
Pulang dari kampus ternyata suaminya masih belum pulang. Ayesha seharian ini juga tidak saling menyapa dan bertatap muka. Sepanjang hari dia memiliki jadwal praktikum yang padat sehingga tubuhnya kegerahan.
Masuk ke dalam kamar Ayesha meletakkan tasnya di kursi belajar. Menjatuhkan diri diatas kasur merebahkan tubuhnya sejenak berharap bisa mengurangi rasa letih ini.
"Sungguh hari yang sangat panjang. " matanya menghadap kearah atap kamarnya." Sejenak Ayesha termenung sambil melamun."sudah lama aku tidak berkunjung ke rumah ibu dan bapak. Bagaimana ya kabar mereka." Sebelum Ayesha malas untuk mandi, dia beranjak untuk pergi mandi.
Bersamaan dengan Radika yang baru masuk rumah. Tidak ada yang menyambutnya seperti biasanya. Tak ambil pusing, Radika pun ke kamarnya. Gemericik suara air berasal dari kamar mandi. Radika menghela nafasnya, istrinya ternyata masih marah kepadanya.
Ceklek
Ayesha selesai mandi dengan berpakaian yang melekat lengkap, matanya melihat suaminya yang sedang melepaskan dasinya. Suasana canggung dan bibir mereka membisu untuk sekedar memulai pembicaraan ringan.
Radika melepaskan kemeja yang dikenakan lalu menaruhnya di keranjang baju kotor. Radika tidak mau masalah sepele jadi berkepanjangan karena mereka berdua mendahulukan gengsi untuk berbaikan."kenapa kamu baru mandi?" celetuk Radika bertanya
Ayesha menengok kearahnya,"baru pulang kuliah," jawabnya jutek
"Ngapain aja di kampus sampai bikin kamu pulang sore?"
"Ada jadwal praktikum seharian jadi agak terlambat sampai rumah." Ayesha terus menjawab dengan nada juteknya.
"Ya sudah kalo gitu, kamu gak usah masak sudah. Biar bibi aja yang masak.Capek kan kamu istirahat aja." setelah mengucapkan itu Radika pun menutup pintu kamar mandi.
Ayesha terdiam, ia ingin mengatakan pada Radika untuk mengijinkannya pergi ke rumah orang tuanya, akan tetapi ragu dan takut melihat tatapan seakan suaminya itu marah sebab dia pulang terlambat. Dia menyiapkan pakaian tidur Radika sebelum turun kebawah.
Ayesha merasa sangat suntuk ingin menenangkan diri di gazebo dekat taman. Taman dengan pencerahan lampu iringan suara jangkrik menekan rasa sunyi. Mendongakkan kepala keatas gemerlap bintang terlihat kecil memenuhi gelapnya langit malam.
Radika tidak melihat keberadaan Ayesha di kamar. Usai memakai baju yang telah disiapkan ia pun menyusul turun ke bawah untuk mencari istrinya.
Bibi yang sibuk meletakkan makan malam di meja makan Radika menghampirinya," Bi istriku kemana ?!"
"Tadi kayaknya jalan keluar, mungkin ke gazebo Den,"
__ADS_1
"Ya sudah bi kalo gitu,"
Istrinya duduk seorang diri sambil bersenandung pelan. Radika berjalan mendekat. Ayesha heran mengapa suaminya disini? Biasanya juga ke ruang kerjanya untuk memeriksa kerjaan kantornya.
"Kenapa disini?" tanya Radika
"Lagi pengen aja aku, kamu sendiri?"
Cara mereka bicara seperti berbicara dengan orng yang baru kenal seminggu. Canggung sekali.
"Ada yang mau aku bicarakan ke kamu,"
Ayesha menoleh,"apa?!"
"Sabtu minggu besok kita akan berkunjung ke rumah orang tuamu, tadi aku bertemu dengan kakakmu. Kita juga sudah lama tidak ke rumah orang tuamu."
