Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
38


__ADS_3

Zety terkejut saat sang papa mengajaknya pulang ke rumah lama. Rumah yang penuh dengan segala kenangan pahit. Namun, Zety juga tidak memungkiri kalau dirinya sangat merindukan rumah tersebut. Merindukan sang Oma yang dulu sangat menyayanginya. Zety masuk dan menuju ke kamar miliknya. Kamar yang masih tetap sama dan tetap bersih meskipun sudah dia tinggalkan bertahun-tahun lalu.


"Kamarku masih bersih saja, Pa?" tanya Zety curiga. Sebagai seorang yang dibenci sang papa, Zety tidak percaya kalau Bram menyuruh orang untuk membersihkan kamarnya. Jangankan membersihkan, sang papa bahkan tidak pernah masuk ke kamarnya sama sekali.


"Pelayan di rumah yang membersihkan setiap hari karena pesan dari Oma." Bram menjawab santai. Zety hanya membulatkan bibir tanpa berbicara apa pun. Setelahnya, Bram pun menyuruh Zety untuk beristirahat terlebih dahulu sembari menunggu makan malam tiba. Zety hanya mengiyakan dan menidurkan diri di tempat tidur miliknya.


Sementara Bram masuk ke sebuah ruangan yang selama ini selalu dia kunci. Bram menutup pintu rapat lalu berjalan dan menatap puluhan foto sang istri yang berjajar hampir memenuhi ruangan itu. Bram mengambil salah satu foto pernikahan lalu menatapnya lekat dan tanpa sadar air matanya menetes.


"Aku merindukanmu, Ren. Sangat merindukanmu." Bram mengusap air matanya.


"Maafkan aku pernah salah besar karena hendak membunuh putri kita. Maafkan aku yang sudah sangat menyakitimu. Sungguh, Ren ... kepegianmu menjadi pukulan terberat dalam hidupku. Aku masih tidak rela saat kamu harus pergi padahal kita baru akan bahagia. Maafkan aku yang pernah sangat membenci putri kita bahkan aku mengatainya sebagai anak pembawa sial. Menyalahkan sebagai penyebab kematianmu. Namun, kini aku sadar bahwa semua sudah menjadi takdir dan aku berusaha menerima. Aku sudah salah selama ini dan biarlah kutebus semuanya sebelum aku datang menemuimu." Bram merasakan dadanya sedikit sesak. Seiring air mata yang mengalir karena segala kenangan pahit dan manis yang kembali terputar dalam bayangannya.


Bram sangat mencintai Reni, istrinya. Perjuangan yang berat untuk mendapatkan hati Reni membuat Bram menaruh segala perasaannya kepada wanita itu. Bram mencintai Reni sepenuh hati bahkan dengan segenap jiwa dan raganya. Bagi Bram, hanya Reni di hati dan hidupnya. Bram pun sangat bahagia saat mengetahui jika Reni hamil apalagi saat wanita itu setiap hari selalu bahagia dan tidak sekalipun mengeluh. Membuat Bram makin mencintai wanita itu. Namun, semua berubah saat kelahiran Zety, Reni justru harus kehilangan nyawa setelah mengalami pendarahan hebat. Nyawa Reni tidak bisa tertolong dan sejak saat itu, hidup Bram hancur seketika. Dia sangat membenci Zety dan menyalahkannya sebagai penyebab kematian sang istri. Bram bahkan mengupayakan segala cara untuk membunuh Zety, tetapi selalu saja ada penghalang hingga pada akhirnya Bram tersadar dari segala kesalahannya.


***

__ADS_1


Sudah memasuki jam makan malam, tetapi Zety belum juga keluar kamar. Bram menyuruh Kiano untuk memanggil Zety di kamarnya. Meskipun merasa berat, tetapi Kiano tetap melaksakan perintah Bram. Langkah lelaki itu terlihat bermalasan saat berjalan menuju ke kamar Zety yang berada di lantai dua. Apalagi saat dirinya sudah sampai di depan pintu. Kiano mengetuk pintu sampai beberapa kali, tetapi tidak ada sahutan sama sekali.


"Nona ... sudah waktunya makan malam." Kiano sampai jengah sendiri dan menggerutu kesal dalam hati. Apakah nona mudanya setuli ini sampai tidak mendengar padahal dirinya sudah mengetuk sekeras mungkin. "Astaga."


Kiano tidak sabar lagi, dia memilih untuk kembali turun. Namun, baru saja berbalik, Kiano bergeming saat mendengar suara pintu dibuka. Dia berbalik dan mendengkus kasar saat melihat Zety berdiri di ambang pintu. Wajah gadis itu tampak berantakan karena baru bangun tidur.


"Berisik banget, sih." Zety menguap. Tanpa malu. Kiano menggeleng saat melihatnya.


"Nona, sudah waktunya makan malam." Kiano berbicara sopan meskipun dalam hati menggerutu kesal.


"Nona," panggil Kiano. Menghentikan langkah Zety yang hampir menuruni tangga. Zety berbalik dan menatap malas ke arah Kiano. "Apa Anda akan turun dengan penampilan Anda yang seperti ini?"


Zety menatap dirinya dari atas ke bawah. Merasa tidak ada salah sedikit pun dengan dirinya.


"Setidaknya cucilah muka agar tidak ada bekas iler di sebelah bibir Anda, Nona Muda." Kiano melipat bibir menahan tawa, sedangkan Zety mendelik lalu mengusap wajahnya. Sepersekian detik selanjutnya, Zety berlari kembali ke kamar bahkan menerobos tubuh Kiano begitu saja.

__ADS_1


Brak!


Pintu ditutup keras hingga membuat Kiano terjengkit, tetapi selanjutnya Kiano tergelak keras. "Astaga, apa nona muda seperti itu? Sulit dibayangkan jika nantinya akan mengelola aset kekayaan milik Tuan Bram." Kiano menggeleng sembari turun untuk kembali ke ruang makan. Tidak mungkin dirinya menunggu di depan pintu kamar terus-menerus.


Sementara itu di kamar mandi, Zety sedang menatap pantulan dirinya di cermin dan mengomel. "Astaga, Suk! Elu sial amat! Elu udah bikin malu diri lu sendiri. Kecantikan gue yang paripurna akhirnya ternoda karena iler," bibir Zety ngedumel sejak tadi.


🐊🐊🐊🐊🐊


Menjawab komentar kalian nih


Thor, kenapa Gatra ngajak ketemuan di hotel cuma buat nunjukin video rekaman itu? kagak jelas banget elu, Thor πŸ˜‚πŸ˜‚


Aishhh, biar kerenan dikit kan di hotel, mau Othor buat mereka ketemuan di dekat empang kok kasihan ya, Othor kagak tega πŸ˜‚ sengaja tidak bikin adegan inak-inuk di hotel πŸ™ˆπŸ™ˆ kasihan bang Gatra πŸ˜‚


selamat pagi guys, semangat pagi 😘😘

__ADS_1


__ADS_2