
Jam baru menunjuk pukul lima pagi. Namun, Zety sudah mengerjapkan mata. Dirinya merasa sangat haus. Saat hendak beranjak bangun, Zety baru menyadari satu hal setelah merasakan nyeri di area berharganya. Zety pun melihat tangan Kiano yang melingkar di perutnya, memeluk erat.
"Semalam gue beneran malam pertama," gumam Zety. Dia menoleh dan menatap Kiano yang masih tertidur. Dengan gerakan perlahan Zety menyingkirkan tangan Kiano karena ingin buang air kecil sekaligus minum. Tubuh yang lelah karena acara pernikahan dan juga percintaan panas, membuat Zety langsung ketiduran semalam.
"Mau ke mana?"
Zety merasakan Kiano yang mengeratkan pelukannya tanpa membuka mata.
"Kencing sama minum. Gue haus banget," sahut Zety gugup.
"Kalau begitu. Saya akan mengantar Anda." Kiano membuka mata dan bergegas turun dari tempat tidur. Memakai celana boxer yang tergeletak di lantai. Zety yang melihat itu pun segera memalingkan wajah karena malu. Tubuh kekar itu yang semalam menggagahinya.
Zety tersentak saat Kiano tiba-tiba membopongnya menuju ke kamar mandi. Dia hendak berontak, tetapi akhirnya diam karena sadar usahanya hanya akan sia-sia. Dia kalah tenaga. Ketika sampai di kamar mandi pun dengan sabar Kiano menunggu. Lalu kembali membopong istrinya.
"Gue masih bisa jalan!" Zety berbicara setengah ketus.
"Ya, saya tahu itu." Kiano berbicara santai lalu mendudukkan Zety di tempat tidur. "Duduklah di sini dulu, Nona. Biar saya ambilkan air putih."
Zety hanya diam menatap Kiano yang sedang mengambilkan air putih hangat untuknya. Lalu menengguk dalam sekali tenggak. Setelahnya, Kiano pun menyuruh Zety agar kembali tidur karena masih sangat pagi. Namun, sudah bergerak ke kanan-kiri, Zety justru tidak bisa lagi tertidur. Gerakan Zety pun berhasil membuat Kiano yang hendak tertidur lagi, memilih untuk membuka mata.
"Kenapa, Nona? Apa masih kurang semalam?" Pertanyaan Kiano berhasil membuat Zety mencebik kesal. Dia memukul dada Kiano hingga lelaki itu terkekeh. Kiano yang merasa gemas pun segera memajukan wajahnya. Hendak mencium Zety kembali. Namun, belum juga bibir mereka bersentuhan, gerakannya terhenti saat mendengar ponsel Zety yang berdering.
Zety berbalik, membelakangi Kiano lalu mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya saat ini. Kening Zety mengerut saat melihat nama Gatra tertera di layar. Awalnya Zety merasa ragu, tetapi dia pun tidak tega dan akhirnya menerima panggilan tersebut.
"Hallo, Mas."
__ADS_1
Kiano yang sudah tahu siapa yang sedang menghubungi istrinya saat ini pun hanya bisa menghela napas panjang.
"Kamu tahu dari mana aku menikah?" tanya Zety. Kiano makin mengeratkan pelukannya, sedangkan Zety sama sekali tidak menolak. Padahal diam-diam Kiano menguping pembicaraan mereka.
"Apa kita bisa ketemu, Zet?" tanya Gatra dari seberang sana.
"Kapan, Mas?"
"Nanti siang. Kita bertemu di taman kota aja."
"Baiklah. Nanti jam satu aku akan ke sana. Kalau begitu aku mau tidur lagi, Mas." Zety pun mematikan panggilan tersebut karena hatinya merasa tidak nyaman.
"Anda akan bertemu Mas Gatra?" tanya Kiano. Menyadarkan Zety yang barusan terdiam.
"Ya. Gue pengen nyelesain semuanya." Suara Zety terdengar berat.
