Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
24


__ADS_3

Pertemuan yang seharusnya mampu membuat jantung Zety berdebar justru terasa hening dan hanya tangisan gadis itu yang terdengar. Pelukan Gatra pun belum sepenuhnya terlepas dan berkali-kali lelaki itu berusaha untuk menenangkan hati Zety.


"Maafkan aku." Suara Zety terdengar parau bekas menangis. Dia sedikit bergerak untuk melepaskan pelukan Gatra karena merasa malu sejak tadi terus saja ditatap oleh Maria. Sadar Zety merasa tidak nyaman, Gatra pun segera melepaskannya.


"Jangan bersedih lagi," ucap Gatra lembut. Zety menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman manis yang lagi dan lagi mampu membuat jantung Gatra berdebar kencang.


"Maafkan aku, Mas. Aku jadi merusak suasana." Zety kembali mengusap air mata yang masih membekas.


"Tidak apa. Lebih baik sekarang kita makan saja." Gatra bangkit dan mengajak dua wanita itu untuk segera makan. Maria pun terus mengamati Zety dan melihat gerak-gerik Gatra dalam menjaga Zety.


Suasana saat makan tersebut terasa hening karena tidak ada satu pun dari mereka yang membuka suara. Saling sibuk dengan makanan masing-masing. Bahkan, Maria pun tidak lagi berbicara atau bertanya apa pun. Namun, dia berniat akan diam-diam mencari informasi tentang Zety.


Untuk menghindari suasana canggung itu, Gatra mengajak Zety untuk pulang setelahnya. Tidak mau terlalu lama membuat gadis itu merasa tidak nyaman. Selama dalam perjalanan pun Zety lebih banyak diam bahkan sampai mobil Gatra berhenti di pelataran rumah kontrakan.


"Maaf, aku mengacaukan semuanya, Mas." Zety merasa tidak enak hati.


"Bukan salahmu. Justru aku yang minta maaf mungkin ucapan mamaku ada yang menyinggungmu." Gatra membalas.


Zety tersenyum simpul. "Tidak ada kok, Mas. Aku yang terlalu baper. Kalau begitu aku masuk dulu." Zety hendak turun dari mobil, tetapi baru saja membuka pintu, Gatra sudah menahan tangan Zety.


"Selamat malam dan jangan lupa mimpi indah," ucap Gatra, menatap Zety lekat. Senyum Zety merekah sempurna.


"Terima kasih banyak, Mas." Zety menatap tangan Gatra yang masih menyentuhnya. Menyadari itu Gatra segera melepaskan genggamannya dan membiarkan Zety untuk turun dari mobil. Zety melambai ke arah Gatra lalu bergegas masuk setelah mobil Gatra pergi dari halaman rumahnya.


Ketika sampai di pintu, Zety menatap heran saat melihat motor yang tidak asing berada di samping rumah. Kenapa Zety baru melihatnya sekarang, pikir gadis itu heran. Zety pun bergegas masuk untuk melihat siapa yang saat ini berada di kontrakan.

__ADS_1


Saat membuka pintu, Zety terkejut melihat Andra sedang duduk santai di ruang tamu sembari memainkan ponselnya, sedangkan Margaretha justru asik menonton televisi.


"Astaga, Mar. Elu jahat amat. Ada tamu ngapain malah ditinggal sendirian?" Suara Zety mengalihkan perhatian dua orang itu. Margaretha langsung berjalan cepat menghampiri sahabatnya.


"Elu udah pulang, Suk? Cepet amat?" tanya Margaretha antusias.


"Ish! Gue minta cepet pulang karena kepikiran elu sendirian di kontrakan. Khawatir elu ketakutan eh kok malah enggak tahunya elu lagi berduaan sama doi," ucap Zety menggoda sahabatnya.


"Doi, doi. Apanya yang doi," cebik Margaretha. Menatap sinis ke arah Andra yang justru terlihat sangat tenang dan hanya melirik sekilas saja.


"Jangan gitu, Mar. Jangan judes-judes jadi orang," ujar Zety.


"Biarin! Judes sama cowok macam dia tuh—"


Setibanya di kamar Zety, Margaretha langsung memberondong sahabatnya dengan banyak pertanyaan. Zety tidak berbicara seperti yang terjadi karena tidak mau sahabatnya khawatir. Dia justru menceritakan hal indah yang membuat Margaretha merasa iri padanya. Padahal semua hanyalah khayalan Zety. Karena khayalan tak seindah kenyataan maka biarlah Margaretha merasa iri.


Setelah selesai bercerita, Zety bergegas berganti pakaian lalu pergi tidur. Malam ini mereka tidur berdua karena Margaretha tidak mau tidur sendiri dengan dalih takut pada Andra.


Hampir setengah jam berlalu, Zety masih belum bisa tertidur. Pikirannya terus saja merasa gelisah. Setelah mendengar dengkuran halus Margaretha, dengan gerakan perlahan Zety turun dari tempat tidur. Lalu berjalan setengah mengendap agar tidak menggangu sahabatnya.


Ketika sampai di ruang tamu, Zety terheran saat melihat Andra masih duduk di sofa sembari sibuk bermain ponsel. "Kamu belum tidur, Ndra?" tanya Zety, duduk berhadapan dengan Andra.


"Belum. Kenapa kamu belum tidur?" Andra bertanya balik.


"Aku nggak bisa tidur."

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Andra menatap Zety lekat.


"Entahlah. Kamu tumben amat di sini? Disuruh Rasya?" tebak Zety. Andra menaruh ponselnya dan mengangguk cepat.


"Katanya ada yang mengintai rumah ini," ucap Andra heran karena dia belum tahu semuanya.


"Hah! Sepertinya aku harus terbiasa dengan teror mulai saat ini." Zety mendes*h kasar. Dia merasa tidak nyaman sekarang, tetapi untuk saat ini dirinya hanya bisa diam dan menunggu waktu mengungkap semuanya.


"Kalau ada orang jahat yang menerormu maka biarkan aku menjagamu, Zet." Andra berbicara yakin. Zety berusaha tersenyum setulus mungkin.


"Makasih, Ndra."


"Sama-sama. Lebih baik sekarang kamu tidur," suruh Andra. Zety mengangguk mengiyakan lalu beranjak bangun. Namun, baru saja berdiri tegak, Zety dan Andra tersentak saat mendengar suara keras dari atap rumahnya. Persis seperti tertimpa batu besar. Bahkan, Margaretha sampai berlari keluar kamar.


"Astaga. Untung gue kagak punya penyakit jantung." Zety mengusap dadanya berkali-kali.


***


Thor!


Oe!


Awas kalau sampai elu bikin hidup gue menderita banget, kagak gue beliin seblak elu, Thor. Zety ngedumel.


Hahaha sabar, Zet. Othor lagi doyan nyiksa orang 😂😂

__ADS_1


__ADS_2