
Rasa kesal Zety karena kejadian di ruangan Gatra tadi pagi, membuat mood Zety memburuk bahkan hingga mereka pulang bekerja. Zety sama sekali tidak menerima saat Gatra menawarkan diri hendak mengantar pulang. Dia hanya ingin berjaga-jaga karena Zety yakin kalau sampai Shifa tahu dirinya diantar Gatra, maka urusannya akan memanjang. Bukan hanya kacang saja yang panjang. Lainnya juga. Haha.
Mood buruk Zety nyatanya berpengaruh juga pada tingkahnya yang menjadi sangat menyebalkan menurut Margaretha. Dia menjadi serba salah karena sahabatnya terus saja berbicara yang unfaedah. Pada akhirnya, Margaretha pun menjadi kesal sendiri.
"Mendingan elu aja deh, Suk, yang nyetir. Sumpek kuping gue dengerin elu ngoceh," kesal Margaretha. Menghentikan motornya di tepi jalan dan memaksa Zety untuk di depan meskipun gadis itu terus saja menolak. Zety pun yang makin merasa kesal, dengan terpaksa mengambil alih kemudi motor itu.
Namun, baru beberapa meter melaju, Zety menghentikan motornya secara mendadak saat sebuah mobil sedan warna putih berhenti tepat di depan mereka. Zety dan Margaretha sama-sama heran karena merasa asing dengan mobil tersebut.
"Siapa kalian?" Zety berusaha memberanikan diri bertanya pada dua orang kekar yang keluar dari mobil tersebut.
"Serem amat, Suk!" Margaretha ketakutan saat mereka makin mendekat.
Belum juga Zety membuka suara lagi, dia sudah terlebih dahulu mengerang karena salah seorang lelaki tadi menancapkan sebuah pisau tepat di lengan Zety. Darah segar mengucur, sedangkan Margaretha segera turun dari motor dan berteriak histeris.
"Siapa kalian!" bentak Margaretha, hendak memukul kedua lelaki tadi menggunakan sepatunya.
"Jangan ganggu kekasih Nona Muda kami!" kata mereka sebelum akhirnya pergi.
"Dasar brengsek!" umpat Margaretha menendang udara karena mobil tersebut sudah menjauh. Kemudian, dia bergegas mendekati Zety dan melihat darah yang masih mengalir.
Margaretha pun menyuruh Zety untuk berpindah ke belakang lalu dengan mengebut dia membawa Zety ke klinik terdekat. Margaretha takut kalau sampai Zety kehilangan banyak darah. Saat menunggu Zety mendapat penanganan, Margaretha segera menghubungi Rasya dan juga Zahra karena hanya mereka yang Margaretha punya saat ini. Tanpa banyak berpikir, Rasya dan Zahra pun langsung bergegas ke klinik tersebut.
****
"Sakit, Suk?" tanya Margaretha saat Zety baru saja selesai diperiksa.
"Kagak, Mar. Cuma nyeri banget," sahut Zety ketus.
__ADS_1
"Yaelah, sama aja keles." Margaretha mengembuskan napasnya kasar.
"Lah elu aneh, udah tahu luka gini. Masih nanya sakit kagak. Udah jelas-jelas ini sakit, Mar. Kalau elu kagak percaya, coba rasain, deh." Zety berbicara setengah kesal.
"Ogah amat. Lagian tuh laki dua tadi siapa, sih! Ada masalah apa sama kita? Dateng-dateng langsung nancepin pisau gini. Apa jangan-jangan begal kali ya," cetus Margaretha. Namun, Zety menggeleng dengan cepat.
"Kayaknya bukan deh, Mar. Kalau emang mereka niatnya mau begal kita, udah pasti motor kita diambil. Nah, mereka cuma nusuk terus pergi. Gue yakin kalau ini salah satu dari teror yang gue terima." Zety menutup mulut karena sudah keceplosan.
"Teror? Maksud lu?" tanya Margaretha penuh selidik.
"Em ...." Zety mendadak gugup dan itu membuat Margaretha makin curiga padanya.
"Su—"
"Suketi!"
"Siapa yang tega ngelakuin ini sama elu, Suk?" tanya Rasya. Mengusap perlahan lengan Zety yang sudah terbungkus perban.
"Mana gue tahu, Ra. Tiba-tiba aja mereka dateng terus nancepin pisau gini." Zety menjawab sekenanya.
"Elu kenal sama mereka?" Zahra ikut mengusap lengan Zety, persis seperti yang dilakukan Rasya.
"Kagak." Zety mengendikkan kedua bahu secara bersamaan.
"Tapi, sebelum pergi, mereka bilang jangan ganggu kekasih Nona muda kami," adu Margaretha. Masih mengingat dengan jelas ucapan salah seorang lelaki itu.
"Nona muda mereka memangnya siapa? Elu sekarang lagi dekat sama siapa?" Rasya mencecar dengan banyak pertanyaan.
__ADS_1
"Mana gue tahu, Ra. Gue enggak dekat sama siapa pun."
"Terus soal teror yang elu bilang tadi, coba elu katakan sejujurnya sama kita dong, Suk." Margaretha setengah memaksa.
"Teror apaan?" Zahra menatap penuh selidik ke arah Zety dan Margaretha secara bergantian.
"Mana gue tahu, Suketi yang bilang katanya diteror."
"Elu bisa diem kagak, Mar! Gue enggak mau bikin ibu hamil ini jadi kepikiran." Zety berbisik di telinga Margaretha, tetapi masih didengar oleh yang lain.
"Suk, kalau emang elu masih nganggap kita sahabat maka ceritanya semuanya. Kalau emang elu kagak mau cerita apa pun ke kita ya udah," ucap Rasya kecewa.
"Berarti kita bukan orang yang berarti lagi buat elu." Zahra menambahkan. Dia pun tampak kecewa.
Akhirnya, Zety menghela napas panjang lalu menceritakan semuanya soal teror yang dia dapatkan. Ketiga sahabat Zety terkejut saat mendengar semuanya karena baru kali ini mereka mendapat teror seperti ini.
"Elu udah bisa nangkap belum, kira-kira siapa yang neror elu?" tanya Rasya.
"Gue belum yakin, tapi entahlah. Perasaan gue mengarah ke cewek itu terus." Zety mendes*hkan napasnya ke udara secara kasar.
"Cewek itu siapa?" tanya ketiga sahabat Zety kompak. Sepersekian detik selanjutnya, mereka mendelik saat mendengar nama siapa yang disebutkan oleh Zety. Mereka tampak menggeram marah.
"Kita beri pelajaran untuk mereka!" ucap Rasya yakin. Bergaya seperti pahlawan kebenaran yang akan membasmi kejahatan.
"Berantas virus sampai ke akarnya!" imbuh Margaretha. Menirukan gerakan Rasya.
"Tuntaskan hasrat sampai ke puncaknya!" tambah Zahra. "Eh, salah!" Zahra menutup mulut karena merasa telah salah bicara. Sementara yang lain segera menonyor kepala Zahra saking gemasnya.
__ADS_1