Zety terdiam. Mencermati setiap kalimat yang terlontar dari Kiano meskipun sedikit merasa tidak percaya. Bagaimana tidak, lelaki itu dengan santainya berbicara seolah ikhlas jika harus dimadu. Padahal baru kemarin melangsungkan ijab kabul.
"Nanti siang antar gue ketemu Mas Gatra," pungkas Zety. Kiano membalik tubuh Zety agar menghadap ke arahnya. Lalu menatapnya lekat. "Anda tidak takut saya menganggu Anda?"
"Kagak. Udah gue bilang 'kan kalau gue bakal pertegas semuanya. Gue masih ngantuk. Mau tidur lagi." Zety memejamkan mata, sedangkan Kiano memeluk Zety erat.
"Selamat tidur lagi."
Zety terdiam saat merasakan pelukan Kiano terasa begitu nyaman baginya. Akhirnya, mereka berdua pun kembali terlelap.
__ADS_1
***
Margaretha yang sedang sibuk membersihkan meja pun terheran saat Gatra memintanya masuk ke ruangan lelaki itu. Raut wajah Gatra yang begitu tidak bersahabat membuat Margaretha merasa sedikit tidak enak hati. Apalagi suara Gatra yang sedikit ketus saat menyuruhnya duduk.
"A-ada apa, Mas?" Margaretha berusaha untuk tetap terlihat tenang.
Gatra tidak langsung menjawab, tetapi menghela napas terlebih dahulu dan mengembuskan dengan kasar. Agar emosi yang menguasai hatinya bisa menguar perlahan. "Zety sudah menikah?"
Margaretha membisu mendengar pertanyaan Gatra. Batinnya bertanya dari mana lelaki itu tahu tentang pernikahan Zety, karena hanya beberapa orang saja yang diundang.
"Kenapa kamu tidak menjawab? Menurutmu, apa aku terlalu hina? Kenapa aku harus gagal berkali-kali." Gatra mendes*h kasar. Margaretha yang melihat itu pun menjadi tidak tega sendiri.
"Mas, bolehkah aku berbicara sedikit hal padamu? Tapi mungkin akan sedikit menyinggung perasaan Mas Gatra," ucap Margaretha ragu.
"Katakan saja. Aku akan mendengarkan dengan baik-baik." Gatra menatap Margaretha yang terlihat gugup.
"Mas, sebenarnya ini bukan masalah kamu hina atau tidak, tapi semua karena kamu yang tidak bisa tegas pada dirimu dan perasaanmu sendiri."
"Maksud kamu?" Gatra menyela begitu saja.
"Mas, kalau memang kamu ingin segera mendapatkan pendamping yang bisa menerima kamu. Maka belajarlah untuk melupakan masa lalumu dan fokus pada apa yang menjadi tujuanmu saat ini. Masa lalu ada untuk dikenang dan jadi pelajaran, bukan untuk selalu diingat. Seandainya aku jadi Suketi pun, aku bakal ngerasa sakit saat orang yang kita cintai, ternyata masih mencintai masa lalunya," tutur Margaretha panjang lebar.
"Tapi aku udah bilang pada Zety kalau aku akan belajar mencintainya." Gatra berusaha membela diri.
"Mas, kamu baru akan belajar, sedangkan Suketi sudah jatuh bangun mengejar cintamu. Aku yakin semua orang akan menyerah kalau usahanya tidak pernah dihargai. Apalagi, Tuan Bram menawarkan Suketi untuk menikah dengan Kiano yang jelas-jelas bisa menjaganya dan yang terpenting Kiano tidak pernah lagi mengingat masa lalunya," ucap Margaretha. Kalimat-kalimat itu seolah menjadi tamparan keras untuk Gatra.
__ADS_1
"Kalau memang kamu ingin menjalin hubungan dengan wanita lain maka saranku lebih baik kamu jangan ingat atau terbayang dengan masa lalumu, Mas. Atau kamu akan selalu gagal dalam percintaan sampai berkali-kali."
Gatra termangu mendengar ucapan Margaretha. Merenungi semuanya dan dalam hatinya berusaha mengerti nasehat Margaretha.