
Berjalannya waktu Radika dan Ayesha masih menampakkan kerukunan dan kemesraan mereka. Belum ada kesempatan untuk mereka melakukan honeymoon. Ayesha kembali disibukkan dengan tugas kuliah setelah diizinkan suaminya, tentunya dengan berbagai persyaratan yang harus dipatuhi Ayesha demi menghilangkan kecemasan berlebihan dari suaminya. Ayesha harus diantar oleh supir naik mobil, Dijaga oleh pengawal dari kejauhan, memeriksa segala makanan yang akan dimakan menggunakan sumpit berbahan dari perak yang digunakan pada zaman China Kuno dan itu sudah ia lakukan selama setengah bulan lebih.
"Masih melakukan hal konyol itu kamu Sha?" tanya Siska
"Ya masih, demi sang suami tercintehku, aku dicap orang kuno oleh orang lain." dengan malas Ayesha menjawabnya.
"Aku iri," celetuk Siska
"Iri kenapa?"
"Itu namanya, suami kamu perhatian, saking sayangnya ke kamu dia waspada banget. Ya sebenernya sih laki-laki nunjukin kasih sayangnya pakai cara yang berbeda-beda. Terkadang ada juga cara mereka gak bisa kita ngerti apalagi dipahami."
"Kenapa? Kamu ada masalah sama cowokmu? Cerita aja kalo memang butuh temen cerita. Selama ini, kamu yang jadi pendengarku sekarang gantian biar aku yang jadi pendengarmu." ucap Ayesha disertai senyuman tulus.
"Mana mungkin aku menceritakannya. Bahkan tidak ada secuil kenangan indah yang bisa aku umbar ke orang lain." batinnya
"Ya kamu pasti pahamlah dan pengalaman banget. Kalo hubungan gak jauh dari batu kerikil yang dengan mudahnya membuat suatu hubungan terjatuh. Aku cuma lagi salah paham aja. Penyakitnya orang pacaran."
"Iya, benar katamu itu. Aku semakin hari juga semakin mencintai suamiku sendiri. Rasa suka yang sudah ada sejak lama, semakin tumbuh setelah dibiarkan hidup bebas seperti tunas liar. Dia dengan alami diguyur air hujan dan dengan bertumbuh dia dicukupi sinar matahari untuk berfotosintesis."
Siska mengkerutkan kedua alisnya seperti berat sekali cara penggambarannya." Perumpamaan yang menambah beban otakku." gumamnya
Mereka diam sejenak. Lupa dengan makanan yang dipesan dari tadi karena terlalu seru melontarkan pendapat tentang masalah hati. "Siska!! gara-gara kamu, mie baksoku jadi membengkak!" seru Ayesha menatap nanar mie di mangkuknya.
Siska melihat mangkuk milik Ayesha "aduh Ayesha!! Mie baksomu itu masih bisa dimakan kali, gak usah lebay deh! Juga kenapa aku yang salah?" Siska juga mulai menyantap nasi goreng makanan favoritnya.
"Kamu mengajakku mengobrol dan membuatku melupakan mie baksoku! Mie yang membengkak rasanya bakal beda, harusnya kamu tahu tips penikmat mie Siska!" Ayesha terus memprotes Siska.
"Sama aja, semua yang masuk di lidahku, yang lidahku rasain semua rasanya sama gak ada yang beda." Tegas Siska mengelak pendapat itu.
"Gini ini orang awam yang dikasih tahu malah nyolot." Siska mendecih mendengarnya. Temannya ini jika sudah makanan yang dibahas jadi sok pintar.
......................
Sehabis makan, mereka bergegas menuju kelas yang akan ditempati nanti. Dari pukul 7 pagi sampai 5 sore mengalahkan jam kerja para pekantor, Ayesha merasakan lelahnya luar biasa. Ditambah statusnya seorang istri yang malamnya menyiapkan air mandi suami, baju tidurnya, makan malam, bahkan kopi atau teh dimalam hari kalo ditanya bagaimana capek? Sangat dan pastinya.
Begitu jam matakuliah berakhir semua mahasiswa pun keluar gedung. Ayesha melihat mobil hitam yang parkir mencolok diantara mobil lainnya. Bodi mobil kinclong sangat bersih, merek mobil mahal keluaran terbaru ditatap kagum dari mahasiswa yang melewatinya.
