Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
48


__ADS_3

"Lu kenapa, Ndra?" tanya Zety heran. Andra tidak menjawab dan justru pergi begitu saja bahkan tanpa berpamitan sama sekali. Zety menggeleng dan mengendikkan kedua bahunya lalu melanjutkan langkahnya menuju ke ruangan Rasya.


Setibanya di sana, Zety melihat Rasya yang sudah bersiap untuk pulang, sedangkan Baby Bisul sedang tidur nyenyak dalam gendongan Marlina. Zety memandang Baby Bisul dengan gemas dan ingin sekali mencubit pipi bakpao bayi mungil itu, tetapi Zety takut akan dicekik Pandu kalau sampai melakukan hal itu.


"Lu udah bersiap pulang, Ra?" tanya Zety. Duduk di samping sahabatnya.


"Iyalah. Udah kelamaan gue di sini. Napa wajah lu asem banget, Suk?" Rasya menatap heran ke arah sahabatnya. Zety tidak langsung menjawab, tetapi justru mengembuskan napas kasar berkali-kali.


"Gue cerita besok aja kalau waktunya udah tepat," kata Zety.


"Beneran? Kagak mau sekarang?" Rasya menggoda. Zety dengan gemasnya mencubit pipi Rasya. Dia berani melakukan itu karena tidak ada Pandu di sana.


"Suketi! Sakit!" Rasya mengusap pipinya yang terasa memanas.


"Mumpung kagak ada laki lu. Hahaha."


"Ehem!"


Tawa Zety mereda seketika saat mendengar suara dehaman. Wajahnya memucat saat melihat Pandu sedang berjalan masuk bersama dengan Arga dan juga Zahra. Tatapan Pandu begitu tajam ke arah Zety, sedangkan Zahra langsung berdiri di samping sahabatnya.


"Kenapa lu, Suk? Bikin masalah?" bisik Zahra.


"Ehem!" Lagi-lagi Pandu berdeham. Zety menunjukkan rentetan gigi putihnya dan tanda piece dengan kedua jarinya. Pandu pun tidak peduli lagi dan justru mencium Rasya penuh cinta. Membuat jiwa jomlo Zety meronta karena hanya dirinya saja di ruangan itu yang tidak memiliki pasangan.


Setelah cukup lama berdrama, mereka pun pulang kembali ke kediaman Pandu, sedangkan Zety masih tetap berada di rumah sakit untuk menunggu Bram. Saat memasuki ruangan Bram, Zety melihat papanya sedang tertidur lelap, sedangkan Kiano duduk di sofa sembari memangku laptop. Melihat kedatangan Zety, Kiano hanya melirik sekilas lalu kembali fokus pada layar benda pipih tersebut.

__ADS_1


"Sana lu kalau mau pulang. Biar gue di sini sendiri yang jaga papa," kata Zety setengah mengusir.


"Saya akan menginap di sini, Nona." Kiano menjawab tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali.


"Ish! Gue enggak nyaman kalau ada elu di sini."


"Kalau begitu anggap saja saya tidak ada, Nona." Kiano menyela ucapan Zety. Gadis itu merasa kesal dan ingin sekali merobek mulut lelaki itu. Zety berjalan menghentak dan duduk di sofa tepat di sebelah Kiano. Karena hanya ada satu sofa di sana. Dia sengaja duduk paling pinggir dan memangku wajahnya di pinggiran sofa.


"Elu serius amat, sih?" tanya Zety. Penasaran dengan apa yang sedang dikerjakan oleh Kiano, tetapi dia takut akan diledek Kiano kalau sampai mengintip. Zety pun akhirnya hanya duduk diam dan tanpa sadar dirinya ketiduran.


Kiano awalnya tidak menyadari kalau Zety sudah tertidur lelap. Masih fokus pada layar laptop karena pekerjaan yang sudah menumpuk. Ketika Kiano menoleh, dirinya menghela napas panjang saat melihat Zety sudah tidur dengan mulut terbuka. Kiano terkekeh, tetapi juga tidak tega. Kiano yakin kalau Zety pasti sudah sangat kelelahan.


Kiano bangkit dan menaruh laptopnya di meja. Lalu dengan gerakan perlahan menidurkan Zety di sofa dan tak lupa menyelimuti gadis itu dengan jaket yang saat ini sedang dikenakan. Kiano menatap lekat wajah Zety yang terlihat cantik saat sedang tidur seperti ini. Jika sedang siuman, Kiano rasanya gemas dengan gadis itu.


