
semakin bertambahnya semester perkuliahan, Ayesha sudah jarang mengunjungi kampus. Dia disibukkan dengan mengejar tugas akhir yang harus segera diselesaikan. Sekian banyaknya bentuk revisian dari dosen pembimbing, Ayesha pun berada pada tahap sidang proposal.
Dan secara bersamaan dengan perut Ayesha yang membuncit membuat dirinya ekstra mudah cepat lelah dan lebih berhati-hati. Radika sering kali memperingati Ayesha agar tidak terlalu lelah terutama diusia kehamilan 8 bulan ini.
"Sayang, abi dengar kamu mau sidang proposal hari ini ya?" tanya Radika membuat gerakan tangan Ayesha terhenti saat sedang merias diri di depan kaca.
Deg
"padahal aku gak cerita ke siapa-siapa deh!" batin Ayesha, dia tidak mau suaminya tahu tentang cemooh mahasiswa lain terhadapnya. Ayesha khawatir jika nanti suaminya akan membumi hanguskan kampus yang dimana pemiliknya adalah Vandi.
"Emm...i-iya bi, emang kenapa bi?"
"Kamu harusnya ceritalah ke abi masa diam aja. Coba kalo abi gak tanya ke bodyguard kamu mungkin abi gak bakalan tahu "
"Astaga, aku lupa sama dua orang itu!"
"Hehe, biar suprise aja gitu nanti baru aku cerita ke kamu, kalo aku lulus sidang," elak Ayesha
"Biar abi yang antar kamu kesana, ini hari kamu berjuang." kata Radika, sambil melihati Ayesha yang melanjutkan riasanya.
"Kenapa gitu? Kamu gak kerja?!" Ayesha bertanya sedikit dengan nada gugupnya namun berhasil tersamarkan.
"Kamu gak mau abi antar? Biasanya juga dimana-mana orang bakal senang kalo ditemenin sama orang tersayang, kamu mah gak roman banget sih Yang?!" seru Radika dengan wajah kusutnya saat mendengar respon Ayesha yang tidak sesuai harapannya.
"Aku takut ganggu waktu kerja kamu, juga ini cuma sidang aja, bukan widusa kali bi."
"Gak, pokok abi antar, TITIK." final Radika tidak bisa diganggu gugat, Ayesha menghembuskan nafas hanya bisa mempasrahkan diri untuk reaksi suaminya.
......................
diperjalanan menuju kampus, Ayesha ternyata belum bisa menerima kenyataan untuk kemarahan suaminya nanti setelah mengetahuinya.
"Abi kayaknya emang gak perlu ditemenin deh bi,"
"Kamu kenapa sih Yang? Kok kelihatan khawatir gitu?! Ada sesuatu?" Radika sedikit curiga dengan istrinya itu.
"A-aku gak papa abi," Ayesha masih terus mengelak.
__ADS_1
Sesampainya di parkiran kampus, sudah pasti mahasiswa yang ada disitu sudah bisa menebak mobil mewah milik siapa itu.
bayangan suara cemooh itu terngiang di kepala Ayesha samar-samar tanpa sadar Ayesha menggelengkan kepala agar suara itu menghilang.
"Yang, kamu sunggu baik-baik aja kan?! Diundur aja sidangnya biar abi yang bilang ya!" seru Radika menjadi khawatir terhadap istrinya.
"Abi aku sehat kok, badanku fit, kamu tenang aja ya!" Ayesha mencoba menenangkan kepanikan suaminya itu.
Ayesha membuka pintu mobil dengan ragu berharap situasi mendukungnya saat ini. Kalo hanya dia saja itu tidak masalah tapi ini sudah berbeda, sekarang ada suaminya yang mengantarkan dirinya.
"Eh liat itu, sekarang dia diantar sama suaminya,"
"Suaminya ganteng banget ya, gak berubah sama sekali"
"aku ya mau kalo jadi dia, pasti keturutan semua,"
Radika diam menampilkan wajah datarnya mendengarkan pesona mahasiwa lain terhadapnya.
"Sayang, sidahngnya dimana?" tanya Radika
"Emm..di lantai 4 abi,"
"Abi, gak usah macam-macam kalo ada apa-apa, cuekin aja ya, doakan aku aja, fokus sama aku aja ya?"
"Macam-macam apa? Ada sesuatu yang terjadi?"
"E-eh tidak ada, ya sudah aku masuk dulu ya!"
Radika mengangguk paham dan tak lupa mengecup kening Ayesha sebagai penyemangat ketika sidang nanti.
......................
"Lo tahu gak, gue denger itu tuh, siapa sih namanya Ayesha, bener gak sih?"
"Iya bener itu namanya, Beruntung banget kan dia itu, pasti dimanjain banget sama suaminya, gue mau deh gantiin posisinya,"
"Mimpi aja lo, emang suaminya mau sama lo? Paling juga gak srek sama lo!"
__ADS_1
Telinga Radika yang sangat sensitif itu bisa mendengar jelas khayalan mereka. Radika jadi merinding sendiri di dalam hati.
"Sadar diri deh kalian berdua, aku cuma cintanya sama Ayesha, dasar!"
"ngimpi aja kalian berdua,"
duduk hampir setengah jam, akhirnya Ayesha keliar dari sebuah ruangan dengan wajah yang tidak bisa ditafsir oleh Radika.
"Bagaimana? Lancar?"
"Emm...agak kaku sih cara ngomongku, tapi syukur aku gak ngeblang abi,"
"Kamu sudah bekerja keras dan berusaha, jadi semangat sayang,"
"Heem, terimakasih ya abi sudah selalu ada buat aku. Aku sayang abi,"
Ayesha dan Radika pun segera pulang. Namun sebelum itu, Radika sempat menghentikan langkahnya tepat di depan sekumpulan mahasiswa yang sedari tadi mengkhayal tentang ingin hidup bersamanya.
"Permisi mbak," ujar Radika
"Berhentilah mengkhayal berlebihan, saya takut anda terjatuh dan itu membuat anda sakit. Saya permisi kalo begitu."
Ayesha hanya diam, dirinya tak paham tiba-tiba saja suaminya mengatakan hal tersebut.
"Abi, apa ada yang terjadi selama aku sidang tadi?!"
"Hemm..tidak ada, hanya mereka terlalu banyak berhalusinasi itu tidak terlalu baik untuk otak."
...Dari sini, firasat Radika mengatakan ada hal yang tidak beres sedang dialami Ayesha. Disaat tertentu bukan hanya firasat seorang istri saja yang tepat sasaran namun seorang suami juga bisa melakukan sama halnya yang dilakukan para istri....
"Aku rasa perlu bertindak," gumam Radika
"Kenapa abi? Kamu bilang sesuatu?"
"Enggak kok Sayang, kamu salah denger kali!"
"Emm ya sudah kalo gitu, nanti sebelum.pulang mampir beli rujak ya abi, aku pengen banget soalnya."
__ADS_1
"Iya nanti kita mampir ya!"