
Setelah Kesepakatan Siska dan Vandi untuk mencoba mempertahankan hubungan mereka selama sebulan, keesokannya mereka memutuskan untuk berlibur ke Hawai.
Karena biasanya interaksi keduanya hanya mengobrol seperlunya kini bagaimana cara mereka membangun sebuah obrolan untuk menghidupkan suasana yang hening ini.
Di sebuah pesawat pribadi mereka masih dalam penerbangan. Duduk saling berhadapan dan saling menatap canggung. LKeduanya sibuk mencari cara apa yang perlu dijadikan perbincangan.
"Heem... Selama ini kamu kerja apa?!"
Siska menatap Vandi," Heh... Lihatlah bahkan kamu tidak tahu aku bekerja apa selama ini!"
Vandi menghela nafas,"Huft...sudahlah jangan membahas itu, kita ke Hawai untuk berbaikan bukan berselisih lagi!"
"Baiklah, Aku terkadang mendapat panggilan untuk dijadikan BA sebuah produk dan membantu perusahaan Papa."
"Begitu ya, Lalu Jayden sebenarnya siapa?!"
Siska juga ikut menarik nafas dalam dalam."Kamu bilang jangan membahas itu. Lalu kenapa kamu bertanya tentang Jayden sekarang?"
"Y-ya aku penasaran aja."
Mau tidak mau Siska pun menjawab pertanyaan yang sama sejak ia bertemu dengan Jayden kapan itu.
"Sudah aku bilang kalo dia itu teman SMA-ku udah itu aja, gak ada apa-apa"
"Ya sudah kalo gitu." Siska kembali melirik kearah Vandi.
"Lihatlah, kita pada akhirnya tidak tahu harus mengobrol apa?!" celetuk Siska
Vandi terdiam,"Aku bukan orang yang banyak bicara ini itu, kamu tahu itu!"
"Bagaimana bisa maju hubungan ini kalo kamu sendiri hanya terpaku dengan karaktermu yang pendiam. Andai kamu mau mencoba berinteraksi denganku semua akan lancar."
"Aku sendiri gak tahu harus ngapain Siska!"
"Vandi, disaat yang seperti ini, kamu itu gak perlu yang ribet hanya untuk memulai obrolan dengan pasanganmu Van, cukup mencari tahu bagaimana sosok aku, apa yang aku sukai dan tidak aku sukai, apa warna kesukaanmu, apapun itu, semua bisa dibicarakan."
Vandi memang bukan ahlinya untuk masalah percintaan dan asmara. Selama ini dia tidak pernah menyukai seorang wanita dan begitu pertama kali dia menyukai sosok itu, Vandi kalah dan mengalah.
Hal itu membuatnya muak berurusan dengan asmara dan memilih mengabaikan itu semua.
Melewati perjalanan yang lama, akhirnya mereka tiba. Begitu turun dari pesawat, terik panas matahari menusuk kulit putih Siska. Vandi yang melihat itu memanggil anak buahnya.
"Bawakan aku payung. Cepat!"
"Baik pak!"
Setelah mendapatkannya Vandi mendekati Siska dan membuka payung itu.
"Disini ternyata sepanas ini "
"Iya, sebaiknya kita langsung ke vila aja Van."
"Baiklah kalo gitu."
Mereka pun naik ke mobil yang sudah disediakan. Tiba di Vila dengan nuansa rumah bambu namun gaya bangunan khas rumah pantai.
Angin laut menyambut mereka, hampir membuat topi pantai Siska terbang terhempas angin.
__ADS_1
"Disini lebih hangat daripada yang tadi. Aku harus pakai sunscreen."
"Biar aku bantu pakaikan."
Sontak Siska menoleh, " kamu mau membantuku mengoleskan sunscreen ke tubuhku?"
"Iya, kenapa? Ada yang aneh?!"
Dirasa kesempatan ada didepan mata, Siska pun dengan senang hati menerima tawaran itu."Baiklah kalau begitu."
Vandi yang sedari tadi menunggu Siska di tepi pantai sambil berteduh dibawah payung menikmati birunya air laut yang terbentang luas tanpa batas.
Dari arah belakang Siska memanggil." Van, nih sunscreennya tolong olesin." ucapnya sambil menyerahkan benda tersebut.
Vandi menurunkan kacamatanya dan menoleh ke arah belakang.
Deg
"Sialan!" batinnya tergugah dengan pemandangan yang sekian lama tidak pernah dia lihat lagi.
"Van? Kok malah melamun sih? Buruan! Kulitku nanti kebakar."
"E-eh...Ya udah sini...tiduran disini biar aku olesin."
Vandi pun mulai nuangkan lotion ke telapak tangannya dan mengusapkan ke kulit putih Siska. Vandi tampak tersiksa sebab harus menahan diri agar tidak kelepasan.
Seakan akal sehatnya ingin lepas kendali seperti roket yang ingin meluncur. Dari kaki Vandi mengusap sampai ke paha dengan meneguk ludah terus menerus.
"Van, yang rata dong!"
terus mengusap masih tetap di bagian kaki hingga perpindah ke bagian punggung yang lagi-lagi membuat Vandi makin tersiksa batin maupun fisik.
