Terjebak Wajah Tampan Billioner

Terjebak Wajah Tampan Billioner
Bab 17


__ADS_3

Vandi merasa ada yang terlupakan, mengetuk-ketuk jari telunjukknya mencoba memutar mundur ingatannya dua hari yang lalu. Iya, dia melupakan sesuatu lebih tepatnya asistennya. Perintahnya yang menyuruh Zaid untuk mencarikan informasi tentang Ayesha belum sampai ke tangannya hingga sekarang.


Vandi memejamkan matanya, ada kalanya Zaid berubah jadi asisten pelupa. Vandi bisa dengan mudah memecatnya tetapi, nanti dia sendiri yang akan kelimpungan mencari sekretaris baru dan masih harus beradaptasi dengan orang baru. Untuk sekarang, Vandi masih bisa bertahan sampai seterusnya.


Vandi menekan tombol untuk memanggil Zaid yang berada di mejanya. Asisten Vandi masuk bersama teman sejatinya yang selalu menemaninya kemanapu yaitu tablet nya.


"Iya pak Vandi ada yang bisa saya bantu?!"


Vandi menatap datar sekali kearah Zaid,"Kamu melupakan tugasmu Zaid, beraninya otak kamu lupa!"


Zaid tanpa raut berdosa, mencoba mengingat apa yang telah ia lupakan. Berusaha pun Zaid tidak bisa ingat satupun. "Kamu!!!!" Vandi menggeram kesal.


"Huft, aku menyuruhmu mencari informasi tentang mahasiswa yang bernama Ayesha." ujar Vandi. Tatapan setajam pedang samurai yang mampu menebas leher Zaid.


Zaid menggaruk pipinya. Pekerjaan yang terlalu menumpuk sehingga membutuhkan kefokusan yang ekstra dan membuatnya lupa perintah atasannya. Bukannya bergegas melaksanakan perintah Vandi, Zaid masih berdiri tegap didepan pintu.


"Kenapa masih disitu?! Cepat bergerak sebelum kepalamu terlepas dari tempatnya!" Zaid memandang takut kearah wajah Vandi yang garang.


"Aku tunggu 10 menit, lihat saja jika apa yang aku minta tidak ada ditanganku!" ucap Vandi sambil meragakan seolah dia menggorok leher seseorang.


Zaid berlari terbirit-birit dan segera membuka laptop yang ada di mejanya. Tangan jemarinya bergerak dengan kecepatan tinggi berselancar mencari segala informasi tentang Ayesha. Zaid takut jika kepalanya benar terlepas apalagi hidupnya yang selama ini selalu sendiri tidak mau bila mati dalam keadaan sendirian.


Mendapatkan apa yang diinginkan Vandi, Zaid segera menyerahkannya kepada atasannya yang matanya terus menunggu pintu ruangannya terbuka.


"Ini pak," Zaid langsung meletakkan datanya diatas meja.


"Bagus, pergilah dari ruanganku!" usir Vandi


Membolak-baliknya sambil membacanya dengan teliti, "Hidupnya biasa saja, keluarganya harmonis dan memiliki seorang kakak perempuan bekerja sebagai dosen kampus swasta. Bapaknya menderita stroke, ibunya bekerja disebuah warung. Tentunya dibalik semua ini keuangan menjadi masalah utama mereka. " Vandi mempunyai banyak akal licik untuk mendapatkan apa yang ia mau. Vandi akan memanfaatkan masalah mereka lalu menjadikan Ayesha hanya untuk dirinya.


Ketika membaca halaman terakhir, tangan Vandi mengepal kuat dengan hati yang bergemuruh ingin emosi. Dari dulu, benang merah diantara keduanya selalu ingin mereka beradu dan bersaing terus-menerus dalam hal apapun itu. Yang kemudian, berakhir dia menelan kekalahan yang tak terhitungkan. Vandi mengenal Radika saat adanya perebutan gelar Rich Gobel Award sedunia. Dimana mereka sama berada di tahap pertama memasuki dunia bisnis. Semua pembisnis terkenal dan tempat berkumpulnya para orang hebat di dunia bersaing, dari sekian banyak orang hanya merekalah yang bisa menyabet banyak millliayaran bahkan triliunan uang. Vandi mengerahkan energi dan usahanya untuk merebut posisi pertama pembisnis terkaya sedunia namun bagi Vandi itu cuma menjadi angan-angan saja bila tidak dibumbui kelicikan didalamnya. Hingga sekarang pun, Vandi belum berhasil mendapatkannya.


