
Sesuai rencana Radika melakukan kunjungan, terlihat seluruh dekan dan pengurus penting kampus swasta datang menyambutnya dengan senyum ramah tamah, Radika bersalaman.
Radika tak sengaja berkontak mata dengan dosen yang sedari tadi menatapnya penuh tanda tanya, seperti 'apa yang kamu lakukan disini?' sebelum seseorang memergoki dirinya menatapi wajah tampan pembisnis terkenal Anesha pun memutuskan kontak mata tersebut.
"Selamat Pagi Pak Radika, senang bertemu dengan anda," Dekan dengan nama Herianto itu membalas juluran tangan Radika.
"Pagi juga Pak Heri, " jawab Radika lalu digiring menuju ruangan yang menjadi tempat bincang mereka.
"Mari pak, saya antar ke ruangan. Saya merasa tersanjung dan terharu anda mau mengakuisisi kampus swasta yang tidak seberapa ini. Kalau boleh saya tahu Pak Radika, kenapa anda memutuskan hal ini?!" tanya Pak Heri sambil jalan beriringan dengan Radika.
"Saya selama ini melakukan bisnis diberbagai bidang dan menekuninya betul-betul namun untuk bidang pendidikan seperti ini saya belum pernah terpikirkan sebelumnya. Di zaman sekarang, sepengetahuan saya masih banyak anak hebat dan mampu diluar sana namun tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi, orang yang mampu kuliah ini, tentu belum mempunyai kemampuan atau tidak sungguh-sungguh dalam menempuh perkuliahan. Ya, saya sendiri menginginkan genereasi yang hebat dengan dukungan infrastruktur yang berkualitas bagi calon mahasiswa disini. Juga saya ingin kampus swasfa ini akan menjadi kampus favorite nantinya dengan pembelajaran ketat." ujar Radika, Pak Heri menyukai tujuan itu, disatu sisi dia ragu apakah mahasiswa disini bisa beradaptasi dengan perubahan yang sangat cepat seiring waktu. Keraguan yanv dirasakan Pak Heri tidak berani diutarakan begitu saja.
Seolah tahu apa yang dicemaskan pak Heri, Radika berkata,"anda tidak perlu khawatir dengan mahasiswa yang nantinya tidak kuat dengan sistem baru, saya dan asisten saya akan memberikan fasilitas terbaik untuk mahasiswa agar bisa menenangkan diri."
"Ma..maafkan saya telah meragukan anda Pak Radika!" ucap Pak Heri sedikit takut.
"Anda tdak perlu begitu Pak, wajar saja anda ragu sebab saya juga belum menjelaskan detail tentang projek ini.
Radika, Farel dan beberapa dekan lainnya pun menandatangani sebuah dokumen yang berisikan peralihan kepemilikan, sekarang Radika sah menjadi pemilik kampus.
"Selamat Pak Radika, saya hadap tujuan anda bisa tercapai."
"Ya tentu saja Pak. Kalau begitu saya undur diri karena masih ada kerjaan dan meeting lainnya!"
Para dekan berdidi dan bersalaman dan mengantarkan Radika keluar. Di samping mobil Radika, Anesha menantinya.
"Kak, sedang apa disini?!" tanya Radika
"Maaf menganggu waktu, bisa kita bicara sebentar saja?!" ekspresi serius dari wajah Anesha membuat Radika tidak enak menolaknya.
"Baiklah, Farel jaga sekitar!" Farel mengangguk.
Mereka mencari tempat sunyi dan Anesha tanpa basa basi pun bertanya, " Apa kamu ada masalah dengan adikku?!"
Radika masih diam," Tidak ada." jawabnya singkat, Radika memilih berbohong seandainya dia bercerita maka rahasia mereka akan ikut terbongkar. Dirinya dan Ayesha berada diposisi tidak aman.
"Benarkah? terasa aneh saja, biasanya kamu selalu lengket ke adikku dan tiba-tiba seakan kalian kini berjauhan."
Radika tahu ini semua mendadak, tapi dia bisa aja selain diam dan berbohong demi menutupi perbuatan dosanya dan Ayesha. "Aku serius, kami tidak ada masalah dan kami melakukan kesepakatan untuk mengutamakan masa depan Ayesha dan aku juga sibuk kerja."
Kening Anesha berkerut, ia tahu tidak seharusnya ikut campur urusan adiknya dan pacaranya ini. Firasat merasa ada yang disembunyikan. Anesha pun pasrah. "Okelah, terimakasib sudah menyempatkan waktumu, kembalilah."
Radika mengangguk dan pergi. "Sampai jumpa kak." pamitnya
"Apa sudah selesai Pak Radika?!" tanya Farel
"Kalau belum juga, aku tidak aka kembali kesini!" ketusnya
"Hehe, benar juga anda pak!"
