Terjebak Wajah Tampan Billioner

Terjebak Wajah Tampan Billioner
Bab 12


__ADS_3

Radika baru menyudahi acara rapatnya bersama klien yang sudah lama bekerja sama dengan perusahaannya dari dulu. Sepanjang rapat Radika tidak bisa fokus sama sekali, bagaimana mungkin seseorang berubah secepat itu dalam satu malam? dirinya yang biasanya pintar sekarang layaknya orang dungu hanya bisa membisu. Ayesha mengabaikannya, menghiraukan bahkan perlahan-lahan akan menjauh. Hatinya kacau balau seperti sedang di tengah badai angin topan. Pikirannya berputar-putar membiarkan segala hal negatif merasuki otak warasnya.


Ayesha sendiri pun tak kalah kacau. Hatinya tak menentu, tersiksa dan sakit tidak berbekas dan kasat mata. Mimiknya dilema namun tekad bulatnya sudah menyelimuti seluruh hatinya. Dia tidak ada mengulang kesalahannya dan tidak akan melakukan kebodohan yang membuatnya menyesal seumur hidup. Keduanya termenung seakan telinga mereka memblokir suara bising yang mengusik diri mereka.


"Jika ini yang terbaik untuk aku lakukan, walau sakit dan tersiksa, dilema dan sedih, aku lakukan untuk kebaikan kita berdua. Maaf karena diriku kamu terjebak arus deras yang kubuat. Maaf bila ini membuatmu bingung." Ayesha yakin apa yang dia lakukan sekarang, keputusan dan tekad yang ia ambil sudah tepat.


"Lebih baik, aku fokus saja dengan pendidikanku dan menyelesaikan dengan cepat! Semangat diriku!" Ayesha menarik lengan tasnya, senyum lebar tampak diwajah lelahnya, tapi semua akan baik-baik saja karena semangatnya tidak mudah tersurutkan.


Radika mengusap kasar rambutnya, "Arghh," teriaknya fruatasi, tangannya menutupi wajah murungnya. Segala kemungkinan buruk memenuhi otak pintarnya,"Apakah aku punya salah padamu? Apa sikap atau cara bicaraku pernah menyinggungmu? Katakan padaku apa yang membuatmu berubah seperti ini! Kamu membuatku amat tersiksa sedikit demi sedikit." Radika menjadi gusar. Radika pun bertindak," Aku harus menemuinya, aku harua bicara empat mata dengannya, aku ingin dia menjelaskan semuanya!" ia meraih jasnya yang digantung, berjalan terburu-buru, Farel yang melihatnya sontak berdiri manatap gelisah kepada atasannya.


"Ada apa dengan Pak Dika?!" Lalu Farel memutuskan untuk menelpon bawahannya untuk membuntuti Radika takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Kalian ikuti Bos, jaga beliau dari kejuahan dan awasi sekitar beliau!"


"Siap pak!"


Farel menghela nafas, begitu dia terjun dalam pekerjaannya ini, dia tahu akan banyak kerumitan dan masalah yang berdatangan. Semua terlanjur diselaminya maka disitulah dia akan membantu atasannya sebisa dan semampunya dirinya.


......................


Radika pun sampai di kampus Ayesha. Hempasan angin menerbangkan helaian rambut Radika dan tidak merubah ketampanan sosoknya. Matanya menyapu sekitarnya, mendeteksi sosok Ayesha apakah ada didekatnya? Merasa tidak menemukan batang hidung wanitanya, kakinya melangkah kearah gedung dimana Ayesha belajar.


mengelilingi semua tempat namun tidak menemukan Ayesha, terus mencoba memasuki ruangan dimana mahasiswa bisa berkumpul disitu. Matanya menata papan nama ruangan bertuliskan perpustakaan. Tangannya menggeser pintu, dirinya pun masuk.

__ADS_1


"Cari siapa ya Pak?!" Radika menoleh ke kiri, dia bahkan tidak sadar jika seorang penjaga perpustakaan melihat dirinya


"Ah Apa disini ada mahasiswa yang bernama Ayesha?!" tanya balik Radika


"Hemm, sebentar saya liatkan didaftar pengunjung," penjaga itu mengetikan sesuatu dan mengangkat wajahnya,"Mahasiswa yang anda cari ada di ruangan ini Pak!"


"Terimakasih," Radika pun berjalan menyusuri setiap rak buku itu. Banyak mahasiswa yang menghabiskan waktu diruangan ini. Ada yang sedang mengerjakan tugas, membaca dan mencari buku atau sekedar numpang tidur.



Setelah memutari luasnya perpustakaan, siluet bayangan wanita duduk sambil bersandar. Radika mendekat kearah Ayesha. Matanya menyiratkan sesuatu seperti 'Sebenarnya apa yang terjadi denganmu?' Ayesha tidak menyadari kehadiran Radika yang berdiri sampingnya.


