
Suasana di ruang makan terasa canggung. Zety beberapa kali mendengkus kasar saat menyadari kalau sejak tadi Kiano sedang berusaha menahan tawa. Zety tahu pasti apa yang membuat lelaki itu bertingkah seperti itu apalagi tatapan Kiano yang terlihat meledek, membuat Zety makin merasa kesal.
"Kamu masih akan tetap bekerja di restoran?" tanya Bram, berusaha mencairkan suasana.
"Masih, Pa. Aku nyaman bekerja di sana." Zety menjawab sembari mengunyah makanannya.
"Kamu yakin hanya itu alasannya?" Bram kembali melontarkan pertanyaan. Zety hanya mengiyakan. Terlihat sekali gadis itu bermalasan. Tidak mungkin Zety mengatakan kalau dirinya suka dengan Gatra. "Kalau begitu mulai besok biar Kiano bekerja bersama kamu."
"Apa!"
"What!" pekik Zety dan Kiano bersamaan. Bram tersenyum sembari menatap mereka secara bergantian. Tampak raut terkejut memenuhi wajah mereka berdua.
"Tuan, saya tidak bisa." Kiano berbicara sopan. Namun, sorot matanya menampakkan ketidaksukaan dan Bram tahu pasti apa penyebabnya.
"Kenapa? Tugasmu sekarang adalah menjaga Zety, Ki." Bram masih saja tersenyum tanpa peduli pada Zety yang sedari tadi mengembuskan napas kasar.
"Pa, biarlah dia bekerja sama Papa. Aku tidak mau dikawal." Zety menolak.
"Dia bukan mengawal kamu, tapi bekerja sebagai karyawan di restoran itu," ucap Bram.
"Tapi, Pa ...."
"Sudah, tidak ada tapi-tapian. Besok papa yang akan bilang pada bos kamu. Mendingan sekarang kita habiskan makanan ini." Keputusan Bram sudah bulat dan tidak dapat diganggu gugat. Zety dan Kiano pun hanya saling menatap malas. Bagi mereka, percuma menolak karena itu tidak akan mungkin.
Seusai makan malam, mereka mengobrol sebentar sebelum akhirnya Zety meminta izin ke kamar untuk beristirahat. Sementara Bram mengajak Kiano masuk ke ruang kerja miliknya yang berada tepat di samping kamar. Kiano hanya diam, masih merasa kesal dengan perintah Bram yang memintanya untuk bekerja di restoran.
"Ki, kamu sudah siap besok mulai bekerja bersama Zety?" tanya Bram. Menatap lekat Kiano yang sedang berdiri tepat di depannya.
__ADS_1
"Tuan, kenapa Anda meminta saya untuk bekerja di sana? Anda yakin tidak memiliki alasan tertentu?" Kiano membalas tatapan Bram. Menaruh curiga kepada lelaki itu.
"Kamu memang sangat peka terhadap sesuatu hal, Ki. Pantas sekali menjadi pendamping Zety kelak." Bram tersenyum puas. Namun, Kiano justru mengerutkan keningnya dalam. Merasa heran dengan ucapan Bram.
"Maksud Anda apa, Tuan?"
"Ki, aku sengaja menempatkan kamu di samping Zety karena aku yakin Shifa pasti akan melakukan sesuatu hal kepada Zety. Apalagi dia sudah tahu kalau Zety adalah putriku. Aku ingin kamu menjaga Zety dengan baik. Jangan sampai ada yang terluka sedikit pun. Cukup batinnya saja yang terluka oleh sikapku dulu." Bram mendongak. Menatap langit ruangan itu dan pikirannya berkelana. Kedua matanya terlihat basah sangat teringat dosa yang telah dia lakukan. Segala sikapnya yang sudah menyakiti Zety membuat lelaki itu dihantui rasa penyesalan setiap hari.
Kiano yang terus menatap Bram pun menjadi iba. Tidak tega saat melihat gurat kesenduan memenuhi wajah Bram. Meskipun dirinya baru beberapa tahun tinggal bersama Bram, nyatanya Kiano merasa sangat dekat dengan lelaki itu. Sama seperti dia dekat sang ayah yang sudah meninggal.
"Saya tidak berjanji, Tuan. Tapi, saya akan berusaha untuk menjalankan perintah Anda," balas Kiano.
"Terima kasih, Ki. Kalau begitu lebih baik sekarang kamu istirahat. Sudah malam," perintah Bram tanpa mengalihkan pandangannya.
