Terjebak Wajah Tampan Billioner

Terjebak Wajah Tampan Billioner
Bab 61


__ADS_3

Tiba di rumah Ayesha meminta bantuan pak satpam untuk menggotong Radika menuju kamar mereka.


"Pak saya minta tolong ya, tolong gendong suami saya."


"Siap Mbak, ini langsung bawa ke kamar atau gimana mbak?"


"Iya pak bawa ke kamar aja, "


"Oke Mbak kalo gitu."


Setelah itu, Ayesha memarkirkan mobil di garasi. "Sepertinya Dante aku titipkan di rumah mama dulu aja kali ya, takutnya juga ketularan sakit."


Masuk ke rumah, Ayesha pergi ke dapur terlebih dahulu." Bik tolong siapkan bahan buat bikin bubur. Suamiku sakit setelah ini aku mau bikinin dia bubur."


"Iya mbak, bibik siapin."


Ayesha pun pergi ke kamarnya, melihat Radika yang tergeletak tak berdaya dengan pakaian kantor dan sepatu yang masih terpasang rapi. Tanpa mengeluh apapun, Ayesha membuka pakaian Radika dan sepatunya lalu menggantikan bajunya.


Selesai itu, Ayesha menyelimuti Radika sampai sebatas dada bidangnya. Tak ingin membuat suaminya lama menunggu akhirnya Ayesha bergegas ke dapur untuk memasak.


Sibuk berkutik denga peralatan memasak tanpa perlu waktu berjam-jam akhirnya buryam ala Ayesha pun jadi. Kemudian, ia menuangkannya ke mangkok dan segelas air putih serta obat diatas nampan.


Membawanya ke kamar dengan hati-hati supaya tidak tumpah,"Abi ayo makan dulu. Aku sudah bikinin bubur ayam buat kamu."


"Suapin Sayang"


"Huft..." Ayesha harus bersabar menghadapi orang yang sedang sakit.


"Baiklah, Abi duduk dulu nanti tersedak kalo sambil tidur."


"Bantuin..." Radika merengek kembali


"Huft...ayo sini aku bantu," Ayesha menaruh nampan di tangannya terlebih dahulu lalu membantu Radika untuk duduk setengah badan sambil menyandarkan tubuhnya.


Sejujurnya Radika masih kuat untuk merubah posisinya hanya saja saat ini dia ingin sekali memanjakan diri dengan istrinya. Akhir-akhirnya tidak ada waktu khusus untuk mereka berdua hanya sekedar melakukan hal manis dan romantis.


"Aaa.." Radika membuka mulutnya


"Sayang, Cabi kemana kok aku gak dengar suaranya sama sekali?" tanya Radika


" aku titipkan ke Mama agar aku fokus merawatmu."

__ADS_1


Radika setuju dengan keputusan Mama Viani kali ini, biasanya mamanya selalu mengusulkan pendapat yang bisa membuat Radika menolaknya langsung tanpa pikir panjang.


"Akhirnya setelah sekian lama mama peka," gumam pelan Radika


"Kenapa bi? Kamu bicara sesuatu?!"


Radika menggelengkan kepala menjadi gelagapan sendiri. Hingga satu mangkuk bubur habis tak tersisa dilanjutkan minum obat dalam sekejap Radika pun tertidur pulas.


"Hari ini lumayan melelahkan juga. Dante rewel gak ya? Jadi kangen anak aku padahal cuma ditinggal sehari aja kangennya sampai kayak gini."


Ayesha pun memutuskan menelpon Mama Viani untuk menanyakan kabar anaknya.


"Assalamualaikum Ma,"


"Waalaikumsalam, ada apa Yesha?"


"Emm Ayesha mau tanya, Dante gak rewel kan ya?"


"Sama sekali gak kok, dia anteng banget selama ada ASI dia gak rewel."


Ayesha menghembuskan nafas legas,"Syukur kalo gitu, Ayesha takutnya bikin Mama kerepotan"


"Kamu itu loh, meskipun umur sudah tua tapi Mama masih kuat buat urus cucu ya," canda Mama Viani sambil tertawa pelan


"Oh dia lagi sibuk minum susu nih, nemenin oma opanya nonton TV,"


Ayesha mengangguk," ya sudah kalo gitu Ma, Ayesha titip Dante kalo ada apa-apa mama langsung hubungi Ayesha ya Ma!"


"Baiklah,"


Sebentar lagi matahari akan tenggelam, sebelum kedinginan Ayesha bergegas mandi apalagi badannya berkeringat sekali.


Ayesha menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Radika. Dia tidak memasak terlalu banyak, para asisten rumah tangga dia memberikan kebebasan untuk memasak makanan mereka sendiri.


Suaminya masih terbaring nyenyak bahkan posisi tidurnya tak berubah sama sekali. Keburu jam makan malamal habis, Ayesha membangunkan suaminya perlahan agar tidak mengejutkannya.


"Bi...abi..." ucapnya berbisik didekat telinga Radika


"Ayo bangun, kamu harus makan malam,"


Radika tidak berkutik, mencoba cara lain dengan menoel-noel pipi suaminya namun tidak bereaksi apapun. Terlintas satu cara yang kemungkinan besar dapat membangunkan suaminya dengan cepat.

__ADS_1


Cup...


Ayesha mengecup dalam bibir Radika. Tangan Radika yang langsung menekan tengkuk leher Ayesha dan me**mat sekilas bibir istrinya hingga membengkak.


"Shh...Sakit abi," rintih Ayesha mendorong pelan agar dirinya menjauh.


"Hehe..." Radika yang melihat wajah sebal istrinya hanya menunjukkan ekspresi terkikik.


"Ayo makan sebelum makanannya dingin."


"Bubur lagi Sayang?"


"Iya Abi, jangan banyak nawar."


Ayesha tahu jika Radika akan meminta makanan lain. Orang sakit bila ingin cepat sembuh maka harus makan makanan yang sehat supaya membantu badan cepat pulih.


"Yah...Sayang, lama-lama lidahku mati rasa loh kalo sama kamu dikasih makan bubur ayam terus."


"Makan aja, biar kamu cepar sembuh terus makan sudah makanan yang kamu mau."


"Huftt... Baiklah," Radika memilih mengalah


"Habis makan jangan lupa minum obat terus istirahat,"


Usai makan Ayesha mencoba mengecek suhu tubuh suaminya yang menurun.


"Demamnya udah turun, tinggal istirahat aja besok abi pasti sembuh." Ayesha yang akan berdiri dicegah oleh Radika.


"Mau kemana?"


"Ini naruh nampannya di dapur."


"Panggil bibik aja biar dia yang ambil Sayang."


"Sebentar aja Abi gak bakal lama kok." Radika tetap tidak mau ditinggal.


"Bibik masih makan sama yang lainnya."


"Kalo gitu ditunggu aja sampai selesai, nampannya taruh di nakas aja. Kamu disini nemenin aku tidur."


"Kamu jadi manja banget ya kalo sakit."

__ADS_1


Dengan wajah cemberut Radika menjawab."Ya gimana dong, kalo aku segar bugar pasti Dante yang manja-manjaan sama kamu. Sekarang Dante di rumah mama, jadi aku harus memanfaatkan kesempatan ini buat nempel ke kamu terus."


Ayesha menuruti keinginan suaminya. Dia meletakkan nampan di nakas dan dia pun ikut berbaring di kasur sambil memeluk Radika yang menduselkan kepalanya di leher Ayesha.


__ADS_2