
Di rumah pagi tadi suasananya sangat suram, biasanya omelan Ayesha menjadi sambutan tiap paginya akan tetapi sekarang sunyi dan sepi. Ayesha sudah menyiapkan segala keperluan Radika tapi belum menampakkan wajahnya. Radika murung tak bersemangat saat berangkat ke kantor tadi.
"Bi...bibi!"
"Iya Den, kenapa kok panggil-panggil?" sahut bibi
"Istri aku kemana?!" tanyanya
"Loh udah dari tadi berangkat sekolahnya Den, emang Aden gak tahu?"
"Ya sudah bi, makasih!"
"Berangkat kuliah udah berani gak pamitan, gimana nanti coba kalo punya anak. Gini ini resiko nikah muda saat sifat kekanakan muncul pas tengkar." gumam Radika
Di kantor pun, wajah cerah yang tiap pagi dilihat karyawan kantor menghilang hari ini sapaan karyawannya kini diabaikan Radika begitu saja. Karyawan menjadi bertanya-tanya, kenapa mood atasannya memburuk di pagi yang indah ini?
Dirasakan juga oleh Farel yang melihat kedatangan Radika pun menyapanya," pagi Pak Dika!"
Radika melewatinya. Farel yang membungkuk pun mendongakkan kepalanya, dia pun terabaikan.
"Eh ada salah apa aku? Sapaanku gak dibalas, aneh!" dingat kembali semalam dia mematuhi perintah atasannya dan beres. Panik seketika menakuti Farel. "apa jangan-jangan aku berbuat salah tanpa sadar." tidak mau membuat Radika semakin emosional Farel Menyusul masuk ke dalam ruangan untuk membacakan agenda hari ini.
"Permisi pak Dika, saya akan membacakan jadwal anda hari ini. Pukul 8.30 anda ada pertemuan dengan klien dari Bandung untuk membahas kerja sama baru, pukul 9.00 anda akan pergi ke kampus swasta yang sudah 50% pencapaian pembangunan gedung kelas baru. Pukul 10.30 anda akan menghadiri sebuah pembukaan cabang baru. Pukul 13.30 disini anda akan membahas rancangan hari jadi perusahaan kurang 2 minggu lagi." Radika mengangguk lemas lalu kembali melamun.
Farel kembali tidak direspon menghembuskan napas kebingungan. Ada pula yang perlu ia bicarakan mengenai masalah orang yang berkhianat di kubu mereka. Tapi apakah waktunya pas untuk membicarakan hal yang akan menguras emosi ini? Juga dia mencemaskan overthingkingnya.
Menyadari Farel belum pergi dari ruangannya Radika pun bertanya," Ada lagi yang perlu kamu bicarakan Rel? Kalo tidak pergilah!" Radika sedang tak ingin diganggu, maka dia langsung mengusir Farel.
Mau tidak mau Farel memutuskan untuk membicarakan hal itu sebelum pergi."begini pak, pengkhianat itu meninggal semenjak menjadi gembel sehari. Sepertinya dalang itu membunuhnya agar jejaknya hilang."
Radika mendesah lelah, " aku bingung Rel, musuh yang biasanya menyerangkan itu tidak lagi menunjukkan gerak-gerik aneh tapi siapa lagi yang membenciku ditambah mereka melukai Ayesha. Kalo memang memang ingin merebut posisiku kenapa tidak langsung meracuniku. Rencana jahat mereka lancar tapi mereka salah sasaran Rel."
Farel ikut memutar otak, selama ia bekerja dengan Radika apa ada orang yang mencari gara-gara secara diam-diam seperti ini?
"Pak!" panggilnya
__ADS_1
"Apa pak Dika tidak punya teman yang iri atau dengki dengan pak Dika?"
Berpikir sejenak, terlintas sosok teman pindahan sekolah lain namun Radika merasa tidak punya konflik dengan anak pindahan itu. Tapi, ia dan anak itu selalu berebut rangking umum di sekolah saat itu.
"Aku rasa kita gak punya masalah berat untuk dibawa sampai sekarang. Dulu kalo gak salah anak pindahan itu namanya Vandi, kita sering memperebutkan rangking umum pertama."
Farel memperkirakan ,"ada kemungkinan bisa anak itu tersangkanya." Farel mengutarakan pendapatnya.
"Aku sendiri tidak pernah bertemu dengan Vandi, bagaimana mungkin? Bahkan mencari masalah dengannya saja tidak. Aku pun tidak mengusiknya Rel!" Radika memberitahu.
"Biar saya selidiki keberadaannya pak!"
"Oh iya pak, saya ingin bertanya lagi, apa saya berbuat salah kepada anda?"