"Kamu memang dinding penghambat dihidupkan Radika!" tangannya meremas data itu hingga lusuh dan kusut tak berbentuk. "Aku akan merebut apa yang seharusnya menjadi milikku!" kobaran amarah dan semangat untuk menghancurkan Radika kembali membara.


......................


Sesuai rancangan yang telah dimatangkan, kini kampus swasta sudah dalam penggarapan tahap awal. Rencananya akan fasilitas yang akan dibangun pertama adalah jurusan yang kekurangan laboratorium untuk praktikum mahasiswa, penambahan ruang kelas yang lebih nyaman dengan adanya AC, LCD, dan beberapa mic diatas meja agar memudahkan mahasiswa jika ingin bertanya.



Selain itu, Fasilitas berkumpul untuk mahasiswa seperti kantin, Ruang UKM(Unit Kegiatan Mahasiswa), Perpustakaan digital, E-learning, dan sebagiainya demi menunjang kegiatan pembelajaran.


"Semoga semua ini berjalan lancar dan dapat digunakan cepat oleh mahasiswa." kata Radika sambil menggeser foto pembangunan kampus yang dikirimkan Farel.


Menatap langit yang perlahan menggelap, Radika bergegas untuk pulang." Ayesha sedang apa kira-kira ya?! Aku ingin mampir sebentar ke rumahnya." gumamnya lalu masuk kedalam lift dan menekan tombol L menuju parkiran. Di parkiran suasana sepi membuat kesan seram, andai Radika tidak terbiasa dia pasti sudah terbirit-birit kabur dari situ.


Sebelum ke rumah Ayesha, Radika ingin membelikan Kebab asli Turki meskipun bukan beli di negara asalnya namun Radika mempunyai kenalan dari Turki. Semua zaman sudah canggih tidak perlu turun dari mobil untuk memesan makanan, ini biasanya dikenal dengan sistem Drive thru.


"Ingin memesan apa Mas?!"


"Kebab spesial ala Turki 4 dan hazelnut milk satu, Jasmin tea satu, macha milkshake 1. Itu saja mbak!" Radika memberikan kartu ATM nya kepada pevawai itu untuk membayar pesanannya.


"Baik mas, tunggu sebentar." Pegawai itu mengembalikan kartu ATM milik Radika dan tidak lama setelahnya, pegawai itu menyerahkan sekantong paper bag berisikan makanannya.

__ADS_1


......................


Ayesha mendengar suara mobil, malam-malam begini siapa yang ingin bertamu batin Ayesha. Jika memang tamu, kenapa mereka datang disaat yang tidak tepat. Ayesha itu, sedang mengerjakan banyak laporan kuliah yang deadlinenya hamir berdempetan. Suara ketukan pintu didengarnya, Ayesha menghela nafas. Ia keluar dari kamar dengan malasnya. Menengok ke kamar bapaknya yang tertidur pulas.


Di rumah Ayesha sendirian, ibunya sedang lembur dan Anesha belum pulang sedari tadi. Membuka pintu tetapi tidak ada siapapun.


Glek...


Ayesha merinding, degupan jantung meningkat cepat. "Si...siapa ya?! " menoleh ke kanan dan kiri hanya suara jangkrik dan kodok benyanyi.


"Anda jangan jahil ya, kalau kurang kerjaan sana cari kerja, jangan bikin orang esmosi ya!" serunya, genggaman tangan di gagang pintu mengerat. Tak ada jawaban.


Radika berjalan menjinjit agar tidak mengeluarkan suara. Lalu menyerang Ayesha dari belakang dengan pelukan serta membekap mulut perempuan itu supaya tidak teriak membangun tetangga sebelah.


"Ini aku!" Aku rindu!" bisik Radika


Ayesha memejamkan mata untuk meredakan rasa takutnya. "Kamu mau aku kena serangan jantung dadakan? Terus mati ditempat dan mau kamu masuk penjara hah!?" sentak Ayesha sambil melepaskan rengkuhan tangan kokoh itu.


Ayesha membalikkan badannya, menatap horor orang dihadapannya yang tidak merasa bersalah itu


Cup


Radika mengecup bibir manyun itu. "Kam-"


Cup


"Berhenti menciumku Radika!!" ucap Ayesha sedikit meninggikan suaranya.


Ayesha tersenyum senang tanpa menanggapi pertanyaan Radika. Namun, menyadari masih ada laki-laki menyebalkan, dia merubah raut mukanya.


"Aku sudah makan!" kata Ayesha.


Radika seolah-olah terkejut,"sungguh?! Ya sudah aku bawa pulang lagi aja." lalu menyeringai saat leher Ayesha bergerak naik turun.


