
Zety dan para sahabatnya berada di depan ruang bersalin menunggu Rasya yang sedang bertaruh nyawa melahirkan putranya. Mereka semua harap-harap cemas dan memanjatkan doa agar diberi kelancaran untuk semuanya. Pandu tampak gelisah. Tidak tega saat melihat Rasya sedang menahan rasa sakit. Rasya tidak mengeluh sedikit pun. Namun, wanita itu sesekali mencengkeram sprei saat perutnya kontraksi.
"Kamu yakin tidak ingin caesar saja?" tanya Pandu lagi. Dia tidak tahan melihat Rasya yang sedang menahan rasa sakit.
"Tidak. Lagi pula sudah pembukaan tujuh mana bisa operasi. Aku yakin pasti bisa dan akan melahirkan anak yang lucu untukmu." Rasya tersenyum simpul. Berusaha terlihat baik-baik saja. Pandu pun menciumi wajah Rasya dan menyemangati istrinya.
Sementara itu di luar ruangan sedikit gaduh dengan kehadiran tiga sahabat somplak. Zety mencebik kesal berkali-kali saat melihat Zahra yang terus saja mondar-mandir di depannya. Saking gemasnya, Zety pun menarik tangan Zahra hingga terduduk di kursi tepat di sebelahnya.
"Apaan sih, Suk!" protes Zahra. Melepaskan cekalan tangan Zety.
"Elu bisa duduk kagak, Zae? Pusing pala gue lihat elu jalan mulu." Zety sedikit sewot, sedangkan Margaretha yang duduk di samping Zety langsung berpindah duduk di tengah mereka.
"Kalian jangan berantem mulu. Mendingan sekarang kita diem dan doain Kurap biar persalinannya lancar." Margaretha menengahi mereka. Zety dan Zahra pun sama-sama menutup mulut rapat.
Setengah jam berlalu, tetapi belum ada tanda-tanda suara tangis bayi. Ketiga sahabat itu pun makin merasa cemas dan gelisah.
"Kenapa Kurap lama banget," rengek Zety. Tidak sabar dan hampir saja menangis, tetapi Margaretha langsung memeluknya.
"Doa kita kurang kenceng kayaknya," usul Zahra. Ikut berpelukan.
"Ya Tuhan. Semoga Kurap bisa lancar melahirkan Baby Bisul! Keponakan kami yang paling tampan." Zety berteriak lantang.
"Aamiin!" Margaretha dan Zahra membalas tak kalah kerasnya. Para lelaki yang di sana pun hanya bisa menggeleng dengan kelakuan absurd tiga sahabat itu.
Oee oeee
"Eh dengerin," kata Margaretha meminta mereka untuk diam sesaat. "Ada tangisan bayi."
Mereka pun diam dan menajamkan pendengarannya. Setelah mendengar suara tangis bayi lagi, mereka bersorak kegirangan dan saling bertepuk tangan.
"Akhirnya, doa kita dikabulkan." Margaretha merasa bahagia
"Keponakan kita lahir juga," imbuh Zety.
"Rasanya gue enggak sabar mau jadiin dia anak mantu gue. Aduh!" Zahra mengaduh sembari mengusap bekas tonyoran tangan kedua sahabatnya.
__ADS_1
"Kalau ngomong asal mangap aja elu, Zae. Baru juga lahir belum ada lima menit udah mau jadiin anak mantu aja," cebik Zety. Menatap sebal ke arah sahabatnya.
"Mas ... mereka jahat padaku," kata Zahra. Mendekati Arga dan langsung memeluk lelaki itu. Arga hanya menggeleng dan mencium puncak kepala Zahra penuh cinta.
"Biarkan saja," ucap Arga.
"Hiksss ... Zae, gue bisa minta tolong sama elu kagak? Jangan bikin kita para jomlowati jadi pengen pindah ke Mars gegara lihat kalian," cebik Zety. Margaretha mengangguk mengiyakan. Bukannya kasihan, Zahra justru makin gentol memanasi mereka dengan menciumi Arga tanpa malu. Arga pun tidak menolak sama sekali.
***
Suasana di ruangan VVIP tempat Rasya dirawat tampak ramai. Mereka semua berkumpul di sana. Zety tidak sedikit pun beranjak dari samping Rasya. Terus saja melihat bayi tampan yang saat ini sedang tidur di dalam box bayi. Kulit bayi itu putih bersih dan sangat menggemaskan. Ingin sekali Zety mencubit pipinya yang gembul, tetapi Rasya sudah melototinya terlebih dahulu bahkan sebelum Zety menyentuhnya.
"Baby Bisul, nanti main sama Onty ya." Margaretha yang sudah duduk di samping Zety pun merasa gemas dengan bayi mungil itu.
"Jangan ajari macem-macem. Awas!" Rasya beralih menatap Margaretha tajam.
