
5 Bulan kemudian...
Berjalannya waktu tidak terasa sekarang Ayesha sudah semester 2, banyak hal yang dilalui dari hubungan Ayesha dengan Radika semakin dekat saja misalkan, mulai dari bergenggaman tangan, berpelukan, Radika yang sangat suka tidur dengan berbantal paha Ayesha, kecupan di pipi dan saling bersandar. Namun, dibalik manisnya semua itu keduanya tidak sadar bahwa mereka sudah melewati batas yang tidak seharusnya dilakukan.
Apalagi, Ayesha yang merasa seperti sangat dekat layaknya sepasang kekasih, melihat orang lain berpacaran diluar sana atu bahkan sekedar bayangan halusinasi yang ia baca di novel romansa. Ayesha rasanya ingin tahu bagaimana itu semua dan ingin mencobanya. Hal ini, bisa saja pengaruh buruk dari lingkungan sekitar. Ayesha sendiri sudah lama kagum dengan Radika dan dirinya merasakan dari kesabarannya selama ini menyukai Radika seorang diri sejak dulu membuahkan hasil di tahun ini.
Hari Minggu ini, Ibu Raina memilih meliburkan diri dari kerjanya sebagai pelayan sekaligus kasir disebuah warung milik tetangga yang ekonominya berada di kawasan lingkungan mereka. Ibu Raina sangat dipercaya oleh pemilik warung itu. "Ibu lihat kamu semakin dekat dengan laki itu Dek," celetuk ibu Raina yang sedang rebahan di depan TV.
"Masa sih bu? Menurut ibu begitu kah?!" Ayesha mengalihkan pandangan matanya kearah ibunya.
"Iya dek, ibu hanya mengingatkan kamu, tidak apa-apa kamu dekat dengan siapa saja, mau berpacaran dengan lelaki mana, tapi satu pesan ibu ingat bahwa kamu itu perempuan jadi jaga kehormatanmu." Ayesha mendengar itu jadi termenung, kilasan perbuatan antaranya dan Radika membuat sering berpikir. Dia tahu kalo itu salah tapi Ayesha pikir itu diluar kendalinya.
"Iya bu," pada akhirnya Ayesha cuma bisa mengatakan iya saja.
"Ibu lihat juga, laki itu baik dan sopan sekali, ibu suka dengan lelaki itu, jika memang dia jodohmu kamu tidak perlu mencemaskan takdir yang satu ini. Sebab, Allah sudah mengaris tebal siapa jodoh terbaikmu nanti. Yang penting kamu sudah berusaha kan, seperti mau berkenalan dengan lelaki asalkan dia baik dan tahu arti menjaga seorang wanita."
"Ya, dia lelaki yang baik selama ini itu yang aku lihay, terkadang sikapnya yang pendiam dan irit bicara bisa berubah sekejap saat aku melakukan kesalahan kepadanya," Ibu Raina terus menyimak apa yang dikatakan oleh anaknya itu. Biasanya, orang yang diam dan kalem seperti bom waktu, dia akan meledak ketika setiap emosi yang terbendung didalam dirinya menguar keluar.
"Semoga saja, dia benar-benar laki-laki yang baik ya dek, awalnya ibu juga tidak menyangka kalau dia teman SMP kamu, sekarang kok bisa dekat lagi?"
Ayesha menerawang kembali kisahnya dan tersenyum tipis,"Entahlah bu, semua terjadi begitu saja." Ibu Raina hanya mengangguk saja.
Anesha sekarang tidak ada di rumah, tadi sempat berpamitan kalau dia ada acara di kampusnya bersama para dosen lainnya. Mempersiapkan rapat yang intinya akan membahas tentang mahasiswa baru di tahun ini. Anesha sendiri belum ada niatan untuk mencari pendamping hidupnya diumurnya yang berkepala dua ini.
"Dek, kamu suapin bapak gih, sudah siang kasihan lapar pasti."
"Iya bu, mau pakek apa makannya?!"
"Kasih pepes ikan aja sama sayur bayam, hati-hati durinya , kamu haluskan dagingnya biar bapak bisa menelannya."
