Terjebak Wajah Tampan Billioner

Terjebak Wajah Tampan Billioner
Bab 42


__ADS_3

suasana gembira menyelimuti pasutri yang akhirnya mendapatkan amanat untuk memiliki seorang calon bayi yang nantinya akan menjadi pelengkap hidup Radika dan Ayesha. Tak bisa diukur lagi seberapa bahagia keduanya itu.


Mengabari semua keluarga besar dan tak lupa keluarga dari Ayesha sendiri. Tentu saja, mereka semua juga menantikan kehadiran calon bayi mungil itu. Tak sabar juga Ibu Raina dan Mama Viani merencanakan mengadakan doa bersama agar selama masa kehamilan Ayesha selamat dan sehat selalu.


Anesha sendiri masih setia dengan status single yang menemaninya hingga usianya beranjak hampir 30-an. Ibu Raina juga sudah menyuruh Anesha untuk berusaha terlebih dulu agar memiliki calon suami. Namun, Anesha hanya menyetujui di bibir saja tanpa berniat melakukannya.


Entah apa yang dialami oleh anak pertamanya hingga belum memiliki tunangan bahkan pacar saja tidak ada yang dikenalkan padanya. Ibu Raina memilih untuk mempasrahkan keputusan hidup anaknya kepada Anesha sendiri.


Ibu Raina dan Anesha pun datang ke rumah lalu menginap dua hari disana. Ayesha sangat senang dan meminta pada Radika untuk tidur bersama dengan ibu dan kakaknya. Seperti yang kalian duga, Radika menolak keras awalnya tapi memilih untuk tetap waras karena ada calon anaknya. Takut bila mood Ayesha memburuk akan berdampak pada calon anaknya.


Dibalik kebahagiaan Ayesha tentu, disisi lain ada hal menyedihkan yang tengah ditutup rapat oleh senyuman merekah menandakan bahwa dia sanvat bahagia atas hidupnya. Ya, dia Siska yang sedang berkumpul bersama dengan keluarga besar Vandi.


Vandi sendiri juga diam saja tak banyak bicara, sekedar mengatakan dia menantikan pernikahan ini pun tidak. Siska menelan pahit kisah asmaranya ini.


"Bagaimana persiapan pernikahan kalian? Sudah beres semua belum?" tanya tante dari pihak Papa max.


"Siap semua kok tante, tinggal nunggu Hari H aja," jawab Siska tersenyum anggun.


"Tante harap bakal secepatnya dapat.momongan ya, tante rindu menggendong makhluk mungil nan lucu itu Siska!" ucap tante lagi


"Haha, iya tante do'akan saja yang terbaik. Siska juga gak sabar mau merasakan perut ini membuncit." terlalu bahagia membahas topik ini, Siska melupakan Vandi yang menahan diri agar tidak berucap kasar pada Siska yang dengan tidak tahu dirinya lupa akan ucapannya kemarin.


"Kan sudah besok acaranya, kamu dan Vandi istirahat biar gak kecapekan takutnya KO ditengah acara lagi," keduanya asyik bercanda tawa hingga lupa waktu.


Seusai makan Malam tadi, semua keluarga besar pamit termasuk mama dan papanya Siska. Siska akan pulang belakangan nanti diantar oleh Vandi.


Dirasa tidak ada siapapun Vandi menggeret Siska masuk ke dalam kamar dan tidak lupa mengunci pintu dari dalam.


"Sepertinya perlu aku ingatkan lagi jika aku tidak menginginkan anak atau apapun itu dari kamu Siska! Sadar dirilah, siapa dirimu!"


" Vandi bisakan kita melupakan semua yang terjadi di masa lalu, hmm?! Kita buka lembaran baru kamu dan aku akan bahagia."


Siska ternyata tidak bisa mengenyahkan harapannya untuk terus merangkul Vandi agar laki-laki itu mau menjadi teman hidup sematinya. Siska tidak bisa semudah itu mempupuskan harapan yang sejak dulu ia dambakan.


Siska tahu, efek dari terlalu mendambakan manusia yang tidak bisa menjamin kebahagiaan yang kita angankan. Siska tahu, Vandi tidak mungkin mau memiliki istri seperti dirinya yang terlalu mudan didapatkan. Siska juga tahu, pernikahan ini bukan hal yang mudah untuk ia jalani nanti. Tapi, Setidaknya sebelum Siska memutuskan menyerah, dia ingin terus mencoba sampai dirinya mulai lelah akan keadaanya ini.


"Kamu gila hah! Lembaran baru? Aku melakukan pernikahan ini bukanlah keinginanku! Tetaplah sadar dan jangan lupa diri jika pernikahan ini bukanlah pernikahan yang aku inginkan."