'Hah! Haruskah aku menuruti keinginan Tuan Bram untuk menikahi gadis sengklek ini? Tapi aku belum mencintai dia.' Kiano mengembuskan napas kasar berkali-kali lalu tidur di samping sofa. Berjaga karena khawatir Zety akan terjatuh.


Margaretha sedang sibuk bermain ponsel di kamar. Jujur, gadis itu merasa sangat kesepian sekarang ini. Jika dulu sewaktu masih tinggal berempat, rumah kontrakan itu selalu ramai. Namun, sekarang mereka semua sudah berpencar dengan kehidupan mereka yang baru.


Tiba-tiba Margaretha menaruh ponselnya secara sembarang. Tidur terlentang dan menatap langit-langit kamar. Cairan bening tanpa sadar mengalir dari kedua sudut mata Margaretha saat teringat kepergian orang tuanya. Margaretha rindu dengan mereka. Apalagi sekarang dirinya tinggal sendirian seperti ini seolah memupuk rasa rindu Margaretha.


"Ma ... Pa ... Etha kangen kalian." Margaretha berusaha mengusap air matanya yang sudah mengalir deras, tetapi cairan bening tersebut sama sekali tidak mau terhenti.


Flashback On


Dor! Dor! Dor!

__ADS_1


Bunyi tembakan berkali-kali terdengar menggema di sebuah rumah mewah. Suasana di sana begitu mencekam. Seorang gadis remaja yang baru saja bangun tidur, terkejut saat melihat banyak orang berada di rumahnya. Ada sebagian yang dia tahu adalah anak buah papanya, sedangkan yang sebagian lagi terasa asing baginya.


Dor!


Suara tembakan terdengar lagi. Gadis itu secara refleks menutup kedua telinganya. Tubuhnya sudah gemetar hebat. Dia makin tersentak saat seseorang menariknya masuk ke ruangan kerja sang papa yang tidak jauh dari tempatnya saat ini.


"Itu siapa?" tanyanya polos. Suaranya yang bergetar menandakan gadis itu sedang sangat ketakutan saat ini.


"Anda tidak kenal mereka, Nona Muda. Yang terpenting sekarang adalah Anda harus tetap berada di sini apa pun yang terjadi nanti. Jangan pernah pergi keluar," perintahnya. Gadis itu menatap sang pria dengan terheran-heran. Lelaki itu pun menghela napas panjangnya dan menatap memohon pada sang gadis.


"Baiklah. Tapi kamu akan tetap di sini, Paman?" tanya gadis itu. Dia khawatir jika harus ditinggal sendirian. Lelaki itu menggeleng lemah dan memegang kedua bahu gadis kecil tersebut.


"Nona, saya harus keluar untuk melindungi Tuan dan Nyonya."


"Aku juga mau ke tempat papa dan mama," rengeknya.


"Tidak bisa, Nona. Di sana sangat berbahaya. Lebih baik Anda tetap di sini dan jangan lupa untuk kunci pintunya agar tidak ada yang bisa masuk," nasehatnya. Bocah itu mengangguk mengiyakan.


Kemudian, lelaki itu pun berjalan keluar dengan tergesa sembari mengeluarkan pistol dari dalam saku celana yang dikenakannya. Gadis kecil itu awalnya hanya diam dan menutup kedua telinganya saat mendengar bunyi tembakan berkali-kali terdengar. Tubuhnya sudah gemetar hebat dan bibirnya terus saja memanggil papa dan mamanya. Dia hampir menangis, tetapi ditahan-tahan sekuat tenaga karena tidak ingin dicap sebagai anak cengeng.


Namun, gadis itu beranjak bangun saat samar-samar telinganya mendengar erangan sang mama. Ya, dia tidak asing dengan suara yang sedang kesakitan itu. Gadis itu pun melanggar nasehat lelaki tadi. Keluar kamar dengan diam-diam dan melihat dari lantai atas.


Pemandangan di bawah sana sontak membuatnya histeris. Dia terkejut saat melihat kedua orang tuanya dan lelaki yang tadi bersamanya sudah bersimpuh lemah dan bersimbah darah. Dengan langkah cepat gadis itu menuruni tangga sembari berteriak.


"Tetaplah di atas, Etha!" teriak sang papa di tengah rasa sakitnya. Gadis itu tidak peduli dan tetap berlari turun. Namun, tiba-tiba ....

__ADS_1


Dor! Dor! Dor!


__ADS_2