Tanpa diketahui Radika, awal Ayesha masuk setelah mereka menikah dia mengalami banyak perubahan. Dari segi pakaian yang dikenakan, Wajah tampak bersih dan terawat, pengawal dimana-mana, dan diantar jemput supir dengan mobil mewahhhh.
"Lihatlah keren bukan mobil itu, milik siapa ya?!"
"Aku jadi ingin mencurinya! Boleh tidak ya?!"
"Bu-bukannya itu mobil keluaran ter-terbaru dari luar negeri? Aku denger itu langka loh!"
Ayesha melangkah kecil dan mahasiswa meliriknya sambil berbisik-bisik.
"Tuh anak ngapain?"
"Dih, penghasilan dari simpanan kali ya!"
__ADS_1
"Punya bakat ngelontay dia itu!
Dan sebagainya semua lontaran caci-maki ditelannya mentah-mentah serta berusaha tidak memikirkan supaya tidak membuatnya depresi perlahan.
Ayesha membuka pintu mobil dan duduk disebalah kursi pengemudi."Ayo pak kita langsung pulang." ujarnya
"Mbak, kayaknya mereka lagi ngomongin mbak Yesha ya, gak boleh didiemin mbak nanti kelunjak kalo gak dikasih pelajaran." protes supirnya
"Pak, Terkadang diam adalah emas. Biarkan mereka mengoceh sepuasnya, Tuhan tahu mana hambanya yang berdosa dan tidak. Saya diam, sebab menyerahkan segala kecacian itu biar Tuhan yang membalasnya. Hukuman Tuhan lebih pedih daripada hukum yang berlaku di negara kita." Ungkap Ayesha selalu teguh dan bersabar menghadapi masalah yang menghantui kenyamanannya.
"Pak Dika bisa marah kalo sampai tahu dari orang lain loh Mbak! Saya kasih saran deh mbak, lebih baik mbak Yesha cerita aja, pak Dika bakal ngertiin mbak Yesha kok!"
Sedikit takut dan ragu. Radika protektif sekali kepadanya, nanti malah berakhir dia tidak dibolehkan kuliah lagi atau kuliah daring.
Setibanya di rumah ternyata Radika belum pulang. Ayesha menuju kamar dan segera mandi sebelum suaminya datang. Tak sampai setengah jam, Ayesha keluar dengan baju santainya dan pergi ke dapur.
"Bibi, Tolong siapin bahan buat bikin sop daging ya!" seru Ayesha menyuruh bibi yang bertugas di dapur. Sementara dia menyiapkan wadah untuk sayurannya.
"Udah mbak, " jawab Bibi
"Ya udah Bi, bantu potongin sayurnya saya bikin kaldunya."
Ayesha dan Bibi beradu dengan sayur dan peralatan dapur. Suara gesekan wajan dan sutil menimbulkan kebisingin. Dengan cepat mereka bergerak seperti duel di sebuah kompetisi memasak gerakan mereka selaras.
Tepat pada waktunya, Pintu rumah terbuka. Ayesha melepaskan celemeknya dan berlari menyambut suaminya.
"Abi!! " Ayesha menyambutnya sambil memanggil suaminya. Diraihnya tas.dan meleoaskan dasi yang melingkar dikerah kemeja itu.
"Mandi dulu ya, habis itu makan. Bajunya di kasur aku tunggu di meja makan."
"Baiklah Sayangku, tunggu aku ya!" Radika mengusap kepala istrinya dan pergi ke kamarnya.
Ketika Radika naik, barulah nafas Ayesha memburu, dadanya naik turun, menghirup rakus udara disekitarnya. Berjalan loyo, tenggorokkannya sangat haus.
Sekarang keduanya sedang dikamar. Ayesha memilih menyicil tugas kuliahnya. Laptop dipangkuannya dan jemari menari diatas keyboard itu. Radika bosan, dia mendekati Ayesha dan duduk disebalahnya.
Diam- diam Radika seperti anak kucing yang mendusel diperut induknya sedangkan Radika menenggelamkan wajahnya dileher Ayesha sambil mengecup hingga menimbulkan bekas dan rasa sakit.
"Auhhh, Kamu ini diem dulu lah bi! Aku masih ngerajakan tugas!" sentak Ayesha kesal karena diganggu.