__ADS_1


Siska lagi-lagi menitihkan air mata kepedihan. Vandi berjalan keluar balkon dan mulai merokok demi mengalihkan rasa frustasi yang dirasaknnya karena tekanan papanya.


......................


Keesokan harinya, di sebuah gedung dengan hiasan dominan warna putih. Dua pasutri baru sudah duduk sambil bersalaman dengan para tamu yang tidak hentinya mengucapkan selamat kepada Siska dan Vandi.


Giliran Ayesha dan Radika naik keatas panggung dengan tangan Radika yang menggandeng tangan istrinya begitu mesra. Vandi mengepalkan tangannya melihat hal itu. Ketidak berdayaannya kala itu dia memilih melepaskan Ayesha dari hatinya.


Otaknya yang waras melarangnya untuk merusak kebahagiaan Ayesha dengan Radika. Vandi dihantui oleh kisah cinta pedih yang ia rasakan oleh Mamanya.


"Siska, selamat atas pernikahan kalian ya!" Ayesha berjabat tangan dan merangkul Siska. Radika pun ikut berjabat tangan dengan Vandi.


"Selamat atas pernikahan mu Van!" ucap Radika


"Hentikan basa basimu dan pergilah!"


"Huft... Jangan seperti itu dengan tamu sendiri. Berbahagialah dengan rumah tanggamu, Siska sudah jadi tanggung jawabmu, jangan lupakan tigasmu sebagai seorang suami dan kepala keluarga!"


"Hentikan dan simpan saja kata mutiaramu itu, aku tidak membutuhkannya." Sarkas Vandi


"Eh iya iya, aduh maaf ya Siska, aku duluan, kalian berbahagialah," Ayesha melambaikan tangan lalu pergi dari atas panggung.


Sampai pukul 9 malam semua tamu pun sudah pulang semua. Siska menghembuskan nafas lega, dia dikamar pengantin merebahkan tubuhnya.


"Hari yang melelahkan," gumamnya


ceklek...


"Pergilah mandi," ucap Vandi dengan wajah datarnya.


"Baiklah, aku akan mandi duluan." Siska membawa baju ganti dan tidak lupa handuk pula.


Dia tahu ini bukanlah malam pertama atau kedua seperti pada pengantin biasanya. Untuk yang satu ini Siska juga tidak mengharapkan kejadian romantis diantara mereka.


Vandi kembali merokok di balkon menikmati dinginnya malam yang menusuk kulitnya. Aktivitasnya terganggu kala Siska memanggilnya.


"Bisakan sedetik saja kamu tidak menggangguku Sis!?" geram Vandi

__ADS_1


Glek


Siska jadi merasa tidak enak hati, dia tahu Vandi sama lelahnya tapi ini mendesak untuknya.


"Aku hanya ingin meminta tolong sedikit,"


"Cepat ada apa! Kamu membuatku emosi!"


Siska dengan berat hati mengatakan jika dirinya tidak bisa membuka zipper gaun pengantinnya juga parahnya, dia sedang datang bulan tanpa membawa persediaannya.


Vandi membantu dengan enggan namun matanya juga enggan lepas dari bentuk tubuh seperti jam pasir didepannya. Tidak mau lepas kendali, Vandi segera menurunkan zipper dan melenggang pergi. Akan tetapi...


"Apalagi kali ini Siska!! Berhenti mengusikku!"


"Tolong aku satu lagi, pliss.." dengan wajah memohon sambil.menautkan telapak tangannya.


"Apa!?"


"Bi-bisakah kamu membelikanku pem-pembalut?!" denga suara kecil dan mampu didengar telinga Vandi.


"Kamu gila?!" teriak Vandi keras, memdengungkan gendang telinga Siska.


"Aku sungguh minta tolong!" raut wajah itu tak bisa Vandi tolak. Akhirnya, Vandi menelepon Zaid untuk membelikan pembalut.


"Belikan saja semua, jangan banyak tanya kamu Zaid! jangan membuatku ingin memutilasinya saat ini juga!"


"Ba-baik Bos!" dibalik sana Zaid mengeluh lelah. Mau tidak mau Zaid membelikannya di toko terdekat.


Tak lama Zaid mengetuk pintu dan Vandi langsung meraihnya dengan tips untuk Zaid.


"Pergilah!" Vandi langsung mengusir Zaid dan menutup keras pintu hingga terkena pucuk hidung Zaid


Brak...


"Emang Bos sialan!!!" geram Zaid


" Zaid sabar oke sabar, ujian ini ujian hidupmu, jangan terbawa emosi terlalu dalam atau hidupmu akan jadi gelandangan!"

__ADS_1


__ADS_2