Terjebak Wajah Tampan Billioner

Terjebak Wajah Tampan Billioner
Bab 16


__ADS_3

Jedar syok, dengan posisi yang siapa saja orang melihat itu pasti akan salah paham dan menuduh mereka telah melakukan hal tidak sepatutnya. Ayesha membeku diikuti jantung yang seolah terpaksa berhenti karena tubuh mengeluarkan reaksi terkejut. Didepannya sahabat lamanya melihat kelakuan buruknya yang ia simpan rapat kini tercium juga kebusukannya.


Ayesha takut, semua hal buruk yang dia perkirakan kedepannya akan terjadi. Ibu Raina akan marah dan kecewa mungkin juga menyesal pada dirinya karena tidak mampu menjadi sosok ibu yang mendidik anak perempuannya. Radika seolah baru sadar kesalahannya ini, penyesalan, rasa bersalah menggerogoti seisi hatinya. Dia terlena akan semua ini, Radika tidak memikirkan resiko apa yang akan terjadi setelah ini. Begitu mama Viani dan apa Beni, Radika sendiri tidak tahu sehancur apa hati mereka? Tetapi semua sudah terlanjur diketahui.


“Ayesha bagaimana bisa kamu melakukan hal seperti ini? Jujur aku tidak menyangka. Jika ibu dan bapak kamu tahu, apa kamu tidak memikirkan perasaan mereka begitu mengetahui kelakuanmu dibelakang mereka? Terutama kakakmu pasti dia akan marah besar. Sedari dulu kamu selalu saja diamanahi untuk menjaga diri karena kamu seorang wanita Ayesha!!!”


Ayesha juga tidak menjawab semua pertanyaan itu, otaknya tidak bisa mengelola ucapan Jedar. “Apa yang akan terjadi setelah ini? Aku takut ya tuhan.”


“Ini salahku, aku yang memulainya, jangan me-“ ucapan Radika terpotong, Jedar menunjukkan emosinya karena tertelan rasa kecewa.


“Bukan hanya kamu saja yang salah Dika tapi kamu juga Ayesha. Mau siapa duluan yang memulai tetap saja tidak mengubah kenyataan kalau yang kalian lakukan ini salah. “ Jedar kecewa sampai dia tak sanggup untuk marah. Wajahnya menyendu, harusnya ia menghabiskan waktu bersama Ayesha diselingi curhatan saat masa sekolah dulu dan masa kini. Namun, tidak lagi andai Jedar yang mengantarkan makanannya semua tidak akan terjadi.


“Ayesha bagaimana ini? Apa yang akan kamu lakukan? Aku sendiri tidak tega menceritakan ke ibumu mengenai kelakuan anaknya.” Ayesha berkaca-kaca, air matanya tidak mengalir, dadanya sesak, telapak tangannya mengepal erat hingga memutih. Radika membantu merilekskan Ayesha, membisikkan sesuatu agar Ayesha sedikit lebih tenang.


“Sayang kita tanggung bersama-sama ya, ada aku disampingmu. Kamu akan menjadi tanggung jawabku kedepannya karena kau telat mengambil hal berharga bagi seorang wanita darimu. Kita sholat Magrib dulu ya, biar tenang.” Radika mengantarkan Ayesha kekamarnya dan membiarkan wanita itu sendiri dulu.


Radika berusaha untuk tenang melihat mental Ayesha yang drop. “Jedar kamu kembalilah saja, kamu tenangkan diri kamu, Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya akan Ayesha. Aku sudah lama berniat ingin menikahinya tapi aku menunggunya lulus wisuda.” Ungkap Radika setelah Kembali dari kamarnya. Jedar masih tak berkutik dari tempatnya.


“Dik, masalahnya bukan tentang tanggung jawabmu, tapi perasaan keluarganya dan keluargamu. Reaksi mereka bagaimana? Apalagi kamu, reputasimu dipertaruhkan, bukan? Ini bisa mencoreng namamu sebagai pembisnis dunia. Aku tahu kamu itu bukan sembarang orang, kamu orang penting. Nasib Ayesha bagaimana?” Jedar terhenti, ia merasakan kasihan dengan Ayesha dan juga ikut khawatir. “ Namanya tersebar di media sosial, Fans kamu mungkin akan menjelekkan dia, Ayesha bukan orang sehebat seperti kamu, namannya akan jatuh berbeda dengan kamu Radika!” Jedar tidak tahu harus apalagi, dia juga ikut bingung.


Mengingat keluarga Ayesha sangat sensitive bila berhubungan dengan harga diri dan kehormatan.

__ADS_1


“Kalian membuatku gila, tahu tidak?!”


Radika marah mendengar semua itu, dia merasa diremehkan.” Aku bisa membungkam mulut sampah semua orang yang menjelekkan Ayesha asal kamu tahu Jedar! Aku akan melindungi dan menjaga Ayesha. Sekalipun keluarganya ataupun keluargaku tahu, sekalipun aku harus melepas hak warisku, aku akan tetap menjaga Ayesha. Membuatnya Bahagia dan tersenyum. Aku dan Ayesha akan terus bersama. Itu janjiku!” lontar Radika.