Radika tak suka disentak istrinya." Aku kan cuma pengen deket sama kamu, Salah?!"
"Ya iya Salah, Kam-"
"Kok kamu gitu sih! Aku kangen sama kamu, pengen deket sama kamu, tapi kamu bisa kan nolak sambil bilang baik-baik. Gak sopan kamu bentar suamimu ini!"
"Kamu dengerin aku ngomong sampek selesai bisa kan!? Kamu dusel kayak kucing pas aku lagi sibuk nugas, bisa mikir kan kamu, waktunya gak pas! Aku juga pengen tugasku kelar Abi!!! Aku juga kangen sama kamu tapi aku juga punya tanggung jawab lainnya."terlanjur kesal Ayesha memilih pergi dari kamar dan menenangkan diri di kamar tamu di lantai bawah, tak lupa mengunci pintu.
Radika melihat pintu kamar yang terbuka dengan ekspresi datar. Karena kesal juga Radika pun sama-sama memilih diam untuk menetralkan rasa kesalnya. Keduanya bertengkar. Malam ini Radika dan Ayesha pertama kali tidur pisah kamar semenjak pernikahan mereka.
......................
__ADS_1
Siska baru saja tiba dirumah orang tuanya karena mendapat pesan untuk menyuruhnya menginap dirumah mereka. Awalnya dia menolak karena besok akan berangkat pagi ke kampus namun apalah daya perintah orang tuanya tidak bisa ditolak keras.
"Ada apa lagi sih!" gumamnya lalu meluncur pergi ke arah jalan menuju rumah utama.
Tibalah di rumah, Siska menemukan orang tuanya sedang duduk berdua di ruang tamu. Dia tahu mama papanya sudah menunggunya dari tadi.
"Ma Pa Siska pulang!"
"Mandi terus makan, mama dan papa ingin berbicara setelah itu." ujar Mama Veni
Siska hanya diam dan pergi ke kamarnya di lantai dua. Dia bergegas mandi dan sebelumnya tadi bertemu dengan pembantu lalu menyuruhnya membawakan makan malam ke kamarnya.
"Firasatku kok jadi gak enak gini ya!" gumam Siska, tadi saja ekspresi wajah orang tuanya sedikit agak serius dan seperti sedang di situasi mendesak.
Setelah menyelesaikan semua, Siska keluar dari kamar dan menemui mama papanya di ruang tamu.
"Ma Pa ada apa kalian ingin bertemu dengan Siska?!"
Mereka saling pandang hal itu tidak bisa dimengerti Siska sama sekali. Apa orang tuabya baru saja melakukan telepati didepannya?
"Siska, apa kamu melihat berita terbaru hari ini?"
"Gak ma, memang ada apa sih?! "
"perusahaan keluarga kita hampir bangkrut."
Deg
"Lalu kenapa kita gak bertindak Ma Pa? Kita harus menyelamatkan perusahaan!" Siska pun panik sendiri sementara mama papanya masih berdiam diri.
"Ma Pa ayo kita harus cari suntikan dana !" Siska bingung orang tuanya hanya diam.
"Kami berdua sudah memutuskan untuk menjodohkan kamu dengan seseorang yang sudah menjamin akan memberikan dana besar untuk perusahaan kita yang terancam bangkrut."
Jder...
Apalagi kali ini, seperti tersambar petir Siska menggeleng tak menginginkan hal itu terjadi.
"Aku gak mau Ma Pa!"
"Kamu harus mau Siska!" kali ini papanya angkat bicara.
"Tidak pokoknya Siska tidak mau. Siska punya laki-laki yang Siska cintai."
"Haha... Laki-laki yang merebut paksa kebanggaan seorang wanita begitu?!"
Siska melotot tak percaya, orang tuanya sudah tahu!
"Kalian! Sudah..."
"Ya kami sudah tahu Siska, karena itu mereka bahkan dengan berbaik hati menerimamu apa adanya Siska!"
__ADS_1
Siska menggeleng keras. Dia mencintai Vandi dan selamanya akan tetap seperti itu. Meskipun Siska tidak dicintai balik oleh Vandi tapi tak apa. Siska akan selalu menunggu.
tanpa mau mendengar lebih lanjut Siska berlari ke kamarnya dan di dalam otaknya kini sibuk mencari rencana bagaimana caranya agar dia bisa terbebas dari perjodohan ini.