Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
11


__ADS_3

"Lihatlah. Itu indah sekali, Mas." Entah sudah keberapa kali Zety berbicara seperti itu. Disertai senyum mengembang yang membuat Gatra seolah tertular. Bukannya merasa sebal, Gatra justru terhibur dengan sikap norak Zety.


Zety duduk di sebuah bangku panjang menatap hamparan tanaman bunga beraneka warna. Begitu cantik dan mampu menyegarkan otak. Zety berkali-kali menghirup napas dalam dan mengembuskan dengan perlahan. Sementara Gatra, tidak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari gadis itu.


"Kamu belum mau pulang?" tanya Gatra. Bukannya merasa jengah, tetapi Gatra khawatir hujan akan segera turun karena langit sudah terlihat begitu mendung.


"Nanti dulu, Mas." Zety justru duduk bersandar. Mendongak dan menatap gumpalan langit yang sedikit berwarna gelap.


"Gimana kalau hujan? Bukankah kamu lihat kalau langit sudah gelap," ujar Gatra.


"Memangnya kenapa kalau hujan? Justru seru kalau kita mainan air hujan." Zety justru berbicara sangat santai. "Aku sangat suka sekali hujan," imbuhnya.

__ADS_1


Karena hujan mengingatkanku pada Oma dan entah kenapa untuk saat ini aku sangat merindukannya. Zety hanya meneruskan ucapannya dalam hati.


Baru selesai berbicara, hujan benar-benar turun dengan derasnya. Gatra mengajak Zety untuk berteduh, tetapi Zety justru bergeming. Tidak sedikit pun menggerakkan tubuhnya, dan justru memejamkan mata agar tidak sakit dihantam air yang jatuh dari langit.


"Pergilah, Mas. Aku masih ingin di sini," ujar Zety.


"Ayo, air hujan tidak baik untuk kesehatanmu." Gatra terus mengajak, tetapi Zety masih saja menolak.


"Baiklah. Aku tunggu lima menit setelah itu kita akan kembali ke hotel." Gatra pun menurut. Membiarkan air hujan membasahi seluruh tubuhnya karena tidak mungkin Gatra meninggalkan Zety sendirian. Meskipun untuk saat ini dia belum mencintai Zety, tetapi dia bukan lelaki yang setega itu dengan meninggalkan Zety sendirian di bawah guyuran air hujan.


Zety pun kembali memejamkan mata. Tanpa sadar, air mata ikut mengalir bersamaan air hujan yang sudah membasahi seluruh wajahnya saat ingatan masa kecilnya kembali terlintas.

__ADS_1


"Oma, ayo kita hujan-hujanan. Kata Opa, air hujan bisa membuat kita cepat besar," rengek bocah kecil berusia sekitar lima tahun. Baginya, air hujan adalah hal yang luar biasa.


"Baiklah. Tapi jangan lama-lama. Nanti kalau Papamu pulang, kamu akan dimarahi habis-habisan," kata wanita paruh baya itu memberi peringatan. Gadis kecil itu pun hanya mengangguk mengiyakan.


Benar saja, saking asyiknya bermain hujan, bocah itu tidak menyadari kepulangan sang papa. Lelaki dengan setelan jas rapi itu meradang saat melihat putrinya basah kuyup di halaman belakang. Tanpa ampun, dia menyeret putrinya dan mengguyurnya dengan air dari kolam renang yang terletak tepat di samping halaman tersebut.


"Bukankah sudah kukatakan jangan pernah sekalipun bermain air hujan! Jangan mengingatkanku pada kesukaan istriku! Karena kamu, istriku mati! Dasar anak pembawa sial!" Lelaki itu terus saja mengguyurkan air kolam tersebut dan baru berhenti saat wanita tua datang untuk menyelamatkan cucunya.


"Oma ... aku takut." Tubuh gadis itu gemetar hebat, sementara lelaki tadi pergi tanpa rasa bersalah.


"Sabar, Sayang. Mulai sekarang janjilah pada Oma kalau kamu tidak akan bermain air hujan lagi." Wanita paruh baya itu mengulurkan kelingkingnya dan langsung disambut oleh bocah kecil itu disertai anggukan lemah.

__ADS_1


'Maafkan aku, Oma. Saat ini aku melanggar janjiku pada Oma untuk tidak bermain hujan.' Batin Zety.


__ADS_2