"Ya sudah kalo gitu pulanglah!" Ayesha yang akan menutup pintu ditahan oleh Radika.


"Ish, gak boleh gitu sama calon suami kamu. Ngomongnya harus baik."


Ayesha memutar matanya malas,"Tuh kan baru mingkem udah kumat kamu nya!" Radika menggandeng Ayesha masuk ke rumah dan duduk di ruang tamu.


"Ini nih aku bukain kebabnya ya, spesial buat kamu. Nanti yang 3 kasih buat bapak, ibu sama kakakmu, oke?" Ayesha mengganguk sebagai jawaban.


"Lagi apa kamu, hmm?!"


"Ngerjain tugas lah! " jawabnya ketus. Masih kesal karena Radika menakutinya belum lagi masih menceramahinya.


"Ganggu dong aku nih!?" tanyanya sedikit menundukkan wajahnya untuk melihat muka Ayesha lebih dekat.


"Ganggu, juga jangan deket-deket bisa?! Nanti kelihatan orang berabe !" Ayesha mendorong dada Radika pelan malah tidak mempan sama sekali.


"Bapakmu tidur?!"


"Iya tidur, kalo bak tidur mau ngapain lagi?"

__ADS_1


sok-sokan mikir Radika menjawab," nonton TV kali?"


"TV nya rusak, ada tulisan siaran teracak. Dibelikan yang bagus malah gak berfungsi. Buang duit aja!" geruru Ayesha. Ibu Raina baru membeli sebuah perangkat TV kabel namun akhir-akhir ini suka gangguan sehingga tidak ada yang msnonton TV lagi.


"Oalah, kapan-kapan diperbaiki ya, nanti Aku bantu kok, Yang!" jawab Radika mengelus kepala Ayesha.


"Kamu ada apa, tiba-tiba datang ke rumah?"


"Dibilangin kangen koh!"


"Idih kangen melulu kamu itu, orang tiap malam bahkan tiap mau tidur aja kamu minta vc."


"Gak papa kali Sayang, toh kamu juga suka manja di Vc dari pada langsung kayak gini. Kamu itu lebih aktif di vc terus maunya minta main yang plus plus gitu!" muka Ayesha memerah.


Tiap vc dengan Radika, Ayesha merasa gatal dan seakan bergairah mendadak. Makanya Ayesha lebih hiperaktif dan Radika pun meladeni sikap agresif Ayesha.


"Bisa gak sih, gak usah bahas itu. Aku malu kalo gini." Ayesha menyembunyikan wajahnya dikedua telapaknya.


"Aku haus Sayang!"


Ayesha bangkit dari duduknya dan pergi ke dapur. Radika mengikutinya dari belakang seperti anak ayam dengan sang induknya. Di dapur, Radika menarik Ayesha lagi, hingga menabrak dada bidang Radika.


Laki itu rindu ciuman hangat dan manis yang selalu terbayang-bayang dimimpinyaa bahkan ketika ia membuka matanya.


"Eumhh...Dika...stophh" lenguh Ayesha dari sela lum*atan itu. Radika terus melu*mat bahkan suara ero*tis samar-samar muncul.


"Assalamualaikum," Ayesha reflek Ayesha mendodong keras Radika. Radika menatap bibir Ayesha membengkak karenanya.


"Waalaikumsalam." jawab Ayesha. Ternyata kakak dan ibunya datang bersamaan.


"Loh ada Radika ta ? Kapan datang?!" tanya Anesha.


"Baru aja kak, aku haus jadi minta minum ke Ayesha,"


"Oalah ya sudah minum sana, ada ibu juga."


Ayesha deg-degan hampir ketahuan dirinya bila tidak segera menghentikan ciu*man panas tadi.


Setelah meneguk air didalam gelas Radika tanpa aba-aba mengecup bibir Ayesha.


"Ck... Udah deh, ketahuan nanti!" geram Ayesha. Memukul lengan Radika.


"Hehe," Radika tertawa pelan.


"Ya udah aku pulang ya! kemalaman nanti di jalan,"


"Okelah hati-hati,"


Ayesha memanggil ibunya ingin memberitahu jika Radika akan pulang,"Bu...Radika mau pulang!"


"Oh iya tunggu sebentar!" Ibu Raina keluar dari kamarnya. " Hati-hati gak usah ngebut nyetirnya!" pesan ibu Raina.


"Siap bu, ya sudah aku pulang dulu bu, waasalamualaikum." ujarnya begitu usai menyalami ibu Raina.

__ADS_1


__ADS_2