
Setelah satu bulan meliburkan diri, Zety mulai bekerja kembali ketika lukanya benar-benar telah sembuh. Padahal Bram sudah melarang dan ingin sekali Zety mulai mengelola bisnisnya, tetapi Bram sadar kalau dirinya tidak seharusnya memaksa gadis itu sekarang. Jika terlalu dipaksa, Bram khawatir Zety akan kembali menjauh darinya.
"Kamu yakin semua hartaku sudah atas nama Zety Kirania? Jangan sampai ada yang terlewat satu pun," kata Bram pada Kiano—anak buah kepercayaan Bram.
"Sudah, Tuan." Kiano membungkuk hormat. "Tuan, saya benar-benar minta maaf karena sudah menyakiti putri Anda." Kiano tampak menyesal saat teringat dirinya yang tanpa sadar menembak Zety karena khawatir gadis itu akan menyakiti Bram.
Senyum Bram mengembang dan menepuk bahu Kiano tanda bangga, "Aku salut padamu. Aku tahu kamu melakukanbhal itu semata-mata hanya untuk menjagaku, tapi sebentar lagi tugasmu akan berpindah. Bukan aku lagi yang harus kamu jaga, tapi Zety."
"Kenapa begitu, Tuan? Saya sudah berjanji pada almarhum papa akan menjaga Anda sampai kapan pun." Kiano menatap Bram dengan begitu menuntut.
"Ki, aku tidak tahu sampai kapan nyawaku masih ada. Jika waktunya nanti tiba, aku ingin sudah ada lelaki baik dan bertanggung jawab yang bisa menjaga Zety. Kelak, saat aku pergi, maukah kamu menjaga Zety dengan segenap jiwa dan ragamu? Jangan pernah kamu sakiti dia sekalipun." Bram menghela napas panjang. Kiano membungkam rapat mulutnya. Hanya melihat gurat sendu yang memenuhi lelaki paruh baya itu.
"Tuan, saya tidak tahu harus menolak atau menerima. Saya tidak mengenal putri Anda dengan baik." Suara Kiano terdengar berat. Jangankan mengenal, Kiano saja baru tahu kalau Zety adalah putri Bram kemarin karena Bram mengatakan kalau putrinya sudah meninggal bersama dengan istrinya.
"Nanti lama-lama kamu akan mengenalnya. Aku mohon, Ki. Aku menaruh harapan besar padamu." Bram begitu meminta. Meskipun berat, Kiano hanya mengangguk mengiyakan. Biarlah urusan esok dijalani sesuai jalannya.
Bram melirik jam tangan lalu beranjak bangun saat menyadari sudah waktunya Zety pulang kerja. Bram pun mengajak Kiano untuk menjemput ke Restoran Gama. Kiano merasa sedikit enggan, tetapi dia juga tidak mungkin menolak perintah bos yang juga merupakan sahabat kecil papanya.
__ADS_1
Selama dalam perjalanan ke restoran, banyak hal yang dibicarakan oleh Bram. Termasuk rasa bahagia lelaki itu karena Zety mau memaafkan dan memberi kesempatan baginya untuk memperbaiki semuanya. Kiano pun turut bahagia saat mendengar semua itu. Mobil yang dikendarai Kiano berhenti tepat di depan restoran. Bertepatan pula Zety keluar dari restoran bersama Margaretha dan Andra.
Melihat sang papa, Zety tidak langsung menyambut lelaki itu. Dia masih merasa sedikit canggung jika harus sangat akrab. Bram pun mendekati sang putri dan mereka bertiga langsung menyalami Bram bergantian.
"Kalian baru pulang?" tanya Bram lembut.
"Iya, Om." Margaretha menjawab antusias, sedangkan Zety terlihat sedikit bermalasan.
"Kamu kenapa, Zet?" tanya Bram, menatap heran ke arah sang putri.
"Tidak papa, Pa. Aku jenuh aja di rumah." Zety menjawab malas.
Margaretha melambaikan tangan saat mobil tersebut berlalu pergi dari restoran. Ada perasaan haru yang Margaretha rasakan hingga tanpa sadar air matanya hendak menetes. Entah mengapa, Margaretha jadi sangat merindukan kedua orang tuanya. Andai mereka masih ada mungkin hidup Margaretha lebih bahagia daripada sekarang.
"Kamu kenapa?" tanya Andra mengejutkan Margaretha. Gadis itu menoleh dan mencebik kesal di depan Andra.
"Jangan bikin gue kaget bisa enggak!" Margaretha berbicara ketus, tetapi Andra justru tersenyum miring.
__ADS_1
"Aku berbicara sesantai ini saja kamu sudah terkejut. Bagaimana kalau aku berteriak? Mungkin kamu bisa mati karena penyakit jantung," ucap Andra santai tanpa peduli pada Margaretha yang sudah mendelik ke arahnya.
"Lu laki, tapi kalau ngomong pedes banget. Udah kek bubuk cabe level dewa. Mendingan pulang aja, stres gue lama-lama deket elu!" Margaretha hendak pergi, tetapi Andra langsung mencekal tangannya. Margaretha hendak mengomel lagi. Namun, saat melihat sorot mata Andra yang begitu susah dijelaskan, Margaretha pun terdiam. Membungkam mulutnya rapat-rapat.
"Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Aku yakin kalau orang tuamu sudah bahagia di surga," kata Andra. Margaretha tersentak mendengar ucapan Andra. Tatapannya ke arah Andra begitu menuntut.
"Darimana kamu tahu orang tuaku sudah meninggal?" tanya Margaretha sangat menuntut jawaban. Namun, bukannya menjawab Andra justru mengajak Margaretha untuk segera pulang tanpa peduli pada gadis itu yang terus mendesaknya.
"Ndra! Jawab!" Margaretha setengah berteriak.
"Dari Zety. Dah, puas? Mendingan sekarang kita pulang sebelum hujan deras. Lihatlah, langit sudah sangat mendung seperti wajahmu yang jelek itu," ledek Andra. Dia mengaduh saat pukulan tangan Margaretha mendarat di lengannya. Bibir gadis itu terus menggerutu sembari naik ke atas motor dan duduk belakang Andra.
"Sudah?" tanya Andra saat Margaretha sudah duduk tenang di belakangnya.
"Sudah apanya?" Margaretha menjawab kesal.
"Kalau sudah turun lah." Andra terkekeh. Margaretha mengumpat dan hendak protes. Namun, dengan jahilnya Andra menarik gas hingga Margaretha yang terkejut secara otomatis memeluk Andra. Senyum Andra merekah dan terus melajukan motornya tanpa peduli pada omelan dan tepukan tangan Margaretha di punggungnya.
__ADS_1
'Belum saatnya kamu tahu semuanya, Mar. Biarlah untuk saat ini aku akan menjagamu.'