
Sesuai dengan ucapan Gatra, malam itu mereka benar-benar kembali ke kota. Zety tidak bertanya apa pun. Hanya menurut pada perintah Gatra. Selama dalam perjalanan, Zety lebih banyak diam bahkan terkesan cuek. Gatra pun merasa heran sendiri.
"Kenapa kamu diam saja? Apa aku ada salah padamu?" tanya Gatra. Sesekali mengalihkan pandangan ke arah Zety yang sedang duduk dan menatap ke luar jendela.
"Tidak, Mas. Aku hanya lelah." Zety menjawab singkat. Hatiku yang merasa sangat lelah.
"Kalau begitu, tidurlah. Nanti aku bangunkan kamu saat sudah sampai," suruh Gatra. Zety hanya mengangguk lalu memejamkan mata. Dia memang ingin mengistirahatkan tubuhnya dan juga hatinya.
Gatra pun kembali fokus pada jalanan. Namun, perhatiannya teralihkan saat sebuah panggilan masuk. Gatra segera mengambil ponselnya, tetapi saat melihat nama Shifa tertera di layar, Gatra justru menolak panggilan itu. Lagi dan lagi, panggilan tersebut berbunyi bahkan sampai tiga kali. Dengan terpaksa Gatra pun menerima panggilan tersebut.
"Ada apa? Aku sedang menyetir." Suara Gatra terdengar ketus. Sementara Zety berpura-pura tidur karena takut mengganggu pembicaraan Gatra dan Shifa. "Ya, nanti aku kabari kalau sudah sampai di rumah." Gatra mematikan panggilan tersebut secara sepihak lalu mematikan ponselnya karena tidak ingin diganggu Shifa. Baginya, Shifa terlalu mengekang dan kekanak-kanakan.
Sebelum melajukan mobilnya kembali, Gatra melirik Zety yang masih setia memejamkan mata. Lalu Gatra melepas jaket yang dikenakan dan menyelimuti tubuh Zety dengan jaket tersebut. Gatra hampir saja mengusap puncak kepala Zety, tetapi dia mengurungkannya karena khawatir akan membuat tidur Zety terganggu.
Zety merapalkan berbagai doa saat merasakan jaraknya yang sangat dekat dengan Gatra. Dia takut kalau Gatra sampai mengetahui dirinya hanyalah pura-pura tidur. Ketika mendengar suara mesin mobil yang berbunyi, Zety pun diam-diam mengembuskan napas lega.
Untung saja Mas Gatra enggak tahu kalau gue cuma tidur bohongan. Batin Zety, berusaha untuk bisa terlelap, tetapi tidak bisa. Pikirannya melayang-layang jauh entah ke mana.
***
Setibanya di kota, Gatra langsung mengantar Zety pulang ke kontrakan dan menyuruh gadis itu untuk beristirahat saja. Tidak perlu langsung bekerja. Zety pun hanya mengiyakan dan hati kecilnya merasa bahagia karena Gatra memberi sedikit perhatian untuknya. Ya, meskipun masih sedikit setidaknya dia mendapat perhatian dari pria tampan. Itulah kata hati jomblowati.
__ADS_1
Baru saja hendak membuka pintu kontrakan, Zety terkejut saat mendengar suara teriakan Margaretha dari arah depan. Dengan penuh kekhawatiran, Zety pun bergegas membuka pintu tersebut secara paksa.
"Mar! Ada apa?" teriak Zety, sembari mencari keberadaan sahabatnya.
"Gue di kamar!" balas Margaretha berteriak. Zety pun segera menuju ke kamar Margaretha dan melihat gadis itu sedang berdiri di sudut ruangan. Yang membuat Zety terperangah adalah keberadaan seekor ular yang berada tepat di samping tempat tidur Margaretha.
"Tolongin gue, Suk!" Margaretha bergidik ngeri. Zety pun berdiri di belakang ular tersebut dan dengan perlahan menangkap ekornya. "Jauhkan dari gue, Suk!" Margaretha merinding saat melihat Zety yang mengangkat ular tersebut tinggi-tinggi.