Jedar menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan. Mata Radika tidak satu pun ada tanda kebohongan dan terlihat kesungguhan hati saat mengucapkan janji itu.


“Akan aku ingat ucapanmu Dika, Sekarang terserah kalian berdua. Kalian sudah dewasa dan bisa bertindak. Kali ini ambil keputusan dan bertindak dengan benar. “ setalah mengatakan itu, Jedar keluar dari apart Radika. Laki itu merasa pusing dan kacau. Ia tahu kedepannya tidak akan sama lagi kondisinya dan akan terasa lebih sulit juga tertekan dari biasanya.


“Aku pasti bisa!” Radika pun masuk ke kamarnya untuk melihat kondisi Ayesha. Perempuan itu masih duduk dengan pandangan kosong dan tautan tangan yang tidak lepas dari tadi.


“Sayang, ayo aku antar kamu buat wudhu, sebelum jam sholatnya habis.” Ayesha ikut berdiri dan menuruti apa yang diucapkan Radika. Usai mengambil wudhu dan mengenakan mukenah milik Ayesha yang tertinggal disini.


Radika selesai wudhu, mereka pun menggelar sejadah dan menunaikan ibadah. Sujud terakhir dan mengucapkan salam. Radika mengangkat kedua telapak tangannya memanjatkan do’a, Ayesha diam-diam air matanya meluruh. Perasaannya campur menjadi satu tak beraturan. Radika selesai berdo’a dia mencium kening Ayesha.


Sesampainya dirumah, Ayesha menetralkan perasaanya dan raut wajahnya dia tampilkan seperti tidak terjadi apa-apa.


“Assalamualaikum,” salam Ayesha disusul Radika dibelakangnya.


“Waalaikumsalam. Loh sama Dika rupanya, ayo masuk dulu.” Radika mengangguk.


“Kalian habis dari luar toh? Tadi Anesha bilang kalo Ayesha mau ke rumah teman lamanya ini kok bisa bareng?!” tanya Ibu Raina

__ADS_1


“apart temannya Ayesha ternyata bersebelahan dengan apart saya. Dan kami pun bertemu lalu saya mengantarkan Ayesha pulang.”


“Ayesha jangan diam saja, buatin teh atau kopi gitu loh, ada tamu kok gak dilayani ini gimana sih?” Ayesha mengangguk dan tersenyum. Kemudian, pergi menuju dapur. Ibu Raina mengalihkan tatapannya,”maaf ya Dika, Ayesha kurang peka anaknya, kurang cak-cek gitu loh!”


“Repot-repot jadinya, biarkan saja bu, Ayesha juga capek.”


“Anak perempuan itu harus dididik dengan benar Dika, kedepannya mereka akan jadi seorang ibu rumah tangga, jadi harus dilatih kepekaannya.” Radika tersenyum hambar. Dia merasa amat bersalah, wajah ibu Raina dengan kerutan dan garis diwajahnya menunjukkan ia betapa lelahnya bekerja di sebuah warung juga cukup melelahkan di usia yang menua.


“Dia akan menjadi sosok ibu dan istri yang hebat Bu, ibu tenang saja.” Dengan mimik muka bersungguh-sungguh Radika mengutarakan isi otaknya.


“Kamu benar Dik, tapi Ayesha masih harus kulaih dan bekerja dulu, baru dia bisa menikah.” Ibu Raina menampakkan wajah serius dan setelahnya tertawa kecil.


Beberapa menit kemudian, Ayesha datang membawa nampan berisikan secangkir teh hangat di malam yang dingin ini.”Ini Dika teh nya diminum ya!” Ayesha meletakkan cangkir itu ke meja. Sambal berbincnag-bincang dengan ibu Raina hingga tak terasa sudah larut malam. Teh yang dibuatkan Ayesha pun sudah habis.


“Ya sudah bu, saya mau pulang dulu, sudah malam besok juga harus kerja.”


“Oh iya-iya, hati-hati dijalan, jangan ngebut ya!”


“Siap bu,” Radika pun menyalimi ibu Raina dan menoleh kearah Ayesha yang masih sedih itu.


“Ayesha aku pulang dulu ya, langsung tidur gak usah begadang!”

__ADS_1


“Iya dik, hati-hati dijalan ya!” Radika pun naik ke mobilnya dan pergi. Ayesha dan ibu Raina masuk kedalam rumah,” Sha jangan lupa matikan lampunya, ibu mau tidur dulu.” Titah ibu Raina


“Iya bu, tidurlah.” Ibu masuk ke kamarnya dan Ayesha mematikan saklar lampu, rumah menjadi gelap dan Ayesha masuk ke kamarnya. Berjalan ke kamar mandi untuk membasuh muka dan kaki, selesai itu lanjut tidur. Malam ini, menjadi malam yang paling buruk sepanjang hidup Ayesha.


__ADS_2