
Zety memeluk Margaretha terlebih dahulu sebelum masuk mobil Gatra. Sebenarnya, Zety merasa tidak tega saat harus meninggalkan Margaretha sendirian. Namun, dia juga tidak bisa menolak ajakan Gatra karena laki-laki itu sudah mengancamnya. Gatra pun hanya menunggu sembari berbicara dengan Andra. Selama Gatra pergi, lelaki itu menyerahkan tanggung jawab restoran kepada Andra. Walaupun baru bekerja bebebepa bulan, tetapi Gatra merasa puas dengan kinerja Andra yang begitu cekatan dan sangat bertanggung jawab.
"Mas, kenapa kita lama banget di sana. Emangnya Mas Gatra yakin bakal ninggalin restoran selama itu?" tanya Zety saat mereka sudah berada dalam perjalanan.
"Sudah aku serahkan ke Andra. Aku yakin kalau dia bisa mengurus semuanya." Gatra menjawab sembari menoleh sekilas ke arah Zety.
"Iya, sih. Walaupun judes, tapi Andra itu sebenarnya baik. Tanggung jawab, rajin pula." Zety menambahkan. Gatra mengangguk mengiyakan. Suasana di mobil tersebut kembali hening saat kedua orang itu sama-sama diam.
Merasa mengantuk karena perjalanan masih jauh, Zety meminta izin kepada Gatra untuk tidur. Dia duduk bersandar dan memejamkan mata. Sementara Gatra masih fokus pada setir kemudinya. Zety pun benar-benar terlelap sampai tidak tahu kalau Gatra beberapa kali mencuri pandang ke arah Zety.
'Seandainya kamu bukan sahabat Rasya. Mungkin aku akan belajar mencintaimu. Sikapmu yang apa adanya cukup membuatku merasa berada seperti di dekat Rasya, tapi aku takut jika mencintaimu hal itu justru makin membuatku tidak bisa melupakan Rasya.'
Gatra mendes*hkan napas ke udara. Untuk sedikit mengurangi napasnya yang tiba-tiba terasa sesak saat teringat Rasya. Ponsel Gatra berdering, mengejutkan lelaki itu. Saat melihat nama sang mama tertera di layar Gatra pun segera menepikan mobilnya untuk menerima panggilan itu.
__ADS_1
Gatra melirik Zety yang masih tertidur lelap terlebih dahulu sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut.
"Ma, nanti kalau Gatra udah pulang dari luar kota," ucap Gatra lirih. Nada bicaranya terdengar tidak bersemangat bahkan beberapa kali lelaki itu menghela napas panjang.
"Kapan kamu pulang? Lagian, mama sudah tidak sabar ingin segera memiliki anak menantu." Suara Maria terdengar samar-samar masuk ke indera pendengaran Zety. Sebenarnya gadis itu sudah bangun sejak tadi, tetapi dia berpura-pura masih tidur agar Gatra tidak merasa canggung.
"Ma, tapi Gatra belum yakin sama Shifa. Kita masih harus saling mengenal dulu, Ma."
Belum juga Gatra menjawab, panggilan tersebut sudah terputus begitu saja. Gatra menaruh ponselnya secara kasar dan itu dijadikan Zety sebagai alasan. Gadis itu mengerjapkan mata dan berpura-pura terkejut. Gatra pun menoleh dan menatap Zety dengan rasa bersalah.
"Maaf, aku membuatmu terkejut," ucap Gatra lembut. Zety menunjukkan senyumnya dan mengatakan kalau dia tidak apa-apa.
"Kenapa kamu kelihatan kesal banget, Mas?" tanya Zety. Memberanikan diri bertanya karena jiwa keponya sudah meronta. Zety yakin kalau Shifa yang disebut Gatra adalah gadis cantik yang kemarin bersama lelaki itu.
__ADS_1
"Mama maksa aku buat nikahin Shifa, tapi aku belum yakin."
"Apa Shifa itu gadis cantik yang kemarin bersama kamu?" sela Zety. Gatra mendes*h lalu mengangguk lemah. "Kenapa belum yakin, Mas? Padahal Shifa itu cantik. Kulit putih, lesung pipi. Aku aja yang cewek sampai terpesona."
"Dia memang cantik, tapi dia masih terlalu kanak-kanak buat aku. Sifatnya terlalu manja. Bukan tipikal aku sama sekali," ucap Gatra. Makin menambah rasa penasaran Zety.
"Memang tipe wanita idaman kamu itu seperti apa, Mas?" Zety berharap, semoga dia termasuk salah satu tipe wanita idaman Gatra.
"Yang jelas dia itu wanita yang memiliki pikiran dewasa, selera humoris, pekerja keras, seperti ...." Gatra menggantungkan ucapannya. Sementara wajah Zety mendadak pias. Tanpa Gatra sebutkan namanya, dia sudah tahu siapa wanita yang menjadi tipe idaman Gatra.
Gatra menoleh ke arah Zety dan melihat wajah Zety yang mendadak sendu. Gatra pun menyalakan mobilnya. "Lebih baik kita lanjutkan perjalanan yang masih lama." Gatra pun melajukan mobilnya. Menghindari pembicaraan yang mungkin bisa saja membuat dirinya kembali teringat Rasya.
'Sedalam itukah perasaanmu untuk Rasya, Mas.'
__ADS_1