
"Cantik amat, mau ke mana, Suk?" tanya Margaretha ketika melihat Zety sudah berdandan rapi dan bersiap untuk pergi padahal jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
"Gue mau pergi sama Mas Gatra," sahut Zety. Menatap lagi pantulan dirinya di cermin dan memastikan penampilannya sudah sempurna.
"Ciee yang mau kencan. Gue ikutan dong, Suk." Margaretha menggoda dengan menaik-turunkan kedua alisnya.
"Buat apa elu ikut, Mar. Ganggu aja," cebik Zety.
"Ya kali aja Mas Gatra mau nembak elu. Jadi, gue bisa bantuin elu buat fotoin gitu, Suk. Aduh!" Margaretha mengusap kepalanya saat tangan sahabatnya barusan mendarat di sana.
"Elu kalau ngomong jangan ngaco! Gue belum pengen mati muda karena terus-terusan dapet teror," timpal Zety. Mengambil tas selempang dan memasukkan ponselnya ke sana. "Gue justru bakal bilang sama Mas Gatra biar jauhi gue, Mar. Kalau perlu gue bakal resign dari restoran biar hidup gue lebih tenang."
"Yah! Jangan dong, Suk! Ntar kalau elu keluar jadinya sedih gue," rengek Margaretha.
"Sedih karena gue berhenti kerja?" tanya Zety curiga.
"Bukanlah. Pede amat. Sedih karena gue harus kerja berdua sama manusia judes itu. Yang ada gue makan ati tiap hari, Suk."
Zety memutar bola matanya malas mendengar jawaban sahabatnya. "Enak, Mar. Seenggaknya elu ngerasain makan ati tiap hari, bukan cuma tahu sama tempe," celetuk Zety. Dengan penuh kekesalan, Margaretha melempar sendal hingga tepat mengenai wajah Zety. Bukannya meminta maaf, Margaretha justru tergelak keras.
"Sialan emang elu, Mar! Mendingan gue cabut aja daripada di sini, bisa-bisa tensi darah gue naik." Zety berjalan menjauh, tetapi langkahnya tertahan saat Margaretha mencekal tangannya. "Apalagi sih, Mar?" Zety benar-benar kesal dengan sahabatnya.
"Tunggu bentar, Suk. Gue mau nanya sama elu, seandainya Mas Gatra beneran nembak elu, jawaban apa yang bakal elu kasih, Suk?" tanya Margaretha.
"Hahahaha. Otak elu ngebayangin jauh amat, Mar. Enggak bakal Mas Gatra nembak gue. Mimpi!" kilah Zety.
__ADS_1
"Yaelah, Suketi. Kalau saran gue mendingan elu terima aja kalau Mas Gatra nembak elu," cetus Margaretha tanpa ragu.
"Astaga, Mar. Kenapa otak elu makin ke sini kok malah makin ke sana. Gue terlalu gila kalau sampai terima Mas Gatra. Sumpah, Mar. Elu makin ngaco. Mendingan gue berangkat sebelum ketularan elu." Zety hendak pergi, tetapi lagi-lagi ditahan oleh Margaretha. "Apalagi, Mar!" Zety mengusap wajah kasar untuk mengurangi kekesalannya.
Margaretha tidak langsung menjawab. Terlebih dahulu mendekati Zety lalu berbisik di telinga gadis itu. Kedua mata Zety sontak terbuka lebar setelah mendengar bisikan Margaretha. Lalu menatap gadis itu dengan tatapan tidak percaya.
"Yang bener aja elu, Mar. Gue takut gagal."
"Kalau gagal coba lagi, Suk. Jangan khawatir ada gue. Ntar gue juga bakalan bilang ke Kurap sama Zaenab." Margaretha berbicara yakin, Sementara Zety hanya diam dan berusaha menimbang-nimbang.
Belum juga menyetujui ataupun menolak saran Margaretha, mereka sudah terlebih dahulu dikejutkan dengan suara klakson dari mobil Gatra. Zety pun tampak gugup dan mendadak ragu. Merasa bimbang antara jadi berangkat atau tidak.
"Berangkat sono. Udah dijemput pangeran. Jangan lupa, calling gue kalau darurat. Gue selalu siap," ujar Margaretha.
"Kalau bingung pegangan. Bingung lagi mau pegangan apa? Pegangan Mas Gatra aja, hahaha. Asem!" Margaretha mengaduh saat jatuh terjengkang karena Zety mendorongnya cukup kencang. Margaretha mengumpat kesal, tetapi Zety justru berlalu begitu saja.
"Wuu dasar Suketi! Temen laknat emang elu, Suk!" teriak Margaretha. Berusaha beranjak bangun meskipun bokongnya terasa nyeri.
***
Zety tidak menyangka kalau Gatra akan mengajaknya ke sebuah restoran mewah berlantai tiga. Di mana dia bisa melihat pemandangan malam kota itu dari atas sana. Menurut Zety, hal itu terlalu romantis untuk seorang jomlo seperti dirinya.
Sebelum Gatra membicarakan hal penting, lelaki itu terlebih dahulu mengajak makan. Gatra tidak ingin makan mereka terganggu. Senyum Gatra pun mengembang saat melihat Zety yang sangat antusias melahap makanan tersebut.
"Kamu sudah kenyang?" tanya Gatra saat Zety sudah menelungkupkan sendok dan garpunya.
__ADS_1
"Kenyang banget, Mas." Zety duduk bersandar dan mengusap perutnya yang merasa kenyang. "Aku bisa gemuk kalau terus-terusan makan seperti ini."
"Kamu ada saja." Gatra terkekeh, sedangkan Zety justru menunjukkan rentetan gigi putihnya.
"Oh iya, Mas. Hal penting apa yang akan kamu katakan?" tanya Zety setelah menyadari maksud kedatangan mereka pergi berdua. Senyum Gatra yang barusan mengembang sempurna pun kini memudar perlahan. Raut wajahnya berubah penuh kebimbangan.
Zety masih setia menunggu, tetapi melihat Gatra yang masih saja diam, membuat Zety gemas sendiri. "Kalau kamu tidak ingin bicara, lebih baik sekarang kita pulang, Mas." Zety beranjak bangun dan hendak pergi. Namun, dengan gerakan cepat Gatra segera menahannya.
"Duduk dulu. Akan aku katakan sekarang juga," pinta Gatra. Zety pun duduk kembali dan berusaha tetap terlihat tenang meskipun dalam hati berdebar tak karuan. Bayangan ucapan Margaretha begitu mengusik pikirannya.
"Kalau kamu masih diam, aku akan benar-benar pulang, Mas," ucap Zety mengancam.
Gatra menghela napas panjang lalu mengembuskan secara cepat. "Jadi gini, Zet, aku ...."
β’β’β’β’
Eng ing Eng π π
Hayo loh Mas Gatra mau ngomong apa?
Jangan-jangan .....
Othor mencintai kalian πππ₯°π₯°ππ
Lanjut gak nih?
__ADS_1