Terjebak Wajah Tampan Billioner

Terjebak Wajah Tampan Billioner
Bab 63


__ADS_3

Tak terasa sudah kini Dante bisa berjalan dengan kedua kakinya sendiri, bayi berumur setahun pas itu kian aktif bergerak. Semua barang yang dilihat dan dapat dia jangkau menjadi target utama untuk dia kacau.


Ayesha yang menjaganya seorang diri seperti biasanya disaat suaminya bekerja pernah suatu kejadian membuatnya gemetaran takut. Dante mengalami luka dibagian alis hingga mengeluarkan darah membuat bayi itu menangis sambio menjerit kesakitan.


Ayesha berlari panik tak karuan, di rumah sakit dokter langsung bergegas bertindak. Radika pun pernah hampir marah karena hal ini, menegur keras Ayesha karena kurang mewaspadai aktivitas Dante.


Kurang lebih hampir dua mingguan Ayesha terus menyalahkan diri sendiri merasa tidak becus menjadi ibu dari sang anak. Radika mendengar kondisi istrinya dari bibik, dia pun langsung pergi menemui Ayesha.


Namun dibalik kejadian itu, keduanya saling belajar menjadi orang tua dan pasangan yang lebih baik. Dari situlah Ayesha meminta kepada suaminya untuk memanggilkan seseorang agar semua perabotan rumah yang memiliki ujung runcing langsung dibenarkan.


"Dante Jangan lari-lari terlalu kencang, mama gak mau kamu terluka!" Ayesha terus mengikuti kemana pun anaknya itu berlari di taman belakang.


"Ma...ma...ma..." Dante bersorak riang merasa senang. Peringatan mamanya seperti ajakan bermain baginya.


Panggilan Cabi tidak lagi mereka gunakan, pipi gembul itu menghilang sejak Dante jatuh sakit saat dia terluka di alisnya, mungkin syok membuat tubuh bayi itu drop.


"Happ..." Ayesha menangkap tubuh anaknya dan menggendongnya.


"Yey Dante tertangkap sekarang kita istirahat dulu yuk, Nak"


Dante terus berceloteh terus memanggil mama dan papa sambil bertepui tangan. Akan tetapi, bayi itu disetiap harinya akan terus menemukan kata baru yang kemudian dia terapkan saat berbicara


"Mam...mam...ma...ma.." Ayesha tersenyum mengangguk


"Dante mulai lapar ya, jam makan siang masih belum, mama kasih cemilan buat kamu ya sambil nunggu makan siangnya."


untuk umur 1 tahun, frekuensi makan anak seharusnya sudah sama seperti orang dewasa yaitu 3 kali makan utama dan 2x selingan dengan porsi yang disesuaikan kebutuhan.


Ayesha sungguh memperhatikan apa yang dikonsumsi Dante, juga ada kebiasaan baru dari anaknya yang selalu memasukkan jemarinya ke dalam mulut.


"Dante hayo...itu jarinya jangan dimasukkan ke mulut nanti kamu hok gimana?" Kecenderungan ketika jari terlalu masuk akan memicu mual dan naiknya sisa makanan yang baru dimakan.


Sementara Dante hanya menjawabnya dengan celotehannya,"Ma...ma...ma..."


namanya masih kecil cara makannya pun masih berantakan, Ayesha mengantisipasi dengan memberikan alas dibawah kursi bayinya lalu membiarkan anaknya makan dengan senang.


"Enak ya ? Makan yang lahap biar Dante sehat terus ya!" Dante terus mengunyah membuat wajahnya jadi belepotan kotor.


"Hahaha...Nak..nak...kamu itu lo makan kok bisa sampe ke alis-alisnya, sini mama bantu bersihkannya,"


Ayesha mengelapnya dengan tisu basah, Dante membiarkan mamanya membersihkan sisa makanan di wajahnya selagi dirinya asyik fokus dengan makanan di tangannya.


"Dah..." ucap Dante dengan beberapa gigi yang terlihat akan tumbuh.


"Pinter anak mama makannya habis," Ayesha tak lupa selalu mengapresiasi anaknya yang mau berusaha melakukan sesuatu sendirian. Meskipun lebih banyak makanan yang jatuh daripada yang masuk ke mulut.


"Bik, minta tolong diberesin ya, aku mau ganti baju Dante dulu."

__ADS_1


"Oh iya Mbak, biar bibik yang bersihkan habis cuci piring."


Ayesha menggendong Dante masuk ke dalam kamarnya. Ayesha juga memperhatikan kebersihan di kamar anaknya, keluar masuknya udara dan membelikan barang empuk seperti bantal ataupun alas halus untuk meminimalisir bahaya ketika Dante beraktifitas.


Ayesha menurunkan Dante ke lantai dan bocah kecil itu berlarian kesana kemari. Ayesha mengambil baju ganti biasa karena Dante memiliki kebiasaan dalam sehari bisa 5 kali ganti baju.


