
Setibanya di rumah sakit, Kiano langsung menuju ke tempat Bram. Lelaki itu segera masuk saat Bram memintanya. Saat Kiano masuk, suasana di ruangan tersebut mendadak hening. Zety yang sedang duduk di samping Bram pun hanya terdiam karena dirinya masih merasa enggan untuk berbicara.
"Margaretha sudah sampai di rumah?" tanya Bram mencairkan suasana. Pertanyaan itu seharusnya dilontarkan oleh Zety karena dia merupakan sahabat Margaretha.
"Sudah, Tuan." Kiano menjawab sopan.
"Syukurlah. Ki, besok bersiaplah untuk ijab kabul dengan putriku," ucap Bram.
Kiano tersentak. Menatap Bram dan Zety bergantian. Tatapan lelaki itu terlihat tidak percaya. "Ma-maksud Anda, Tuan?"
Bram tersenyum saat melihat Kiano yang sedang berusaha mengumpulkan kepingan-kepingan rasa percaya yang sempat terpecah.
"Zety sudah setuju menikah denganmu dan besok kalian akan melangsungkan ijab kabul," terang Bram. Memperjelas ucapannya. Tatapan Kiano pun mengarah pada Zety. Berusaha mencermati wajahnya gadis itu. Namun, Zety seolah tidak terusik sama sekali dan bersikap tak acuh pada Kiano.
"Apa Anda yakin dengan keputusan Anda tersebut, Nona?" tanya Kiano. Mengalihkan perhatian Zety hingga tatapan mereka berdua pun akhirnya bertemu sesaat karena Zety langsung memalingkan wajahnya. "Kenapa Anda tidak menjawab, Nona?" Kiano kembali melontarkan pertanyaan.
Zety menghirup napas dalam lalu mengembuskan dengan cepat. "Ya, gue udah setuju bakal nikah sama lu asal papa lekas sembuh." Suara Zety terdengar bermalasan.
"Baiklah. Saya akan setuju, tapi dengan satu syarat."
"Syarat apa? Tinggal iya, kenapa lu malah jadi ribet banget, sih!" Zety berbicara ketus. Tanpa peduli pada Bram yang saat ini menggeleng melihat sikap Zety kepada Kiano.
Bukannya kesal, Kiano justru menarik sebelah sudut bibirnya, tersenyum miring. "Setelah ijab kabul dilangsungkan maka kita akan selamanya menjadi suami-istri dan sampai kapan pun tidak akan pernah ada kata cerai untuk kita." Kiano berbicara tegas.
__ADS_1
"Kenapa begitu? Kata Papa kalau kita tidak cocok maka kita bisa bercerai." Zety mencebik kesal. Kedua tangannya bersidekap seperti anak kecil yang sedang merajuk.
"Terserah Anda, Nona. Saya bersedia menikahi Anda asal syarat dari saya terpenuhi. Saya yakin kalau Tuan Bram pasti akan setuju." Kiano tersenyum licik melihat kekesalan memenuhi wajah Zety.
"Pa ...."
"Terima saja syarat dari Kiano." Ucapan Bram justru makin menambah kekesalan Zety. Namun, Zety pun akhirnya setuju. Tidak mungkin dia mengingkari apa yang baru saja dia sanggupi. Kiano dan Bram pun tersenyum puas.
Setelah Zety setuju, pernikahan mereka rencananya akan digelar besok pagi jam sepuluh. Bahkan, Bram meminta pulang ke rumah karena tidak mungkin dirinya menikahkan Zety di rumah sakit. Zety sudah melarang dan meminta Bram tetap di rumah sakit sampai kesehatan lelaki itu benar-benar stabil. Namun, Bram justru menolak dan memperkerjakan seorang perawat ke rumah.
***
Zety sejak tadi hanya berguling-guling di kasur. Merasa gelisah dan terus terbayang esok hari. Meyakinkan hatinya kalau memang semua keputusan yang dia ambil sudah tepat. Untuk saat ini, Zety hanya berdoa semoga Kiano memang benar lelaki terbaik sesuai kata sang papa. Susah tertidur Zety pun segera melakukan panggilan grup dengan ketiga sahabatnya.
Satu panggilan tidak ada yang menjawab, dan di menit selanjutnya wajah ketiga sahabat Zety pun mulai terlihat di layar ponsel. Mereka bertiga sama-sama berdecak kesal karena Zety mengganggu mereka yang sedang tertidur lelap. Bahkan, Rasya terlihat sedang menyusui bayinya.
"Kalian udah pada tidur ya?" Zety bertanya pelan. Menunjukkan raut tidak bersalah.
"Menurut lu? Gue bahkan baru aja tidur lima menit lalu." Margaretha menguap karena rasa kantuk yang masih menyerang.
"Baiklah. Gue cuma mau ngasih tahu satu hal sama kalian. Setelah itu kalian boleh tidur lagi."
"Hal apa sih, Suk? Emang kagak bisa besok?" Suara Rasya terdengar seperti orang berbisik karena khawatir akan membangunkan bayinya.
__ADS_1
"Kagak. Ini penting banget. Besok kalian datang ke rumah gue ya. Gue mau ada acara." Zety terlihat ragu-ragu. Dia menatap ketiga sahabatnya yang mulai terlihat mengantuk lagi.
"Acara apa?" tanya Zahra penasaran.
"Gue undang kalian buat datang ke pernikahan gue dengan Kiano besok."
"Apa!" Mereka bertiga memekik bersamaan. Namun, Rasya langsung duduk karena Baby Bisul menangis terkejut mendengar teriakan Rasya.
"Makanya, Ra. Kalau teriak itu dikondisikan," protes Zety. Tidak sadar kalau dirinya yang menyebabkan Rasya berteriak.
"Habisnya elu bikin kaget, Suk." Mata Zahra terbuka lebar. Ucapan Zety membuat rasa kantuknya hilang seketika.
"Lu kagak bercanda, Suk? Bakal nikah besok? Kenapa mendadak sekali?" Margaretha melontarkan beberapa pertanyaan sebagai tanda rasa tidak percayanya.
"Iya, gue cuma nurutin keingian papa. Supaya dia lekas sembuh. Lagian, papa bilang kalau nanti kita enggak cocok maka gue bisa cerai sama Kiano," terang Zety.
"Aje gile, belum juga nikah udah bahas cerai. Kagak baik loh, Suk," nasehat Zahra.
"Iya, Suk. Kalau lu cerai sama Kiano, gue siap buat nampung Mas Tampan kok, Suk," celetuk Margaretha.
"Markonah!!" Zety dan Zahra sama-sama mendelik ke arah sahabatnya. Margaretha justru menunjukkan rentetan gigi putihnya.
Zety pun menceritakan semuanya panjang lebar soal pernikahannya dengan Kiano yang mendadak dan harus besok. Meskipun ketiga sahabatnya tidak percaya, tetapi mereka berusaha untuk mendukung dan percaya kalau Kiano dan Zety akan saling mencintai dan hidup bahagia selamanya. Tidak ada yang dilakukan Zety selain mengamini doa-doa mereka.
__ADS_1
Setelah cukup lama mereka berbincang, panggilan itu pun terputus karena malam sudah larut. Zety menaruh ponselnya di atas tempat tidur dan menghela napas panjangnya berkali-kali.
"Huh! Semoga keputusanku tidak pernah salah," gumam Zety. Berusaha memejamkan mata agar besok tidak kesiangan.