Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
61


__ADS_3

Zety dan Margaretha yang awalnya hendak membeli martabak pun pada akhirnya hanya menunggu di kontrakan karena Kiano yang berangkat membeli. Padahal Zety sudah memaksa ikut, tetapi Kiano tetap saja melarang. Zety pun hanya mengiyakan meskipun hatinya merasa jengkel.


"Jangan cemberut mulu lah, Suk! Emang ya manten baru tuh kaya gitu, kagak mau lepas udah kek perangko," ledek Margaretha. Pukulan Zety pun mendarat di pundak gadis itu hingga membuatnya meringis kesakitan.


"Jangan bikin gue makin kesel! Andra ke mana?" tanya Zety karena tidak melihat keberadaan lelaki itu.


"Di rumah lah, masa iya di sini." Margaretha mencebik. "Kalau di sini terus bisa-bisa gue digrebek warga terus dipaksa nikah," imbuhnya.


"Loh, malah bagus dong. Jadi, lu kagak jomlo lagi. Kita berempat jadi kompak dah nikah semua." Zety berbicara antusias, tetapi Margaretha justru menirukan ucapan Zety dengan gaya dibuat-buat.


"Gue belum siap nikah. Suk, kalau suatu saat gue pergi tanpa kabar, jangan cari gue ya. Tapi, percaya aja kalau gue sayang kalian bertiga," ucap Margaretha diiringi helaan napas berat.


Zety menatap heran hingga alisnya saling bertautan. "Lu mau pergi ke mana? Jangan bikin gue takut, Mar!" Suara Zety meninggi dan penuh dengan kekhawatiran.


"Entah. Kalian udah bahagia dengan pasangan hidup masing-masing. Jadi, gue mungkin bakal pergi nyari pasangan hidup biar bahagia kayak kalian." Margaretha bersandar. Zety yang mendengar itu pun makin merasa heran sekaligus khawatir.


"Gue kagak bakal izinin lu pergi, Mar. Gue bakal cariin lu pendamping hidup yang baik, asal lu tetap di sini. Gue kagak mau pisah sama kalian meskipun kita udah punya kehidupan sendiri-sendiri," ucap Zety tegas. Namun, Margaretha menggeleng cepat.


"Gue kagak janji, Suk. Tapi gue bakal tetep jadi sahabat kalian apa pun yang terjadi nanti." Margaretha menahan air mata yang mulai menganak sungai agar tidak membanjiri wajahnya. Zety yang melihat itu pun makin merasa gelisah.


Jujur, sejak pertemuan dengan lelaki itu membuat Margaretha selalu gelisah setiap hari. Hidupnya tidak pernah merasa nyaman. Padahal Andra sudah meminta untuk tetap berjaga di sekitarnya, tetapi Margaretha justru menolaknya.


"Mar ...." Ucapan Zety tertahan di tenggorokan karena Kiano masuk dengan membawa dua bungkus martabak. Zety pun sangat antusias menyambutnya. Langsung melahapnya. Begitu juga dengan Margaretha yang merasa tidak malu di depan Kiano. Ikut menyantap martabak tersebut.


"Lu kagak makan?" tanya Zety pada Kiano karena sejak tadi lelaki itu hanya duduk menatapnya.


"Tidak, Nona. Saya masih kenyang," jawab Kiano sopan. Margaretha tiba-tiba tersedak bahkan wajahnya sampai memerah. Dengan kilat dia menenggak air putih untuk mendorongnya.


"Makan hati-hati, Mar!" Zety terkekeh lalu kembali sibuk mengunyah.

__ADS_1


"Gue tuh cuma heran aja sama kalian." Margaretha menatap Kiano dan Zety bergantian.


"Heran kenapa?" Suara Zety tidak terlalu jelas karena mulutnya penuh dengan martabak.


"Habisnya ... kalian udah nikah 'kan?"


"Udah."


"Udah tidur berdua juga?"


"Udah."


"Udah uh-ah juga?"


Kali ini, tatapan tajam Zety yang mengarah kepada sahabatnya. Margaretha pun menunjukkan dua jari tanda damai.


"Kalian ini udah nikah, udah uh-ah juga, kenapa kalau ngomong masih kaku gitu? Lu sama laki lu manggil lu-gue. Udah kek ngomong ama bestie aja."


"Ya apa aja, minimal aku-kamu lah, lebih sopan. Apa Mas Kiano, suamiku, pangeranku, wuasemm!" Margaretha mengusap kepalanya yang ditonyor oleh Zety.


"Jangan alay!" protes Zety.


"Gue kagak alay, Suk. Emang bener gitu 'kan harusnya. Terus Mas Tampan juga jangan manggil nona muda-nona muda terus. Suketi 'kan udah jadi istri kamu, Mas. Jadi, panggil aja sayang biar melting tuh bocah," saran Margaretha tanpa peduli pada tatapan Zety. Kiano pun hanya diam tanpa merespon apa pun.


"Udahlah, gue pulang aja kalau gitu." Zety yang sudah kenyang pun, segera bangkit berdiri diikuti Kiano.


"Lu mau ke mana?" tanya Margaretha masih sibuk mengunyah.


"Gue mau pulang." Zety mengulangi.

__ADS_1


"Bener deh kalau gitu. Jangan nginep di sini. Gue kagak rela."


"Kenapa?" sela Zety. Berusaha menahan kekesalannya.


"Gue kagak mau telinga suci gue ternoda dengan suara lucknut lu ntar!" Margaretha terus berbicara santai dan sedikit terkekeh, sedangkan Zety justru tersenyum licik.


"Kalau gitu. Gue tidur di sini aja biar elu tersiksa. Dan lu bakal pengen," ucap Zety puas. Namun, Margaretha justru tergelak.


"Kalau gue pengen tinggal gabung sama kalian aja. Kita main bertiga," seloroh Margaretha.


"Edan elu, Mar!" Zety menginjak kaki Margaretha saking kesalnya. Lalu berjalan menghentak keluar rumah tanpa peduli pada Margaretha yang masih tergelak. Tanpa sadar, Zety menggandeng tangan Kiano dan mengajaknya untuk segera pulang.


Selepas kepergian Zety, Margaretha menutup pintu rapat lalu duduk di ruang tengah sendirian. Berkali-kali dia menghela napas panjang dan mengembuskan secara perlahan untuk mengurangi kegelisahan hatinya.


"Gue sayang kalian dan gue harap kalian bakal tetap anggap gue sebagai sahabat apa pun yang terjadi kelak." Margaretha memejamkan mata untuk menghalau cairan bening yang hendak memaksa keluar dari sudutnya.


***


Hallo guys,


Othor cuma kasih tahu nih, kalau kisah Margaretha nantinya bakal Othor pisah dan kisah Zety sebentar lagi tamat ya.


Lah, Thor? Kagak digabung?


Tidak. Karena banyak dari kalian yang meminta dipisah aja. Biar adil mereka berempat punya kamar sendiri. Jadi, Othor kagak dianggap sebagai ibu tiri 😂


Kapan publish? Kalau tidak ada halangan tanggal 1 September. Insya Allah. Yuk follow akun Othor ini biar kalian bisa dapat notifnya 🤗


Thank's buat dukungan kalian semua.

__ADS_1


Bab selanjutnya semoga nanti siang bisa kelar ya 🙈


__ADS_2