"Yaelah. Mama muda galak amat. Eh, Ra, orang tua lu kagak ke sini?" tanya Zety. Karena sejak menunggu Rasya mereka tidak melihat keberadaan Paijo.
"Lagi otewe sama mertua gue," jawab Rasya.
"Kagak! Ya sakitlah, Zae! Lu pikir aja, lubang kita sekecil apa ngeluarin bayi segitu."
"Gue 'kan cuma nanya, Ra. Sewot amat. Mereka bilang lahiran itu sakit banget, taruhannya nyawa. Tapi, kenapa enggak pada kapok? Masih aja ngelahirin lagi. Harusnya tuh, kalau kagak kapok ya jangan ngeluh sakit," celoteh Zahra. Dia meringis saat Zety sudah mencubit pinggangnya.
"Mulut lu bisa diem kagak? Apa mau gue sumpelin pakai sosis jumbo?" Zety mendelik, tetapi dia langsung mendengkus kasar saat Zahra sudah mengusap wajahnya.
"Biasa aja kelesss."
Suasana pun menjadi sangat ramai bahkan tanpa terasa waktu sudah hampir Shubuh. Kiano meminta agar Zety pulang, begitu juga dengan Andra yang meminta Margaretha pulang. Awalnya mereka menolak, tetapi karena omelan Kiano, mereka pun berpamitan untuk pulang.
Ketika sedang berjalan menuju ke parkiran, Kiano terkejut saat ponselnya berdering. Dia pun segera menerima panggilan tersebut saat melihat nama pengawal yang bertugas menjaga Bram.
"Apa? Tuan Bram drop? Baiklah aku ke ruangan sekarang karena aku juga sedang di rumah sakit." Kiano mematikan panggilan tersebut secara sepihak. Wajahnya yang tampak gugup membuat Zety curiga.
"Ada apa?" tanya Zety. Kiano bingung mau menjawab apa.
__ADS_1
Dia pun menghirup napas dalam dan mengembuskan secara perlahan agar sedikit tenang. "Tuan Bram drop, Nona."
"Papa?" tanya Zety memastikan. Kiano mengangguk lemah. "Bukannya papa lagi lembur?"
"Sebenarnya, Tuan Bram sedang dirawat di sini, Nona. Di ruangan VIP," ungkap Kiano pada akhirnya. Kedua mata Zety sontak terbuka lebar lalu memukul lengan Kiano cukup kencang hingga lelaki itu meringis menahan rasa sakit.
"Dasar pembohong! Gue benci lu!" Zety berlari mencari ruangan sang papa dan langsung disusul oleh mereka bertiga. Zety terlihat sangat terburu dan cemas. Khawatir dengan keadaan sang papa.
Ketika sampai di ruangan tempat Bram dirawat, Zety hampir menangis saat melihat Bram yang sedang terbaring dengan berbagai macam alat kesehatan tertempel di tubuhnya. Zety pun segera mendekati brankar dan menangis tersedu.
"Pa-pa." Zety tak kuasa lagi menahan kata-katanya. Meksipun Bram dulu sangat membencinya, nyatanya Zety masih saja merasa sakit saat melihat Bram yang sedang terbaring seperti ini.
Mendengar suara Zety, dengan perlahan Bram membuka matanya yang terasa berat. Lalu sedikit menoleh dan tersenyum saat melihat Zety.
"Ka-kamu di sini?" tanya Bram terbata. Suaranya terdengar sangat lirih bahkan nyaris tidak terdengar. Zety mengangguk cepat dan memegang tangan Bram yang hendak mengusap wajahnya.
"Kenapa Papa tidak bilang kalau sedang sakit? Kata Kiano, Papa lagi lembur. Kalian emang jahat," kata Zety. Suaranya parau karena menangis.
"Maafkan papa, Sayang. Papa hanya tidak ingin membuat kamu khawatir. Sudah cukup papa dulu menyakitimu." Bram masih terus mengusap wajah Zety dan membantu menghapus air mata putrinya. "Zet, kamu tahu. Mama kamu sudah mengajak papa untuk pergi bersama, tetapi papa meminta waktu agar bisa memelukmu dan memastikan kamu sudah hidup dengan baik. Jadi, maukah kamu berjanji pada papa akan selalu bahagia jika suatu saat papa harus pergi?"
Sorot mata Bram terlihat begitu sendu. Zety menggeleng, menangis dan meminta sang papa agar tidak berbicara macam-macam. Zety sangat berharap semoga papanya bisa sembuh dan sehat seperti sedia kala.
β’β’β’
Hallo hai, rindu sekali Othor tidak menyapa kalian.
Sehat semua 'kan?
Eh Thor, kenapa cerita lu sekarang tegang Mulu lagak sesomplak Kurap.
Wkwkwk
Othor lagi mode serius ini π dan sebentar lagi kisah Zety bakal sampai pada endingnya ya guys.
So, ditunggu aja ππ
__ADS_1
Selamat kemerdekaan buat kalian semua warga Indonesia. Hayukk upacara ππ