
Umur Dante kini sudah mencapai 2 bulan pas. Setiap momen perkembangan si Cabi tidak pernah terlupakan untuk diabadikan. Ayesha merasa terharu dan tidak menyangka bahwa dia menjadi seorang Bunda yang hebat untuk Dante.
Namun, disamping itu Ayesha juga dibuat geleng-geleng dengan tingkah absurd suaminya kepada anak semata wayangnya. Memang sudah benar mengajak main si Cabi, justru yang dijadikan mainan malah anaknya sendiri.
"Dante...Ayah ngerasa kamu udah merebut semua perhatian istri ayah. Padahal kurang ikhlas apa ayah ini! Sudah berbagi aset milik ayah ke kamu. Tapi, kamu malah menguasainya seorang diri!!" di kamar hanya ada mereka berdua saja. Ayesha sedang sibuk di dapur.
"Abuhftt..." ocehan Dante seolah-olah tidak memperdulikan jika dirinya telah merebut milik ayahnya.
"Dante! Kamu berani meletin lidahmu ke ayah ya!"
"Sebagai hukuman dari ayah! Kamu ayah bikin jadi tuyul cantik jadi-jadian ya!!"
Radika turun dari ranjang mencari lipstik dan peralatan make up milik Ayesha lalu melakukan aksi jahilnya. Dengan senang Radika melukis seperti di kanvas.
di dapur Ayesha sudah selesai menyiapkan makan pagi yang sedikit terlambat hari ini. Ia berencana memanggil suaminya dan membawa Dante ikut turun. Radika yang masih asyik menjahili Dante dia tidak tahu bahwa induk dari anaknya sedang mendekat.
"Hehe...hebat kan karya ayahmu ini! Lihatlah"
Radika menggendong Dante dan membawanya ke cermin agar bisa dilihat anaknya.
Ceklek( Radika menoleh kearah pintu)
"Ab-"
"Astagfirullah...Dante!!! Muka kamu!!" Ayesha sangat terkejut wajah anaknya. Dia langsung berjalan menghampiri ayah dan anak itu.
"Dante!! ayah nakal lagi ke kamu ya? " Ayesha merebut Dante dari gendongan Radika dan membawanya ke kamar mandi untuk di bersihkan.
"Ayah nakal ya nak? Nanti bunda hukum ayah kamu biar gak ngusilin kamu terus ya!"
Radika menelan salivanya. "mampus aku!"
Ayesha keluar dari kamar mandi dengan memasang wajah garang."Kumat lagi! Abi apain sih anak kamu? Bahaya loh bi! itu kosmetik buat orang dewasa kenapa malah buat dandanin Dante!!" omelnya
"Dante nakal Sayang!!" elak Radika
__ADS_1
"Nakal gimana? Anak umur segini mana bisa ngusil ke kamu!?"
"Ya bisalah Sayangku!! Dia gak mau berbagi sama aku!! Radika malah merengek seperti anak kecil yang memaksa minta sesuatu.
"Berbagi apa abi?? Ya ampun...ya rabb...paringi aku sabar!!!"
Radika mengerucutkan bibirnya,"Itu cucu mu!"
Ayesha memutarnya matanya malas!"Dante kan butuh ASI, abi!!"
"Ya tapi tetep harus berbagi dong! Aku udah lama loh gak nyobain!!"
Ayesha memasang wajah aneh."kamu ini kenapa sih? Kesurupan ta abi?"
"Ya gak dong Sayang, aku ini masih waras."
"Dah dah...jangan gitu lagi Abi!! Dante masih kecil, jangan diusilin terus nanti rewel dia!"
Ayesha keluar dari kamar bersama dengan Dante. Radika menatapi wajah anaknya yang berkedip menatapinya dengan wajah polosnya itu.
"Awas kamu kalo udah besar. Gak akan ayah biarkan kamu dekat-dekat sama istri ayah!"
......................
Di rumah mereka sekamar namun seperti orang yang tak kenal satu sama lain. Pernah Siska mencoba cara yang pernah ia baca dari referensi cara menarik perhatian suami dengan mengenakan pakaian dinas malam transparan namun Vandi tidak menunjukkan reaksi apapun. Semua terasa monoton.
"Vandi, Ada yang mau aku katakan!"
Vandi yang sedang menggunakan dasi berhenti sejenak."Apa?"
"Sudah lama aku memikirkan ini dan agak sulit memutuskan ini namun aku rasa ini yang terbaik buat aku dan kamu!"
"Cepatlah sedikit, aku ada meeting pagi ini."
"Mari kita cerai," ujar Siska dengan mantap
"Apa kamu bilang?!" Vandi mengerutkan keningnya.
"Mari kita cerai, kamu bisa menceraikan aku. Silakan."
__ADS_1
"Kamu gila?"
Siska menggeleng,"Aku merasa kamu memang tidak menyukaiku bahkan berusaha untuk suka pun tidak. Setelah aku pikir matang, daripada.ini memyiksamu dan aku sendiri. Jadi, mari kita akhiri semua ini!"
"Kenapa? Kamu dekat dengan laki yang kamu temui? Kamu menyukainya?!"
"Hah? apa maksudmu? Aku menyukai siapa?"
"Udah deh, gak usah pura-pura bodoh kamu! Laki-laki yang kamu temui di cafe! Dia terlihat tertarik denganmu Siska!"
"Mana aku tahu? Aku tidak menyukainya. "
"Kamu ingin cerai karena laki itu bukan?!"
Siska bingung, kenapa Vandi tiba-tiba mengaitkan ini semua dengan Jayden?
"Ini semua gak ada kaitannya sama Jayden!"
"Oh jadi namanya Jayden! Padahal dia laki-laki biasa!"
"Kamu itu kenapa sih Vandi? Jayden cuma teman SMA ku itu aja. Kita gak sedekat itu. Atau jangan-jangan kamu!"
"jangan-jangan apa?!"
Siska menelisik raut wajah Vandi berusaha membaca ekspresi itu."Kamu mulai menyukaiku Van?!"
"Haha... Kamu benar-benar gila ternyata, aku sama sekali tidak menyukaimu!"
Vandi muak dengan pembahasan ini. Dia memilih segera pergi dari hadapan Siska yang hanya memandang lesu.
Di dalam mobil Vandi menggeram marah. Hatinya merasa tidak terima Siska mengatakan cerai. Vandi kesal dengan dirinya sendiri.
"Apa peduliku kepada dia?!"
Kepalanya langsung pening dan cenat-cenut. Memijat pelan sisi kepalanya, berharap pusing ini cepat menghilang. Vandi tidak mau hal ini mempengaruhi meeting hari ini.
Lain halnya dengan Siska, dia menghubungi pengacaranya agar mempersiapkan surat perceraiannya. Siska sendiri yang akan memberikan langsung kepada Vandi.
"Siapakan segalanya, hubungi aku jika sudah selesai!"
__ADS_1
"Siap bu!"
"Baiklah, mari kita akhiri semuanya." Siska selalu berusaha memantapkan hati yang terkadang timbul keraguan dan tidak yakin dengan semua ini.