
Suasana di ruangan itu terasa mencekam. Zahra dan Margaretha duduk di samping Zety dan berusaha menenangkan gadis itu, sedangkan Bram masih mematung di tempatnya. Ingin sekali dia berjalan mendekat, tetapi melihat sorot mata Zety yang menatapnya penuh benci membuat Bram meragu.
"Maafkan papa." Suara Bram terdengar penuh penyesalan.
Zety tergelak keras hingga mengejutkan semua orang. "Papa? Hahaha. Kenapa kamu plin-plan sekali? Bukankah kamu sendiri yang menyuruhku untuk tidak memanggilmu papa?"
"Suk, tenanglah." Margaretha mengusap lengan sahabatnya saat melihat emosi gadis itu yang hendak meledak.
"Papa khilaf. Papa sadar kalau papa sangat bersalah selama ini. Papa sangat menyesal." Bram maju perlahan. Kali ini dia tidak peduli pada larangan Zety.
"Pergilah! Aku muak! Kamu pikir rasa sesal dan maafmu itu bisa mengembalikan hati seorang anak yang telah hancur karena ucapan dan sikap orang tuanya? Tidak akan!" Suara Zety menggelegar di ruangan itu. Gadis itu sedikit meringis saat merasakan nyeri di perut bekas tembakan.
"Tenang, Suk. Elu harus banyak istirahat." Zahra berusaha menenangkan.
"Tuan, maaf bukan maksud saya ingin mengusir Anda. Tapi, bisakah Anda pergi untuk saat ini. Biarkan Zety beristirahat dan tenang terlebih dahulu." Rasya yang sedari tadi diam kini berbicara sopan. Bram menatap Rasya dengan penuh memelas. Bram pun berjalan keluar ruangan saat Rasya memberikan kode kepada lelaki itu.
Bram berdiri di depan ruangan bersama dengan Rasya. Jujur, Rasya merasa tidak tega saat melihat gurat kesenduan yang memenuhi wajah Bram, tetapi saat mendengar semuanya tentang sikap Bram kepada Zety selama ini membuat Rasya sedikit emosi kepada lelaki itu. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran Bram.
__ADS_1
"Kamu yakin bisa membujuk Zety, Nona?" tanya Bram, memecah keheningan.
"Saya usahakan. Asal Anda berjanji tidak akan menyakiti hati ataupun fisik sahabat saya lagi."
"Ya, aku sangat menyesal. Sudah keterlaluan selama ini." Bram mendes*hkan napas ke udara secara cepat.
Rasya menghela napas panjangnya, "Tuan, saya harap Anda memang benar-benar menyesal. Saya tahu kalau sikap dan ucapan Anda sudah sangat keterlaluan. Bukannya saya mau ikut campur, tetapi saya hanya tidak mau ada orang yang menyakiti sahabat saya. Bagi saya, mereka bertiga adalah harta berharga yang harus saya jaga." Rasya menghentikan ucapannya.
"Saya tidak tahu kalau ternyata masa lalu Zety sangat menyakitkan seperti ini dan jujur, saya membenci sikap Anda. Tidak ada yang namanya anak pembawa sial. Tidak ada yang namanya anak lahir membunuh ibunya. Pada dasarnya semua sudah jalan dari Tuhan. Bukankah setiap manusia akan mengalami kematian dengan jalan yang berbeda?"
"Tuan, seberapa cinta pun Anda pada istri Anda. Kalian pasti akan berpisah suatu saat kelak. Meskipun istri Anda tidak melahirkan Zety. Saya sangat menyayangkan sikap Anda sebagai seorang ayah yang sangat tidak baik. Tapi, saya juga sadar kalau setiap manusia pasti memiliki kesalahan dan mereka punya kesempatan untuk memperbaiki semuanya." Rasya menghela napas panjang dan mengembuskan secara perlahan.
"Ya, aku sangat menyesal dan ingin sekali memperbaiki semuanya. Saat Zety memelukku kemarin hati kecilku langsung tergugah. Tapi, aku tidak tahu sekarang harus bagaimana. Zety pasti tidak akan pernah memaafkanku." Bram mengusap wajah kasar. Merasa pasrah pada semuanya.
"Tuan, semua butuh waktu. Kalau memang Anda ingin memperbaiki semuanya maka akan saya bantu. Tapi mungkin akan butuh waktu lama karena menyembuhkan hati yang sakit tidak semudah membalik telapak tangan." Rasya merasa tidak tega apalagi saat melihat raut penyesalan memenuhi wajah Bram.
"Kamu yakin akan membantuku?" Bram menatap Rasya disertai senyum semringah. Sangat berharap Rasya benar-benar akan membantunya.
__ADS_1
"Tentu. Nanti akan saya bantu." Rasya pun tersenyum simpul. Bram mengucap syukur dan kata terima kasih berkali-kali. Setelahnya, Rasya meminta Bram untuk jangan mendekat selama beberapa hari sampai Zety tenang. Bram yang awalnya ragu pun pada akhirnya hanya bisa setuju.
***
Setelah hampir dua minggu di rumah sakit, Zety diperbolehkan pulang. Rasya meminta Zety untuk tinggal di rumahnya sampai benar-benar sembuh, tetapi Zety menolak dan lebih memilih untuk tetap tinggal di kontrakan.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Gatra yang sedang berkunjung ke rumah. Kebetulan Zety hanya di rumah sendirian. Zety tersenyum dan mengangguk perlahan. "Kalau begitu banyaklah istirahat agar tubuhmu segera pulih."
"Makasih banyak atas perhatiannya, Mas."
"Tidak perlu berterima kasih. Sudah kewajibanku ...." Gatra terdiam sesaat. Menatap Zety lekat.
"Kewajiban bagaimana, Mas?" tanya Zety, menaruh harapan pada ucapan Gatra.
Gatra sedikut tergagap, "Bagaimanapun juga kamu adalah salah satu karyawanku. Jadi, sudah sepatutnya aku memperhatikanmu," lanjutnya.
Zety terdiam saat merasakan nyeri di hatinya mendengar ucapan Gatra. "Seharusnya kamu sadar diri siapa kamu, Suk," batin Zety. Menahan air mata sekuat tenaga agar tidak terjatuh.
__ADS_1