"Jangan kamu biarkan otakmu bodoh dalam sesaat hanya karena menungguku berbicara dengan seorang wanita. Apa ini efek dari 20 tahun kamu menjadi single?!"
Farel tersenyum melas, atasannya terkadang bisa melontarkan kalimat pedas kepadanya. "Hentikan Pak, anda membuat hati saya sedih!"
"Cih, dasad lember!"Radika melengos masuk ek mobil setelah berhasil mengejek asistennya
Farel yang tidak berani membalas kejahilan atasannya cuma bisa mengelus dada dan menggumamkan kata sabar. Dia pun menyusul masuk ke mobil dan menhidupkan mesin mobilnya.
......................
Ayesha menghentikan langkah kakinya merasa getaran dari saku celananya. "Halo Jedar!" jawab Ayesha ceria.
__ADS_1
"Seneng banget ya aku nelpon kamu?"
"Iyalah, seneng masa gak seneng sahabat lamaku menelpon pasti ingin mengajakku kelusr ya kan!"
"Hilih, kamu tuh paling semangat kalo udah diajak keluar bareng aku, aku tuh udah hafal sama tingkahmu."
"Hehe, kamu mau ajak aku kemana nih?" Ayesha mencari bangku untuk duduk sambil bertelponan.
"Aku mau ajak kamu ke apart baru aku, mau gak?!"
"Ya maulah Je, dimana kirim alamatnya, tapi kapan?!"
"Nanti sore aku jemput kamu gimana?!"
Ayesha menkira-kira, kalau sore ada kemungkinan kakaknya sudah pulang dan setelahnya ada yang menjaga bapaknya. Yang penting, dia sudah memberikan makan siang ke bapaknya.
"Oke dah."
"Ya udah kalo gitu nanti aku kirim alamatnya ya!" tadinya Ayesha ingin pergi ke kantin namun tidak jadi akhirnya memutuskan untuk pulang dan segera memberikan bapaknya makan dan bersiap-siap. Ayesha tidak sabar bertemu dengan Jedar, kesempatan yang ditunggu-tunggu pun datang.
......................
Sementara Jedar, sudah menyiapkan segala sesuayu untuk menyambut sekaligus merayakan pertemuan mereka ini. Ia memesan beberapa makanan dan minuman kesukaan mereka berdua. suara bel berbunyi Jedar tergesa-gesa membukakan pintunya.
"Ayesha!!! " heboh Jedar berlari memeluk Ayesha yang masih didepan pintu.
"Aku kangen banget....nget...nget sama kamu Jedar," Ayesha sendiri tak kalah heboh.
Jedar membawa masuk sahabatnha dan menyuruhnya duduk dulu.
"Duduk Sha, aku ambilin minum buat kamu!" Jedar ke dapur dan menuangkan segelas air untuk Ayesha minum.
"Ih aku kira mau dikasib minuman spesial ternyata nggak!" Ayesha mengerucutkan bibirnya.
"Idih, datang-datang tuh tamu itu anteng dan gak banyak maunya, lah ini tamu gak sopan ya," Terkesan serius namun beginilah cara mereka bercanda tawa.
"Hahaha!!!" Ayesha tertawa dan meraih gelas itu dan meminumnya hingga tandas. "Je, aku mslongo pas tahu kamu beli apart disini! bangunan ini kan mahal bet Je!"
"Oh ini, aku nabung udah lama banget Sha, terus impianku mau punya apart elite sendiri nantinya. Dan aku juga udah kerja buka usaha sendiri lumayanlah!"
Ayesha mengapresiasi kerja keras sahabatnya itu. Dia dan Jedar sama dari kalangan keluarga yang sederhana. Namun, Ayesha tidak bisa seperti Jedar yang leluasa bisa bekerja tidak seperti dirinya.
"Hebat kamu Je, kapan-kapan ajari aku ya!"
"gampang itu mah."
"Oh iya Sha, aku mau antar makanan ke tetangga sebelah dulu ya. Nanti kalo ada kurir kamu tanda tangannya atas namaku."
"Je, sini aku aja yang anter makanannya, kamu aja yang urus kurirnya. Kalo atas nama kamu ya harus kamu yang terima, nanti kalo ada salah apa-apa gimana, aku gak mau ambil resiko ya!"
Jedar mendengus kesal, kebiasaan temannya yang tidak mau ribet untuk masalah yang satu ini."Ya dah nih, kasih yang bener nanti pas kamu jutek gak jelas!". Ayesha tak merespon memilih langsung mengantarkan makanannya.
......................
Ayesha sebelum menuju ke apart Jedar, dia sangat khawatir bila bertemu dengan Radika. Gedung apart Jedar dan Radika itu sama. Ada kemungkinan dia bisa bertemu. Ayesha tidak mau, susah payah dia selama ini menahan kerinduannya dan hasrat yang tak mudah msnghilang begitu saja.