Kiano sedikit membungkuk hormat lalu berpamitan kembali ke kamar miliknya. Untuk saat ini Kiano hanya bisa mengikuti perintah Bram. Apa pun yang lelaki itu perintahkan maka akan Kiano lakukan. Semua itu untuk membalas jasa Bram yang sudah menghidupi Kiano selama ini.
"Hallo."
"Suketi!!!"
Mata Zety sontak terbuka lebar saat mendengar pekikan dari seberang telepon yang membuat telinganya serasa tuli. Nyawa Zety yang barusan berpencar pun kini langsung menyatu kembali. Zety menatap layar ponsel dan mengumpat saat melihat nama Markonah tertera di layar.
"Astaga, Mar. Untung gue kagak punya penyakit jantung. Sekali aja jangan bikin kaget bisa kagak!" protes Zety. Men-loudspeaker panggilan tersebut dan meletakkan ponselnya di atas kasur.
"Yaelah. Elu mah kagak sakit jantung, tapi sakit hati iya," ledek Margaretha.
"Ish! Jangan ngeledek. Ntar gue bales nangis lu."
__ADS_1
"Lu pikir gue anak TK yang diledek langsung nangis. Eh, Suk ... emangnya elu lagi ngapain? Kagak berangkat kerja?"
"Ntar dulu lah, masih pagi juga." Zety menjawab bermalasan. Menarik selimut sampai sebatas leher dan hendak tertidur lagi.
"Kata siapa masih pagi? Ini udah jam setengah delapan oe!" Margaretha memekik. Kembali mengejutkan Zety.
"Jangan becanda elu, Mar!" Zety duduk dan melihat jam dinding. Benar saja, jam sudah menunjuk pukul setengah delapan. Setengah jam lagi masuk kerja. Zety bergegas turun dan berlari ke kamar mandi tanpa peduli pada panggilan Margaretha yang belum dimatikan. Margaretha mengomel sendiri lalu mematikan panggilan tersebut secara sepihak.
Mandi bebek itulah yang dilakukan Zety saat ini. Hanya butuh waktu lima menit untuk mandi, lalu berganti baju seadanya dan menyisir rambut pun secara asal. Zety mengambil tas selempang miliknya lalu keluar kamar. Namun, saat sampai di pintu, Zety terkejut bahkan tubuhnya mundur beberapa langkah saat bertabrakan dengan Kiano yang baru saja hendak mengentuk pintu.
"Ish! Kamu bisa jalan pakai mata tidak?" omel Zety. Menatap tajam ke arah Kiano yang sedang mendengkus kasar.
"Saya normal. Jadi, kalau jalan pakai kaki. Lebih baik sekarang kita berangkat sebelum terlambat. Lain kali, tidurlah selayaknya manusia bukan kebo," kata Kiano. Berbalik dan berjalan meninggalkan Zety yang sedang melongo. Gadis itu terheran dengan ucapan Kiano yang sangat pedas seperti bubuk cabai level dewa.
"Astaga, tuh mulut kenapa mirip punya emak kompleks. Gue berasa lagi jadi Markonah yang ngeladenin pedesnya ucapan Andra," gumam Zety.
"Apa Anda memang sengaja ingin terlambat?" Suara Kiano dari arah tangga teratas membuat Zety tersentak. Gadis itu berlari cepat menyusul Kiano. Sementara Kiano terus saja berjalan menuruni tangga tanpa peduli pada panggilan Zety.
"Tunggu, budek lu ya!" teriak Zety. Seketika menghentikan langkah Kiano yang sudah sampai di tangga terbawah, sedangkan Zety berdiri sembari berkacak pinggang. Menatap menantang ke arah Kiano.
"Anda ...."
"Tunggu dulu." Zety memotong ucapan Kiano. "Kenapa gue baru sadar kalau lu memakai seragam yang sama dengan gue? Lu beneran jadi kerja di restoran milik Mas Gatra?" tanya Zety penasaran.
"Jangan terlalu banyak bertanya. Lebih baik kita berangkat sekarang juga." Kiano berbalik dan melangkah lagi. Namun, dia terkejut saat tiba-tiba tubuhnya merasa berat seperti tertimpa sesuatu. Bahkan, mereka jatuh bertindihan di lantai karena Kiano tidak bisa menyeimbangkan karena dalam posisi tidak siap.
"Bisakah—"
__ADS_1
"Ternyata lu cakep juga kalau dilihat dari dekat," ujar Zety membuat wajah Kiano merah merona.