"Oke bu," Ayesha beranjak dari tidurnya, dengan kemagerannya mau tidak mau Ayesha harus menyuapi bapaknya makan. Dia juga memaklumi ibunya yang ingin memanfaatkan waktu istirahatnya sebelum besok menguras semua energinya.
Setelah menyiapkan makan siang milik bapaknya, Ayesha duduk dikursi sebelah tempat tidurnya. Membangunkan pelan bapaknya dan membantunya untuk mendudukkan diri.
"Ayo pak makan dulu."
"Ibu kemana?!"
"Itu lagi tiduran di depan TV pak,"
"Oalah iya sudah, sudah makan belum ibu dan kamu?"
"Aku sebentar lagi aja, habis ini aku suruh ibu makan pak," Bapak Jordi pun mengangguk. Beberapa menit, Nasi secentong itu habis tidak tersisa. Ayesha menyerahkan gelas agar bapaknya bisa minum.
"Ya sudah mau tiduran atau duduk dulu?"
"Bapak mau duduk sebentar, dek" Jawab Bapak Jordi dan Ayesha meninggalkan Bapaknya itu mencuci piring bekas makan tadi.
......................
Radika sedang santai duduk dikursi balkon kamar apartnya. Meskipun hari minggu hari libur bagi Radika tidak ada hal semacam itu. Dia tetap akan bekerja dan memantau perusahaan keluarga yang dirintis selama bertahun-tahun lamanya sampai dipimpin oleh generasi yang berbeda-beda. Ditangannya sekarang sudah ada sebuah Table berharga jutaan mahalnya. Ia tengah membaca beberapa laporan dan data yang dikirim oleh sekretarisnya Farel.
__ADS_1
"Membosankan hari ini. Kira-kira Ayesha sedang apa ya dihari libur ? Apa aku telpon saja dia ya?"
Radika menelpon Ayesha yang tak lama pun diangkat dengan cepat.
"Lagi apa? sudah makan? "
"Harusnya kan kamu salam dulu kek, ngucapin hai ta atau halo kek, gimana ini seorang CEO tidak benar dalam etika menelepon?!😑"
"Hehe, iya deh iya, Halo Sha lagi apa? Sudah makan belum?"
"Telat. "
"Galak bener sih kamu😚, sini aku tium dulu."
"Apa sih, kenapa kamu telpon aku?"
"Jawab dulu kek pertanyaanku, lagi apa? Sudah makan belum?!"
"Hehe, lagi mau makan nih, kamu sendiri lagi apa Dik?"
"Biasanya ngecek kerjaan pas hari libur, btw kamu mau gak aku jemput?"
"Memang mau kemana?!"
"Ke apartku, kita makan siang bersama, kamu gak kangen kah sama aku? Apa cuma aku aja yang lagi ngangenin kamu Sha?!"
"A...apaan kamu itu, cepetan jemput, gpl ya!"
Sementara Ayesha menggerutui Radika yang selalu saja bisa membuatnya salting dan malu. Ayesha pun ke kamarnya untuk berganti baju sebelum Radika sampai.
"Bu, aku mau keluar dengan temanku,"
"Teman laki itu?"
"Iya bu, dia mau kesini katanya,"
"Ya sudah hati-hati ya dek!" seru Ibu Raina
Setibanya Radika, Ayesha langsung masuk ke mobil dan mereka pun meninggalkan pekarangan rumah. Radika meraih tangan Ayesha dan mengecupnya lembut.
Deg
Wajah Ayesha merona, reaksi yang selalu dia munculkan secara alami ketika Radika menunjukkan sisi manisnya kepada Ayesha. Terus menggenggam seakan takut keduanya berpisah. Sebelum ke Apart, Radika menyempatkan mampir ke rumah makan.
"Kamu ini sukanya beli-beli terus ya!" tungkas Ayesha
"Aku jarang banget loh beli makan di luar Yesha sayang,"
Blush...
"Jangan memanggilku seperti itu, kamu membuatkan malu Dika. Kenapa mulutmu dengan mudahnya mengucapkan kata-kata Sss..ssa...sa..ya..yang," ujar Ayesha agak tergugu dengan kedua tangan menutupi wajah merah tomat.
