Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
62


__ADS_3

Jam sudah menunjuk pukul tujuh pagi, tetapi Zety baru saja terbangun karena kelelahan sehabis percintaan semalam. Kiano benar-benar bisa memperlakukan Zety dengan lembut hingga membuatnya merasa nyaman dan tidak menolak saat Kiano kembali meminta haknya. Zety meraba sebelahnya, dan langsung membuka mata saat tidak merasakan Kiano di sampingnya. Zety langsung duduk dan melihat sekitar. Dia hanya sendirian di kamar. Zety pun hendak turun dari tempat tidur, tetapi dia terdiam saat melihat Kiano keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk sebatas pinggang.


"Habis mandi?" tanya Zety dengan bodohnya. Mempertanyakan hal yang dia sendiri sudah tahu jawabannya.


"Ya, saya harus ke kantor pagi ini." Kiano mengambil pakaian kantor yang sekarang sudah berada di kamar itu. Bahkan, semua pakaiannya sudah diboyong ke kamar tersebut.


Melihat Kiano yang sedang memakai kemeja, Zety pun bergegas turun dan membantu Kiano mengancingkannya. Senyum Kiano merekah, tidak menyangka kalau Zety akan melakukan hal tersebut. Termasuk memakaikan dasi untuknya.


"Terima kasih." Kiano mengecup kening Zety lama.


"Apakah aku boleh ikut ke kantor?" tanya Zety ragu. Kiano terdiam. Bukan karena memikirkan untuk memberi izin atau tidak, tetapi dia masih terkejut dengan panggilan Zety untuknya. "Kalau kagak boleh juga enggak papa. Aku mau di rumah nemenin papa." Zety hendak berbalik kembali ke kasur. Namun, langkahnya terhenti saat Kiano memelukanya dari belakang.


"Tentu saja boleh, Nona."


"Jangan panggil aku nona lagi. Aku sekarang adalah istrimu." Zety berbicara ketus. Jujur, sejak semalam dia terus saja kepikiran ucapan Margaretha.


"Baiklah. Saya akan menuruti apa katamu, Sayang," bisik Kiano. Jantung Zety berdegup kencang saat mendengarnya. Pipinya sudah bersemu merah. Dirinya benar-benar melting persis seperti apa yang diucapkan Margaretha semalam. Zety terdiam saat Kiano membalik tubuhnya dan memeluk pinggangnya erat.


Kiano pun memajukan wajahnya hendak mencium bibir Zety, tetapi langsung ditahan oleh wanita itu. Kiano menatap heran kepada istrinya. "Aku belum gosok gigi. Masih bau iler." Zety menutup mulutnya karena tidak percaya diri. Namun, Kiano justru menyingkirkannya dan segera meraup bibir Zety yang sudah menjadi candu untuknya. Mereka hampir saja bercinta kembali. Namun, semua gagal karena Bram sudah mengetuk pintu kamar dan meminta mereka untuk segera sarapan.


***


Sejak kepergian Kiano ke kantor, Zety hanya mengurung diri di kamar. Masih merasa sedikit kesal. Padahal dirinya sudah memaksa ikut, tetapi Kiano justru melarang. Zety pun akhirnya hanya uring-uringan di kamarnya.


"Hallo!" Suara Zety terdengar ketus saat menerima panggilan telepon dari sahabatnya.


"Aje gile! Galak amat elu, Suk. Kesambet?"


Zety makin merasa sebal saat mendengar kekehan Margaretha dari seberang telepon. Terdengar sekali meledek dirinya.


"Ada apa, Mar? Gue lagi bete'!"

__ADS_1


"Bete' kenapa lu?"


"Gue mau ikut Kiano ke kantor, tapi kagak boleh. Suruh semedi di rumah aja." Zety terdiam saat mendengar gelakan tawa Margaretha yang melengking.


"Astaga. Lu beneran mulai bucin sama Mas Tampan, Suk? Sepertinya, cinta bisa datang lebih cepat kalau sudah sama-sama saling merasakan nikmat sampai puncak bersama."


"Ngomong apa lu, Mar! Gue gibeng lu!" Zety setengah membentak. Namun, tak membuat Margaretha takut.


"Kagak-kagak! Gue tuh cuma mau ngomong sama lu kalau gue udah kagak kerja lagi di restoran Mas Gatra."