Zety pun segera keluar dan membuangnya jauh-jauh. Lalu kembali masuk dan langsung mendapat pelukan erat dari Margaretha. Dengan antusias, Zety segera membalas pelukan sahabatnya.
"Gue kangen banget sama elu, Suk." Margaretha saking gemasnya sampai menciumi pipi Zety.
"Ish! Untung barusan ada elu, Suk. Kalau kagak, entah nasib gue gimana." Margaretha setengah merengek tanpa melepaskan pelukannya.
"Lagian aneh banget. Dari mana ular itu masuk? Emang elu kagak kunci pintu?" tanya Zety penuh selidik.
"Mana gue tahu, Suk. Padahal semalam semua pintu udah gue tutup. Nah, pas gue bangun tadi, tuh ular udah ngejugruk di samping kasur gue sampai akhirnya gue jatuh terjungkal-jungkal," jelas Margaretha. Bukannya simpati, Zety justru tergelak mendengar ucapan Margaretha. "Jangan ketawa, Suk!"
"Ya habisnya bahasa elu, Mar. Bikin gue pengen ketawa. Udahlah, sekarang gue mau tidur. Capek!" Zety hendak pergi ke kamarnya sendiri, tetapi langkahnya tertahan saat Margaretha menahan lengannya. "Apalagi?"
"Elu kagak kerja?" Margaretha menatap Zety penuh selidik.
__ADS_1
"Kagak!" jawab Zety malas.
"Kenapa? Elu udah libur tiga hari lebih, Suk!" Margaretha mendengkus kasar.
"Mar, elu 'kan tahu gue baru aja masuk rumah. Barusan Mas Gatra juga nyuruh gue buat libur kerja selama sebulan—"
"Aje gile!" sela Margaretha sewot. "Itu libur kerja apa resign? Edan emang elu, Suk!"
Zety melipat bibir untuk menahan tawa saat melihat raut wajah kesal dari sahabatnya. "Gue 'kan cuma nurut perintah Mas Gatra, Mar. Ingat, perintah bos adalah aturan yang harus dipatuhi," timpal Zety. Padahal dirinya hanyalah berbohong.
"Tunggu dulu. Kok Mas Gatra baik banget sama elu, Suk? Jangan-jangan ...." Margaretha memajukan wajahnya sampai membuat Zety salah tingkah sendiri.
"Jangan-jangan apa?" tanya Zety ketus. Dia paham betul kemana jalan pikiran sahabatnya itu.
"Gue curiga. Kalian kan habis berduaan beberapa hari di hotel. Jangan-jangan elu habis dijamah Mas Gatra kenapa dia jadi sebaik itu sama elu. Astaga!" Margaretha memekik saat tubuhnya jatuh terjungkal karena Zety mendorongnya cukup kencang. Bukannya membantu, Zety justru melipat tangan di depan dada sembari menunjukkan tampang marahnya.
"Elu kalau ngomong, sekali aja jangan nyakitin, Mar! Gue rela ngejomlo daripada harus jadi wanita rendahan!" seru Zety. Dia menghentakkan kaki hendak ke kamar, tetapi tiba-tiba Margaretha memeluknya dari belakang hingga membuat langkah Zety berhenti begitu saja.
"Jangan marah. Gue cuma bercanda. Gue yakin kalau elu itu bakal bisa jaga diri elu. Maafin gue ya, ya." Margaretha merayu bahkan dia mencium pipi Zety lagi hingga dengan cepat Zety melerai pelukan itu.
"Jangan cium-cium gue, Mar. Gue takut kalau elu jadi naksir sama gue, nanti gue tergoda jadi tidak tertarik lagi sama pisang," kelakar Zety. Margaretha hanya mendengkus kasar. "Udahlah, gue mau tidur." Zety pun berjalan ke kamar tanpa peduli pada teriakan Margaretha yang begitu melengking. Tubuhnya sudah sangat lelah. Sementara Margaretha akhirnya membersihkan diri dan bersiap untuk berangkat kerja.
__ADS_1