__ADS_1
"Manisnya," goda Radika
"Tunggu disini, biar aku saja yang memesankannya, mau minun apa kamu Sha?" tanya Radika tersenyum tampan
Mata Ayesha selalu berbinar-binar sa terpaku karena ketampanan laki itu menggelitik hatinya agar mengendalikan rupa mukanya supaya tidak terlihat bodoh didepan Radika.
menyadari bahwa lamunannya terlalu lama,"Eh aku es teh manis aja ya,"
"Aduh Sha, jangan yang manis, kamu mau tanggung jawab kalo aku nanti diabetes hah?!" lelucon itu tidak bisa diterima dengan baik oleh otak Ayesha membuat alis peempuan itu berkerut.
"Hubungannya sama kamu apaan? Kan aku yang minum manis, kenapa jadi kamu yang kena DM?"
Radika memutar matanya kesal, gagal sudah acara gimbal nya,"Jadi pesan makan gak ini? Keburu laper kitanya!" seru Ayesha
"Iya iya tunggu disini," Radika turun dari mobil dan masuk kedalam. Membutuhkan waktu 15 menit, mereka pun melaju pergi.
......................
Setiba di apart, Ayesha membawa makanan tadi ke dapur dan menukarnya ke dalam mangkuk juga piring. Setelah itu, membawanya ke meja makan yang dimana Radika sudah menantikan sedari tadi. Ayesha mengambil piring dan mengisikan nasi," Segini?" tanyanya sambil menunjukkan porsi nasi kepada Radika.
"Tambah setengah centong lagi ya," Ayesha mengangguk kemudian memberikan piring itu pada Radika. Ayesha memilih duduk di kursi depan Radika sehingga mereka duduk berhadapan.
"Cocok gak sih sudah jadi suami istri? Pengen ngawinin kamu jadinya!" ucap Radika dalam hati
"Bismillah," Mereka berdua makan dengan hikmat tanpa bersuara.
Usai makan, Ayesha dan Radika masih enggan beranjak dari kursi mereka. Sesekali Ayesha meneguk Air digelasnya, secara udara disekitarnya seperti gerah sekali. Terus minum,.baru terasa bahwa makanan yang dibeli sangat pedas dibagina tenggorakan, rasanya seperti terbakar.
"Huah... Dika kamu beli makannya yang pedes ya!" seru Ayesha kembali meminum air nya.
"Kayaknya kamu gak kelihatan kalo sambelnya dipinggirannya tadi. Terus kamu campurin deh!"
"Seriusan? Pedes banget ini, tenggorakanku pedes sama perih!" Ayesha mengibaskan tangannya didepan mulut berharap ada udara dingin yang masuk menetralkan rasa pedas itu.
"Mau aku bantuin?!" tawar Radika
"Boleh, buruan gak kuat aku Dik!" sampai air mata menetes saking pedasnya. Radika berdiri dari kursinya dan mendekat kearah Ayesha. Tanpa sadar kedua wajah itu berdekatan.
"Ka..kamu ma..mau apa Dika?" Ayesha sangat gugup kedua kalinya dia diperlakukan seperti ini.
"Aku mau membantumu," Nada suara rendah dan terdengar jantan ditelinga Ayesha, meremangkan tengkuk serta tubuhnya.
"Kubuat pedas itu menghilang dalam sekejab." Ayesha membeku, tekstur kenyal dan basah ini menyentuh bibirnya. Radika yang awalnya hanya berniat membantu malah terkena bumerangnya sendiri. Bibirnya dengan pelan ******* lembut namun Ayesha masih diam tak bergerak. Pikiriannya pun stuck disitu bingung harus melakukan apa.
"Manis dan lembut, ingin kumakan sampai habis!" batin Radika samkin bringas tak menentu.
"emmm...Ra..dffdi...shhh...ka, aaa...kuhhh..gak...bi...sahh..nafas.." sontak Radika melepaskan tautan bibirnya dan melihat bibir bengkak milik Ayesha.
"Se**ksi" gumamnya pelan
Ayesha menatap sayu kearah Radika, swdangkan Radika melihat hal itu semakin dibuatnya panas dingin.
__ADS_1