Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
49


__ADS_3

Tiga kali suara tembakan membuat langkah gadis itu terhenti di anak tangga terakhir. Dia menutup mulut dan menatap tak percaya saat kedua orang tuanya sudah tidak lagi sadarkan diri dengan luka tembak yang tepat mengenai jantung mereka.


"Papa! Mama!" teriaknya. Berlari mendekat tanpa takut pada orang-orang yang masih berdiri dengan jarak dekat dan pistol di tangan mereka.


"Bangun, Pa! Ma! Paman!" tangisnya tersedu. Tidak ada yang berani mendekati gadis itu termasuk anak buah papanya. Seorang lelaki yang berdiri di depan gadis itu pun terlihat tersenyum puas. "Jangan tinggalin Etha sendirian. Bangun! Etha mohon." Dia menggoyangkan tubuh mereka yang sudah mulai memucat.


"Orang tuamu sudah mati! Dan semua hartanya sekarang menjadi milikku! Haha!" Lelaki dengan senyum jahat itu menatap puas. Gadis itu pun beranjak bangun dan berjalan mendekatinya tanpa rasa takut.


"Bunuh aku! Kenapa kamu tidak bunuh aku sekalian!" teriaknya.


"Untuk apa aku membunuhmu? Justru aku ingin melihat kamu hidup menderita! Dan biarkan orang tuamu menangis dari neraka sana! Hahaha! Pergilah dari sini, bocah ingusan!" Lelaki itu mendorong kasar hingga gadis itu jatuh tersungkur di lantai. Tidak peduli pada tangisannya, anak buah lelaki tersebut menyeret gadis itu keluar dari ruang mewah tersebut, sedangkan tiga orang yang masih terkapar di lantai ikut dibawa pergi.


Tidak ada yang menyakitkan selain kepergian orang yang kita sayang. Ketika dirinya masih membutuhkan kasih sayang dan pelukan, gadis itu justru harus merasakan trauma yang teramat dalam saat melihat kedua orang tuanya dan orang kepercayaan sang papa harus tertembak di depan mata kepalanya sendiri. Tidak ada yang dia punya saat ini. Bahkan, semua harta kini telah dimiliki oleh orang jahat tadi. Di pemakaman kedua orang tuanya, gadis itu menangis meraung. Memeluk batu nisan keduanya sangat erat dan tidak mau terpisahkan, sedangkan anak buah kepercayaan sang papa dibawa ke kampung halamannya di sebuah desa yang cukup terpencil di pinggiran kota.


Flashback off


"Hikss, Pa ... Ma ... aku kangen kalian." Margaretha memeluk guling dengan sangat erat. Membayangkan dirinya sedang memeluk kedua orang tuanya saat ini. Air mata sudah membasahi guling tersebut, tetapi Margaretha tidak peduli dan tetap menangis untuk meluapkan beban yang terasa berat menghimpitnya.


Setelah cukup puas menangis, Margaretha berusaha untuk memejamkan mata. Agar hatinya makin tenang. Namun, tiba-tiba ponselnya berdering. Margaretha segera mengambil dan mendes*h kasar saat melihat nama Andra tertera di layar. Margaretha menolak panggilan tersebut karena tidak mau Andra tahu dirinya sedang menangis saat ini.


Ting!


Sebuah pesan masuk. Margaretha terkejut saat membaca pesan dari Andra yang mengatakan kalau lelaki itu sudah berada di depan rumah dan mengancam akan membakar rumah tersebut kalau sampai Margaretha tidak mau membukanya. Margaretha pun turun dari tempat tidur dan mengintip dari jendela. Benar saja, Margaretha melihat motor Andra sudah terparkir di bawah pohon mangga. Dengan bergegas Margaretha ke kamar mandi terlebih dahulu untuk mencuci muka. Baru setelah itu dia membukakan pintu untuk Andra.


"Lu ngapain ke sini?" tanya Margaretha ketus. Wajahnya memang tampak lebih segar, tetapi matanya yang sembab tidak bisa menutupi semuanya. Andra pun melihatnya dengan seksama hingga membuat Margaretha salah tingkah sendiri.

__ADS_1


"Kamu tidak mempersilakan tamu untuk masuk?" tanya Andra setengah menyindir tanpa menjawab pertanyaan Margaretha.


"Ish!" Margaretha berdecak kesal lalu membuka pintu lebar dan membiarkan lelaki itu agar masuk dan menyuruhnya untuk duduk.


"Kamu tidak menyuguhi tamu dengan teh panas?" sindir Andra lagi, menyela Margaretha yang barusan hendak berbicara.