Siska bangun dari posisi tengkurap dan tiba-tiba dia melepaskan pakaian bagian atasnya.
"Tu-tunggu Sis... Kamu ngapain ngelepas pakaian mu?" tanya Vandi dengan mata yang tak bisa lepas dari pandangan menakjubkan.
"Punggungnya juga harus semua dong masa gak sih jadi harus dilepas biar rata kasihnya."
Tanpa Vandi sadari Siska menyeringai melihat Vandi yang tersiksa dan menahan diri sebisa mungkin.
"Aku mau tahu seberapa lama kamu kuat menahannya?! Selama ini kamu bukanlah laki-laki yang kuat dengan godaanku." batin Siska
Glek...
"Aku harus bisa menahannya! Sial! Sudah lama aku tidak melakukan hal itu. Kurang ajar! Jangan bilang Siska sengaja melakukan ini!"
Siska terus menggoda Vandi dengan gerakan kecil yang mampu membuat sesuatu bangun dari tidurnya.
"Ughh.."
"Van? Kamu gak papa kan?!"
"Heem... Aku baik, bagian punggung sudah!"
"Oh bentar bagian depannya belum,"
Vandi membeku saat Siska berbalik badan dan terlihat bongkahan lemak seolah tak kuasa ingin keluar dari wadahnya.
__ADS_1
"Bagian depan habis itu udah deh!"
Sial! Lagi dan lagi Vandi semakin dibuat nyeri bagian bawahnya. Setelah menahan diri sekuat tenaga akhirnya usai sudah penderitaannya.
Siska berlari kearah arah pantai dan berenang ditepian.
"Jangan terlalu ketengah bahaya Sis!"
"Tidak akan ketengah kok " seru Siska dari kejauhan.
Vandi hanya memperhatikan dari jauh tak berani meninggalkan Siska seorang diri dipantai seluas itu.
Menjelang Sore Vandi dan Siska baru selesai mandi. Entah kenapa Vandi merasa baru kali ini Siska terlihat cantik dimatanya ketika mengenakan dress dengan bagian punggung dibiarkan terbuka.
"Kamu Cantik," tanpa sadar Vandi mengucapkan itu kepada Siska
Siska tersenyum senang. "Makasih! Aku pakai ini khusus buat kesini. Kamu suka Van?"
"Hemm, lumayan. Ayo kita makan malam!"
Kelakuan Vandi hari ini diluar kendalinya. Melakukan hal yang belum pernah dia lakukan selama di rumah seperti pasangan harmonis. Namun kali ini, Siska menyukai perlakuan manis dari Vandi.
Menarikkan kursi untuk tempat duduk Siska, memotongkan daging steak Siska, menuangkan wine ke gelas, bahkan menyuapinya. Siska menunggu momen seperti ini sejak lama ketika awal pernikahan mereka berdua.
"Kamu suka Sis?"
"Suka banget, makasih ya Vandi!" senyuman mempesona dimata Vandi, mengalahkan segala keindahan yang ada di tempat itu.
"Aku merasa ini seperti honeymoon kita, ya meskipun sudah terlambat untuk itu."
Vandi menatap lekat."Gak ada kata terlambat, Ya anggap aja ini honeymoon kita selama penikahan kita berlangsung."
Siska hanya tersenyum.
Malam di Hawai begitu dingin, Siska hanya memakain pakaian tidur berbahan satin terlihay tipis terkesan bukan seperti baju tidur tapi lingerie.
Vandi yang baru selesai ganti baju kembali diperlihatkan hal yang dulunya tidak dirinya suka dari Siska. Kini, Vandi kian tertarik.
Membuang Handuk ditangannya disembarang tempat, berjalan mendekat kearah Siska yang tenvah rebahan diatas kasur. Vandi melemparkan diri diatas tubuh istrinya.
"Sejak kita di pantai sampai sekarang, kamu berniat menguji pertahananku ya?!"
Siska dengan wajah lugu menjawab," maksudnya apa Van? Orang aku biasanya gini di rumah."
"Gak! Kamu pasti berniat menggodaku kan?!"
Siska meletakkan buku ditangannya dan pindah mengusap dagu Vandi." Kamu menganggapnya seperti itu ya? Atau kamu mau melakukan itu sekarang?!"
Glek...
"Hentikan sebelum, kubuat kamu pingsan malam ini!"
Seolah abaik akan peringatan itu, Siska semakin menjadi-jadi." Uhh takut..! Kalau kamu bisa sih Van!" dengan ekspresi meremehkan.
Seperti ular yang memangsa targetnya, Vandi mengendus leher jenjang itu sampai membuat tubuh Siska meremang dan merinding. Mengecup basah wajahnya dan melahap habis bibir tebal itu. Siska yang sedikit demi sedikit mulai terlena akhirnya membalas setiap perlakuan Vandi suaminya.
Vandi menggeram kesal dan menyerbu Siska hingga benar pingsan karena kelelahan melayani kebuasan Vandi. Malam indah yang sangat didambakan Siska bersama Vandi akhirnya tercapai. Jauh didalam hati Siska, ia berharap hubungannya terus bertahan meskipun masalah tak pernah berhenti untuk menguji pernikahannya.
__ADS_1