Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
14


__ADS_3

Zety merentangkan kedua tangan untuk melemaskan otot yang terasa kaku. Lalu melirik jam dinding dan terkejut saat dirinya menyadari kalau sudah terlelap lebih dari lima jam. Bahkan, Zety sama sekali tidak tahu jam berapa Margaretha berangkat. Merasa malas dan lelah, bukannya bangun Zety justru menarik selimut sampai sebatas leher lalu memejamkan mata lagi. Dia akan tidur seharian untuk balas dendam atas perjalanan jauh semalam yang membuat seluruh tubuhnya terasa seperti patah.


Namun, baru saja memejamkan mata Zety dibuat terkejut saat ponselnya yang masih berada di dalam tas selempang tiba-tiba berbunyi. Dengan sengaja Zety tidak mengacuhkan panggilan itu dan tetap berusaha untuk terlelap. Akan tetapi, seolah tanpa lelah terus saja berbunyi hingga akhirnya Zety mendecakkan lidah dan mengumpati siapa saja yang sedang menghubunginya saat ini.


Kening Zety mengerut dalam saat melihat nomor asing menghubunginya. Zety merasa ragu, tetapi karena merasa penasaran akhirnya dia pun menerima panggilan itu dan tidak langsung membuka suara.


"Jangan ganggu kekasihku atau aku akan membunuhmu!"


Zety terkejut saat mendengar suara dari seberang telepon. Baru saja hendak membuka suara, panggilan justru sudah terputus begitu saja. Zety menatap layar ponselnya lalu berusaha menghubungi nomor tersebut. Namun, panggilan justru berada di luar jangkauan.


Bibir Zety terus saja menggerutu, mengumpati siapa saja yang barusan menghubunginya. "Memang dia pikir dia siapa? Kenal juga kagak pakai ngancem segala macam. Ish! Nyebelin!" Dengan kasar Zety melempar ponselnya ke kasur lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri memakai air hangat. Dia tidak akan pernah bisa tidur lagi kalau moodnya sudah buruk.


Baru saja selesai membersihkan diri, tiba-tiba Zety dikejutkan dengan suara pecahan kaca dari ruangan depan. Zety pun bergegas memakai handuk lalu berganti baju terlebih dahulu karena tidak mungkin dia keluar hanya memakai handuk.


Mata Zety sontak terbuka lebar saat melihat kaca depan telah pecah dan serpihannya berantakan sampai ke sofa. Zety menggeram dan membuka pintu dengan kencang untuk melihat siapakah gerangan yang sudah melakukan hal itu.


"Sialan! Oe! Keluar!" teriak Zety tanpa peduli pada tatapan heran dari beberapa orang yang lewat depan rumah kontrakan tersebut. Namun, tidak ada tanda-tanda seorang pun yang mencurigakan. Zety pun menghentakkan kaki lalu kembali masuk.


"Ini apaan?" gumam Zety saat melihat sebuah kertas dan ketika dibuka ada sebuah batu di dalamnya. Zety pun terkejut membaca tulisan di kertas itu.

__ADS_1


'JAUHI KEKASIHKU ATAU NYAWAMU YANG AKAN JADI TARUHANNYA!"


"Astaga. Sepertinya ada yang mau main-main. Gue yakin kalau ular yang berada di kamar Margaretha pun perbuatan orang itu," gumam Zety.


Dia beranjak bangkit lalu masuk ke kamar dan memesan kaca jendela. Bahkan, Zety meminta kepada pegawai itu untuk memasang sekalian agar Margaretha tidak curiga. Zety khawatir Margaretha akan ketakutan jika tahu ada yang menerornya saat ini.


***


Di rumah Gatra sedang ramai karena ada acara makan malam antara keluarga Gatra dan Shifa. Bahkan, itu bukan hanya makan malam biasa. Mereka juga membahas soal pertunangan yang akan dilangsungkan dua minggu lagi. Gatra hendak menolak, tetapi dia terdiam saat melihat tatapan Maria yang seolah menyuruhnya untuk diam.


"Mas Gatra kenapa tidak semangat?" tanya Shifa saat mereka sedang duduk di taman belakang setelah makan malam selesai.


"Mas Gatra kemarin ke luar kota sama siapa? Katanya sama cewek ya?" tanya Shifa, mengalihkan perhatian Gatra yang langsung menatap gadis itu. Melihat tatapan Gatra itu, Shifa tampak sangat gugup.


"Dari mana kamu tahu?" tanya Gatra penuh selidik.


"Emm ... dari Tante Maria." Shifa menjawab cepat agar Gatra tidak curiga.


"Oh. Itu cuma karyawan aku di restoran." Gatra mendudukkan tubuhnya di kursi dan disusul Shifa yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Kenapa Mas Gatra justru mengajak karyawan di restoran bukan mengajakku. Padahal aku yang lebih berhak ikut Mas Gatra bukan cewek kampungan itu," ujar Shifa. Gatra menoleh dan menatap Shifa tajam.


"Kamu bilang apa?" Suara Gatra sedikit meninggi. Shifa pun kembali terlihat gugup dan takut.


"Em, Mas ...." Shifa menghentikan ucapannya. Merasa takut Gatra akan memarahinya. Namun, dia merasa kalau saat ini sangat berhak mengatur Gatra karena status mereka yang sebentar lagi akan menjadi tunangan. "Kita ini bentar lagi mau tunangan. Seharusnya kamu sedikit mengurangi interaksi kamu dengan cewek lain karena hal itu akan buat aku cemburu."


"Jangan mengaturku! Aku bertunangan dengan kamu karena perintah orang tuaku. Jadi, jangan pernah berharap lebih karena hatiku sudah ada yang memiliki." Gatra berbicara tegas. Lalu beranjak bangun dan bergegas masuk. Meninggalkan Shifa yang hanya menatap kepergiannya.


"Kamu lihat saja, Mas. Apa pun caranya aku akan membuat kamu jatuh cinta padaku dan menyingkirkan wanita mana pun yang akan merebutmu dari hidupku!" Shifa mengepalkan tangan lalu bergegas masuk untuk menyusul Gatra sebelum kedua orang tua mencarinya.


•••••


Adakah yang merindukan Othor?


Mohon maaf karena kisah ini harus terjeda cukup lama. Mulai sekarang, Othor usahakan rajin update ya


thank'b banget buat kalian yang masih setia sama Othor.


love you guys 😘😘

__ADS_1


__ADS_2