"Tidak ada, keluarlah sebelum kamu yang kujadi samsak tinjuanku!" Geram Radika
"Baik pak, Permisi" dengan terbirit-birit Farel pun keluar ruangan.
Sejak dulu andalan Farel meminta bantuan kenalannya yang jenius dalam hal seperti ini," carikan orang bernama Vandi, dia dulu anak pindahan dan sekolah di SMA Nusa Bangsa 1 Jakarta." Farel menjelaskan informasi sangat singkat, padat dan tidak jelas untuk orang yang tidak seberapa jeniusnya. Justru bagi kenalan Farel dengan mudab dia menemukan sosok yang dicari.
"Oke Rel, nanti gue kirim ke lu," langsung mematikan telponnya.
Kacamata bertengger dihidung mancungnya menambah kesan keren. Radika tak mau berlama-lama disini, memilih pergi mencari tempat berteduh.
"Mari kita masuk, " ucap Radika
"Baik pak," jawab Farel mengikuti dari belakang bersamaan dengan direktur kampus.
Radika menuju kamar mandi untuk panggilan alam tidak sengaja berpapasan dengan kakak iparnya Anesha.
"Kak Nesha, selesai mengajar?!" sapa Radika
"Belum Dik, ini mau ke kelas. " jawab Anesha sambil merangkul beberapa buku tebal.
"Dik," Anesha memanggil Radika.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu dan Ayesha? Semua baik-baik saja?! Kalian jarang datang ke rumah setelah kejadian Ayesha diracuni."
"Semua baik kak, tapi namanha rumah tangga gak lepas dari masalah dan pertengkaran. Ayesha juga sangat sibuk sekali, tiap malam juga dia sibuk nugas lalu tidur. Aku cukup kagum dengannya kak." ungkap Radika
"Saranku, jika kalian ada malasah jangan mementingkan keegoisan diri kalian. Saling pahami sesama pasangan. Renungkan diri kalian masing-masing lalu berbicara dengan kepala dingin. Meskipun aku belum berpengalaman tapi orang disekitarku membuatku banyak belajar."
Radika meresapi masukan dari Anesha. Sejujurnya Radika sadar kalo dia yang salah sebab menganggu Ayesha saat mengerjakan tugas kuliahnya. Di sisi lain, Ayesha juga salah karena meninggikan suara didepan suaminya sendiri. Tapi, kita sama-sama dalam kondisi kelelahan.
Radika menyadari itu."makasih kak udah bantu."
"Santai aja, kamu hari libur minggu ini menginaplah dirumah, kasian ibu dia sangat rindu Ayesha begitu juga bapak. " Radika merasa tidak enak hati.
"Baiklah, aku janji!" Anesha mengangguk lalu meninggalakn Radika yang tidak kebelet lagi.
......................
Zaid mendapat kabar bahwa ada yang sedang mengorek data pribasi atasannya. Sebelum terlambat, Zaid mencoba menghalangi atau apapun yang bisa mencegah supaya data pribadi itu tidak bocor.
tok...tok...tok...
" Zaid ada yang mau menggali informasi pribadiku. Kamu tahu apa yang harus dilakukan!" celetuk Vandi
"Saya sudah mencegahnya sekarang pak!" jawab Zaid
"Bagus, perketat segalanya. Jangan biarkan mereka tahu siapa dalangnya."
Zaid mengangguk dan keluar ruangan. Didepan layar laptop, Zaid mengetikkan sesuatu dan tertera sebuah barisan kalimat yang tida bisa dipahami jika bukan seorang IT.
Farel sama halnya yang dilakukan Zaid, seolah mereka sedang bertarung secara tidak langsung.
"Sialan!!! Berani banget tuh Bang"ke ngirimin gue virus!" gumam Farel, saling melemparkan viruslah, bakterilah, apapun itu ke dalam laptop lawannya. Seakan tidak ada habisnya.
Author harap mata mereka tidak juling saat keduanya lelah🤣🤣
Balik menyerang lawannya, Farel mengirimkan lebih banyak virus yang selama ini dikenal dengan virus yang sulit diatasi. Zaid tengah mengatasi laptopnya yang dilayarnya terdapat file yang tidak jelas dan virus terus berlipat gandakan diri tak ada habisnya. Zaid kesulitan tiba-tiba munculnya aroma terbakar yang samar tercium hidung Zaid.
__ADS_1
"Sh*it laptop gue," sadar bahwa laptop nya tidak lagi mampu menanggung bebas virua ini dan berakhir Zaid yang kalah. Di tempat lain, Farel masih menunggu balasan apalagi yang diterimanya namun setelah ditunggu lama tak muncul juga.
Farel tersenyum miring," Gue yang menang Bro!" gumamnya seorang diri. Farel bangga terhadap dirinya yang bisa mengatasi virus berbahaya ini.