Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
25


__ADS_3

Zety mendengkus kasar dan berusaha melepaskan tangan Margaretha yang mencengkeram kuat. Bukannya terlepas, Margaretha justru makin mengencangkannya hingga membuat Zety merasa sangat dongkol.


"Suk! Itu suara apa? Gue takut rumah ini roboh." Margaretha celingukan. Wajahnya tampak penuh ketakutan.


"Kalau ngomong aja galak, tapi hal gini aja takut," ledek Andra.


Margaretha merasa tidak terima. Dia berdiri tegak lalu berkacak pinggang sembari menatap tajam ke arah Andra. Sementara yang ditatap justru tetap tenang.


"Jangan ngeledek, Ndra! Elu pikir gue ta—"


Duar!


"Eh emak! Gue masih perawan!" latah Margaretha. Kembali merangkul erat lengan Zety karena takut sekaligus terkejut.


"Astaga, Mar. Emang elu beneran masih perawan?" tanya Zety setengah meledek.


"Ish! Jangan bercanda sih, Suk. Ini lagi tegang."


"Apanya yang tegang?"


"Anunya," sahut Margaretha ketus. Pasalnya, dia kesal dengan sahabatnya yang tidak bisa serius dan justru tetap terlihat santai di kala suasana sedang mencekam.

__ADS_1


"Udahlah. Aku pusing denger ocehan kalian. Mending sekarang kalian tidur dan biarkan aku yang berjaga di sini," perintah Andra.


"Jangan tinggalin gue, Suk!" Margaretha tidak melepaskan pegangannya sama sekali.


"Gue mau kencing, Mar." Zety sedikit meronta karena dia memang sudah tidak sabar ingin segera buang air kecil.


"Gue ikut." Margaretha mengekor di belakang.


"Astaga, elu kenapa kaya bayi aja, Mar. Pakai ngikut ke kamar mandi segala. Mendingan elu duduk di sini sama Andra."


Zety menarik tubuh Margaretha lalu mendudukkan gadis itu tepat di samping Andra. Saat Margaretha hendak bangkit, Zety selalu melarang dan menyuruh gadis itu untuk tetap diam di tempat. Setelahnya, Zety bergegas ke kamar mandi sebelum kencing di celana.


Margaretha merasa sangat lama menunggu Zety. Suasana mendadak canggung saat dirinya hanya berdua dengan Andra. Lelaki yang sedari tadi terus saja diam dan fokus pada layar ponselnya. Margaretha ingin kembali ke kamar, tetapi dia takut jika harus sendirian dan khawatir ada kejadian mengejutkan seperti tadi.


Suara kuntilanak terdengar dari dekat Margaretha. Secara spontan gadis itu memeluk Andra erat dan membenamkan wajahnya di dada bidang lelaki yang dicap sebagai musuh bebuyutannya. Andra menggeram karena ponselnya terjatuh membentur lantai.


"Kamu apaan, sih!" Andra berusaha mengambil ponselnya tanpa berniat menyingkirkan tubuh Margaretha.


"Tolongin gue. Gue takut ada setan." Tubuh Margaretha gemetar ketakutan.


"Tidak akan ada setan di sini karena setannya udah keburu takut sama kamu duluan," cemooh Andra sembari berusaha menahan tawa. "Auhhh!! Sakit!" Andra menyingkirkan tubuh Margaretha cukup kasar dan mengaduh sembari mengusap bekas gigitan Margaretha.

__ADS_1


"Jangan ngeselin! Gue lagi ketakutan," dengkus Margaretha. "Emangnya elu kagak denger suara kuntilanak barusan?"


Hihihihi


Margaretha tersentak. Sontak kembali memeluk Andra erat. "Ampun, Mak Kunti. Aku cuma manggil doang bukannya pengen disamperin. Aku mohon pergilah. Kunti ... Kunti ... Pergilah. Datanglah lain hari."


Andra tak kuasa lagi menahan tawa saat mendengar racauan Margaretha. Apalagi saat gadis itu bernyanyi seperti lagu anak-anak. Andra benar-benar tidak habis pikir bisa bertemu gadis seaneh itu.


"Jangan ketawa!" Margaretha kembali jengkel saat merasa diledek oleh Andra.


"Habisnya. Mulut kamu tuh brandalan, tapi jiwa kamu penakut. Denger nada dering kuntilanak aja udah kaya lihat setan beneran." Andra mengambil ponselnya dan melihat siapa yang sedang menelepon. Sementara Margaretha langsung melepaskan pelukannya dan bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. "Udah puas meluknya?"


"Elu itu kenapa nyebelin banget sih!" Margaretha memukul lengan Andra untuk meluapkan kekesalannya. Apalagi saat mendengar tawa Andra yang meledak, makin menambah kekesalan Margaretha.


"Kalian kenapa?" Suara Zety ruangan dalam seketika menghentikan pukulan Margaretha. Zety menatap heran ke arah dua manusia yang selalu bertengkar setiap bertemu.


"Sok jagoan," ucap Andra masih meledek. Tanpa takut pada pelototan Margaretha.


"Udahlah! Jangan ribut mulu, ntar jatuh cinta loh." Zety berusaha menengahi.


"Ogah amat!" Margaretha beranjak bangun dan berjalan menghentak menuju ke kamar. Tanpa merasa takut lagi, sedangkan Zety menggeleng saat melihat sahabatnya. Dia pun berpamitan pada Andra untuk tidur karena sudah malam. Namun, baru saja berjalan tiga langkah, Zety berhenti saat mendengar suara pintu diketuk cukup keras. Zety dan Andra saling berpandangan dan menerka siapakah yang bertamu semalam ini.

__ADS_1


"Biar aku saja yang membukanya." Andra bangkit berdiri, sedangkan Zety hanya menunggu sembari harap-harap cemas.


__ADS_2