Ayesha masih diam,"lalu bagaimana dengan orang tuamu? Kapan kita akan kesana?!" lanjutnya
"Minggu depannya lagi kita kesana sekalian aku membahas acara ulang tahun perusahaan yang semakin dekat."
"Kalo kamu bersedia ya gak papa ikut, aku juga belum memperkenalkan secara resmi istri sahku ke rekan kerja bisnis. "
Kalo Ayesha tidak ikut apakah tidak menimbulkan masalah. Selain itu, dia kurang suka keramaian yang memungkinan akan ada banyak orang yang menanyakan ini itu dan membuatnya kurang nyaman.
"Apa gak masalah kalo gak ikut?! Nanti kamu dicibir atau apa gitu?" Ayesha juga tidak yakin kalo boleh memilih, dia akan memutuskan menyembunyikan diri.
Radika tersenyum,"Gak papa kok, tenang aja." Ayesha menghembuskan napasnya lega. Di satu sisi dia juga bahagia bisa mengunjungi orang tuanya.
Tepat dihari sabtu, Ayesha susiap tinggal menunggu Radika yang entah sedang apa di kamar." ternyata lebih lama dari perempuan."
"Ayo Yang," Radika menggandeng tangan Ayesha menuju mobil yang terparkir pas di depan pintu rumah. Supir rumah tadi memanaskan mesin mobil sebelum dipakai majikan mereka.
__ADS_1
di tengah jalan,"Berhenti dulu, ditoko kiri jalan itu." celetuk Ayesha menunjuk sebuah toko yang menjual beberapa kue mini.
Radika mengangguk, lalu meminggirkan mobil mereka."Tunggu dulu ya,"
"Aku ikut ya?!"
"Gak usah, biar cepet kamu tunggu sini aja ya," Ayesha membuka pintu mobil lalu berjalan masuk ke dalam toko.
Toko itu, menyajikan beraneka ragam jenia kue dari kue kering, kue basah, cookies, kue tradisional hingga yang modern. Semua serba ada dengan letak estalase yang berbeda.
Berkeliling sebentar sebelum memutuskan ingin membeli kue apa. Beberapa menit berlalu, Ayesha membawa keranjang dan nampan ditangannya untuk melakukan pembayaran. Ayesha membeli sebuah Kastengel untuk kakaknya yang menyukai keju, choco cookies untuk ibunya yang suka coklat, bapaknya ia memilihkan kue tradisional seperti talam dan kue lapis.
"Ini saja mbak?" kata kasir
"Iya mbak ini aja," kasir itu melakukan tugasnya laku menyebutkan nominal uang yang perlu dibayar.
Disini memang harganya menggambarkan kualitas rasa kue itu. Sehingga, Ayesha tidak mempermasalahkan hal tersebut.
"Terimakasih ya mbak," Setelah membayar Ayesha pun kembali ke mobil.
"Cepet banget Yang!" ucap Radika
"Iya kalo aku sendiri ya pasti cepet ketimbang bareng kamu nanti bakal ada aja debat. Yang ini aja yang itu aja."
Radika terkikik, "tapi kamu bayar pakek uang siapa? Kok hp ku gak ada notif pembayaran?"
"Pakai uangku."
"Kenapa?" Radika tidak menyukai ini. Harusnya Ayesha menggunakan uangnya buat apa Radika bekerja kalo uang itu tidak digunakan?
"Ya sekali-kali pakai uangku, apalagi aku juga pengen belikan sesuatu untuk bapak sama ibu pakai uang sendiri."
__ADS_1
"Ya sudah kalo gitu, jangan gitu lagi oke, uanh kamu disimpan untuk keperluan mendesak atau hal pribadi. Karena itu tanggung jawabku Sayang!"
Ayesha tersenyum, hubungan mereka perlahan membaik setelah masalah itu. Jadi Ayesha mencoba memahami maksud baik suaminya.