"Ayo sini ganti dulu bajunya," Ayesha merangkuk Dante untuk memudahkan dirinya. Namun, Dante yang terburu-buru mau main lagi, membuat Ayesha susah untuk memasangkan pampersnya.


"Dante kangen papa gak?" Ayesha mencoba mengakali anaknya itu.


Dante menoleh memandangi mamanya dengan mata terbuka lebar."Pa...pa...pa..."


"Kangen kan? Habis Dante ganti, nanti mama telponkan papa buat Dante! Makanya Dante cepat ganti."


Dante yang sangat ingin akhirnya menurut. Kemudian, dipangkuan Ayesha Dante duduk tenang sambil melihat mamanya.


menunggu telpon videonya tersambung dan tak lama suaminya mengangkatnya.


"Assalamualaikum Papa," ucap Ayesha mewakili anaknya


"Waalaikumsalam anak ganteng papa, udah makan belum?"


"Udah dong Pa,"


Dante berceloteh senang melihat ada gambar dan terdengar suara papanya di layar ponsel mamanya."Pa...pa...pa..."


"Dante papa kangen,"


"Itu Dante papa bilang kangen sama Dante,"


Merasa paham dengan kerinduan sang papa, Dante merebut ponsel Ayesha hingga terlepas dari genggamannya.


"Lihat Sayang, dia sangat rindu dengan papanya, haruskah aku pulang Sayang? Aku juga merindukan Dante!".


Ayesha meraih ponselnya dan menampilkan wajah malasnya."Udah jangan macam-macam, kurang 3 jam lagi sebelum kamu pulang. Nanti juga ketemu makanya cepat selesaikan kerjaannya."


Radika cemberut sedih,"Dante kamu dengarkan, Nak? Mamamu gak memperbolehkan papa untuk pulang menemui Dante!"


"Udah Abi, jangan menghasut anakmu ini, nanti rewel, sedih aku kalo dia merengek ingin ketemu kamu "


"Sayang itu tandanya Dante sayang sama papanya."


"Oh terus sama mamanya gak gitu ?!"


"Loh sama sayangnga, cuma Dante tahu papanya gak di rumah karena kerja cari uang buat belu susunya Dante! ya kan Nak?"


"Ja...papa...ja..."

__ADS_1


"Pinter anak papa,"


"Huft...serasa gak sendiri karena anak lebih lengket sama papanya," gumam Ayesha


"Ya udah aku matikan dulu ya, wassalamualaikum Abi"


"waalaikumsalam Sayang, hati-hati di rumah ya,"


Hingga jam 3 sore Ayesha bermain dengan anaknya di dalam kamar, ia mempersiapkan alat mandinya.


"Ayo Dante mandi yuk! Sebelum papa datang," didalam kamar mandi baju Ayesha dibuat basah kuyup oleh Dante yang menepuk-nepuk tangannya di air.


"Aduhhh...Dantw berhenti Nak, baju mama basah semua ini," Ayesha bergegas mengguyur tubuh anaknya sampai bersih.


Selesai mengurus Dante, Ayesha ganti mempersiapkan air dan baju untuk suaminya. Bertepatan suara Radika yang sedang memanggil nya.


"Yang...sayang... Aku udah pulang..."


"Tuh papa udah pulang Dante! Ayo kita turun," Ayesha menggendong Dante dan bergegas turun sampai lupa dengan baju basahnya.


"Abi..." Ayesha bersalaman dan Dante pun diajarkan untuk hal tersebut.


Radika mengambil alih Dante dari tangan istrinya dan Ayesha meraih tas kerja suaminya.


"Gimana kerjanya hari ini? Lancar?"


"Alhamdulillah lancar Sayang, itu baju kamu kok basah semua ?"


Ayesha menepuk jidatnya kelupaan."Astaga abi, aku sampai lupa kalo lagi basah habis mandikan Dante tadi."


pandangan Radika berpindah melihat kearah ananya yang asyik mengemut jari telunjuknya.


"Emmm....Dante tangannya gak boleh dimasukki ke mulut, Kamu itu lo suka banget bikin mama kamu basah kuyup bajunya,"


"Pa...pa...pa..."


"Kamu buruan mandi sana, malah masuk angin nantinya, aku mandi habis kamu aja lah!"


Ayesha mangangguk paham,"ya udah kalo gitu."


"Sekarang Dante mainnya sama papa dulu ya sambil nunggu mama selesai mandi."


rutinitas yang tidak pernah terlepaskan bahkan lupa. Ada kalanya dalam suatu hubungan ada rasa bosan didalamnya, rutinitas yang sama terus dilakukan sampai terkadang membuat pasangan menjadi jenuh.


Namun, bagi Ayesha dan Radika mereka memcegah timbulnya rasa bosan itu dengan pergi berlibur bersama keluarga besar menyegarkan pikiran, atau menghabiskan waktu berdua seperti zaman pacaran dulu.


Hal inilah, membuat suatu pasangan bernostalgia dan merindukan momen-momen tertentu sehingga semakin mempererat hubungan dan pernikahan mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2