"Terus?" Zety menyela tidak sabar.


"Ya gue pengangguran sekarang. Gue ngerasa enggak nyaman aja, sih."


"Mar, sorry. Pasti semua gara-gara gue ya."


"Bukan, Suk. Gue emang pengen berhenti aja. Udah capek kerja mulu kagak kaya-kaya." Lagi dan lagi, Margaretha tergelak keras.


"Yaelah, perasaan lu sewot mulu, Suk. Jangan judes-judes ntar kalau gue pergi, lu kangen lagi."


Ucapan Margaretha membuat hati Zety berdesir. Perasaannya mendadak tidak nyaman.


"Lu mau pergi ke mana?" tanya Zety. Berusaha tetap terlihat tenang.


"Ke pasar. Hahaha." Entah berapa kali Margaretha tergelak hingga Zety mendengkus kasar. Setelahnya, mereka pun mengobrol panjang lebar. Namun, entah mengapa Zety merasakan sesuatu yang lain. Hatinya merasakan Margaretha berbeda dari biasanya.


Panggilan mereka pun terputus saat Bram mengetuk pintu. Zety segera mematikan panggilan tersebut dan membukakan pintu untuk sang papa.


"Ada apa, Pa?" tanya Zety, mempersilakan Bram masuk ke kamarnya.


"Kamu sedang apa?" tanya Bram lembut.

__ADS_1


"Lagi rebahan, Pa. Bosen mau ngapain." Zety setengah merengek. Bram tersenyum saat melihat tingkah putrinya yang manja.


"Kalau begitu, lebih baik kita jalan-jalan saja. Bagaimana?" ajak Bram. Langsung disambut antusias oleh Zety. Tanpa banyak berpikir, Zety langsung menyetujui ajakan sang papa.


Selama dalam perjalanan, Zety mengobrol banyak hal dengan sang papa. Sehingga tidak ada yang tahu kalau hubungan mereka pernah tidak baik di masa lalu. Zety dengan ikhlasnya memaafkan sang papa. Bram merasa begitu bahagia, memiliki putri sebaik Zety. Dalam hati lelaki itu berjanji tidak akan memberikan kebahagiaan untuknya.


"Setelah ini kita mau ke mana?" tanya Bram saat mereka baru saja keluar dari pusat perbelanjaan.


"Ke kantor saja, Pa. Aku pengen ke sana," jawab Zety. Senyum Bram pun makin merekah sempurna. Dia tahu apa maksud Zety mengajak ke kantor. Apalagi kalau bukan untuk bertemu Kiano.


"Baiklah. Kita ke sana sekarang." Bram pun segera masuk ke mobil dan langsung diikuti Zety. Mobil itu pun melaju menuju ke perusahaan yang sekarang sudah menjadi milik Zety.


Setibanya di lobby kantor, Bram langsung disambut karyawan di sana. Mereka membungkuk hormat, tetapi bagi yang belum tahu, mereka mengira Zety adalah sugar baby Bram, seperti Shifa kemarin.


"Ki!" panggil Bram saat melihat Kiano baru saja keluar dari lift. Mendengar namanya dipanggil, Kiano menoleh dan terkejut saat melihat keberadaan Bram dan Zety. Dengan langkah panjang, Kiano mendekati Zety dan langsung memeluknya erat. Semua mata pun tertuju ke arah mereka, bahkan tidak sedikit yang berbisik-bisik.


"Su-sudah. Aku malu." Zety berusaha melepaskan pelukan Kiano, tetapi yang ada pelukan tersebut justru makin erat.


"Biar semua orang tahu kalau kamu adalah milik saya."


๐Ÿ˜œ๐Ÿ˜œ


Ciee, dikit lagi tamat.


Oe! Thor! Jangan tamat dulu ๐Ÿ˜ญ


Pengen lihat kebucinan mereka.


Tenang guys, Othor bakal bawa satu judul yang menceritakan kehidupan sehari-hari keempat sahabat somplak sekawan. Tentu saja dengan kebucinan suami mereka. Dan di judul baru nanti bakalan minim konflik ya, hanya keseruan kehidupan mereka dan anak-anak mereka aja.


Kapan Thor? Jangan kelamaan.

__ADS_1


Kapan-kapan ๐Ÿ˜‚ jadi tungguin aja ya.


__ADS_2