Ayesha tetap was-was pada sekitarnya, sampai di tetangga sebelah yang dimaksud Jedar, Ayesha menekan bel disamping pintu.
Ting tong....
Jegrek...
__ADS_1
Deg...
"Huft... Kenapa harus sekarang?!"
Ayesha lupa lantai dan nomer apart Radika. Tadinya sempat menebak-nebak sebelum ke apart Jedar. Tapi dugaannya salah.
"Sayang!" celetuk Radika
Ayesha gugup dan canggung. Lama tidak bertemu membuatnya kikuk dan tidak tahu harus bicara apa.
"Masuklah," ujarnya lagi, menarik lengan Ayesha.
"Dik, lepasin tanganku, aku bisa jalan sendiri!" sentak Ayesha reflek keluar dari mulutnya.
"Maafkan aku, kamu duduklah dulu," Radika hanya merasa senang tiba-tiba Ayesha datang ke apartnya.
"Kamu datang ke apartku ada apa?!"
"A..aku hanya mengantarkan makanan dari sahabat lamaku tepat disebelah apartmu ini."
Radika mengangguk, senyum tampannya tak surut, kerinduannya tersampaikan begitu melihat wajahnya yang terus dimimpikan olehnya tiap malam.
"Begitu ya mau minum?!" tawarnya
"Ti..tidak usah, aku akan langsung kembali ke apart temanku!"
Radika pun mendudukan dirinya disamping Ayesha." Bagaimana kabarmu Sayang?!" ya Rasika masih memanggilnya begitu, tak luput dari pandangan laki itu, bahwa wanita tercintanya merona.
"Aku baik, kamu?"
"Aku tidak Sayang, kamu tahu aku tidak bisa jika tidak merindukan kamu, aku selalu memikirkan kamu padahal aku sudah menyibukkan diri dengan pekerjaan yang menumpuk dan meeting yang padat. Tapi, aku tidak bisa mengalihkanmu dari ingatanku." ucap Radika dengan wajah sendunya. Saat ini saja, ia menahan agar tidak mencium dan memeluknya dengan erat sampai enggan melepaskannya.
Ayesha memandangi kakinya, ia bingung harus menjawab apa.
Radika menggenggam tangan Ayesha lalu mengecupnya penuh sayang." apa kamu merindukanku juga Sayang?!"
Ayesha harus kembali sebelum Jedar mencarinya kemari. "Aku harus kembali ," Ayesha berdiri dan Radika langsung menarik tangan Ayesha sampai perempuan itu terhuyung jatuh.
Posisinya yang dipangkuan laki itu membelakanginya. Radika seakan berhenti bernafas, juniornya tertekan pan**tat Ayesha yang gempal itu. Keringat membasahi keningnua dan jakun yang naik turun seolah mengatakan ' Kita harus menahan diri agar tidak melahap habis leher jenjang dan bibir merah semanis permen stawberry tanghulu.'
Ayesha sendiri bergerak tak nyaman, ingin berdiri namun hormon testosteron mendadak meningkat pesat menanti kesenangan antara pria dan wanita. Suhu tubuh menjadi tinggi dan membuat keduanya gerah. Alih-alih stress dan frustasi yang mereka alami, memicu tubuh untuk segera menghilangkan penat yang ditanggung otak.
"Sayangggh... Plis dont move on!" geraman Radika membuatnya merinding.
"Eughh..Dik jangan," Radika mulai menghirup dalam aroma tubuh Ayesha. Candunya mengalahkan obat terlarang dan suasana tegang ini seperti masuk kedalam rumah berhantu.
Radika menjadi-jadi, tanganya tak lupa meraba tanpa henti diarea dada Ayesha. Wanita itu melenguh, tangannya meremas celana kainnya melampiaskan rasa yang didambakannya. Bibir bisa mengatakan tidak tapi tubuh sebaliknya. Jemari kokoh itu menari-nari dipu*sarnya, turun melewati pe*rutnya menimbulkan reaksi menggelitik. Bermain himpitan lembah yang melembab karena aksi tangan Radika.
Bunyi bel yang berbunyi menulikan kedua telinga mereka. Seseorang menunggu pintu itu terbuka namun sang pemilik sedang sibuk dengan kegiatan panas mereka.
"Permisi!!!"
Ting tong....ting tong...
Jedar akhirnya menyusul Ayesha. Terlalu lama hanya sekedar mengantarkan makanan ke tegangga sebelah.
"Ayesha kamu didalam," Jedar memegang engsel pintu dan entab keberuntungan atau kesialan. Jedar membelalak kaget, pemandangan didepannya membuat jantungnya seperti berhsnti memompa darah.
"AYESHA, APA YANG KAMU LAKUKAN?!"
Radika dan Ayesha menoleh bersamaan dan terkejut. Orang yang mereka kenal melihat sesuatu yang tidak sepantasnya.
__ADS_1