"Bilang aja kalau elu mau minta teh panas." Dengan langkah sedikit menghentak, Margaretha masuk ke dapur dan selang beberapa menit keluar lagi sembari membawa secangkir teh panas.


"Kamu tidak minum?" tanya Andra saat Margaretha sudah kembali duduk di tempat semula.


"Kagak." Margaretha menjawab singkat.


"Kamu menangis?" tebak Andra. Zety mendadak gugup dan memalingkan wajah untuk menghindari tatapan Andra. "Tidak perlu berbohong. Aku tahu kamu pasti habis menangis."


"Bukan sok tahu, tapi apa yang aku katakan memang benar bukan? Tatapanmu tidak bisa berbohong." Andra masih terus menatap Margaretha yang tidak berani menatapnya sama sekali. "Kalau punya masalah atau beban yang terasa berat. Ceritakanlah padaku. Meskipun nantinya aku tidak bisa membantu, tapi setidaknya hatimu menjadi sedikit lega."


"Emangnya sedekat apa hubungan kita sampai lu berani nyuruh gue buat curhat sama elu." Margaretha berbicara ketus. Entah kenapa setiap kali berbicara dengan Andra, Zety sudah merasa dongkol sendiri terlebih dahulu. Apalagi mulut Andra yang sering pedas membuatnya merasa malas dengan lelaki itu.


"Jadi cewek jangan terlalu judes. Kalau tidak laku ntar nangis-nangis. Katanya cowok itu cuma pilih cewek yang cakep. Padahal ya, cewek cantik pun kalau judesnya kaya Mak Lampir, mending kita nyari yang lain aja." Andra terkekeh apalagi saat melihat Margaretha yang sedang mendelik ke arahnya.


"Lu kalau ke sini cuma mau jadi julidin gini, mending pergi deh, Ndra. Gue males," usir Margaretha.


"Gitu aja marah. Katanya kalau marah itu nanti cantiknya luntur." Andra masih saja meledek. Seolah wajah Margaretha yang kesal itu menjadi hiburan tersendiri untuknya. "Sebenarnya aku ke sini mau ngajak kamu ketemu seseorang."


"Seseorang? Siapa?" tanya Margaretha tidak sabar.

__ADS_1


"Ya, pokoknya ada. Makanya lebih baik sekarang kita berangkat karena perjalanan cukup jauh."


"Emangnya mau ke mana, Ndra? Jangan bilang elu mau nyulik gue!" tukas Margaretha.


"Pede amat," decak Andra.


Selanjutnya, Andra pun memaksa Margaretha untuk bersiap dan mereka benar-benar melakukan perjalanan jauh. Margaretha terus saja bertanya ke mana mereka akan pergi, tetapi Andra hanya menjawab dengan gelengan kepala. Membuat Margaretha akhirnya hanya pasrah dan berharap Andra tidak melakukan hal yang buruk kepadanya.


Empat jam lebih perjalanan, motor Andra sudah memasuki sebuah pedesaan. Margaretha merasa pernah berkunjung ke desa tersebut, tetapi dia lupa kapan waktunya. Motor Andra terus melaju melewati rumah-rumah yang masih tampak sederhana. Lalu berhenti di rumah paling ujung. Sebuah rumah berlantai satu dan tampak terawat.


"Ini rumah siapa, Ndra?" tanya Margaretha penasaran. Andra tidak menjawab dan justru mengajak Margaretha untuk segera masuk.


"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," kata Andra saat membuka pintu tersebut.


"Siapa?" tanya Margaretha lagi. Andra masih tidak menjawab. Margaretha pun berjalan di belakang Andra sembari terus menggerutu. Namun, saat sampai di ruang tengah Margaretha terkejut saat melihat seseorang yang sedang duduk di sebuah kursi. Wajah yang sangat tidak asing bagi Margaretha meskipun lebih kurus dan terlihat lebih tua dari umurnya.


"Pa-Paman."


Lelaki itu menoleh dan menatap penuh rindu ke arah Margaretha. Dengan langkah berlari Margaretha mendekati lelaki itu lalu memeluknya erat.


"Paman ... benarkah ini kamu? Aku tidak bermimpi 'kan?" Margaretha terus mengulangi pertanyaan itu tanpa melepaskan pelukannya.


"Tidak, Nona Muda. Ini memang saya," jawabnya.


Margaretha makin mengeratkan pelukannya. Dia menangis tersedu begitu juga dengan lelaki itu. Bahkan, Andra yang berdiri di belakang mereka pun ikut menyeka air mata. Melihat pemandangan yang mampu membuat hatinya terasa berdesir.

__ADS_1


__ADS_2