah Ayesha nanti sekitar jam 5 sore karena acaranya malam hari pukul 6. Acara dilaksanakan disebuah hotel megah para undangan satu per satu berdatangan dengan istri atau pasangan mereka bila single.


"Selamat hari jadi perusahaan pak Radika!" ujar rekan kerja yang bekerja sama dalam bidang konstruksi.


"Terimakasih Pak Hendra."


Semua tamu mengucapkan selamat dan tiba-tiba," Uy bro selamat hari jadi perusahaan." Damian merangkul pundak Radika.


"Kan mesti lu itu! Datang gak ada kabar, mendadak muncul kayak setan jailangkung."


Damian menggaruk tengkuk lehernya sambil ketawa- ketiwi.


"Sana lu, ganggu gue aja,"


Damian yang mengabaikan usiran itu malah menanyakan hal lain," istri lu kemana? Kok gak bsreng sama lu?!"


"Bapak mertua gue meninggal Dam. Makanya gue nyuruh dia buat gak ikut aja apalagi sekarang hari terakhir tahlillah."

__ADS_1


"Oh gitu, gue kudet berarti nanti ajak gue mampir ke rumah istri lu ya Dik," Radika mengangguk paham.


Berjalanlah acara ulang tahun hingga pukul 12 malam tepat. Radika langsung pulang ke rumah Ayesha begitu acara selesai. Papa dan mama nya juga pulang ke massion karena merasa lelah menyambut tamu rekan bisnis yang sudah lama bekerja sama dengan perusahaan.


__ADS_2