"Boleh aku duduk disini?" tanya Radika


"Aku menunggu kabar darimu,"


Reflek Ayesha menoleh dan tubuhnya membeku. "Tidak kumohon!!!" Ayesha berteriak dalam hati menolak adanya Radika. Ayesha takut goyah dan takut kehadirannya merobohkan tekadnya yang entah kini dia jadi meragukannya.


" Sedang apa kamu disini?!" Radika bisa melihat raut wajah itu tidak lagi bahagia saat bersama dengannya, sekarang terlihat datar dan Radika tidak menemukan keceriaan disana. Malah kesedihan, tersiksa, dan rindu. Ayesha tidak berani melihat manik mata itu, sungguh dia berusaha menahannya untuk tidak terpanah.


"Aku disini merindukanmu dan aku ingin menanyakan banyak hal kepadamu padahal baru satu malam waktu yang berlalu, tapi tidak bisa kuabaikan perasaanku yang bertanya-tanya. Ada apa denganmu? Apa aku ada salah kepadamu? Katakan bila iya, Kenapa kamu berubah? Kenapa tidak mengabariku? Apa yang terjadi sama kamu diwaktu yang sesingkat itu?! Tolong katakan padaku Sayang, jangan seperti ini hmm. Kamu menyiksa hati ini, kamu juga menyiksaku dengan kerinduan ini."


Ayesha diam membisu, dia mendengar namun tidak tahu harus merespon bagaimana. " tidak ada yang terjadi denganku Dik, semua baik-baik saja, kamu pun tidak melakukan kesalahan apapun. Hanya saja, disini aku yang salah. Menjeratmu kedalam segala kerumitan yang aku buat, menjerumuskan kamu kedalam kebodohan yang kuperbuat. Jadi disini, aku ingin memperbaiki hubungan kita. Karena salahku, jadi biar aku saja yang bertanggung jawab. Kamu sendiri bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Kita bisa terus jadi sepasang kekasih, kita bisa berkontakan, bertemu sesekali tapi untuk berdekatan seperti yang selama ini kita lakukan. Aku harap hentikan sampai sini."

__ADS_1


Deg


Radika tidak bisa berkata, perkataan Ayesha seolah belum sepenuhnya diterima oleh otaknya. Dia merasa kurang puas dengan penjelasan itu. "Ayesha semua akan baik-baik saja, percaya padaku!" ucap Radika mencoba untuk menenangkan gemuruh di dalam hatinya


"Iya saat ini kita baik-baik saja tapi-"Ayesha menoleh kearah Radika sambil menggeleng tak berdaya,"tapi kita tidak tahu bagaimana kedepannya, aku atau kamu apa bisa menahan agar kita tidak melakukan hal bodoh itu,"


"Hal bodoh?!"


"Iya hal bodoh, dan kamu pasti bisa menerka nya. Jadi Aku mohon hmm, sebelum terlambat, tolong dukung keputusanku." tanpa menunggu jawaban dari Radika, Ayesha berdiri dan pergi begitu saja.


Ayesha menahan air matanya agar tidak meluncur menembus tembok pertahanannya. Dia tak mau orang tahu apa yang tengah terjadi dengannya. Dia ingin menyimpan semuanya dalam diam.


Berjalan terburu-buru, perasaannya menjadi kelabu sekarang. Tidak ada warna yang biasanya menghiasi hari-harinya. Ayesha ingin segera sampai ke rumah dan menumpahkan air matanya saat dia di kamar.


Hatinya mengatakan maaf, maaf dan maaf bila keegoisannya membuat hati pujaanya menjadi tersiksa dan sakit. Ayesha menghentikan taksi didepannya, matanya memerah dan berkaca-kaca. Jantung dan nafasnya tidak beraturan hingga tangannya meremas kuat.


"Semua akan baik-baik saja dan akan seperti semula. Radika, aku yakin kamu laki-laki yang baik. Sejauh aku mengenalmu dan dekat denganmu, kamu menghargaiku, menjaga dan memberiku kasih sayang sebagai seorang kekasih. Kamu tidak salah, disini aku salah. Maaf jika aku lemah dan mudah menangis. Maaf jika aku tidak bisa menahan diri dan tidak bisa menjadi wanita terbaik untuk kamu. Beginilah diriku yang mudah pesimis, mudah mengeluh, atas semua keburukan ini aku minta maaf."


......................


Entah bagaimana keduanya menyikapi keputusan seorang Ayesha ini. Suasana sedih mendominasi hari ini, tatapan berbinar dan terpesona, senyum hangat dan ungkapan manis dari kedua hati serta bibir mereka, pelukan rindu, sedikit demi sedikit tenggelam layaknya terbawa ombak laut.


Kedepannya semua akan berubah, membuat orang yang mengenal kedekatan mereka terbingung. Memilih diam karena mereka tahu sepasang kekasih itu bisa melewatinsepak terjang sebuah hubungan.

__ADS_1


__ADS_2